
Devita masih terpaku di depan lemari yang terbuka itu, ia sungguh heran dan bingung untuk apa yang akan dia lakukan.
" Ayah, kau sungguh keterlaluan. Aku tidak mau menggunakan ini," gumamnya, ya isi lemari itu hanyalah beberapa gaun malam yang sangat cukup terbuka dan Devita belum pernah mengenakannya melihat pun Devita merasa jijik.
Daniel yang merasa ada yang aneh dengan Devita akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.
'' Vita, kau sedang apa?'' tanya Daniel, Devita yang terkejut karena pertanyaan Daniel langsung menutup pintu lemarinya dengan keras.
'' Tidak, aku tidak sedang apa-apa,'' jawabnya dengan gugup.
'' Kau ini kenapa, ooohhh aku tau kau ingin menggoda ku ya,'' goda Daniel.
'' Menggoda? maksud mu,''
'' Ya kenapa kamu tidak memakai pakaian mu,''
'' Itu karena emmm.. Kau tidurlah dulu nanti aku menyusul,'' ucap Devita masih dengan kegugupan nya.
Daniel memicing curiga, ia benar-benar merasa ada yang aneh dengan sikap istrinya itu.
'' Kau ini kenapa? hm?'' tanya Daniel lagi.
Devita tertunduk malu dan mau tidak mau ia harus mengatakan apa yang membuat dia khawatir.
'' Pakaian yang ada di lemari,'' ucapnya dengan lirih.
'' Ada apa?'' Daniel langsung membuka pintu lemari untuk mengetahui apa yang membuat istri kecilnya itu khawatir.
Mata Daniel melebar saat melihat beberapa gaun malam yang tergantung di lemari, bibirnya menahan senyum sekarang ia tau apa yang membuat Devita gugup sedari tadi.
'' Apa kau merasa malu?'' tanya Daniel dan Devita hanya menganggukkan kepalanya.
'' Emmm biar ku tebak, kau juga malu untuk mengenakan itu kan,'' lagi-lagi Devita hanya menganggukkan kepalanya.
'' Ya sudah tidak usah di kenakan, biar ku hubungi ka Dinar untuk memesankan piyama tidur untuk mu,'' ucapan Daniel membuat Devita bernafas dengan lega.
'' Terima kasih suami ku,'' ucap Devita dengan senyum manisnya.
__ADS_1
'' Haaahh, kau membuat ku tidak tahan ingin memakan mu,'' cetus Daniel, alis Devita menyatu merasa bingung dengan apa yang diucapkan Daniel.
'' Kau lapar, Daniel?''
'' Ya bahkan teman ku juga sudah sangat lapar, ya sudah aku hubungi ka Dinar dulu,'' ucapnya yang sengaja menggoda Devita, dan dia pun berlalu menuju balkon untuk menghubungi Kakak perempuan nya.
'' Teman? dimana temannya,'' gumam Devita.
Di Tempat lain, tepatnya di sebuah club seorang pria yang penampilannya sudah sedikit berantakan sedang duduk sendirian dengan bertemankan beberapa botol minuman beralkohol.
Terlihat sekali pria itu sedang tidak baik-baik saja, dengan sesekali meracau tidak jelas karena memang efek dari alkohol yang di konsumsi nya.
'' Aku benar-benar sudah hancur,'' gumamnya lalu menenggak kembali minuman itu.
Suasana hatinya sangatlah buruk, setelah menyaksikan langsung wanita yang di cintainya berada di altar pernikahan bersama orang lain, dia sudah berusaha untuk menerima nya tapi hatinya sama sekali tidak mampu.
Dia merasa takdir nya sangatlah buruk semua orang yang di cintainya di ambil dengan cara yang berbeda-beda, dan kali ini ia merasa sangat rapuh, saat dirinya ingin menenggak kembali minumannya ada tangan yang langsung menepisnya.
'' Siapa kau!!'' sungutnya.
'' Kau gila Zen, kau minum sebanyak ini,'' ucap orang itu dengan meninggikan suaranya.
'' Memangnya kenapa, apa peduli mu,'' ucap Zen yang sudah setengah sadar.
'' Kau mau mati, hah!!'' bentaknya lagi.
'' Ya, bahkan aku sudah tidak lagi mempunyai jiwa, jiwa ku entah pergi kemana, aku merasa hancur, kehidupan ku hancur,'' racau Zen.
'' Kau ini kenapa? ada masalah apa?'' tanya orang itu yang ternyata adalah Terry sahabat dari Daniel dan Zen.
'' Cinta ku sudah pergi, untuk kesekian kalinya orang yang ku cintai meninggalkan ku dengan cara yang berbeda-beda,''
'' Siapa yang kau maksud Zen?'' tanya Terry.
'' Ck, kau tidak perlu tau, sobat.''
'' Ya sudah aku mau pulang,'' ucap Zen lagi.
__ADS_1
'' Biar ku antar,'' ucap Terry tapi Zen menolaknya dengan tegas, ia menolak untuk diantar keras kepala Zen sama dengan Daniel yang tidak akan bisa terpatahkan.
Zen berlalu meninggalkan Tarry yang bahkan tidak boleh mengikutinya walau berbeda mobil.
'' Siapa yang di maksud,'' gumam Terry.
Zen menaiki mobilnya dan melajukannya dengan kecepatan normal, walau dengan keadaan mabuk tapi tidak sepenuhnya dia tak sadar dengan apa yang di lakukannya maka dari itu dia menyetirnya dengan hati-hati.
Tapi saat dia akan melewati jalan yang menikung dan berbarengan ponselnya berdering dia tidak sengaja hampir menyerempet seseorang yang sedang berjalan di pinggiran dan membuat Zen berhenti mendadak sampai mencimptakan suara decitan rem yang di injaknya.
'' Astaga, aku menyerempet seseorang,'' ucap Zen dengan panik, ia pun segera turun dari mobil untuk melihat keadaan orang yang hampir celaka karena nya.
Seorang gadis sedang membersihkan celananya yang kotor karena ia sempat jatuh duduk karena terkejut.
'' Nona maafkan saya, saya benar-benar tidak sengaja,'' ucap Zen dengan rasa bersalah nya.
Wanita itu yang sedang menunduk seketika langsung menoleh dan melihat orang yang berbicara padanya.
'' Tuan Zen,'' ucapnya dengan wajah terkejutnya.
'' Kau, ck. Lagi-lagi aku harus berurusan dengannya.'' Gumamnya.
'' Kau tidak bisa menyetir, hah. Hampir aku celaka karena dirimu,'' maki wanita itu.
'' Hampir kan, tidak sampai celaka. Lagipula aku kan sudah meminta maaf,'' ucap Zen membela diri.
'' Kau bahkan btidak merasa bersalah sama sekali, entah kalau bukan aku yang kau serempet apa sikap mu akan begitu,''
'' Tentu tidak. Sudahlah kau juga tidak apa-apa kan jadi tidak perlu kau perpanjang,'' jawabnya dengan gaya yang sangat menyebalkan bagi wanita itu.
'' Wait!! apa kau bilang, tidak perlu di perpanjangan? kau ini pria macam apa sih sebenernya, benar-benar keterlaluan.'' Emosi wanita itu sudah tidak bisa lagi di bendung.
'' Kau bahkan tidak merasa bersalah, sungguh aku sangat membenci pria seperti mu, aku selalu celaka saat bersama mu, kau tidak pantas di sebut pria, Tuan Zen!!'' ucapnya panjang lebar dengan emosi yang mengebu-gebu.
'' Sudah!! sudah berbicaranya. Ya kau benar aku hanya manusia pembawa sial, sampai orang yang ku cintai saja semua pergi meninggalkan ku, ya kau benar aku pantas di benci, aku juga tidak pantas di sebut pria seperti apa yang kau katakan itu, kau benar Nona Linda!!'' Ucap Zen yang sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.
Wanita itu yang ternyata adalah Linda, ia sangat syok mendapatkan bentakan dari Zen yang dikenal nya dengan kepribadian yang tenang tapi tidak untuk saat ini.
__ADS_1
' Ada apa dengan dia, kenapa bicara tidak nyambung seperti itu,' batin Linda yang merasa aneh.
Tbc..