
Devita dan Daniel sudah berada di dalam mobil untuk menuju ke Bandara.
Devita masih di buat heran, mau di bawa kemana dia? kenapa Ayah nya juga mengizinkan Daniel membawanya? bukannya sang Ayah dan kekasihnya tidak akur? Devita terus berfikir sampai Ia tak menyadari kalau mobil yang di taikinya sudah berhenti di sebuah Bandara.
''Hei, kenapa? kenapa melamaun?'' tanya Daniel membuyarkan lamunan Devita.
''Aah, tidak. Aku tidak melamun,'' elaknya.
''Kamu tidak senang aku ajak pergi?''
''Bukan begitu, hanya saja aku masih bingung, kam ingin membawa ku kemana?'' ujar Devita dengan mata polosnya.
''Sudah ku katakan, nanti juga kau akan tahu.'' Ucapnya sambil bersiap untuk turun.
Devita tidak lagi mengucapkan apa-apa, Ia mengikuti langkah Daniel, Daniel menolehbke arahnya dan dengan sigap menyambar telapak tangan Devita untuk di genggamnya.
Satu koper berukuran kecil berada di tangan kiri Daniel dan tangan kanannya untuk menggandeng kekasihnya.
Setiap langkah mereka banyak pasang mata yang menatapnyan kagum dan tidak sedikit pula ada yang menatpnya iri.
Sebagian orang yang berada di bandara sangat tau, siapa pria yang menggandeng seorang wanita cantik itu.
Daniel Carroll siapa yang tak mengenalnya, pembisnis sukses di negaranya dan sering tampil di televisi pemberitaan perkembangan bisnisnya.
Dengan memakai masker dan kaca mata hitamnya Daniel berjalan santai, Ia mengira dengan penampilan seperti itu, tidak akan ada yang mengenalinya, tentu itu salah.
''Kau siap kan? kita akan berada di dalam pesawat cukup lama,'' tanya Daniel dan mendapatkan anggukan dari Devita.
20 menit lagi pesawat akan take off, Daniel dan Devita sudah berada di dalam pesawat, tapi Devita masih tetap bungkam.
Rasa lelah bercampur bosan menyergap Devita karena sudah 8 jam berada di dalam pesawat, yang pada akhirnya Ia tertidur dengan kepala bersender di bahu kanan Daniel.
''Kau lelah ya,'' gumam Daniel mengusap tangan Devita.
''Tidurlah, perjalanan masih panjang,'' lanjutnya setelah mengecup buku tangan Devita.
15 jam sudah mereka berada di dalam pesawat, dan akhirnya pesawat yang di tumpanginya Landing di sebuah Bandara dengan baik dan sempurna.
__ADS_1
Rasa tidak tega untuk membangunkan Devita dan pada akhirnya Daniel menggendongnya dalam posisi Devita masih tertidur pulas.
Daniel membawa Devita ke sebuah hotel mewah yang sudah di pesannya dua kamar untuk nya dan untuk Devita.
Masih pulas di dalam gendongan Daniel, Daniel membawanya ke kamar Devita sendiri.
Daniel sangat mengerti apa yang di rasakan Devita yaitu Jet lag, dimana sebagai orang akan merasakan mabuk penerbangan.
Saat Daniel akan keluar dari kamar Devita, Devita terbangun dan memanggil nama Daniel karena melihat Daniel yang akan keluar dari dalam kamar.
''Daniel,'' lirih Devita dengan suara seraknya.
''Kau sudah bangun? ini minumlah yang banyak.'' Ujar Daniel mengarahkan gelas berisikan air mineral.
Devita meminumnya sampai tandas tak tersisa.
''Lagi?'' tanya Daniel, Devita hanya menggeleng pelan.
''Kepala ku pusing sekali, dan tubuhku terasa lemas, Daniel.'' Ucap Devita tanpa sadar dengan bernada manja.
Daniel tersenyum mendengar nya.
''Kita dimana?'' tanya Devita.
''Di hotel, kau istirahat lah dulu. Aku akan ke kamar ku untuk membersihkan diriku dahulu.'' Ucap Daniel dan di jawab dengan anggukan Devita.
''Kalau kau perlu aku, kamar ku berada di sebelah, oke.'' Goda Daniel dengan mengedipkan sebelah matanya dan mendapatkan pukulan kecil dari Devita di dadanya.
Setelah mengecup singkat puncak kepala Devita, Daniel berlalu keluar, dan Devita pun melanjutkan tidurnya.
.
.
.
Seorang gadis di berbeda Negara, sedang bergelut dengan ponselnya, Ia terus berguling di ranjang besarnya.
__ADS_1
Gadis itu terus berucap, hajar terus, ayo jangan kasih ampun. Yang ternyata Ia sedang bermain game di ponselnya.
Suara ketukan pintu terdengar membuat gadis itu berdecak kesal.
''Kenapa Mah,'' teriaknya.
''Sudah malam, tidur. Jangan bermain game terus,'' ujar sang Mama.
''Iyaa,'' sahutnya dengan berteriak.
Baru saja Ia bernafas lega karena yang mengganggu nya sudah pergi, Semenit kemudian ponselnya berdering dan membuat Ia berteriak kesal.
Nama Pria yang baru saja Ia terima cintanya, namun untuk percobaan sementara sudah menganggu waktu bermain game nya.
''Hem,'' jawabnya setelah Ia memencet icon berwarna hijau untuk mengangkat telpon dari seseorang itu.
''Kau sedang apa? aku mengganggu mu tidak?'' ujar seseorang itu.
''Aku sedang bermain game, dan kau menganggunya,''
''Kau masih bermain game, inikan sudah malam,''
''Memangnya kenapa?''
''Aku tidak ingin kau sakit, Mpus.'' Ucapnya dengan sangat lembut.
Yang tadinya rasa kesal karena nya, dengan mendengar penuturan sang pengganggu, Puspa tersenyum malu.
Ya gadis itu tak lain adalah Puspa yang sangat hobi bermain game online di ponselnya, dan sang penelpon adalah Kemal, pria yang baru saja resmi sabagai kekasihnya.
Dua jam lamanya Puspa dan Kemal bertelpon ria dan akhirnya Puspa yang mengakhiri obrolan mereka yang beralasan sudah mengantuk.
Setelah menutup sambungan telepon itu, Puspa memandang sebuah foto yang di simpan di galeri ponselnya, ia tersenyum lembut dan mengecup layar ponsel itu.
''Terima kasih,'' ucapnya dengan lirih, dan beralih ke aplikasi lain. Bukannya tidur melainkan Puspa malah melanjutkan game nya yang tertunda tadi.
__ADS_1
tbc