Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
PENYUSUP


__ADS_3

Sebuah kabar tentang adanya penyusup ke Mansion membuat Daniel sedikit tidak tenang, dia sangat mengkhawatirkan keadaan sang Ayah dan kakak prempuan nya.


Tapi untunglah ada Zen disana yang baru saja selesai mengecek keadaan Nadia di ruangan bawah tanah, Zen dan Kemal yang menangani penyusup itu, penyusup yang saat ini sudah berada di tangan Zen, tapi tidak mau membuka mulutnya saat di tanya siapa yang memerintahkan nya.


Dua orang penjaga sudah tidak bernyawa karena mendapatkan tembakan di dadanya dari penyusup itu, dan satu orang maid yang terluka karena terkena pecahan Guci yang di rusak orang itu.


Daniel terus menghubungi Zen untuk menanyakan keadaan Ayah dan kakaknya, Zen hanya mengucapkan ia fokuslah dengan Devita.


Sedikit lega mendengar nya, tapi tetap saja ia merasa tidak tenang.


''Pastikan dia membuka mulutnya.'' Tegas Daniel yang berbicara dengan Zen via telpon.


''Ya aku percayakan padamu dan bocah ingusan itu,'' Daniel menutup telponnya.


Ya yang di bilang bocah ingusan tak lain adalah Kemal, adik tirinya sendiri. Zen mengatakan Kemal pun ikut membantu menyelesaikan kekacauan yang terjadi di sana.


Daniel kembali memandang kembali wajah teduh Devita, ia usap pipi kenyal milik Devita dengan kelembutan seraya terus mengajak nya berbicara.


''Aku tahu kau bosan mendengarkan suara ku, tapi kau harus selalu ingat kalau aku benar-benar merindukan mu, Vita ku.'' Bisik Daniel tepat di daun telinga Devita.


.


.


.

__ADS_1


Tugas seorang Linda sekarang setiap pagi siang dan sore hari mengantarkan makanan untuk Tuan mudanya dan terkadang Dinar juga memerintahkan Linda untuk mengantarkan makanan ke kantor, ya untuk siapa lagi kalau bukan untuk Zen Batla.


Tapi Linda cukup cerdik dan sangat enggan untuk bertatap langsung dengan pria yang tidak berprasaan itu, dengan cara dia hanya menitipkan rantang makanan kepada Sekertaris Daniel untuk menyerahkan rantang makanan untuk seorang Zen Batla.


Dan seperti biasa, Dinar kembali menyuruh Linda hari ini untuk mengantarkan makanan tapi kali ini Linda harus mengantarkan ke tiga tempat karena Dinar saat ini sedang merasa tidak enak badan mungkin merasa syok dengan kejadian kemarin soal penyusupan, biasanya ia yang selalu mengantarkan makanan untuk Kemal di rumahnya setiap sore karena Kemal setiap sore pasti ada di rumahnya.


Tiga tempat dengan arah yang berlawanan membuat Linda sedikit menggerutu.


''Sekarang kan sudah jaman canggih, kenapa Nona muda mau merepotkan dirinya untuk membuatkan makanan untuk mereka,'' gerutunya dengan tangan yang sibuk memutar kekiri dan ke kanan kemudinya.


Ke Rumah sakit sudah, ke apartemen Kemal sudah, dan sekarang harus mengantarkan ke kantor, Linda selalu berharap ia tidak akan bertemu dengan orang yang sebenarnya harus menerima makanannya.


''Nona Rere, seperti biasa tolong berikan ini ke Tuan Zen ya,'' ucap Linda dengan sopan.


''Siap Linda, apa ini benar-benar dari Nona muda Dinar?'' tanya wanita yang bernama Rere itu.


''Tidak, aku mengiranya kau yang sengaja memberikan nya untuk Tuan Zen,'' jawab Rere.


''Dalam faktor apa saya memberikan makanan untuk Tuan Zen, saya hanya menjalankan tugas dari bos saya. Kalau begitu saya permisi.''


''Tunggu!!''


Linda sudah ingin pergi dari depan meja sekertaris itu tapi suara berbarinton itu menghentikan niatnya untuk melangkah.


Linda memejamkan matanya sebentar dan memutar badannya untuk menghadap ke seseorang yang memiliki suara itu.

__ADS_1


''Bawa rantang itu ke ruangan ku,'' dia adalah Zen, tanpa mengatakan apapun lagi, Zen berlalu melewati Linda.


Sedikit mengatur nafasnya untuk mengontrol dirinya agar tidak terpancing emosi menghadapi Zen, bila di gambarkan Zen itu seperti manusia es yang bernyawa menurut Linda.


Linda menyeret kakinya menuju ruangan Zen dengan membawa kembali rantang makanan yang sudah berada di meja sekertaris Rere.


Mengetuknya terlebih dulu dan masuk setelah mendengar sahutan walau hanya berdehem, Linda menutup kembali pintu iti dengan perlahan dan melangkah mendekat ke arah Zen yang sedang duduk di sofa yang berada di ruang kerjanya.


''Ini Tuan dari Nona muda, kalau begitu saya langsung undur diri, permisi.'' Setelah meletakan rantang makanan itu ke meja, Linda segera berpamitan.


''Lain kali kalau di perintahkan bos mu, kerjakan dengan baik.'' Ucal Zen tanpa melihat Linda.


''Maaf Tuan, saya sudah menjalankan tugas saya dengan baik,'' jawab Linda yang masih menahan diri.


''Ck, kau bahkan memakan gaji buta,'' ketus Zen, kali ini Linda sudah tidak bisa menahan diri, rasa kesalnya pada ucapan Zen yang seenaknya itu membuat benteng kokoh itu sesedikit goyah.


''Jaga ucapan anda ya, saya selalu menghormati anda sebagai asisten pribadinya Tuan muda, tapi jika anda berbicara dengan sembarangan saya akan melupakan rasa hormat saya pada anda, saya harap anda mengerti.'' Ucap Linda dengan emosinya.


''Saya bicara dengan fakta, bukan sembarangan menuduh,'' jawab Zen dengan santainya.


''Dalam hal apa anda mengucapkan seperti itu,''


''Kau di perintahkan untuk mengantarkan makanan itu untuk ku kan?'' Linda hanya mengangguk.


''Tapi kenapa kau mengantarkan nya ke Rere, bukan langsung padaku?'' pertanyaan Zen kali ini membuat Linda cukup tersentak.

__ADS_1


Tidak mungkin kan, Linda mengatakan kalau dia sangat enggan untuk bertemu langsung dengannya, kalau sampai ia jujur, mungkin si manusia es itu akan murka. Pikir Linda.


__ADS_2