
Perasaan yang di yakini nya tidak akan pernah di utarakan oleh seorang pria berwatak keras dan berwajah dingin itu, ya memang dia sangat yakin kalau tidak ada perasaan apapun di dalamnya, dia hanya menyimpan kebencian yang sangat teramat dalam pada seorang wanita yang sudah merusak figura yang terdapat sebuah foto seseorang di dalamnya.
Sebelum itu dia memang tidak menyukai wanita itu, tapi setelah kejadian pecahnya figura dia menambahkan kadar dari tidak menyukai sampai membenci nya, sampai kapanpun, itu tekatnya.
" Wanita murahan, gampang sekali menerima tawaran makan malam dengan seorang pria di jam seperti ini," sungutnya, tanpa ia sadari marahnya dia menandakan bahwa ada rasa kepedulian di dalam nya.
" Haaahh, memang nya dia siapa saya, bisa-bisanya saya mempedulikan urusannya," lanjutnya, dia kembali menancapkan pedal gasnya membelah keramaian jalanan kota malam itu.
Masih di cafe.
Wanita dengan menggunakan baju biasa, yang biasanya ia selalu menggunakan pakaian formal tapi tidak untuk malam ini, sangat terlihat anggun di mata pria di depannya, rambut yang di biarkan tergerai menutupi leher jenjangnya, sungguh sangat menawan.
" Kau yakin bisa pulang sendiri?" tanya pria itu memastikan.
" Ya, aku sudah terbiasa melakukan apapun sendirian, kau tidak perlu khawatir." Jawabnya dengan yakin, akhirnya mereka berpisah di depan cafe, pria itu berpamitan lebih dulu dan wanita itu pun kembali ke mobil pemberian Tuan nya.
" Aku sudah terbiasa sendiri, jadi aku sama sekali tidak memerlukan pria manapun untuk berdiri di samping ku," gumamnya, saat dia ingin masuk ke dalam mobil seseorang memanggilnya dari pintu cafe.
" Linda," panggil orang itu, ya wanita itu yang tak lain adalah Linda ketua pelayan yang bekerja di kediaman Carroll.
" Ya Kak Wang?" jawabnya, pria yang bernama Wang itu menghampiri nya membawa sesuatu di tangannya.
" Ini ambilah, seperti nya ponsel ini milik kamu atau teman mu itu, saya menemukan nya di atas meja yang tadi kalian duduki," ucapnya memberikan sebuah ponsel yang ternyata milik pria tadi.
" Oh astaga, ia ini milik pria yang bersama dengan ku tadi, terima kasih ya Kak Wang." Ujarnya, ya Linda dan pria yang memiliki nama Wang itu sudah saling mengenal karena Linda sudah bertahun-tahun menjadi pelanggan setianya di cafe miliknya.
" Ya, ya sudah, saya kedalam lagi ya," Linda mengangguk dan tersenyum tipis, pria yang bernama Wang itu berlalu masuk ke dalam cafe lagi.
" Kebiasaan buruknya yang ceroboh tidak pernah hilang," gumam Linda dan dia pun masuk kedalam mobilnya dan melajukan nya dengan kecepatan normal.
Linda melajukan mobilnya menuju sebuah kawasan apartemen kelas atas namun tidak terlalu mewah dan mobilnya berhenti di sebuah gedung apartemen tujuanya.
" Ingatan ku masih baik kan," gumam Linda yang mengingat-ingat tempat yang beberapa tahun lalu pernah di kunjunginya.
Kakinya melangkah menuju sebuah lift yang menuju ke lantai di mana kamar pemilik ponsel itu berada, ya Linda berniat untuk mengembalikan ponsel itu malam ini juga, karena ia tidak yakin kalau esok bisa meluangkan waktu karena hari-hari nya akan sibuk untuk dua minggu kedepan karena tuannya melibatkan nya untuk mengurus acara resepsi anak dari tuannya nanti.
Pintu lift terbuka di lantai yang hanya ada beberapa kamar di sana, kakinya melangkah keluar dan menuju satu pintu lalu menekan bel, lama dia menunggu pintu itu terbuka, bukan pintu yang di tekan belnya terbuka melainkan pintu yang ada di sebrangnya yang terbuka.
Seorang pria menggunakan celana pendek selutut dan kaos serta sepatu cats yang seperti nya akan pergi untuk olahraga di malam hari, menatap tajam Linda yang tengah beridiri membelakangi nya.
" Sedang apa kau di sini?" suara berbarinton itu terdengar jelas di telinga Linda, suara yang tidak lagi asing di pendengaran nya.
Linda membalikan tubuhnya matanya melebar melihat pria di depannya yang saat ini penampilannya tidak pernah ia lihatlihat, yang ia tahu hanya penampilan formalnya saja.
" Saya tanya, sedang apa kau di sini?" tanyanya lagi, tapi saat Linda ingin menjawab nya pintu pemilik ponsel itu terbuka menampiknya seorang pria tampan yang masih menggunakan mantel mandinya.
" Linda," ucap pria itu.
" Oh ya Res, ini ponsel mu tadi tertinggal di cafe, pemilik cafe itu yang memberikan nya padaku," ucap Linda mengembalikan ponsel yang ada tangannya kepemilikannya.
" Oh astaga, terima kasih Lin, kau masuklah dulu." Ucapnya menawari Linda agar masuk dulu ke kamar apartemennya.
Tapi saat Linda ingin melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam, pria yang sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya bersuara.
" Bukannya tidak baik malam-malam begini seorang wanita masuk ke dalam kamar pria," sindir pria itu.
Linda menghentikan langkahnya dan berbalik menatap langsung wajah pria yang menyindir nya itu begitu juga pria pemilik ponsel itu, menatap heran dengan pria yang dia rasa mengurusi urusannya.
" Maaf anda siapa?" tanya pria yang pemilik ponsel itu.
Pria itu berdecak dan menjawabnya,
" Ck, apa perlu seseorang yang mengingatkan harus memperkenalkan dirinya terlebih dulu,"
Saat pria yang di temui Linda ingin menjawabnya lagi dan memajukan tubuhnya tangan Linda menahan nya tepat di dada pria itu.
" Sudahlah Reska, kau tidak perlu membuang waktu mu untuk menjawab sindiran bdia, kau masuk saja aku akan pulang, sudah malam juga." Ucap Linda dengan lembut.
" Tunggulah dulu, aku akan mengantar mu ke bawah," ucapnya tapi Linda menahannya lgi.
__ADS_1
" Tidak, tidak. tidak perlu, aku pulang ya, bye." Linda pun berlalu pergi melewati tubuh pria yang menyindirnya tadi.
" Maaf ya Tuan, lain kali urus saja urusan mu, jangan pernah mencampuri urusan orang lain lagi," ketus pria yang bernama Reska itu, ia pun masuk kekamar nya dengan membanting pintu dengan sangat keras.
" Tidak sopan," sungutnya, dan ia pun berlalu juga menuju lift untuk turun ke lantai dasar.
Lift pun sudah terbuka pria itu telah sampai di lantai dasar dan menuju pintu utama untuk ke taman apartemen tapi lagi-lagi matanya menangkap seseorang yang baru saja di temuinya itu sedang berbincang akrab dengan pria yang sepertinya seusianya.
" Benar-benar wanita murahan, siapa saja di ajak bicara," gumamnya dengan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan.
Penilaian buruk tentang Linda semakin bertambah karena ia melihat Linda yang di ajak berbincang dengan beberapa pria.
" Ya sudah aku kembali bekerja dulu ya, kau hati-hati oke." Ucapnya dan berlalu pergi meninggalkan Linda.
Linda kembali melangkahkan kakinya menuju luar untuk ke tempat dimana mobilnya terparkir.
" Penilaian ku terhadap mu memang tidak salah," cetus pria yang tadi, saat ini ia berjalan dengan mensejajarkan dengan Linda.
" Maksud anda apa?" tanya linda dengan tegas.
" Ya penilaian buruk ku terhadap mu tidaklah salah," ucapnya lagi, setelah mengucapkan itu ia berlalu meninggalkan Linda.
" Tuan Zen yang terhormat, tolong berhenti di tempat," ucap Linda dengan meninggikan suaranya. Ya pria itu adalah Zen Batla.
Zen menghentikan langkahnya saat suara Linda terdengar di telinga nya, Linda menghampiri Zen yang masih berdiri terpaku di tempat nya.
" Saya heran dengan anda, kenapa anda sangat tertarik mencampuri urusan ku, apa anda tidak ada pekerjaan lain selain itu, hm." Ujar Linda dengan ketus.
" Nona Linda maaf, saya tidak pernah tertarik mencampuri urusan anda, sekalipun tidak, jadi anda jangan terlalu percaya diri," balasnya yang tak kalah ketusnya.
" Ck, ucapan anda tidak sesuai dengan apa yang anda perbuat, dasar lelaki tidak punya prinsip," Cetus Linda yang langsung berlalu pergi dari hadapan Zen yang tengah terpaku diam dengan memandang pundak Linda yang kian menjauh.
" Sial, dia bilang aku tidak mempunyai prinsip, memang nya dia siapa bisa menghina ku seperti itu," mata Zen menatap tajam ke arah Linda yang sudah masuk ke mobilnya dengan berlalu meninggalkan pelataran apartemen.
.
.
.
Pemotretan prewedding pun sudah di laksanakan dan tentunya berjalan dengan lancar, persiapan pesta resepsi sudah rampung semua.
" Kau harus luluran stiap hari, Dev. Agar aura mu nanti akan terpancar dengan sempurna." Ucap Puspa yang sedang menemani Devita yang sedang di lulur dengan ahlinya.
" Aku bahkan belum mengumpulkan keberanian untuk berdiri menatap banyak orang," jawabnya, seperti biasa Devita selalu tidak percaya diri kalau harus menghadapi banyak orang nanti.
" Kau ini ada-ada saja,"
" Oh ya Dev, sejak lama aku ingin menanyakan sesuatu padamu, tapi aku selalu lupa."
" Menanyakan apa?"
" Kau tahu hubungan Kemal dengan ka Daniel itu apa?" tanya Puspa.
" Ya bawahan dengan atasan, apa lagi. Memang nya kenapa kau bertanya seperti itu?" jawabnya, ya Devita yang bahkan belum tahu siapa Kemal di keluarga Daniel itu hanya menjawab dengan apa yang dia tahu.
" Tapi kenapa Kemal memanggil Ka Daniel dengan sebutan Kakak,"
" Puspa Kinara, kau memang mempunyai hubungan apa di keluarga Carroll! tidak kan, sama dengan Kemal, dia memanggilnya kakak mungkin hanya untuk lebih akrab lagi," ujar Devita, Puspa mengangguk setuju dengan apa yang Devita ucapkan.
" Sudah ya tidak usah membahas itu lagi, sekarang aku yang ingin mengucapkan sesuatu padamu," ucap Devita.
" Apa?"
" Belakangan ini aku selalu kepikiran dengan Chloe, dia apa kabar ya?" ucap Devita, Puspa yang memang tidak menyukai perihal Chloe hanya memutar bola matanya malas.
" Dia sedang mengandung, pasti sulit menjalankan hari-hari tanpa si Ayah dari cabang bayinya," ucapnya lagi.
" Kenapa kau harus membahas wanita iblis itu sih, merusak suasana saja," cetusnya.
__ADS_1
" Sejahat apapun dia, dia tetap sepupu ku, Pu. Aku ingin sekali dia hadir di acara bahagia ku nanti,"
" Ya sudah terserah kau saja, kenapa kau tidak menanyakan dia pada tuan Reno saja," usulnya.
" Tuan Reno, kenapa dia,"
" Ya kan Tuan Reno yang mengantarkan nya ke tempat tujuannya waktu itu," ucap Puspa, Devita menganggukkan kepalanya.
Setelah melakukan perawat, Devita berniat untuk menanyakan Chloe pada Reno, tapi sang Ayah memanggilnya untuk keruangan kerja sang Ayah, dan mau tidak mau Devita menunda untuk menanyakan itu.
" Kau mau kemana, Dev." Tanya Puspa.
" Aku di panggil Ayah, oh ya kau bisa membantu ku?"
" Bantu apa?"
" Tolong wakilkan aku untuk menanyakan Chloe pada Ka Reno ya, please," rengek Devita, Puspa menghela nafasnya dengan kasar, sungguh ia tak sanggup menolak permintaan Devita.
" Baiklah," pasrah Puspa, Devita tersnyum senang dan berlalu pergi setelah mengucapkan kata terima kasih pada sahabat nya itu.
Puspa berlalu pergi untuk mwncari keberadaan Reno yang entah tau dimana adanya, dia terus mencari dari mulai dapur sampai halaman belakang tapibia tidak kunjung menemukan Reno.
Kalau bukan permintaan sahabat nya ia tidak akan membuang-buang waktu nya untuk melakukan hal yang di anggapnya tidaklah penting.
Puspa menuju sebuah rumah kaca yang berada di sudut halaman depan Mansion, matanya menangkap seseorang yang di carinya ternyata sedang menyirami tanaman-tanaman yang ada di rumah kaca itu.
" Tuan Reno," panggil Puspa yang masih berjarak beberapa meter dari tempat Reno berdiri.
Merasa terpanggil iapun menoleh mwncari asal suara yang memanggilnya, matanya memicing karena yang memanggilnya gadis yang bahkan tidak pernah menyapanya dengan khusus.
" Ya ada apa?" tanya Reno dengan wajah dinginnya.
" Aku ingin bicara sesuatu, kau tidak sibuk kan?" tanya Puspa dengan cuek.
Reno menruh selang nya kembali ke tempat nya dan duduk di sebuah kursi yang ada di sana dengan diikuti Puspa yang ikut duduk di sana.
" Kau yang kemarin mengantarkan Chloe kan?" pertanyaan Puspa membuat Reno kembali memikirkan keadaan Chloe.
" Ya kenapa?"
" Apa kau tau keadaannya bagaimana? dan kemarin kau mengantarkan nya kemana?"
" Saya hanya mengantarkan nya kesebuah Rumah Sakit khusus untuk yang mempunyai gangguan mental,"
" Apa dia tidak membohongi kita semua?" tanya Puspa lagi, Reno menatap nya dengan heran lalu menggelengkan kepalanya dengan yakin.
" Aku rasa tidak, ibunya benar-benar dirawat di sana," jawab Reno.
" Menurut mu kalau kita mengundangnya untuk menghadiri di acara resepsi pernikahan Devita, dia akan datang atau tidak," ucap Puspa, cara bicara Puspa ke Reno seperti sudah tidak ada lagi kecanggungan padahal Puspa dan Reno belum pernah saling menatap atau saling menyapa.
Mungkin memang sifat dan karakter Puspa yang cuek, percaya diri yang tinggi membuat ia terbuka pada siapapun, itulah karakter nya.
" Bisa di konfirmasikan lagi pada Tuan besar, Nona. Saya tidak berani untuk memberikan saran apapun yang menyangkut keluarga beliau," ucap Reno, memang benar status Reno yang hanya pesurih dan kepercayaan dari Tuan nya tidak bisa sembarangan mengambil keputusan.
" Tapi jika Ayah setuju, apa mereka mau datang?"
" Bisa jadi, saya juga tidak tahu pasti Nona,"
" Haaahhh, aku bingung, Devita sangat kepikiran dengan keadaan Sepupunya dia juga ingin Chloe datang di acara bahagia nya nanti," ucap Puspa.
" Saya bisa membantu jika sudah ada izin dari Tuan besar," ucap Reno, Puspa menoleh ke arah nya dengan cepat.
" Benarkah? kalau begitu nanti aku tanyakan lagi pada Devita," Reno hanya menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah, terima kasih ya tuan Reno," Puspa pun berlalu meninggalkan Reno masih duduk di kursi rumah kaca itu.
" Bagaimana kabarnya sekarang ya?" gumam Reno memikirkan kabar Chloe wanita yang beberapa hari ini mengusik pikirannya.
Tbc...
__ADS_1