
Devita terus memikirkan siapa wanita yang tadi mengajak bicara Daniel di depan ruangan dan membuat Daniel menuruhnya masuk duluan ke ruangan ini.
' Siapa dia sebenarnya, apa aku harus bertanya langsung pada Daniel,' batin Devita, Devita sedang di Pakaikan gaun yang akan dipakai nya di acara resepnya pernikahan nanti.
" Sudah selesai Nona," ucap karyawan yang membantu Devita.
" Ah ya. Terima kasih," ucap Devita dengan senyum ramahnya.
Devita melihat dirinya sendiri di sebuah cermin besar yang ada di hadapannya, gaun putih dengan hiasan manik-manik mutiara berwarna biru muda seperti impiannya terpampang jelas di matanya saat ini.
" Gaunnya indah sekali," gumamnya merasa takjub dengan desain calon kakak iparnya.
" Gaun ini di buat khusus Nona muda untuk anda Nona," ucap karyawan butik yang todak sengaja mendengar gumaman Devita.
Betapa bahagianya Devita mendengarnya, mempunyai calon kakak ipar yang menyayanginya sungguh membuat nya merasa manusia yang paling beruntung, senyum Devita terus mengembang tapi saat pikiran nya tertuju pada wanita sexi tadi senyum itu sirna dengan tiba-tiba.
Di Sofa, Daniel yang sudah menggunakan setelan jas yang akan di pakai hari H nanti sudah tidak sabar menunggu Devita keluar dari ruang ganti itu, tapi pikirannya seakan terbagi-bagi dengan Catherine wanita jallang yang tadi di temuinya, ' Apa aku harus jujur, aku tidak mau nantinya Devita tau dari orang lain,' ucap Daniel dalam hati.
Suara gorden terbuka terdengar di daun telinga Daniel seketika Daniel langsung menoleh ke asak suara yang ternyata di sana sudah berdiri seorang wanita yang menggunakan gaun pengantin yang sangat mewah dan indah, Daniel terpaku melihat aura kecantikan Devita semakin terpancar dengan menggunakan gaun itu.
Seakan-akan terhipnotis, Daniel tidak bisa berkata apa-apa lagi, mata yang tidak ada pergerakan, mulut yang sedikit terbuka, sampai Devita yang melihat expresi Daniel seperti itu membuat nya merasa malu sekaligus risih karenanya.
" You are very beautiful, honey." Cetus Daniel, Devita menunduk malu, pipi mulusnya sudah memerah karena menahan malu atas pujian Daniel.
" Daniel, jangan seperti itu," ucap Devita dengan pelan.
" No, no. Aku bersungguh-sungguh, kau memang sangat cantik, sayang." Puji Daniel lagi, ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Devita yang masih berdiri di depan ruang ganti dengan kepala yang masih tertunduk malu.
" Jangan menunduk malu, kau sungguh cantik. Wanita nya seorang Daniel Carroll harus mengangkat kepalanya dengan bangga, oke." Ucap Daniel dengan tangan yang perlahan mengangkat kepala Devita yang tertunduk.
Pukulan kecil Daniel dapatkan dari Devita, Daniel terkekeh melihat wajah malu-malunya calon istrinya.
" Kau jangan memuji ku seperti itu, aku akan malu," ucap Devita dengan manja, karyawan yang membantu Devita tadi merasa beruntung karena bisa menyaksikan kemesraan Tuan muda dan calon istrinya.
' Ternyata Tuan muda bisa bersikap manis juga.' Batin karyawan itu.
Ceklek
Pintu ruangan itu terbuka yang ternyata Dinar lah yang datang, matanya langsung tertuju ke arah Daniel dan Devita yang nampak serasi menggunakan gaun dan jas rancangan nya.
" Waaaw, Amazing, kalian sangat serasi, dan Dev kau sangat cantik, sayang." Lagi-lagi Devita tersipu malu karena mendapatkan pujian untuknya.
" Kak, jangan memujinya," ucap Daniel.
" Lho kenapa?" tanya Dinar yang tidak mengerti maksud Daniel.
" Karena nanti pipinya akan memerah seperti buah tomat," goda Daniel dan membuat Dinar tertawa karena nya.
Devita memanyunkan bibirnya karena godaan Daniel.
" Daniel kau ini bisa saja, lihat calon adik ipar ku ini sudah merajuk. Kalau dia merajuk padamu bisa-bisa dia akan membatalkan pernikahan. Mau." Ancam Dinar dan membuat Daniel diam dan menatap serius wajah kekasihnya.
" Benarkah? apa kau akan membatalkan pernikahan kita, honey." Tanya Daniel dengan wajah khawatir nya.
" Ya, karena kau menyebalkan," jawaban Devita membuat Daniel panik.
" Tidak, tidak. Aku minta maaf, aku hanya bergurau sayang. Please jangan berpikir untuk membatalkan impian kita, please," rengek Daniel yang sudah menggenggam tangan Devita, merayu nya agar tidak membatalkan pernikahan.
Devita dan Dinar saling menatap dan tiba-tiba mereka tertawa bersama melihat rengekan Daniel itu, Daniel menoleh melihat wajah Devita dan Dinar secara bergantian, Daniel langsung menyadari sesuatu kalau dirinya tengah dikerjai Kakak dan Calon istrinya.
" Kalian mengerjai ku ya," tannya Daniel dengan tatapan tajamnya.
" Iya, kau saja yang menganggapnya terlalu serius," tawa Dinar belum juga menyurut.
" Satu sama," ucap Devita dengan nakalnya.
Daniel terkekeh melihat kejahilan kakak dan calon istri nya yang kompak itu.
__ADS_1
" Kalian sangat cocok," cetus Daniel.
Fitting baju pengantin telah selesai besok Daniel dan Devita akan melaksanakan pemotretan prewedding mereka di Studio milik kakak nya juga.
Daniel dan Devita berpamitan pada sang kakak setelah itu mereka pergi dari Butik Dinar menuju suatu tempat yang Devita pun tidak tau dia akan kemana.
" Daniel kita akan kemana?" tanya Devita dengan mata yang terus memperhatikan jalanan yang tidak pernah ia lewati.
" Aku akan mengajak mu ke suatu tempat," jawab Daniel dengan singkat.
Devita hanya diam tanpa ingin bertanya-tanya lagi. Perjalanan memakan waktu 20 menit karena keadaan jalan yang tidak terlalu ramai.
Mobil berhenti di sebuah ujung tebing dengan pemandangan yang sangat indah karena hari memang sudah semakin sore.
" Apa kau ingin terus bermain ponsel, tidak ingin turun bersama ku," ucapan Daniel membuat Devita mengangkat kepalanya, matanya memperhatikan setempat mulutnya menganga kagum karena merasa takjub dengan pemandangan yang di lihatnya.
" Waaaaww," mulutnya tiba-tiba mencetus.
" Tempat apa ini, Daniel." Tanya Devita.
" Lebih baik kita turun dulu, sayang." Ajak Daniel yang sudah turun dan membukakan pintu untuk Devita, tangannya menariknya dengan lembut mambantu Devita agar turun dengan hati-hati.
Mata Devita terus memandang pemandangan yang tidak pernah ia saksikan. Langit yang sudah berubah warna menjadi jingga, burung-burung yang terbang dengan kawanannya mengarah ke arah timur untuk pulang ke rumahnya, sungguh ini sangat indah.
" Sini duduk," suruh Daniel yang sudah duduk di sebuah bangku panjang yang menhadap langsung ke arah matahari yang sudah meredup.
Pemandangan yang membuat Devita kagum matanya terfokus ke arah Sunset atau Matahari yang akan terbenam adalah waktu di mana matahari menghilang di bawah garis cakrawala di sebelah barat, keindahan yang tidak ada tandingannya menurut sebagian orang tanpa terkecuali Devita.
" Kau tau tempat ini dari mana, Daniel?" tanya Devita yang seakan-akan belum juga puas memandang pemandangan indah itu.
" Ini dulu tempat favorit ku saat aku masih remaja, dan baru kali ini lagi aku datang kamari," jawab Daniel dengan mata yang terus memandang wajah Devita dari samping.
' Aku ingin mengatakan semuanya, Vita. Tapi apa kau akan menerima masa lalu ku,' gumam Daniel dalam hati.
Daniel terus berpikir, dia hanyut dalam pikiran nya tanpa menyadari kalau matahari sudah terbenam kembali ke peraduannya.
' Apa yang di pikirkan Daniel,' batin Devita bertanya-tanya.
" Daniel, kau kenapa?" tanya Devita dengan tangan yang sedikit mengguncang lengan Daniel bertujuan menyadarkan lamunan Daniel.
" Ah ya, kenapa sayang?" ucapnya yang baru saja tersadar dari lamunanya karena Devita.
" Apa yang kau pikirkan?" tanya Devita lagi, Daniel tertunduk dadanya terasa sesak, matanya memanas karena merasa tidak mampu memandang langsung wajah polos Devita.
Entah kenapa tiba-tiba airmata Daniel menetes tanpa di sengaja, tapi Daniel tidak mau Devita tau kalau air matanya keluar, ia segera menghapusnya tanpa pergerakan yang mencolok.
" Kau kenapa Daniel?" tanya Devita sekali lagi.
" Vita, sebenarnya ada yang ingin ku bicarakan padamu," ucao Daniel dengan menghela nafasnya untuk mengumpulkan keberanian nya.
Sebenarnya Daniel tidak yakin dengan apa yang ingin di ucapkannya karena ia takut Devita akan marah dan buruknya akan membatalkan pernikahan nya nanti.
" Katakanlah, Daniel, tapi sebelum nya aku ingin bertanya sesuatu," Devita menjeda ucapannya dan menatap lekat manik mata berwarna hazel milik Daniel.
" Wanita tadi siang siapa?" pertanyaan Devita membuat Daniel terdiam, kenapa bisa pas sekali pertanyaan itu dengan apa yang akan Daniel ucapkan.
" Pertanyaan mu akan terjawab dengan apa yang akan aku sampaikan padamu,"
" Benarkah? ya sudah katakan lah," tatapan keduanya terlihat sangat serius dan itu yang membuat Daniel tidak sanggup menerima keputusan Devita nantinya setelah mendengar kejujuran nya
" Aku mohon kau jangan sampai membatalkan pernikahan kita, aku akan rela jika kau ingin menghukum ku dengan cara memukul atau mencambuk ku, tapi please jangan pernah berpikiran untuk meninggalkan ku, aku tidak akan sanggup nantinya." Ucap Daniel dengan tatapan sendunya.
" Aku akan mendengarkan nya, dan aku akan pastikan tidak akan membatalkan pernikahan kita, tapi kau katakan saja dulu," ucap Devita yang sudah tidak sabar untuk mendengar nya.
Daniel menghela nafasnya lagi, ia pasrah untuk jawaban Devita nanti, yang terpenting dia akan mengatakan kejujuran nya sekarang juga.
" Apa kau percaya pada ku?" pertanyaan Daniel membuat Devita mengernyitkan alisnya tapi karena sudah tidak sabar mendengar nya dia hanya mengangguk cepat sebagai jawabnnya.
__ADS_1
" Masa lalu ku sangatlah buruk, aku bukan lelaki yang baik aku bahkan lelaki yang sangat brengsek, mungkin aku lelaki yang tidak pantas untuk bersanding dengan wanita baik seperti mu." Daniel menghela nafasnya untuk menjeda ucapannya.
Devita masih diam memasang telinga baik-baik.
" Dulu aku akan datang ke tempat jahanam setiap kali merasa ada masalah dan untuk menghilangkan kepenatan di dalam diri ku, aku akan membayar wanita panggilan untuk melampiaskan kebrengsekan ku itu, dan itu sudah berlangsung sebanyak 4kali." Daniel mengatakan semuanya, Devita diam tanpa mengeluarkan sepatahkata dan itu membuat Daniel sangat takut.
" Aku sudah mengatakan semua keburukan ku padamu, aku tidak mau ada konflik kedepannya karena masalaluku itu, aku juga tidak ingin kaubtau dari mulut orang lain." Lirih Daniel, dia tidak berani manatap langsung wajah Devita.
Tangannya menggenggam tangan Devita yang madih diam, tapi tiba-tiba ia merasa ada air yang menetes ke tangannya yang ternyata berasal dari mata indah Devita.
Terkejut, syok dan sakit saat mendengar kejujuran yang dilontarkan Daniel, dadanya sangat terasa sesak, Devita menunduk tubuhnya bergetar manandakan kalau ia menangis tanpa suara.
" Vita please, maafkan aku, aku memang brengsek, aku mohon jangan menagis." Daniel membawa tubuh Devita ke dalam dekapan nya.
Devita masih diam tapi tidak menolak di peluk Daniel, perasaan Daniel sangat hancur karena tangisan Devita, ia sangat merasa bersalah, ia menyesali perbuatannya dimasa lalu.
" Terima kasih Daniel," ucapan Devita membuat Daniel merasa bingung.
" Buat apa? aku mohon jangan tinggalkan aku, Vita,"
" Terima kasih kau sudah mau berkata jujur padaku,"
" Kau calon suami ku, dan aku juga sangat mencintai mu, aku akan berusaha menerima mu dengan masalalu mu itu," ucapan Devita membuat Daniel tidak percaya dengan apa yang di dengarnya, expetasinya melenceng yang iabkira Devita akan marah dan meninggalkan nya serta membatalkan pernikahannya tapi tidak, Devita malah berterima kasih atas kejujuran nya.
" Kau tidak marah?"
" Marah, tentu aku marah. Tapi aku akan kecewa jika aku mengetahui nya dari orang lain," jawabnya.
Dari kejadian itu kita bisa belajar untuk berkata jujur walau akan pahit hasilnya, tapi yakin lah jujur itu lebih baik.
Mereka pun pulang dari tempat indah itu, masalah yang serius sudah terselesaikan dengan baik, Devita sudah menerima nya, menerima masa lalu buruk Daniel, berusaha ikhlas itulah yang Devita lakukan saat ini.
.
.
Di sebuah cafe, seorang wanita sedang duduk yang sepertinya sedang menunggu seseorang di sana.
" Maaf membuat kau menunggu ku terlalu lama," ucap seorang pria yang baru saja datang.
" Tidak apa, aku juga baru datang." Jawabnya.
Mereka pun duduk dan memesan makanan serta minuman yang ingin mereka santap, obrolan kecil terjadi di antara mereka sampai pesanan datang dan tersedia di atas meja.
" Kau sangat sibuk sampai tidak bisa membagi waktu mu itu," ucap pria itu.
" Iya begitulah, tugas ku sangat banyak," jawab wanita itu
" Apa keluarga Carroll membuat mu susah?"
" Tidak, mereka sangat baik, lagi pula aku juga sudah bekerja dengan mereka sudah lama,"
" Kau sudah memiliki banyak uang, kenapa tidak membuka usaha saja, kenapa harus bekerja sebagai pelayan seperti itu,"
" Aku bukan pelayan, aku ketua pelayan kau harus tau itu, aku akan mengundurkan diri jika, Tuan besar sudah sehat seperti sedia kala," pria yang menayangkan itu hanya mengangguk dan melanjutkan makannya lagi.
Obrolan-obrolan berlangsung sampai makanan mereka tandas tanpa sisah.
" Kau ingin keluar bersama ku?"
" Tidak, kita hanya membuat janji untuk makan malam kan, tidak untuk yang lainnya," ucap wanita itu dengan sikapnya yang sudah terbiasa dingin dan tegas.
Tanpa mereka tau ada seseorang yang terus menatapnya dengan tajam di dalam mobil, mata yang penuh hasrat kebencian serta kemarahan di dalamnya.
" Mereka ini sebenarnya mempunyai hubungan apa," gumam orang itu dengan rasa penasaran nya.
Rasa marahnya membuat dia tidak tahan lagi menyaksikan mereka yang sedang mengobrol dan tertawa kecil karena perbincangan nya, akhirnya orang itu berlalu pergi menancapkan pedal gasnya dan melajukan mobilnya dengan cepat.
__ADS_1
Tbc...