
Reno terus saja berlari menaiki anak tangga dan sampailah ia di lantai yang orang itu berhenti, matanya terus mencari keberadaan pria yang tengah di carinya.
Nafas yang memburu karena lelah berlari tidak ia perdulikan yang ia pikirkan hanya untuk menyeret orang yang telah selama ini di burunya.
Membuka satu persatu pintu ruangan hanya demi mencapai tujuan nya namun seperti perjuangan yang sia-sia, Reno menyerah karena memang tidaklah gampang mencari satu orang di tempat seramai itu.
Saat Ia ingin mamasuki lift untuk kembali ke lantai di mana Chloe berada secara kebetulan orang yang di carinya akan memasuki lift yang sama dengan nya.
Dengan cepat Reno langsung menarik kerah baju orang itu dengan emosi yang tak terkendali. '' Pria brengsek,'' maki Reno yang tak ingin melepaskan tangannya dari kerah baju pria yang tengah kebingungan.
'' Siapa anda, tiba-tiba berbuat kurang ajar seperti ini,'' ucap pria itu.
'' Heii Tuan, lepaskan calon suami saya,'' teriak wanita yang bersamanya.
Teriakan wanita dan pandangan aneh Orang-orang yang melihat nya langsung menyergap seseorang tidaklah ia pedulikan yang dia inginkan hanya membawanya ke suatu tempat.
'' Heii sialan! kau mau membawa ku kemana!!'' teriak orang itu tapi lagi-lagi Reno tidak mempedulikan nya.
'' Jangan mempersulit ku jika kah ingin selamat.'' Ancam Reno yang membuat pria itu langsung mengunci mulutnya.
Wanita yang tadi bersama pria itu terus saja membuntut dengan sesekali dia menteriaki Reno agar berhenti dan melepaskan cengkraman nya pada calon suami nya.
Reno membuka pintu ruang inap Chloe dengan kasar dan membuat Chloe yang sedang memejamkan matanya langsung terbangun dan menoleh ke arah pintu.
Matanya melebar melihat orang yang tengah di seret Reno yang juga seakan terkejut apa yang di lihatnya.
Reno melepaskan cengkraman nya dan melemparkan pria itu sampai pria itu terhuyung dan menabrak brangkar bagian kaki Chloe.
'' Lihat apa yang kau perbuat bajingan!!'' maki Reno.
Chloe melihat pria yang sedang berlutut dengan kondisi dahi yang memar karena terhatuk bagaian ranjangnya yang juga sedang melihatnya.
Mata Chloe berkaca-kaca dengan tubuh yang sedikit ketakutan, '' Kamu, kemana saja kamu,'' tanya Chloe dengan suara gemetar.
'' Chloe, kau benar-benar hamil,'' bukannya menjawab, pria itu malah balik bettanya dan membuat Chloe meradang.
'' Ya aku hamil anak mu, dan kau bagaikan pria pengecut yang lari dari tanggung jawab, dasar brengsek!!'' maki Chloe dengan kencang, lelehan air mata itu terus memenuhi pipi bersihnya.
Reno hanya menyaksikan itu yanpa ingin mau ikut campur, saat wanita yang sedari tadi mengikutinya ingin melangkah mendekati Chloe dengan pria itu, langsung di cegahnya.
'' Kau diamlah di tempat jika tidak ingin tubuh mu saya lemparkan dari jendela sana,'' ancam Reno, wanita itu menghentikan langkahnya dan mundur kembali karena takut dengan ancaman Reno.
'' Chloe, maafkan aku, tapi aku sudah memiliki calon istri,'' dengan gampangnya pria itu berbicara dengan enteng nya dan membuat Chloe terluka.
'' Fedric kau brengsek!!'' teriak Chloe yang tirak terima.
Reno meradang melihat air mata yang di kluarkan Chloe, dengan langkah lebarnya ia melangkah menghampiri pria yang bernama Fedric itu. '' Sini kau brengsek!'' Reno menarik kembali kerah baju Fedric fan menghajarnya dengan tanpa ampun dan Fedric yang tidak mau kalah dia juga berusaha melawan Reno.
Dua wanita yang menyaksikan Reno menghajar Fedric merasa shok, dengan bringas Reno terus menghajarnya sampai Fedric tidak lagi berdaya untuk melawannya.
'' Kau benar-benar pria brengsek, setelah kau merenggut mahkota nya kau pergi begitu saja, hah!!'' Bentak Reno.
'' Lalu kau mau apa? kau mau aku tanggung jawab dan menikahinya, iya,'' jawab Fedric dengan sisah tenaga nya.
Pernyataan Fedric membuat Reno terdiam, ia bahkan tidak tahu harus menjawab apa, jika ia jawab 'iya, berarti Chloe akan menjadi istri Fedric dan jika dia jawab tidak, masa deoan Chloe lah yang ia pikirkan.
Matanya melirik Chloe yang masih saja menangis karena pria pengecut di depannya itu, hatinya benar-benar sedang dilema namun tiba-tiba Fedric mengatakan sesuatu yang membuat nya langsung menoleh ke arahnya. '' Baik aku akan menikahinya,''
'' Sayang, apa-apaan ini, lalu pernikahan kita bagaimana? memangnya siapa dia, ada urusan apa dia dengan kamu,'' ujqr wanita itu dengan bodohnya.
'' Apa kau yakin ingin melanjutkan hubungan mu dengan pria sebrengsek dia, kau ingin tahu siapa wanita itu?'' tanya Reno pada wanita itu, dan wanita itu hanya mengangguk.
'' Wanita itu yang kini sedang mengandung anak dari calon suami mu,'' ucapan Reno membuat wanita itu terkejut.
'' Benarkah Fedric?'' tanya wanita itu untuk memastikan, Pria yang bernama Fedric pun menganggukan kepalanya.
'' Lalu bagaimana dengan ku yang juga sedang mengandung anak mu, hah!!'' teriak wanita itu yang ternyata sedang mengandung juga.
Chloe terkejut mendengar nya, ia benar-benar tidak mengira kalau Fedric pria yang sangat di cintainya sangatlah brengsek.
'' Aku akan menikah kalian berdua,'' jawabnya dengan rasa tidak tau malu nya.
Reno kembali meradang mendengar nya tapi saat dia ingin kembali menghajar Fedric seorang Dokter masuk ke ruangan dan terkejut melihat kekacauan yang ada di dalam ruangan pasien nya.
'' Apa-apaan ini,'' ujar Dokter itu.
__ADS_1
'' Jika kalian ingin bertengkar, bertengkar lah tapi jangan di disini, disini bukan arena pergulatan, kalian bisa mengganggu kesehatan pasien, kalian ingin keluar atau saya akan memanggilkan keamanan,'' ucap Dokter itu marah.
Reno keluar lebih dulu dengan sejuta emosi dan di susul wanita yang tadi bersama Fedric, '' Chloe, besok aku akan datang lagi kesini, aku janji akan bertanggung jawab,'' ucap Fedric dengan menahan rasa sakit di tubuhnya karena hajaran Reno.
Fedric berlalu keluar dan Chloe di perintahkan untuk beristirahat karena Chloe terus saja menangis maka dari itu Dokter terpaksa memberikan suntikan obat bius.
Di dalan Mobil mewah yang tidaklah lain pemiliknya adalah Daniel Carroll, setelah selesai makan siang bareng dengan adik tirinya dan sahabat istrinya mereka berpisah.
Daniel membawa Devita ke kantor nya, ya karena kerjaan nya belum juga rampung, dan membuat Daniel balik ke kantor untuk menyelesaikan nya.
'' Kau tidak apa-apa kan honey ikut ke kantor ku?'' tanya Daniel dengan lembut.
'' Tidak Bu, tidak masalah,'' jawab Devita.
Daniel merasa aneh dengan panggilan Devita terhadapnya ia menepikan mobilnya dan langsung bertenya,'' Bu? maksudnya?'' tanya Daniel, Devita terkekeh geli dengan reaksi Daniel yang berlebihan.
'' Bu, Bubu maksudnya,'' jawab Devita.
'' Apa itu Bubu?'' tanya Daniel lagi yang belum mengerti dengan nama itu.
'' Bubu itu nama panggilan sayang ku pada suami ku, apa tidak boleh? kau saja memanggil ku honey, ya kan?'' jawab Devita, Daniel tersenyum senang karena Devita sudah benar-benar terbuka dengan nya.
'' Bubu? ya lumayanlah, tapi jangan kau singkat dengan kata, Bu, karena jika orang mendengar nya akan di kira kau memanggil ku dengan sebutan Ibu,'' ujar Daniel dan di angguki Devita.
Daniel melanjutkan kembali mobilnya menyusuri jalan yang terlihat ramai namun tidak padat, sampailah mereka di lobby gedung yang menjulang tinggi itu.
Sampainya mereka yang langsung di sambut dengan hormat pada penjaga kantor yang berpakaian formal itu, ''selamat datang Nona muda,'' ucap penjaga yang membukakan pintu untuk Devita.
'' Ya, terima kasih,'' jawab Devita dengan canggung.
Daniel menghampiri Devita dan langsung menggandeng nya, matanya tidak sengaja melihat seorang penjaga yang terus memperhatikan istri dengan lekat.
'' Hei apa kau sudah bosan memiliki indra penglihatan mu!!'' bentakan Daniel yang membuat penjaga itu gemetar takut.
'' Maaf Tuan,'' jawabnya.
'' Sekali lagi aku melihat siapapun mencuri pandang pada istri ku, saat itu juga aku akan mencongkel biji mata kalian,'' ucapnya dengan lantang.
Devita yang mendengar nya hanya bergidik ngeri dia tidak mengira kalian kalau suaminya itu sangatlah posesif.
'' Dia benar-benar sudah tidak waras,'' ucap Devita di dalam hati.
'' Aku tidak mengatai mu, bubu,'' jawab Devita dengan manja. '' Kau terlihat buruk jika sedang berbohong,'' ucap Daniel lagi.
Lagi-lagi Devita di buat terkejut dengan ucapan Daniel. '' Dia benar-benar peramal,'' gumam Devita.
Mereka melangkah masuk ke dalam kantor dengan bergandengan tangan, banyak yang terkesima dengan aura keduanya yang sangat terlihat serasi itu.
Dan tidak sedikit juga yang merasa iri dengan posisi Devita saat ini, dan juga sebagian orang yang belum mengetahui wajah Nona muda atau menantu pewaris perusahaan tempat kerja mereka sangat kagum karena kecantikan dan keramahan Devita.
Banyak yang mengucapkan selamat dan menyapa dengan hormat, Devita selalu menjawab nya dengan ramah tapi berbeda dengan Daniel yang sangat tidak suka jika Devita mengumbar senyum nya.
'' Lain kali aku akan menyediakan masker untuk mu jika ingin ke sini,'' jawa Daniel dengan ketus.
'' Masker? untuk apa?'' tanya Devita yang tidak mengerti maksud suaminya itu.
'' Agar mereka tidak bisa menikmati senyuman istri ku,'' jawabnya dengan cuek.
Ingin sekali Devita tertawa tapi ia menahannya. '' Jangan mentertawakan aku,'' ucap Daniel.
'' Tidak,'' jawab Devita yang masih menahan tawanya.
'' Kalau masih ingin mentertawakan ku, aku akan mencium mu di hadapan mereka,'' ancam Daniel, Devita terkejut mendengar nya.
Dengan seketika senyum yang sedari tadi terlukis di wajahnya tiba-tiba berubah ketus. '' Dia benar-benar sudah gila,'' gumam Devita.
'' Aku gila karena kamu,'' jawab Daniel dengan nyeleneh.
'' Jangan mengatakan hal yang menjijikkan, Daniel,'' cetus Devita yang membuat Daniel terkekeh geli.
Senyum Daniel adalah sebuah kelangkaan bagi karyawan kantor tapi kali ini beberapa orang karyawati menyaksikan nya dan membuat mereka meleleh dengan seketika.
'' Kalian lihat senyum Tuan Daniel tidak?'' ucap salasatu wanita yang tidak sengaja melihat senyum Daniel.
'' Iya aku melihat nya, dan kalian tahu, itu membuat aku kehabisan oksigen, sungguh,'' timpal yang lainnya.
__ADS_1
Deheman seseorang membuat kumpulan wanita yang sedang bergosip itu menegang.
'' Kalian lagi yang terpergok bergosip, apa kalian tidak mempunyai pekerjaan, hah!!'' bentak Zen, ya orang itu yang tak lain adalah Zen Batla, pria berbahaya kedua yang ada di kantor itu.
'' Maafkan kami Tuan Zen,'' ucap salasatu wanita itu dengan kepala tertunduk.
'' Kalian ikut ke ruangan ku,'' ucap Zen yang langsung berlalu meninggalkan empat wanita biang gosip itu.
Ke empat wanita itu lemas seketika karena mereka tahu ruangan yang paling menyeramkan melebihi rumah hantu yang ada di festival karnaval tidaklah sebanding dengan menyeramkan nya ruangan Zen.
'' Bagaimana ini, kalian sih,'' ucap wanita yang satu. Mereka terus saling menyalahkan dan berlaly beriringan menuju ruangan Zen.
'' Masuuk!!'' teriak Zen saat ada yang mengetuk pintu nya.
Empat wanita berpakaian formal masuk dengan kepala tertunduk dan berdiri tepat di sebrang meja kerja Zen.
'' Langsung saja karena saya akan pergi meeting, ambil ini,'' ucap Zen melemparkan empat amplop coklat ke tepi meja.
'' Kenapa diam saja, ambil!'' bentaknya lagi.
Salasatu di antara mereka memberanikan diri untuk mengambil sala satu amplop itu dan di ikuti yang lainnya.
'' Buka dan baca,'' ucap Zen dengan dingin.
Saat mereka membuka dengan bersama-sama dan membacanya Bersama-sama semua terduduk dengan lunglai.
'' Tuan Zen, maafkan saya, saya tidak ikut dengan gosipan mereka,'' bela diri salasatu nya.
'' Saya juga Tuan, saya tidak ikut serta,''
'' Saya juga tidak Tuan,''
Semua beralasan dengan sama dan membuat Zen menggeram kesal,
Brakkk
Zen memukul meja dengan sangat kencang.
'' Lalu menurut kalian kalau saya ini tuli, hah! Kalian mengira kalau selama ini saya buta, hah! cih.'' Ucap Zen dengan suara meninggi.
'' Kaluar!!'' bentaknya lagi dan membuat ke empat gadis itu pergi dengan tunggang langgung karena takut.
'' Heeh, mereka kira aku tidak tahu apa, kalau selama ini merekalah yang selalu bergosip,'' gumam Zen dengan kesal.
Di ruangan yang berbeda, Daniel dan Devita sedang mengobrol tentang masalah anak.
'' Pokoknya aku ingin kita memiliki anak yang banyak,'' keukeuh Daniel.
'' No, hanya dua titik.'' Ucap Devita yang tidak mau mengalah.
'' Dua mana cukup untuk menikmati kekuasaan papahnya,'' sahut Daniel.
Devita menekuk wajahnya. '' Sombong sekali,'' cetus Devita.
'' Aku sombong ya tidak masalah, honey.'' jawab Daniel dengan gemas dan menarik lembut hidung mancung Devita.
Daniel melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya,'' Honey, tidak apa kan jika aku tinggal sebentar,'' ucap Daniel.
'' Memangnya kau ingin kemana?'' tanya Devita.
'' Ada meeting dengan klien, tidak lama kok, tapi jika kau bosan kau bisa menghubungi Linda, oke,''
'' Linda? apa boleh?''
'' Tentu saja boleh, ya sudah aku pergi ya,'' setelah mengecup singkat kening istri nya, Daniel berlalu keluar dari ruangan nya.
Tapi saat dia keluar dari ruangan berbarengan Zen yang ingin mengetuk pintu nya. '' Tuan, baru saja aku ingin mengetuknya.'' Ucap Zen.
'' Ya sudah kita langsung ke ruangan meeting saja,'' jawab Daniel yang berjalan lebih dulu.
Zen melirik pintu yang belum juga tertutup sepenuhnya itu tapi deheman Daniel mengurungkan niatnya.
'' Kau ingin melihat siapa?'' tanya Daniel tanpa berbalik.
'' Tidak tuan, saya hanya ingin menutup pintu saja,'' alasan Zen yang membuat Daniel melanjutkan jalannya.
__ADS_1
Zen menghela nafasnya dengan lega.
'' Untung saja tidak ketahuan,'' gumam Zen.