Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Tiada Arti


__ADS_3

Zen sudah bertekad tidak lagi mau mengganggu Linda, ya karena dia merasa derajatnya jauh di bawah Linda dan membuat nya tidak lagi percaya diri untuk maju.


Zen telah bersiap untuk pulang, dengan koper berukuran kecil Zen menggeretnya menuju meja resepsionis untuk melakukan Check Out dari hotel dimana ia menginap.


Setelah memelakukan proses pembayaran Zen melanjutkan langkahnya menuju mobil perusahaan yang sudah menunggu nya.


Selama di perjalanan Zen terus saja menatap keluar jendela entah apa yang di pikirkannya tapi wajah Linda lah yang selalu hadir di setiap ia mengedipkan mata nya.


Dan di sisi lain tepatnya di depan sebuah restoran sepasang pria dan wanita sedang bertengkar hebat.


Si pria yang nyaris saja mendaratkan tangan kekarnya di wajah wanitanya yang tengah menantangnya dengan berani.


'' Kenapa? kenapa berhenti, ayo tampar,'' ucap wanita itu dengan beraninya.


'' Kau benar-benar berubah,'' ucap si pria.


'' Berubah, kau sangat lucu, aku yang memergoki mu sedang bersama dengan wanita lain dan kau malah menyalahkan diriku. Cih,, memalukan.'' Ucap si wanita dengan emosinya.


'' Kamu harus tau kenapa aku bersama wanita lain, karena dirimu yang tidak ada lagi waktu untuk ku!'' ucap si pria dengan meledak-ledak.


'' Aku kau buat sebagai alasan kebejatan mu, pengecut!! mulai detik ini rencana yang kita susun rapih itu aku batalkan.'' Ucap si wanita yang sama emosinya.


'' Apa kau yakin?'' tanya si pria dan di 'iyakan si wanita.


Pria itu pergi begitu saja dari sana bersama seorang wanita dengan mobilnya meninggalkan wanita yang tadi berdebat dengan nya.


Kepergian pria itu menyisakan luka yang teramat dalam di hati di wanita sampai tidak terasa air mata menetes dengan sendirinya menatap mobil yang semakin menjauh dari dia.


Dari sebrang jalan ada seseorang yang terus saja memperhatikannya tanpa si wanita itu sadari.


Karena rasa lelah juga pikirannya yang sedang kacau tiba-tiba wanita itu terjatuh dan pingsan setelah merasakan sakit di kepala nya.


Beberapa saat kemudian wanita itu tersadar dengan berada di sebuah rumah sakit. '' Kenapa aku ada di sini,'' gumam wanita itu dengan memegang kepalanya yang masih terasa pening.


'' Kau pingsan di pinggir jalan,'' jawab seseorang dari arah sudut ruangan yang membelakanginya menghadap sebuah jendela kaca yang langsung menghadap ke luar.


Mata si wanita itu memicing karena merasa tidak asing dengan gestur tubuh pria yang tengah membelakanginya.

__ADS_1


'' Tuan Zen,'' lirihnya.


'' Aku tidak mengira kau lemah karena seorang pria,'' ucapnya dengan dingin.


'' Bukan urusan mu,'' ucap si wanita itu yang sudah ingin beranjak dari berangkar tapi seorang perawat yang baru saja masuk melarangnya.


'' Jangan Nona, anda harus beristirahat,'' ucap perawat itu.


'' Saya ingin pulang,'' ucap wanita itu dengan tegas.


'' Menurut lah Nona Linda jika kau ingin cepat keluar dari sini,'' ucap Zen dengan kaki yang melangkah menuju ranjang.


Ya mereka adalah Linda dan Zen, Zen yang tidak sengaja menyaksikan pertengkaran Linda dengan seorang pria yang sangat diyakini nya adalah kekasih dari Linda.


Linda langsung terdiam mendengar ucapan Zen yang kembali dengan kata formalnya.


'' Kemana sikap kurang ajarnya kemarin?'' gumam Linda.


Zen melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. '' Saya harus pergi, jaga dirimu baik-baik,'' ucap Zen yang sudah melangkah menuju pintu keluar.


Tidak ada jawaban dari mulut Linda, dia hanya diam menatap mengikuti langkah Zen yang keluar dari kamar.


'' Aku tidak menyangka kebersamaan kita di tiga tahun ini tidak ada artinya sama sekali, dan kamu malah seenaknya menyalahkan aku dengan kesalahan mu sendiri,'' gumam Linda yang tidur dengan menyamping ke kiri.


Lamanya hubungan tidak menjaminkan akan menuju ke jenjang keseriusan, dimana banyak kasus seorang akan berpaling karena sosok orang ketiga dan pasangan nya akan memutuskan karena sakit yang dirasakan nya. Dan ada juga karena rasa lelah dengan hubungan yang terjalin dengan datar saja, banyak faktor dari berakhir nya hubungan tapi kebanyakan yang seperti itu.


Berakhir nya hubungan, membuat Linda sangatlah sedih tapi dia merasa tidak ada penyesalan di dalamnya, dia tidak menyesal memutuskan kekasihnya dan saat ini yang di rasakan nya suatu perasaan yang lega.


'' Tuan Zen, aku belum sempat berterima kasih dengan nya,'' ucap Linda yang langsung beranjak memegang tiang infus dan segera keluar beserta tiang infus itu.


'' Kemana dia,'' gumam Linda, mata Linda terus mencari keberadaan Zen tapi bak seperti di telan bumi, sosok Zen todak lagi terlihat.


'' Apa dia sudah pergi,'' ucapnya lagi dengan sedih.


'' Tapi tidak mungkin, baru beberapa detik dia keluar kamar, pasti dia masih adabdi sekitar sini,'' ucapnya meyakinkan dori dan ternyata memang Zen masih berada di rumah sakit itu dan sedang berada di meja resepsionis mengurus administrasi perawatan Linda.


'' Tuan Zen,'' panggil Linda.

__ADS_1


Zen langsung menoleh ke belakang, dengan tatapan terkejutnya ia menatap Linda dengan sangat lama. '' Kau sedang apa disini,'' ucap Zen dengan sedikit meninggikan suaranya.


'' Aku sedang mencari mu,'' jawab Linda.


'' Kau harus istirahat, kau benar-benar menyusahkan,'' omel Zen yang tiba-tiba saja menggendong Linda dan mencopot infus dari tiang nya agar dapat di bawa dengan dia sekalian.


Tidak ada penolakan dari Linda, dia benar-benar heran dengan reaksi Zen yang sangat berlebihan itu, matanya terus saja memandang wajah tegas Zen tiada henti.


Dampai kamar Zen menaruh Linda dengan sangat hati-hati ke ranjangnya.


'' Tidak bisakah kamu diam di ranjang mu, hah, Kalau sampai terjadi apa-apa bagaimana,'' omel Zen dengan tangan yang sibuk menaruh kembali botol infus ke tempat nya dan menyelimuti Linda memastikan Linda tiduran dengan nyaman.


Linda tidak bersuara, ia terus memperhatikan perhatian Zen padanya yang membuat dadanya berdebar sangat cepat.


'' Kenapa Tuan, begitu perhatian pada ku?'' pertanyaan Linda membuat Zen diam mematung.


'' Dan maksud dari ucapan tuan kemarin apa?'' tanya Linda lagi, Zen tetap diam.


'' Apa maksud dari sikap tuan yang seperti ini?'' Linda terus bertanya namun Zen tetap bungkam.


'' Aku tidak mengerti dengan sikapmu yang labil itu, terkadang kau kasar dan terkadang kau lembut, terkadang ucapan mu menyakitkan dan terkadang kata-katanya membuat aku heran.'' Ujar Linda.


'' Jawab Tuan,'' ucap Linda menatap langsung kemata Zen dan Zen pun menatap manik mata Linda.


Cukup lama mereka beradu pandang dan Zen lah yang mengakhirinya.


'' Istirahat lah, jangan kebanyakan berpikir dulu, aku akan keluar sebentar,'' ucap Zen yang sudah ingin melangkah pergi namun tangannya di pegang Linda dan membuat Zen terdiam, menghela nafasnya dengan kasar dan berbalik menatap Linda lagi.


'' Perlu kau ketahui, aku pun tidak mengerti dengan perasaan ku ini, tapi aku sangat senang kau menyadari sikap ku terhadap mu,'' ucap Zen dengan lembut.


Linda terdiam, jawaban Zen membuat nya semakin berdebar tapi dia juga tidak mengerti debaran dadanya ini menunjukkan apa.


Ponsel Zen berdering membuat Zen segera mengambil ponselnya dari saku celananya.


'' Halo Tuan,'' ucap Zen setelah mengangkat telpon.


'' Hah! apa kau yakin Tuan, apa dia akan mau,'' ucao Zen dengan kencang karena rasa terkejutnya.

__ADS_1


TBC....


__ADS_2