Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Mimpi yang Indah


__ADS_3

Menunggu keajaiban itu datang seperti menunggunya bintang jatuh dari langit yang entah tau kapan datangnya.


Perasaan sedih seorang Daniel tidak bisa lagi di sembunyikan, air mata yang tak pernah ia jatuhkan akhirnya terjatuh di sebuah ruang kecil di bagian kamar bercat putih itu.


Bahkan Daniel tidak ingin air matanya di tunjukkan di depan Devita yang masih memejamkan matanya, saat Daniel ingin sekali menumpahkan kesedihannya ia selalu berlalu dan menuju ruangan kecil itu, toilet. Ya toilet yang ada dikamar inap Devita lah saksi bisu kesedihan seorang Daniel.


Air mata yang selalu Ia tumpahkan di sebuah wastafel di sana, sungguh. Berpura-pura kuat melihat orang terkasihnya masih memejamkan mata sungguh sulit.


''Kenapa kau tidak pernah adil, Tuhan.'' Ucap Daniel dengan mata merahnya, ia menatap tajam bayangannya sendiri di sebuah cermin di toilet sana.


''Sedari kecil aku bahkan tidak pernah merasa di cintai, tapi saat ada seseorang yang baru saja mencintai ku, kau merenggut kesenangan ku.''


''Apa salah ku.'' Buku-buku tangan Daniel memerah karena Ia mengepalnya terlalu keras. Ingin sekali Ia perotes pada sang Pencipta tapi kemana ia harus pergi.


Setelah puas meluapkan emosinya, Daniel keluar dengan wajah yang basah karena ia menyempatkan membasuh wajahnya agar air matanya yang membasahi wajahnya tampannya tersingkirkan.


Daniel kembali duduk di kursi samping ranjang gadisnya, mengusap surai rambutnya dan mengecup kening yang masih berbalut perban itu dengan sayangnya.


''Maaf sayang, aku meninggalkan mu terlalu lama,'' ucap Daniel dengan lembut.


Ponsel Daniel berdering nomor orang kepercayaan nya yang tertera ponselnya.


''Ya,'' jawab Daniel setelah ia menjawab panggilan nya.

__ADS_1


Expresi Daniel berubah setelah mendengarkan ucapan orangnya.


''Bodoh, bagaimana kalian bisa seceroboh itu!!'' maki Daniel pada orang nya yang berada di sebrang sana.


''Kalian sudah bosan hidup, hah!!'' bentak Daniel dan langsung memutuskan sambungan telepon itu.


Emosi Daniel sudah tidak bisa terbendung lagi, ia beranjak dari duduknya dan tanpa sadar ia melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu, tapi samar-samar ia mendengar suara yang memanggil namanya.


Daniel menoleh ke arah ranjang Devita, matanya membelalak saat melihat ada pergerakan, ya mata bulat itu seperti berusaha ingin terbuka dan melihat dunia kembali.


''Daniel,'' suara yang sangat lirih itu terdengar lagi ke telinga Daniel, dan benar saja itu suara yang berasal dari bibir mungil Devita.


Daniel melangkah dengan perlahan, rasa emosi yang tadi meletup-letup seketika hilang begitu saja, air mata yang tidak ingin di lihat siapapun itu tanpa izin keluar dengan sendirinya.


''Sayang, kau sudah sadar?'' tanya Daniel yang meraih tangan Devita, mata Devita masih terpejam tapi bibir mungilnya bergetar seperti ingin berbicara banyak namun terlihat sulit.


''Dok, Vita tadi berbicara tapi matanya masih terpejam,'' ucap Daniel dengan rasa yang bercampur aduk.


''Saya akan memeriksanya sebentar,'' jawab Dokter itu.


Daniel menyingkir memberikan ruang untuk Dokter agar memeriksa keadaan Devita dengan leluasa.


''Bagaimana?'' tanya Daniel setelah Dokter selesai memeriksa Devita.

__ADS_1


''Ini hanya respon kecil yang di berikan setiap pasien koma Tuan, ini juga sudah sering terjadi di setiap seseorang yang berada di bawah alam sadarnya,'' jelas dokter itu.


Daniel menghela nafasnya dengan pelan, perasaan senangnya yang ia kira Devita telah sadar dari komanya tapi iti hanya sebagian respon kecil darinya.


''Tapi tuan, ini sudah bagus, kemajuan pasien cukup baik, terus ajak bicara agar ia merespon nya dengan baik,'' ucapnya lagi.


Daniel mengangguk pelan tanda mengerti, dokter dan dua suster itupun pamit undur diri dan meninggalkan ruangan.


''Tidak apa, aku akan selalu stia menunggu kamu sayang, jangan terlalu dipaksakan ya.'' Ucap Daniel dengan lembut.


''Kau lihat ini? ini sudah ku persiapkan untuk melamar mu nanti saat kau sudah kembali lagi padaku.'' Daniel mengeluarkan sebuah kotak beludru yang berisikan sebuah cincin indah bermata biru warna favorit Devita.


''Akan ku simpan baik-baik dan ku berikan padamu nanti, ok.'' Daniel memasukkan kembali kotak bludru itu ke dalam saku celananya.


Di sebuah taman yang dipenuhi bunga-bunga seorang gadis manis sedang berbincang dengan wanita parubaya yang masih terlihat sangat cantik.


''Kembalilah Nak, masih ada orang-orang yang sangat menyayangi mu disana,'' ucap wanita parubaya itu.


''Tapi Mah, Devi masih mau bersama Mama disini,'' jawabnya.


''Oke tidak apa, tapi hanya sementara ya, nanti kamu harus kembali, janji.'' Wanita parubaya itu memberikan kelingking nya untuk di tautkan dengan kelingking gadis manis itu.


''Janji,'' jawabnya.

__ADS_1


Ya itu adalah sebuah mimpi seseorang yang sedang terbaring di ranjang dan di ruangan bercat putih itu, mimpi yang indah menurutnya sampai ia pun enggan untuk bangun dari tidur lelapnya.


Mimpi yang selama ini di harapkan, mimpi bertemu dengan orang yang di rindukan nya yaitu sang Mamah, akhirnya terwujud juga. Sungguh dia sangat tidak rela untuk bangun saat ini.


__ADS_2