
Hari ini Devita juga Daniel akan pergi piknik ke sebuah tepi danau, pagi-pagi sekali Devita sudah bersiap karena rasa tidak sabarnya ia terus menghubungi Puspa juga Linda agar tidak lupa datang.
'' Memang nya siapa saja yang ikut?'' tanya Daniel yang sedang memakai pakaian nya.
'' Puspa dengan Kemal, Linda juga Zen, dan yang lain tidak jadi ikut,'' jawabnya.
'' Kenapa?''
'' Chloe belum pulih, dan Jonathan ada keperluan mendadak katanya,'' Daniel hanya menganggukan kepalanya.
Barang-barang yang perlu di bawa sudah masuk semua ke dalam mobil dan merekapun pergi dan untuk yang lainnya akan menyusul.
'' Pokoknya di sana kau harus membuatkan aku jagung bakar yang lezat ya,'' ucap Devita dengan exited, Daniel tersenyum ke arahnya dan mengusap lembut pujuk kepala Devita dengan sayang.
Setibanya mereka di sana, sudah ada Kemal juga Puspa yang sudah menyiapkan karpet serta pemanggang dan beberapa kotak yang di dalamnya ada bahan untuk makan mereka.
'' Pu, Kem. Kalian dari sejak kapan sudah disini?'' tanta Puspa.
'' Baru saja,'' jawab Puspa.
Mereka sudah duduk di atas karpet, dan meminum minuman dingin yang di bawa Daniel, saat mereka sedang asik berbincang dua orang datang namun dengan jarak yang berjauhan.
'' Ka Linda, kemarilah,'' ucap Devita, ya mereka adalah Linda juga Zen yang datang bersama namun dengan jarak yang jauh.
'' Zen kau kenapa?'' tanya Daniel, Zen hanya menggedikan bahunya.
'' Kenapa aku juga harus kesini sih,,'' gerutu Zen, Daniel yang mendengar gerutuan Zen hanya tersenyum tipis.
Dari memanggang jagung, daging dan lainnya dan acara memancing juga mereka lakukan, sampai mereka merasa kelelahan dan beristirahat dengan duduk kembali di karpet.
'' Aku lelah,'' ucap Puspa.
'' Aku bosan,'' ucap Kemal.
'' Kalian payah, bagaimana kalau kita melakukan permainan Truth and Dare dengan botol ini,'' ucap Devita menunjukan botol minuman yang sudah kosong.
'' Setuju, dan semua harus ikut,'' jawab Puspa.
Mereka duduk dengan membentuk lingkaran dan yang pertama mendapatkan giliran memutar adalah Devita.
'' Aku mulai yaa,'' ucap Devita dan iapun memutar botol itu yang ternyata ujung botol itu berhenti tepat menunjuk Kemal.
'' Yeaayy, Kemal sekarang kau harus memilih, Truth or Dare?'' ujar Devita.
__ADS_1
'' Baiklah aku akan memilih Truth,'' jawabnya.
Semua bersorak kecuali tiga orang dingin yang tak lain Daniel, Zen juga Linda mereka hanya tersenyum tipis menyaksikannya.
'' Pertanyaan, aku akan menayangkan pada tapi kau harus jujur,'' ucap Devita dan Kemal mengangguk.
'' Kepan kau akan mengajak Puspa ke pelaminan?'' tanya Devita, pertanyaan Devita membuat Puspa tertunduk malu.
'' Waah, kau harus menjawab pertanyaan istri ku, kalau tidak awas kau,'' ancam Daniel dan mendapatkan tawa dari semua orang.
'' Aku akan mengajaknya ke pelaminan jika Puspa siap,'' jawab Kemal, semua kembali bersorak.
'' Kau dengar Pu, kapan kau akan bilang siap,'' ledek Devita.
'' Sudah-sudah, jangan meledeknya kakak ipar, sekarang giliran ku yang akan memutarnya.'' Kemal memutar botol itu lagi yang ternyata behenti di hadapan Linda.
'' Wah Linda, sekarang giliran kau,'' teriak Daniel.
Suasana semakin menghangat karena tiga manusia kaku sudah lebih bisa berbaur dengan yang lainnya.
'' Oke kalau begitu, kau harus memilih Truth or Dare,'' ucap Kemal.
'' Saya memilih Truth,'' jawab Linda.
'' Wooow, sayang kau memberi pertanyaan yang sangat menyeramkan,'' ucap Devita.
'' Tidak sayang, kita lihat, dia akan menyebutkan siapa,'' bisik Daniel.
'' Baiklah akan saya jawab dengan jujur, Tuan Zen,'' jawab Linda, semua mata melebar dengan sempurna.
'' Maksud dirimu apa, kenapa kau menyebutkan nama ku,'' tanya Zen dengan tajam.
'' Aku harus mengatakan nya dengan jujur kan,'' jawab Linda dengan ketus.
'' Lihatlah honey, kau tidak akan merasa bosan melihat perdebatan mereka,'' bisik Daniel dengan kekehannya.
Devita memukul lengan Daniel dan ikut tertawa.
'' Ya kenapa kau harus menjawab nama ku kenapa tidak yang lainnya,'' ucap Zen lagi yang masih belum terima dengan jawaban Linda.
'' Ya karena hanya kau yang saat ini aku benci,'' jawabnya Linda yang tak mau kalah.
'' Wait wait wait, jangan saling membenci, kalian tau ada kata seperti ini, dari benci tumbuhlah benih cinta,'' ucap Kemal menengahi perdebatan Linda dan Zen.
__ADS_1
'' Aku berdoa agar aku tidak akan menerima kisah cinta dengan dirinya,'' gumam Linda.
'' Dan aku juga berdoa agar aku tidak mendapatkan kekasih yeng menyebalkan seperti dirimu,'' jawab Zen yang mendengar gumaman Linda.
Semua tertawa bahagia karena berhasil membuat perdebatan kecil yang menghibur waktu piknik nya.
Hari sudah mulai malam dan mereka sudah ingin meninggalkan danau itu, Devita dan Daniel sudah lebih dulu meninggalkan tempat, juga Puspa yang sudah tertidur karena kelelahan dan di bawa Kemal ke mobilnya.
Tinggalah dua anak manusia yang berwatak keras itu sedang membersihkan kekacauan bekas piknik mereka dengan saling diam.
'' Kenapa aku harus bersama dengan dirinya sih,'' gerutu Linda.
'' Jangan menggerutu, kerjakan cepat, aku sudah lelah,'' jawab Zen yang mendengar gerutuan Linda.
'' Kenapa anda tidak menelpon orang anda saja untuk membantu mengurus ini semua,'' ucap Linda, Zen teridam ia baru menyadari kebodo nya.
Benar kata Linda kenapa aku harus repot kalau aku bisa memerintah orang ku, pikir Zen.
'' Kau tidak usah mengajari ku, karena ini memang keinginan ku,'' jawab Zen yang tidak mau terlihat bodoh.
'' Ohhh keinginan anda, baiklah. Kerjak sendiri,'' ucap Linda yang langsung berlalu pergi meninggalkan Zen yang terus meneriakinya namun tidak sama sekali di gubrisnya.
'' Wanita itu benar-benar menyebalkan,'' ucap Zen yang kesal dengan tingkah Linda.
Zen merogoh saku celananya dan menghubungi seseorang untuk datang ke tempat dia sekarang.
Setelah menunggu beberapa waktu, dua orang betubuh besar datang menghadapanya dan Zen berlalu pergi menyusul Linda.
Zen sudah tidak sabar ingin memberi peringatan pada Linda, ia membuka pintu mobil dengan kasar saat ia ingin bicara seket lidahnya keluh.
Wajah damai itu terlihat di wajah wanita yang di anggapnya menyebalkan itu, ya Linda tertidur di mobil dengan posisi duduk.
Wajah yang di lihatnya selalu kaku namun kali ini wajah itu sangatlah teduh, damai dan manis, Zen terus memperhatikan Linda surai-surai rambut menutupi sedikit wajah Linda.
Dengan perlahan ia singkirkan surai itu agar tidak mengganggu tidur nyenyak Linda, ada sedikit getaran di hatinya saat melihat Linda yang tertidur tapi Zen sendiri tidak tahu, getaran apa itu.
'' Tuan kami sudah selesai,'' ucapan orang yang di perintah dirinya untuk mengurus pekerjaan nya membuat Zen terkejut.
Zen menutup pintu mobil dengan sangat pelan dan menatap tajam kedua orang yang berdiri di hadapannya.
'' Kalian bisa mengganggu tidurnya,'' omel Zen.
'' Maaf Tuan,'' ucap dua pria itu.
__ADS_1