Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
P I N G I T


__ADS_3

Ketika Zen sidah keluar dari ruangannya, Linda kembali membaringkan tubuhnya di ranjang milik Zen.


" Ada apa dengan dia, kenapa bisa mengamuk tidak jelas seperti itu," gumam Linda yang sesekali meringis kesakitan karena masih merasakan sakit di kepalanya.


" Dan tadi apa? dia berbicara banyak dan tidak menggunakan kata formal," lanjut nya.


" Haaaahh, aku rasa sakit di kepala ku sudah agak mendingan, aku harus pergi." Linda pun beranjak dari ranjang tapi matanya membesar saat melihat ruangan kerja Zen yang begitu berantakan.


" Apa habis di landa gempa," gumam Linda dengan mulut yang menganga dan mata yang masih membesar.


Jiwa Linda bergejolak untuk membereskan ruangan yang berantakan itu, dari mulai memunguti serpihan-serpihan kaca, guci dan buku-buku yang berserakan di lantai.


Hanya memakan waktu dua puluh menit keadaan ruangan sudah kembali seperti semula, rapih dan bersih.


Linda terduduk di sofa mengistirahatkan tubuh lelahnya sebentar setelah merasa lebih enakan Linda beranjak kembali dan menuju pintu untuk keluar dari ruangan Zen, tapi saat Linda memegang hendle pintu berbarengan Zen yang masuk ke ruangannya.


" Kau sudah ingin pergi?" tanya Zen, tapi tangannya tergerak menyibak rambut Linda yang menutupi lukanya.


Linda memundurkan kepalanya sedikit karena terkejut dengan pergerakan Zen.


" Hei kau berdarah lagi, " ucap Zen yang langsung menarik tangan Linda dan mendudukannya di sofa untuk mengobati kembali lyka Linda yang terbuka lagi.


" Tuan, sa-saya tidak apa-apa," lirih Linda karena terkejut mendapatkan perlakuan khusus Zen, entah sadar atau tidak Zen telah melewati batas sikapnya.


Zen yang terkenal sangat dingin, tidak pernah mempedulikan siapapun terkecuali keluarga Carroll saat ini sedang menunjukkan sikap dia yang berbeda dari biasanya, entah hanya rasa bersalah atau apa hanya Zen lah yang tahu.


" Tidak apa-apa bagaimana? lihat luka mu berdarah lagi," jawabnya dengan kaki yang melangkah menuju ruangan tempat Linda tadi istirahat untuk mengambil kota p3k.


Zen kembali dengan kotak di tangan kirinya dan sebuah baskom berisikan air hangat dan handuk kecil di tangan kiri nya, ia langsung duduk di bawah dengan bertumpu lutut agar lebih mudah membersihkan luka Linda.


Dari membersihkan darahnya dengan air hangat dan memberikan kembali obat merah dan juga menempelkan kembali perbannya.


" Sudah selesai," ucapnya dengan membuang nafasnya dengan kasar dan mendudukan dirinya di sofa samping Linda.


Linda masih terdiam dengan tangan yang memegangi dadanya karena saat Zen membersihkan lukanya, Linda menatap langsung wajah tampan Zen, yang selama ini Linda bahkan tidak pernah jelas melihat wajah Zen tapi dengan cara seperti ini dia bahkan bisa melihat nya dengan sangat jelas.


" Bagaimana bisa berdarah lagi?" tanya Zen dengan suara pelan.


" Tidak tahu," jawab Linda dengan singkat.


Zen menyadari sesuatu, matanya berkeliling menatap ruangan kerjanya yang tadi di tinggalkan dengan keadaan berantakan tapi kenapa bisa rapih lagi, sedangkan dia belum sempat menyuruh OB untuk membersihkan ruangannya.


Zene menoleh ke arah Linda, matanya memicing melihat wajah Linda yang berkeringat dan rambut yang sedikit acak-acakan.


" Kau yang melakukannya," ucap Zen, Linda menoleh dengan memiringkan kepalanya karena tidak mengerti maksud ucapan Zen.


" Melakukan? melakukan apa?" tanya Linda.


" Kau membersihkan ruangan ku?" Linda mengangguk dan Zen bereaksi sangat aneh menurut Linda, karena Zen menepuk kepalanya sendiri dan menghela nafasnya dengan kasar.


" Kenapa?" tanya Linda.


" Kau bodoh apa bagaimana, sudah tahu kau sedang terluka tapi sempat-sempatnya membersihkan ruangan ku yang berantakan, di kantor ini masih ada OB, Linda." Ucap Zen panjang lebar, Linda menatap mata Zen yang masih berbicara tapi tidak dia sahuti.


" Sudah biar ku antar saja kau pulang, agar cepat istirahat." Ucap Zen yang langsung beranjak dari duduk nya.


" Saya bawa mobil Tuan," tolak Linda.


" Biarkan mobil butut itu tetap disini nanti ada orang ku, akan ku perintahkan untuk mengantarkannya ke Mansion," ucap Zen yang tidak ingin ada penolakan.


Zen menarik tangan Linda dengan pelan menuju lift, mata karyawan disana membesar tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


" Apa yang aku lihat itu nyata,"


" Tuan Zen menggandeng tangan wanita itu,"


" Apa dia kekasihnya Tuan Zen,"


" sangat beruntung sekali dia,"


Itulah ucapan demi ucapan yang di lontarkan para karyawan yang sangat mengidolakan sosok Zen yang menurutnya sangat baik dan tanggung jawab.


Zen tidak mempedulikan tatapan para karyawan yang terpenting dia harus bertanggung jawab atas apa yang di lakukan nya pada gadis yang sangat di bencinya.


Ya semenjak Linda memecahkan figura miliknya, Zen memutuskan untuk sangat membencinya. ' Aku sangat membenci nya,' Ucap Zen dalam hati, ya dia selalu berucap seperti itu saat berada di dekat Linda, entah bertujuan nya apa tapi memang itu yang selalu di ucapkan nya dalam hati.

__ADS_1


Zen dan Lindaasih beradandi dalam lift dengan tangan yang masih berpegangan, sungguh Linda sangat tidak nyaman dengan situasi seperti ini.


" Tuan maaf, bisa lepaskan tangan saya,' ucap Linda dengan sangat hati-hati, ucapan Linda membuat Zen tersadar kalau sedari tadi ia memegang tangan Linda


" Maaf, saya tidak bermaksud," ucap Zen dengan gaya yang masih stay cool.


Mereka telah sampai di basement dan langsung menuju mobil berwarna hitam milik Zen.


.


.


Di kampus Devita dan Puspa baru saja selesai melakukan ujian di kelasnya dan sekarang meraka sedang berjalan menuju halte depan kampus yang menunggu bis menuju tokonya.


Lagi-lagi Devita melamun kan sesuatu, ya dia sedang memikirkan Jonathan dia tau Jonathan menatuh hati padanya dan pertunangan malam yadi dia tidak hadir dan hati ini pun diabtidak hadir mengikuti kelas, rasa tidak enak hatilah yang Devita rasakan saat ini.


" Dev, kenapa?" tanya Puspa yang sedatu tadi mengajaknya bicara tapi Devita hanya diam tidak menanggapi ucapanya.


" Haah, tidak, kenapa Pu?" tanya balik Devita.


" Kau sedari tadi melamun, apa yang kau pikirkan?" ujarnya.


" Aku sedang memikirkan Jonathan, dia kemana ya,"


" Mungkin memang dia sedang ada urusan, biarkan lah sudah biasa dia seperti itu, menghilang dan muncul dengan sendirinya." Ucap Puspa, Devita membenarkan ucapan Puspa, memang sudah menjadi kebiasaan seorang Jonathan yang sering menghilang dan mumcul dengan sendirinya.


Setelah bis sampai, mereka pun masuk, mobil berjalan menuju pusat kota tempat pertokoan berada. Hanya memakan waktu 15 menit mereka telah sampai tepat di depan toko bunganya.


Toko yang sudah siap dan rapih karena ada seorang gadis yang turut menjaganya, yaitu Citra. Gadis yang berasal dari keluarga kelas bawah yang terus di bully di kampus dan di bawa Puspa untuk membantunya di toko, dia mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dan negara asalnya adalah Indonesia.


" Ka Puspa, ka Devita." Sapa Citra dengan sopan dan memanggil mereka dengan sebutan, Kakak.


" Citra, kau datang jam berapa, kok sudah rapih," tanya Puspa yang merasa kagum dengan kegigihan Citra.


" Aku datang dari Tiga jam yang lalu Kak, hari ini hanya ada satu kelas." Jawab Citra.


" Kau sangat rajin, Cit." Puji Devita, ya semenjak Citra membantu di toko pendapatan dan keadaan toko sangat terkendali.


Saat Devita ingin masuk ke dalam toko, sebuah mobil berhenti tepat di depan toko, senyum Devita mengembang melihat seorang pria yang keluar dari dalam mobil yang tidak lain dia adalah Daniel Carroll.


" Tuan dan Nona di harapkan jika ingin bermesraan jangan disini, ayo Citra." Ucap Puspa yang langsung berlalu masuk dengan menarik tangan Citra.


" Dasar Puspa itu," gumam Devita dengan tawanya.


" Dia kenapa?" tanya Daniel, Devita hanya mengedikkan bahunya.


Di dalam toko, Puspa terus menggerutu.


" Ka Puspa, Maaf tadi malam aku tidak bisa datang," ucap Citra yang sengaja menghentikan gerutuan Puspa.


" Ah ya tidak apa,"


" Oh ya ka, Ka Devita kan sudah bertunangan, dan pasti sebentar lagi hari pernikahannya kan. Tapi kenapa ka Devita masih keluar rumah." Ucapan Citra membuat Puspa mengernyitkan alis.


" Memangnya kenapa kalau menuju hari pernikahan Devita keluar rumah?" tanya Puspa yang tidak mengerti maksud dari ucapan Citra.


" Ya kalau di negara ku, sebelum hari pernikahan, calon pengantin harus di Pingit tidak boleh keluar rumah," jelas Citra yang lagi-lagi membuat Puspa bingung.


" Apa tadi kau bilang? pungut," ucapnya yang tidak bisa menirukan ucapan Citra.


" Pingit Kak, Pingit itu dimana calom pengantin todak boleh keluar rumah dan todak boleh saling bertemu dengan calon suaminya, karena di negara ku bilang itu pamali." Ucap Citra menjelaskan.


" Pingit, Pamali. Apa itu aku tidak mengerti, disini tidak ada yang seperti itu Cit, disini bebas tidak ada larangan semacemnya." Tawa Puspa menggelegar.


Pintu terbuka yang ternyata Devita yang masuk ke dalam toko untuk berpamitan pergi bersama Daniel.


" Untung ada kau Cit, dia sudah sibuk sekarang." Ucap Puspa setelah Devita pergi bersama Daniel, tawa Puspa dan Citra kembali terdengar.


.


.


.


Di sebuah butik yang pemiliknya tidak lain adalah Dinar Carroll. Daniel membawa Devita kesana untuk fitting baju pengantin yang Dinar lah sebagai perancangnya itupun Daniel yang meminta.

__ADS_1


" Selamat datang Tuan muda." Ucap pekerja di butik sana.


" Ka Dinar ada?" tanya Daniel.


" Nona Dinar belum datang, Tuan, silahkan."


Daniel terus menggenggam tangan Devita menuju ruangan khusus tapi tiba-tiba ada seorang wanita yang tidak sengaja menabrak tubuh Devita sampai terhuyung tapi untung nya Daniel dengan sigap menangkap tubuh kekasihnya.


" Hei, kau tidak bisa menggunakan penglihatan mu, Hah!!" bentak Daniel dengan kencang dan membuat pengunjung butik menoleh ke arahnya.


" Oh Hay Tuan Daniel," sapa wanita itu tanoa rasa malu karena mendapat bentakan Daniel.


Mata Daniel memicing karena merasa tidak mengenalinya.


" Oh pasti kau tidak mengenali wajah ku tapi kau pasti mengenal nama ku, Catherine." Ucap wanita itu memperkenalkan namanya dengan mengulurkan tangannya dengan percaya dirinya tapi sayang Daniel tidak menanggapi uluran tangan nya dan membuat wanita itu menarik kembali tangannya.


" Semenjak malam itu, aku tidak pernah bertemu dengan mu lagi, tapi hari ini dewi keberuntungan berpihak dengan ku." Ucapnya dengan mengedipkan satu matanya.


" Daniel dia siapa? dan maksud dari malam itu, apa?" tanya Devita yang merasa tidak paham.


Daniel masih bersikap tenang, menatap lembut wajah Devita dan mengusap pipi nya dengan sayang.


" Kau bisa masuk lebih dulu ya, nanti aku menyusul," ucap Daniel dengan lembut.


" Tapi.." Ucapan Devita kembali di sela Daniel.


" Nanti akan aku jelaskan," Devita mengangguk dan berlalu dengan seorang karyawan menuju ruangan khusus itu.


Sepeninggalnya Devita, Daniel menatap tajam wajah wanita yang ada di hadapannya.


" Kau siapa?" tanya Daniel dengan tatapan membunuh nya.


" Jangan menatapku seperti itu, ah tapi tidak apa, itu yang membuat ku mabuk kepayang karena mu," jawabnya dengan genit.


" Kau salah jika ingin bermain-main dengan ku," ucap Daniel yang masih mode tenangnya.


" Aku tidak ingin bermain-main Tuan Daniel Carroll, aku hanya mengenang kenangan indah kita, itu saja."


Daniel terus menatap wajah cantik wanita pemilik nama Catherine itu, ia berusaha mengingat siapa dia. Tapi saat dia melihat tahi lalat di ujung bibirnya, Daniel langsung mengingat nya.


" Oouu, kau wanita jallang itu, apa yang ku berikan itu kurang, atau kau memang belum puas," ucap Daniel.


" Kurang? ah aku rasa itu sangat tepat, apa bisa aku memintanya lagi," ujarnya yang sangat tidak tahu malunya.


Daniel menyeringai. " Jangan terlalu banyak bermimpi," ucapnya dengan mata yang melirik penjaga butik untuk memberi isyarat agar menyeret wanita itu keluar butik sebelum keadaan memburuk.


Dengan sigap penjaga itu langsung menyeretnya keluar butik dengan kasarnya.


" Hei kau jangan menyentuhku," wanita pemilik nama Catherine itu terus memberontak tidak terima mendapatkan perlakuan seperti itu.


" Aku akan membalas penghinaan ini," gumam nya.


" Pastikan wanita itu tidak akan masuk ke butik ini lagi," ucap Daniel dengan tegas dan langsung berlalu pergi untuk menyusul Devita yang sudah berada di dalam ruangan tempat baju pengantin itu berada.


" Bagaimana kalau Vita menanyakan dia itu siapa," gumam Daniel dengan gelisah.


Daniel memasuki ruangan dimana ada Devita di dalamnya, mata Devita memicing melihat wajah Daniel yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu yang dia tidak tahu itu apa.


" Daniel kau kenapa?" tanya Devita.


Daniel hanya menatap wajah kekasihnya itu dengan tatapan yang menyuratkan rasa bersalahnya.


' Apa Vita bisa menerima masalalu ku,' batin Daniel.


" Tidak, kau sudah melihat gaun mu," tanya Daniel mengalihkan pembicaraan.


" Belum, aku ingin menunggumu," senyum polos Devita membuat Daniel tidak tahan menahan rasa bersalahnya karena sudah menyembunyikan sesuatu yang Daniel sendiri tidak yakin ingin berkata jujur pada kekasihnya itu.


' Maafkan aku,' batinnya lagi.


" Tunjukan gaunnya," ucap Daniel pada karyawan butik kakaknya nya itu, karyawan itu berlalu mengambilkan gaun yang tersimpan di lemari kaca di suatu ruangan kecil.


" Daniel, aku boleh menayangkan sesuatu," ucapan Devita membuat Daniel sangat yakin kalau Devita akan membahas atau menanyakan perihal wanita tadi.


" Ah itu Gaunnya, cobalah dulu, aku ingin melihat mu memakainya sekarang," ucap Daniel mengalihkan perhatian Devita.

__ADS_1


Devita hanya tersenyum dengan pikiran yang terganggu kerena sikap Daniel yang terlihat seperti menyembunyikan sesuatu darinya.


__ADS_2