
Di malam yang sesunyi ini, Kemal duduk menyendiri di balkon kamarnya dengan kuntung rokok di tangannya, perasaan nya malam ini benar-benar kacau, belum pernah Ia merasakan sesakit ini ketika menaruh perasaan pada wanita tapi tidak pernah di anggap ada.
Menyesap rokok bagi sebagian pria itu untuk menenangkan pikiran tapi tidak dengan perasaan nya.
Satu nama wanita yang membuatnya merasa seperti pria pecundang, Puspa. Kemal terkekeh dengan perasaan yang meremehkan dirinya sendiri.
''Kemal, Kemal. Kau sungguh pria pecundang.'' Gumam nya sendiri.
Ponselnya sedari tadi terus berbunyi namun tidak sama sekali di gubrisnya, entah dengar atau tidak tapi ponsel itu diletakan tidak jauh darinya dan mustahil kalau tidak menyadari deringan ponsel nya.
Beberapa kali Kemal menghela nafasnya dengan bertujuan agar bisa menenangkan hatinya yang sedang tergores belati cinta dari Puspa, hatinya benar-benar sakit tapi Ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Ponselnya kembali berdering dan Kemal pun akhirnya menoleh namun tidak ada niatan untuk mengangkatnya, deringan yang di khususkan untuk kontak Puspa, ya sedari tadi yang terus menelponnya ialah Puspa.
Kemal melangkah menuju nakas mengambil kunci motor dan melangkah kembali ke meja kecil samping jendela dan berlalu pergi dari kamar nya.
''Den Kemal tidak makan dulu,'' teriakan pembatu Kemal
''Tidak Bu, saya tidak pulang malam ini, kunci rumah yang benar.'' Ucap Kemal dengan ramah dan di angguki dengan pembantunya.
Kemal menuju garasi yang terdapat beberapa motor serta mobil kesayangannya, tapi kali ini Ia ingin mengendarai motor harley favorit nya,
Mengendarai dengan hati yang kacau sebenarnya akan membahayakan tapi tidak dengan kemal, Ia akan tetap mematuhi peraturan lalu lintas.
Motornya melaju ke sebuah area gedung Apartemen, beberapa saat kemudian Kemal sudah memarkirkan motor nya di parkiran khusus dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke gedung apartemen itu.
Menaiki lift dan memencet tombol untuk tujuannya, tujuan ke sebuah lantai yang bertuliskan 25, tidak lama lift itu bergenti di tempat tujuan Daniel.
Teettt
Kemal memencet beberapa kali bel salasatu kamar itu.
Klik
Seseorang membukakan pintu itu dengan alis yang mengernyit.
''Mau apa kau kemari?'' tanya seseorang itu.
''Jangan banyak tanya Zen,'' Kemal menyelonong masuk tanpa izin sang pemilik kamar yaitu Zen Batla.
__ADS_1
Zen mendengus kesal namun tidak mengusirnya.
''Ada masalah?'' tanya Zen dengan kaki yang melangkah ke arah dapur untuk mengambil minuman dingin untuk Kemal dan kembali ke ruang tamu.
''Entahlah, kau punya Dutch Bier?'' tanya Kemal.
''Ambilah di lemari pendingin itu, masih ada tiga botol.'' Ucap Zen, Kemal langsung beranjak dari berdirinya menuju lemari pendingin yang di tunjuk Zen, lemari pendingin yang berada di samping lemari Tv yang di khususkan untuk menyimpan minuman beralkohol.
Zen bisa menebak apa yang terjadi, ya karena kebiasaan Kemal kalau sedang kesal dan mempunyai masalah pastinya datang ke Apartemen Zen.
''Kali ini apa yang membuat mu kesini?'' tanya Zen ke Kemal yang sedang menuang minuman itu ke gelasnya.
''Puspa,'' jawab Kemal dengan singkat.
''Pusap? temannya Devita?'' tanya Zen dan di angguki Kemal.
Zen sudah bisa menebaknya kalau Kemal memang ada hubungan dengan Puspa gadis yang di kenalnya sebagai teman nya Devita.
''Kalau kau tidak bisa menerima sakitnya saat kecewa jangan sesekali kau berani melangkah ke dalam suatu hubungan,'' ucap Zen.
''Dan kau harus menerima konsekuensi nya, sedari awal kan kau tahu kalau gadis itu menerima mu dengan kata yang di artikan hanya mencobanya, jadi ya mestinya tidak perlu terkejut.'' Ucapnya lagi dengan jari yang terus mengetik sesuatu di laptopnya.
Kemal menghela nafasnya dengan kasar, yang di ucapkan Zen memang benar adanya tapi rasa sakit tetaplah rasa sakit, Ia hanyalah manusia biasa yang bisa saja merasakan sakit dan bahagia di hatinya.
''Sebaiknya kau istirahat Kem, sana di kamar tamu.'' Perintah Zen, Kemal menurut Ia langsung beranjak dan berlalu ke atas untuk istirahat di kamar tamu.
''Sebenarnya aku merasa kasihan dengan mu Kem, tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa.'' Gumam Zen dengan mata yang terus memperhatikan langkah sempoyongan Kemal.
''Daniel memang tidak menganggap mu seorang adik, tapi ada aku yang manganggap mu sebagai adik ku, sudah sehebat apapun kamu, kamu tetap Kemal kecil ku,'' lanjutnya dengan teduh.
Di Rumah Sakit Dinar dan Daniel sedang menemani sang Ayah dengan sesekali melakukan obrolan kecil.
''Devita tadi kesini?'' tanya Dinar.
''Iya, kau tahu dari mana?'' tanya balik Daniel.
''Tadi Ayah bercerita sedikit, sepertinya Ayah menyukai Devita,'' ucapan Dinar langsung di salah artikan Daniel.
''Apa-apaan kau ini, Devita itu milik ku, kenapa kau bisa bicara kalau Ayah menyukai Devita.'' Ucap Daniel tidak Terima.
__ADS_1
''Astaga, Bodoh!! Maksud aku bukan seperti itu, makanya kau dengarkan dulu ucapan ku jangan memotongnya dengan seenaknya.'' Omel Dinar dengan tangan yang memukul kepala Daniel.
''Kau ini, sakit tahu,'' ringis Daniel.
''Biarkan, agar otak mu itu tidak lagi berpikiran negatif,'' ucap Dinar dengan tawanya.
Daniel hanya diam, Ia malas meladeni kaka perempuannya yang cengeng itu.
''Niel,'' panggil Dinar, Daniel menjawabnya hanya dengan sebuah deheman.
''Mau sampai kapan kau seperti ini,'' ucapan Dinar yang tidak di mengerti Daniel, membuat Daniel harus berpikir.
''Apa maksud mu,'' tanya Daniel yang tidak suka berbasa-basi.
''Mau sampai kapan kau tidak menerima Kemal.'' Ucap Dinar dengan jelas, expresi Daniel langsung berbeda karena mendapatkan pertanyaan itu.
''Apa salah Kemal padamu, itu adalah kesalahan orang tua kita, tidak ada sangkut pautnya dengan kediran Kemal.'' Ucap Dinar dengan tegas.
''Tapi dia anak dari wanita murahan itu.'' Ucap Daniel dengan nada yang sedikit meninggi.
''Dan kita?'' ujar Dinar, seketika Daniel membisu.
''Ingat Niel, eratnya suatu hubungan itu ya dengan keluarga sendiri terutama dengan adik dan kakak nya.'' Ucap Dinar lagi.
''Akhirilah perasaan benci mu itu,'' lanjutnya.
''Kau tidak perlu ikut capur ka, aku tau mana yang harus ku lakukan.'' Ucap Daniel dengan serius dan berlalu pergi begitu saja.
''Keras kepala.'' Gumam Dinar.
''Nar,'' panggil sang Ayah.
Dinar menoleh ke arah ranjang sang Ayah dan langsung menghampiri nya.
''Ayah sudah bangun,'' ucap Dinar begitu lambut.
''Buatlah Kemal dan Daniel berdamai,'' pinta Sang Ayah dengan suara yang bergetar.
''Ayah mendengar perbincangan kita tadi?'' tanya Dinar terkejut, sang Ayah mengagguk.
__ADS_1
''Ayah sangat berharap mereka berdua bisa saling menerima satu sama lain, terutama Daniel.'' Ucap nya lagi.
''Iya Ayah, Dinar juga sangat menginginkan itu, Dinar sedang berusaha.'' Jawab Dinar dengan yakin