
Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...πππππππ...
Di Mansion Carroll ada Dua orang yang sedang mengobrol dengan di selingi candaan, yang tak lain adalah Kemal dan Nadia, Lima tahun tidak bertemu keduanya masih sama seperti dulu, tetap akrab seperti saudara.
Keduanya sekarang berada di sebuah mini bar di lantai Dua, dengan dua gelas *R*ed wine sebagai teman obrolan mereka.
''Kemal, kau masih belum akur dengan Daniel?'' tanya Nadia. Kemal terdiam, Ia mengingat ucapan Daniel yang di rasa sangat menyakitkan.
''Ya seperti dulu, walaupun aku menganggap dia adalah Kaka ku, tetap saja dia menganggap ku bawahannya karena aku hanyalah adik tirinya.'' Jawab Kemal dengan tangan yang memutar kaki gelas yang berisikan Red wine itu.
''Daniel memang keras dari dulu, kau tahu lah penyebabnya apa, jadi harap di maklumi saja.'' Ucap Nadia.
''Iya aku tau itu,'' timpal nya.
''Oh Astaga, koper ku dan koper Ka Dinar masih berada di bagasi mobil Daniel.'' Ucapnya dengan nada tinggi.
''Isshhh, tinggal hubungi nomor Daniel, apa susahnya.'' Ucap Kemal memberi saran.
''Ah iya benar,'' Nadia pun menghubungi nomor Daniel.
''Daniel, koperku masih di bagasi mobil mu.'' Ucap Nadia setelah teleponnya tersambung.
'' Iya, nanti akan ku antar.'' Jawab Daniel.
''Kalau bisa sekarang ya, aku ingin mandi dan tidak ada pakaian gantinya.'' Ucap Nadia memaksa.
''Ya, kau bawel sekali.'' ..
''Ya sudah, bye.'' Nadia sangat merasa tidak sabar untuk bertemu Daniel lagi. Kemal memperhatikan raut wajah Nadia dengan teliti.
__ADS_1
''Jangan terlalu berharap, nanti kau akan sakit.'' Ucap Kemal dengan tiba-tiba.
''Isshh, apa sih kamu ini,'' ketus Nadia.
Nadia berlalu meninggalkan Kemal yang masih menyesap sedikit demi sedikit Red wine nya.
''Di beritahu tidak ingin mendengar, ya sudah akan aku nantikan dimana kau menangis karena nya, Nadia.'' Gumam Kemal dengan senyum yang menyeringai.
.
Di Apartemen, Daniel sedang berpakaian, memang berniat ingin mengantarkan koper Kakanya yang tertinggal di bagasi mobilnya.
Dengan menggunakan kemeja hitam dan celana denim yang hitam juga, Aura ketampanan nya semakin terpancar di dirinya.
Setelah selesai bersiap, Daniel segera melangkahkan kakinya keluar dari unit Apartemen nya.
Baru ingin menekan tombol lift menuju Basement, Daniel teringat Devita dan jarinya pun memencet tombol dimana Devita tinggal.
Tidak membutuhkan waktu lama, Devita pun membukanya, dengan wajah datar tak ada senyuman di wajah Devita dan Ia pun langsung menanyakan tujuan Daniel mendatanginya.
''Ada apa?'' tanya Devita.
''Kau sedang apa?''..
''Sedang mengerjakan tugas kampus, kenapa?''..
''Ikut dengan ku ya.'' ..
''Kemana?''..
''Ke Mansion Ayah, aku ingin mengantarkan koper Kakak ku yang tertinggal di bagasi mobil ku.'' Ucap Daniel mengatakan yang sebenarnya.
''Kau saja, aku sedang tidak ingin kemana-mana.'' Jawab Devita dengan malas.
''Devita pleas, aku sangat tidak suka penolakan.'' Ucap Daniel dengan tegas, Devita menelan salivanya dengan kasar mendengar nya.
__ADS_1
''Ya baiklah, aku akan bersiap dulu.'' Devita pun berlalu menuju kamarnya, ya saat ini Ia hanya menggunakan baju rumahan maka dari itu Ia akan mengganti pakaian nya dulu.
Daniel menunggu di ruang tamu Ia duduk di Sofa di depan televisi, matanya tertuju pada ponsel Devita yang tergeletak di meja yang banyak tumpukan buku.
Dengan senyum jahilnya Daniel memeriksa isi ponsel Devita, matanya melebar dengan di susul tawa nya, ya Daniel melihat kontak dirinya yang di beri nama 'Tuan Jass Juice'.
''Apa-apaan dia ini, memberi nama ku seperti ini.'' Daniel pun menekan layar yang bertuliskan 'Edit, dengan segera Ia menggantinya, senyum jahilnya tersirat kembali.
Suara langkah kaki terdengar, dengan cepat Daniel menaruh kembali ponsel Devita di tempat semula.
''Kau sudah siap, Vita.'' Tanya Daniel.
''Emmm.'' Hanya deheman yang Devita keluarkan.
Daniel menghela nafas dengan perlahan dan tidak lupa dengan senyum menawannya Ia tunjukan ke Devita.
''Ya sudah, ayo kita berangkat.'' Ucapnya dengan menyambar tangan Devita untuk di gandeng nya. Mereka pun berjalan dengan bergandengan tangan sampai di sebuah Basement.
Banyak mata yang melihatnya, tapi Daniel seakan tidak memperdulikan mata-mata mereka yang tertuju padanya.
''Pelan-pelan.'' Ucap Daniel setelah membukakan pintu mobil untuk Devita, dengan tangan yang menghalangi kepala Devita agar tidak terhantuk langit-langit mobil.
Senyum tipis tersirat di bibir mungil Devita bahkan Daniel pun tidak melihat nya, hatinya sangat bahagia menerima perlakuan manis dari Daniel.
Dengan perlahan Daniel melajukan mobil berpintu dua itu. Sesekali ia melirik Devita yang sedang memainkan ponselnya.
''Vita, kau masih marah?'' tanya Daniel memulai pembicaraan.
''Marah? tidak, untuk apa aku marah pada mu.'' Walaupun bibir Devita mengatakan tidak, Daniel sangat tau bahwa Gadisnya ini sedang menyembunyikan rasa yang tak nyaman pada dirinya.
''Devita Maharani, Aku tau kau sedang berbohong.'' Ucap Daniel dengan menyebut nama panjang Devita, terkesan sangat lucu jika ada orang lain yang mendengar nya.
''Daniel Carroll, aku sungguh tidak marah pada mu.'' Balasnya.
Mulut Daniel terbuka dengan expresi wajah yang tak mengira kalau Devita akan berani membalas ucapannya.
''Ohooo ternyata, Vita ku sudah mulai berani.'' Ucap Daniel dengan tangan yang mengacak surai rambut Devita dengan gemas, tawa keduanya pun memenuhi ruang mobilnya.
__ADS_1