
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππ...
Saat Daniel membawa Devita ke sebuah toko perhiasan, seorang gadis cantik langsung memeluk Daniel.
''Daniel, kenapa kamu tidak lagi ingin menemui aku'' Ucapnya begitu manjanya.
Daniel melepaskan pelukan gadis itu dengan sedikit kasar, terlihat sekali Daniel tidak nyaman dengan situasi seperti itu, begitu juga Devita yang sudah menekuk wajahnya.
''Kau bisa bersikap biasa?'' ucapnya dengan dingin.
Β
---
Hati yang mudah sekali rapuh hanya bisa menahannya dengan tegar, dan yakin adalah tujuan awalnya, tapi siapa yang tau kalau si hati ini sebenarnya tidak bisa menerima serangan yang begitu mendadak seperti ini.
Devita merasa sesak kala melihat Daniel di peluk Seseorang dengan posesif nya, ada konspirasi hati yang saat ini mendominasi.
Tegar, ya hanya kata itu yang saat ini Devita perjuangankan, berusaha tenang walau sakit yang di rasanya.
''Daniel aku ke toilet sebentar ya.'' Saat Devita ingin berlalu, dengan segera mungkin Daniel menarik kembali tangan Devita.
''Tidak perlu, kau cukup berdiri di samping ku saja.'' Bisiknya dengan meyakinkan hati Devita yang sedang tidak nyaman itu.
''Daniel, apa aku mengganggu waktu mu?'' tanya Wanita itu tanpa tau malu.
''Tidak, hanya saja memang kita sedang tidak ingin ada pihak lain yang ikut serta.'' Perkataan Daniel sudah sangat cukup untuk menyindir sebenarnya, tapi wajah yang sudah di tebalkan sangat sulit untuk menyadari nya.
''Tapi aku bukan pihak lain itu bukan?'' tanya nya dengan melirik langsung ke arah Devita.
Devita hanya memberikan senyum manisnya, entah senyuman apa yang di berikan Devita kali ini, tapi ketahuilah itu senyuman terpaksanya.
''Kau sedang apa disini?'' tanya Daniel dengan wajah yang tetap datar.
__ADS_1
''Aku habis menemui teman lama ku, dan aku tidak sengaja melihat mu.'' Jawabnya dengan wajah yang riang.
Daniel hanya ber'oh ria dengan di barengi anggukan kecil di kepalanya.
''Oke, kami pergi dulu ya.'' Ucap Daniel yang sudah bersiap untuk melangkah.
''Aku boleh bergabung dengan kalian kan?'' pertanyaan wanita itu membuat langkah Daniel terhenti.
Daniel melirik Devita yang tengah melihatnya juga, dengan tatapan yang seperti meminta persetujuan atau entah apalah tapi Devita malah mengangguki nya tanda setuju.
''Baiklah,'' dengan menghela nafas, Daniel meng'iya kannya.
''Terima kasih.'' Ucapnya dengan girang, dan merangkul lengan Daniel yang sebelah kiri.
''Nadia, apa pantas di lihat orang aku menggandeng dua wanita selaligus seperti ini.'' Ucapnya dengan jengah.
Ya wanita yang berwajah tebal itu adalah Nadia, teman masa kecilnya Daniel.
''Biarkan saja, sejak kapan kau memperdulikan omongan orang.'' Jawabnya, yang masih merangkul lengan kiri Daniel.
''Sebentar.'' Daniel melepaskan tangannya yang memegang Devita begitu pula melepaskan lengan yang di rangkul Nadia.
''Kau mau apa?'' tanya Nadia.
''Kau datanglah sekarang juga, nanti aku akan kirim lokasi ku, tidak pakai lama.'' Ucapnya sekejap dan mematikan sambungan telepon nya dengan sepihak.
Devita mengernyit kan alisnya merasa bingung dengan apa yang di lakukan Daniel kali ini.
''Daniel,'' panggil Devita menuntut penjelasan.
''Kau tenang lah sayang.'' Bagai kejutan yang tak terhingga bagi Devita, Daniel memanggilnya dengan sebutan 'sayang, dan berbeda dengan Nadia Ia bagaikan tekena hantaman badai di hatinya saat mendengar ucapan itu keluar langsung dari mulut Daniel.
Devita menunduk dengan mengulum senyum, ketahuilah saat ini pipi Devita sedang memerah bagaimana tomat yang matang.
Nadia melirik Devita yang tengah salah tingkah dengan tatapan tajamnya.
''Terlalu terbawa perasaan,'' gumamnya dengan sinis.
''Apa kau lelah?'' tanya Daniel pada Devita dengan tangan yang mengelus lembut rambut hitam Devita.
''Tidak,'' jawabnya.
__ADS_1
''Daniel, sebenernya kau habis menghubungi siapa?'' tanya Nadia.
''Seseorang, nanti juga kau akan tau.'' Jawabnya dengan wajah yang sulit di artikan.
Dua puluh menit, Daniel dan Dua gadis itu menunggu seseorang yang di hubungi Daniel, akhirnya datang juga.
''Maaf Tuan, jalanan sangat padat di jam-jam seperti ini.'' Ucap seseorang yang tak lain adalah Zen Batla.
''Kau sangat lamban, Zen.'' Ketus Daniel.
''Maaf Tuan.''
''Ya sudah, ayo kita makan.'' Ucap Daniel berlalu dengan tangan yang kembali menggandeng tangan Devita. Saat melewati tubuh Zen, Daniel memberi isyarat dengan matanya menunjuk ke arah Nadia.
Dengan kepekaan tingkat Dewa, Zen langsung mengerti dengan apa yang di maksud Daniel.
''Mari Nona.'' Ucap Zen, memberikan jalan pada Nadia.
''Menyebalkan.'' Gerutu Nadia dengan ketus.
Zen menghela nafasnya dengan berat. Situasi apa ini? kenapa dirinya selalu terjebak di mana hatinya yang merasakan pilu saat melihat sepasang anak manusia yang bergandengan tangan itu.
Daniel membawa Devita ke sebuah Restoran Jepang yang sangat terkenal dengan nama The Araki, dengan menu yang sangat menggugah selera bagi pencinta makanan Japanese, itu bagaikan syurga dunia baginya.
''Kau makan yang banyak ya.'' Ucap Daniel penuh perhatian pada Devita.
''Kau juga.'' Jawabnya dengan senyum.
Daniel melirik ke dua orang yang ada di hadapannya. ''Makanlah.'' Ucapnya dengan datar.
''Daniel aku mau mencoba Teriaki mu, seperti nya enak,'' ucap Nadia, dengan memakai sumpit secepatnya mengambil nya dari mangkuk yang ada di depan Daniel.
Devita bersikap acuh, karena dipikirnya itu hanya sikap biasa dalam pertemanan.
''Devita, bagaimana dengan Toko bunga mu?'' tanya Nadia dengan so akrab nya, Daniel heran dengan pertanyaan itu, Dari mana Ia tau kalau Devita membuka Toko bunga, pikirnya.
''Semua berjalan dengan semestinya, besok adalah acara pembukaan nya.'' Jawab Devita dengan ramah.
''Wait, kau tau dari mana, kalau Devita membuka toko Bunga?'' tanya Daniel dengan serius.
''Tempo hari Nadia mengunjungi Toko, Daniel.'' Timpal Devita dengan meneruskan makannya.
__ADS_1
Nadia Tengah salah tingkah dengan tatapan tajam Daniel, apa yang harus Ia jawab.