Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Nafsu Daniel


__ADS_3

Perkelahian dua Pria yang sangat di cintai Dinar terjadi di depan matanya, Suami dan Adik nya.


Daniel yang kerasa kepala tidak mendengarkan teriakan Dinar sedikitpun, Toni yang sudah hampir mati karena amukan Daniel yang terus menghajarmya namun Toni huga tidak mau menyerah untuk membalas pukulan Daniel, tapi percayalah sedikitpun luka di tubuh Daniel tidak ada.


''Daniel STOP!!'' teriak seseorang yang berada di ambang pintu.


Daniel seketika menghentikan serangannya karena sangat tahu itu suara siapa.


Devita, ya dia adalah Devita yang datang karena di hubungi Dinar untuk menenangkan Daniel. Devita berlari dan memeluk Daniel dari belakang bertujuan semata-mata untuk menenangkan Daniel, dan itu berhasil.


Danil melepaskan kungkuhannya di leher Toni yang hampir saja kehabisan nafasnya.


''Kenapa kamu kesini?'' tanya Daniel dengan nada dinginnya, ia sedang berusaha meredakan emosinya yang membara itu.


''Aku tidak ingin mempunyai calon suami seorang pembunuh.'' Degghh' ucapan Devita membuat Ia terpaku, dengan ketidaktahuan Devita, Daniel pun sudah menjadi pembunuh, beberapa nyawa sudah Ia habiskan.


Daniel berbalik dan membalas pelukan Devita, pikiran nya kacau karena ucapan Devita. Bagaimana kalau Devita tau, siapa dirinya yang sebenarnya? pikir Daniel.


Akankah Devita marah dan menjauhinya? Daniel terus menduga-duga apa yang akan terjadi.


''Daniel, aku mohon, Stop.'' Lirih Devita dengan menatap langsung mata hazel milik Daniel.


Daniel tersenyum dengan lembut, dan melepaskan pelukannya.


''Kau bantu aku tenangkan ka Dinar ya,'' ucap Daniel melirik Dinar yang tengah Syok.


Devita mengangguk mengerti, Ia pun berjalan menuju Dinar. Sedangkan Daniel kembali melangkah menuju Toni yang tengah sekarat.


''Katakan, apa tujuan mu.'' Ucap Daniel dengan tangan yang di lipat di atas perut nya.


''Cih, tentu saja karena harta tua bangka itu.'' Jawab Toni dengan byiada rasa takutnya.

__ADS_1


''Harta? bukannya kau telah di beri satu perusahaan untuk kau kebangkan?'' tanya Daniel lagi.


''Itu belumlah cukup, kau tau.'' Jawab Toni dengan menyeringai.


''Manusia tidak tau diri, serakah. Kau tikus got yang di ambil orang tua ku agar menjadi seorang manusia yang berguna, namun kesempatan yang di berikan seorang Tua Bangka ''seperti apa yang kau sebut itu, kau sia-siakan, bahkan kau tidak pantas di sebut manusia.'' Ucap Daniel sambil menahan nafsu, insting membunuh nya seakan meronta-ronta ingin tersalurkan namun Ia sadar ada seorang wanita yang Ia sayangi di belakangnya.


''Katakan, kau bekerja sama, dengan siapa?'' tanya Daniel, Toni milirik Dinar yang tengah menangis.


''Seseorang yang kau sangat kenal,'' jawabnya.


''Kau sangat tahu, aku sangat tidak suka dengan berbasa-basi,''


Seseorang terpaku di tempat, di ambang pintu,bia baru saja datang dan menyaksikan adegan yang membuatnya gemetaran.


''Ada apa ini?'' tanya seorang gadis yang tak lain Ia adalah Nadia.


Semua yang ada di kamar itu menoleh dengan kompak setelah mendengar suara yang berasal dari arah pintu.


''Daniel ada apa?'' tanya Nadia memegang lengan Daniel.


''Kau menyingkir lah dulu,'' ucap Daniel dengan dinginnya dan membuat Nadia dengan cepat menyingkirkan tangannya dari lengan Daniel.


''Ka Dinar, apa yang terajdi, kenapa Daniel menghajar ka Toni seperti itu?'' tanya Nadia dengan kaki yang melangkah mendekat ke arah dua wanita itu, Dinar dan Devita.


''Toni yang ternyata telah mencelakai Ayah, Nad.'' Jawab dinar dengan isakan tangisnya.


Mata Nadia terbelalak, dan menoleh ke arah Tonibyang juga sedang melihat ke arahnya.


Dengan langkah yang cepat Nadia menghampiri Toni dengan tangan yang memegang sesuatu.


''Brengsek!! kau tau ka, Ayah Frans lah yang aku punya sekarang, dan kau bisa-bisanya berniat membunuh nya.'' Ucap Nadia dengan wajah yang memerah dan tangan yang mencengkram kera baju Toni.

__ADS_1


''Aku pikir kau orang baik, ternyata kau picik,'' maki Nadia, Toni hanya diambtanpa ada sahutan dari mulutnya.


Nadia melepaskan tangannya dan merogoh tas kecilnya mengambil sesuatu.


''Lihat ka, ini kamu yang dulu, yang pertama kali di Angkat Ayah Frans apa kau lupa?'' Nadia menunjukkan sebuah foto keluarga dari dalam tasnya.


Nadia kembali mencengkram kerah baju Toni, tanpa di duga nafas toni seketika tersengal-sengal dan menghembuskan nafas terakhirnya, Nadia melepaskan cengkraman di kerah baju Toni dengan wajah panik.


''Daniel, ka Toni kenapa?'' tanya Nadia dengan air mata yang sudah bercucuran membasahi wajah cantiknya.


Nadia berdiri dari duduknya dan mundur secara teratur, tanpa di duga Daniel, Nadia langsung memeluknya dengan tubuh yang gemetar takut.


''Daniel, aku tidak membunuh ka Toni kan.'' Ucap Nadia dengan membenamkan wajahnya di dada bidang Daniel.


Perasaan sakit di rasakan Devita melihat pria yang di cintainya di peluk seorang wanita walau wanita itu sudah di anggap sebagai anggota keluarga dari prianya.


Dinar melihat wajah Devita yang murunt saat melihat Nadia memeluk Daniel, Dinar mengusap lengan Devita untuk menguatkan nya.


Daniel memerintah penjaga untuk memeriksa Toni, dan yang penjaga katakan membuat Dinar serta seisi kamar sang Ayah terkejut, karena Toni sudah tidak lagi bernyawa.


''Daniel, aku tidak membunuh ka Toni,'' ucap Nadia dengan histeris.


''Sudah-sudah, si brengsek itu memang sudah waktunya matti,'' ucap Daniel dengan membalas pelukan Nadia bertujuan menenangkan Nadia yang tengah ketakutan.


Dinar melangkah menghampiri suaminya, walau suaminya telah berbuat jahat pada sang Ayah, perasaan cintanya terhadap nya tidak lah hilang.


''Toni, aku tidak menyangka kau berbuat jahat pada keluarga ku, tapi aku akan mencoba memafkan mu karena rasa cinta ku padamu begitu besar,'' lirih Dinar.


Daniel memerintah anak buahnya mengurus pemakaman Toni tanpa menyangkut pautkan kepolisian.


Tanpa sengaja Daniel melirik ke arah Devita yang tengah menatapnya juga dengan tatapan sendunya, seketika Ia sadar Devita tengah cemburu melihat nya memeluk Nadia.

__ADS_1


Dengan cepat Daniel melepaskan pelukan Nadia dan melangkah menuju Devita.


__ADS_2