Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Kelelahan (salah mengira)


__ADS_3

Linda masih membisu, pikiran nya sangat terganggu karena ucapan Zen yang terucap tanpa sadar itu.


'' Orang bilang kalau sedang keadaan mabuk, apa yang di ucapkan adalah kejujuran,'' gumam Linda,


'' Berarti selama ini Tuan Zen menyukai Nona Devita, aku benar-benar tidak menyangka,'' lanjutnya, matanya melirik ke ara ranjang, Zen sudah tertidur ia pun memutuskan untuk pergi dari apartemen itu.


Sepanjang ia berjalan ucapan Zen selalu berputar.'' Dia mabuk karena Nona Devita,'' gumam nya lagi, Linda tengah berada di halte bis menunggu taxi ataupun bis yang melintas pikiran nya tidak ada di tempat ia melamunkan kebenaran yang baru ia tahu itu.


Sebuah motor sport berhenti tepat di hadapan Linda yang sedang duduk di sebuah kursi besi yang ada di halte itu, seorang pria turun dari motornya dan melepaskan helm di kepala nya dan tersenyum ke arahnya.


'' Reska, kau baru pulang?'' tanya Linda saat pria yang memiliki nama Reska itu menghampiri nya.


'' Ya aku baru saja pulang dari restoran, kau sedang apa di sini?'' tanya Pria yang bernama Reska itu.


'' Ak-aku, aku habis berkunjung ke tempat teman ku,'' jawabnya dengan tergagap-gagap.


'' Maksudnya teman mu satu gedung dengan ku?'' tanya nya lagi.


'' Iy-yah,'' jawabnya dengan ragu.


'' Kau mau pulang kan, biar ku antar ya,'' ucap Reska menawarkan, tapi Linda dengan lembut menolak tawaran Reska karena taxi yang di tunggunya melintas dan ia pun memanggilnya.


'' Terima kasih atas tawarannya, tapi aku naik taxi saja, bye sampai jumpa,'' Linda pun berlalu dari hadapan Reska yang memandang nya dengan heran.


' Ada apa dengan Linda' batin Reska.


Di sebuah kamar Hotel berbintang, sepasang pengantin baru itu sedang berbincang mengenai dimana mereka akan tinggal setelah ini, Devita yang berkeinginan tinggal di Mansion Ayahnya dan Daniel yang keukeuh harus tinggal di apartemen miliknya.


'' Tapi Daniel, Ayah sendirian di sana.'' Ucapnya dengan tangan yang menyisir rambutnya, saat ini Devita sedang duduk di kursi depan kaca meja riasnya.


'' Kemarilah.'' Ucap Daniel, Daniel menepuk kasur yang saat ini ia tiduri, mengisyaratkan Devita harus mendekat.

__ADS_1



Dengan ragu Devita mendekat, dan duduk di ranjang dengan jarak yang cukup jauh dari Daniel.


'' Kemarilah, honey.'' Ucapnya sekali lagi, tangannya menarik lembut tangan Devita.


Debaran di dada Devita sangat cepat, keringat dingin bermunculan Daniel terkekeh dalam diam, ia sungguh merasa gemas dengan istrinya itu.


'' Sudah nyaman dengan piyamanya?'' tanya Daniel. Ya, Devita sudah mengenakan piyama yang di kirim langsung dari butik kaka ipar nya.


'' Sudah,'' jawabnya.


'' Aku tidak masalah kau ingin tinggal di Mansion, tapi jarak Mansion Ayah mertua sangat jauh dari kantor ku, itu akan memerlukan waktu sekitar dua jam lebih agar sampai ke kantor ku bukan, maka dari itu aku memilih untuk tinggal di apartemen ku, honey.'' Ujar Daniel memberi pengertian agar Devita menyetujui keputusan nya.


Devita terdiam, ia membenarkan ucapan Daniel tapi ia sangat ingin tinggal di sana, dan mau tidak mau Devita akhirnya menyetujui keputusan Daniel.


'' Baiklah, aku setuju,'' ucapan Devita membuat Daniel bersorak dalam hati, sebenarnya yang di ucapkannya hanyalah alasannya saja agar bisa terus berduaan dengan istrinya tanpa gangguan siapapun.


'' Terima kasih ya honey,'' ucap Daniel dengan tangan mengusap pipi Devita yang sejak tadi sudah memerah karena jarak mereka sangatlah dekat, Devita yang berbaring dan dengan Daniel yang ada di samping menghadap dirinya.


'' Ya sudah tidurlah, aku tidak ingin istri cantik ku ini kelelahan,'' ucap Daniel, ia menarik selimut dan menyelimuti Devita juga dirinya.


'' Selamat malam honey,'' ucapnya dengan lembut dan mengecup singkat puncak kepala Devita.


'' Malam juga suamiku,'' jawabnya dengan manja, Daniel terkekeh senang mendengarnya, dan mereka pun tidur dalam satu selimut.


Malam pengantin mereka berlalu begitu saja tanpa terjadi sesuatu karena Daniel tahu istrinya belum siap untuk itu, ia tidak akan memaksakan kehendak dirinya pada istrinya.


Malam berganti pagi, matahari sudah naik dari ufuk timur. Burung-burung berkicau dengan merdunya air embun berjatuhan dari daun-daun hijau pepohonan yang rimbun.


Seorang pria masih berpakaian lengkap dengan kemeja juga jasnya mengerjapkan mata yang silau dengan cahaya matahari yang mengintip dari gorden putih miliknya, dia adalah Zen.

__ADS_1


Zen beranjak dari tidurnya, rasa pusing di kepalanya masih terasa karena efek minuman yang di konsumsi nya.


Zen meringis memegangi kepalanya. '' Sakit sekali,'' ringisnya.


Zen baru menyadari kalau dirinya masih menggunakan pakaian yang sama dengan tadi malam, ia berusaha mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada dirinya semalam, namun rasa sakit yang menyergap kepalanya membuat ia tidak bisa berfikir lebih.


'' Untunglah hari ini, hari libur,'' gumamnya dan berlalu ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya.


Beberapa saat kemudian iapun keluar dari dalam kamar mandi yang terlihat sudah lebih segar dari sebelumnya.


Ponselnya berdering yang ternyata dari bosnya, Daniel Carroll.


Ia menghela nafasnya dengan kasar, berusaha tenang untuk berbicara pada bos nya itu.


'' Selamat pagi Tuan, ada yang bisa saya bantu,'' jawabnya setelah ia menggeser icon hijau pada layar ponselnya.


'' Zen siang nanti ada pertemuan dengan Golden Corrp, kau saja yang mewakili ku, aku sangat lelah,'' ucap Daniel dengan suara khas bangun tidur nya, dan itupun yang membuat hati Zen memanas ia mengira kalau Daniel kelelahan karena terjadinya sesuatu di malam pengantin antara Daniel dan Devita.


'' Emm, baiklah,'' jawabnya yang menahan rasa sakit di hatinya. Tanpa berucap apapun lagi Daniel memutus sambungan teleponnya.


Zen kembali menghela nafasnya dengan gusar, ia benar-benar merasa sakit kala mengingat hari pernikahan Daniel dan Devita yang dilaksanakan kemarin.


'' Aku harus bisa menerimanya, aku tidak boleh seperti ini. Seharusnya aku bahagia karena wanita yang ku cintai sudah bahagia.'' Gumam Zen.


Zen sudah siap dengan pakaian formalnya, saat dia keluar dari kamarnya matanya melihat sebuah paperbag di sofa ruang tamunya.


'' Milik siapa ini,'' gumamnya, ia pun membongkar isi dari paperbag itu yang ternyata sebuah alat kecantikan yang ia sendiri tidak tau kegunaannya dan siapa pemliknya.


'' Apa ini,'' ia terus membongkar isi paperbag itu, perasaan nya seperti tidak asing dengan paperbag itu, ia berusaha mengingat-ingat.


'' Linda,'' cetusnya, ia mengucapkan satu nama yaitu Linda, Zen sudah mengingat kalau tadi malam Linda lah yang mengantarkan nya ke apartemen sampai kamarnya.

__ADS_1


'' Sangat memalukan, kenapa harus dia yang ku minta bantuan,'' gumam Zen.


'' Aaarrrrggg, mau di taruh di mana wajah ku ini,'' geramnya, ia berniat untuk membuang semua yang ada di paperbag itu tapi hatinya mengatakan dia harus mengembalikan itu semua pada pemiliknya.


__ADS_2