
Kebahagiaan pasangan ketika mendapatkan kabar berita yang akan membawanya menjadi orang tua dari seorang anak melebihi kebahagiaan apapun.
Haru biru meyelimuti Daniel dan juga Devita keduanya sedang terhanyut dengan dunia nya mereka sendiri, tangis haru yang terus saja menyelimuti keduanya benar-benar terasa hangat.
Seakan dunia milik mereka berdua, keberadaan orang lain yang ada di kamar itu tak lagi di pedulikan nya, bahkan kepergian dokter yang memeriksa keadaan nya saja tidak mereka sadari.
Linda melangkah pergi dari kamar Tuan mudanya tapi langkahnya terhenti saat menyadari bahwa Zen masih stia ingin berada di sana dengan mata yang terus memandang kemesraan pasangan suami istri yang sedang terhanyut dalam kebagian itu dengan tatapan sendu.
'' Sssttt, apa kau masih ingin disini?'' bisik Linda dan Zen pun tersadar dari lamunan nya dan segera pergi membuntut Linda dari belakang.
Sesampainya di ruang tamu, Linda berbalik menghadap langsung ke Zen yang ternyata masih dengan keadaan melamun danpai tidak menyadari kalau langkahnya akan menabrak Linda.
'' Tuan Zen!'' bentak Linda karena sedikit lagi akan menubruk tubuh Linda.
Seketika Zen tersadar dan berhenti tepat di hadapan Linda, jarak keduanya seakan tidak ada, tinggi badan yang hampir setara membuat mata mereka saling bertemu cukup lama namun Linda lah yang mengakhiri nya.
Linda memundurkan beberapa langkahnya agar memberi jarak dengan Zen, tapi tatapan mata Zen tetap saja tidak teralihkan dari wajah manis Linda dan membuat yang ditatap salah tingkah.
'' Maaf, tolong sampaikan ke Tuan Muda, kalau saya pamit pulang.'' Ucap Linda yang tanpa menunggu jawaban Zen dia berlalu begitu saja dan keluar dari unit apartment Daniel.
Zen terus saja menatap kepergian Linda dengan tatapan kosong entah jauh kemana.
'' Semua meninggalkan aku, apa aku tidak berhak bahagia.'' Gumam Zen tanpa sadar.
Zen mengeluarkan ponselnya dati daku celana dan mengirimkan pesan singkat pada Daniel untuk berpamitan juga menyampaikan pesan Linda yang juga berpamitan.
Lepas mengirimkan pesan dan memastikan bahwa Daniel telah membuka dan membacanya Zen berlalu keluar.
'' Linda benar aku harus melupakan perasaan ku padanya karena memang dia sudah bahagia di pelukan sahabat ku sendiri.'' Gumam Zen yang meyakinkan diri.
Zen melangkah dengan terus menatao ke bawah kaki, seakan beban itu terasa berat di pundaknya, tapi sebisa mungkin keyakinan bahwa dirinya harus kuat berjalan ke depan dan tidak akan menoleh ke belakang.
__ADS_1
Di sisi lain, Linda sedang menunggu taxi lewat di halte yang jaraknya lumayan jauh dari area gedung apartemen untuk kembali ke kantor Daniel untuk mengambil mobilnya yang di tinggal disana.
Dan secara kebetulan, Zen lewat tepat di hadapan Linda yang bahkan acuh pada lewatnya Zen dengan mobilnya, Zen memundurkan mobil dan berhenti tepat di depan Linda berdiri.
Zen menurunkan kaca mobil dan sedikit berteriak untuk memanggil Linda, tapi seakan tidak mengenalnya Linda mengacuhkan Zen yang terus saja memanggil nya.
Dengan kesal Zen turun dari mobil dan menghampiri Linda lalu menarik lengan Linda agar menoleh ke arahnya.
'' Kau tuli hah!!'' bentak Zen.
Alis Linda menyatu dengan tatapan dinginnya. '' Ada apa?'' tanya Linda yang seakan tidak terjadi apa-apa.
'' Ada apa kau bilang, sedari tadi aku memanggil mu dan kau baru bertanya ada apa.'' Ujar Zen dengan ketus.
'' Ya memangnya kau memanggil ku ada apa? ingin menghina diriku lagi, ingin membentak-bentak diri ku lagi, iya.'' Cetus Linda.
Zen melepaskan tangannya dari lengan Linda dan memundurkan langkahnya sedikit dan berujar, '' maaf,'' lirih Zen.
'' Maaf dengan apa yang aku katakan tadi, karena terbawa emosi, aku sampai tidak menyadari kalau ucapan ku menyakiti dirimu,'' ucap Zen dengan tulus namun tanggapan Linda kembali membuat Zen kesal.
Linda mengacuhkan permintaan maaf Zen lalu masuk ke mobil taxi yang dia berhentikan dan berlalu tanpa permisi, Zen tercengang dengan hati yang dongkol karena sikap acuhnya Linda.
'' Apa-apaan dia ini aku sudah meminta maaf tapi tanggapan dia sangat kurang ajar seperti itu,'' gerutu Zen.
'' Menyesal aku meminta maaf dengan nya, awas saja kau,'' Zen kembali masuk ke mobil dan melajukan mobilnya dengan kencang.
Di dalam Taxi Linda tengah termenung dengan memikirkan cara bicara nya pada Tuan besar untuk berpamitan.
'' Bagaimana ya cara bicaranya agar tidak ada konflik,'' gumam Linda, setalah sampai kantor Daniel ia segera beralih ke mobil nya dan melajukannya kembali.
Malam yang membuat Perasaan haru serta sedih juga di landa kebingungan para anak manusia berbeda sifat itu berlalu begitu saja, melelapkan diri di dalam mimpi mereka masing-masing berusaha ingin melupakan semua kegundahan hati di tidurnya namun keinginan nya pastilah tidak akan terlaksana.
__ADS_1
Malam yang banyak memberikan berbagai masalah dan kebahagiaan berganti dengan matahari pagi yang cerah dengan tambahnya suasana yang sejuk karena embun yang ada di bumi.
Pasangan suami istri yang baru saja mendapatkan kabar baik itu sudah bersiap karena mereka sudah berniat untuk mendatangi Ayah mereka ke Mansion.
'' Ke Ayah Frans dulu ya,'' ucap Daniel dan di angguki Devita.
'' Jangan menggunakan sepatu berhak, dan jangan menggunakan pakaian yang terlalu ketat,'' ucap Daniel dengan posesif nya, Devita terkekeh geli mendengar nya.
'' Daniel, kehamilan ku saja baru berusia dua minggu dan kau seposesif itu, apalagi kalau perut ku sudah membesar,'' kekh Devita.
'' Ya aku tidak ingin istri dan calon anak ku sampai kenapa-kenapa,'' jawab Daniel.
Daniel sibuk dengan mengatur apa yang akan Devita kenakan dari sepatu yang beralas aman, dan baju yang sedikit longgar untuk Devita.
'' Sudah-sudah, kau diam saja. Aku yang akan menyiapkan nya,'' ucap Daniel, Devita duduk dengan pasrah. Beginilah resiko mempunyai suami posesif, pikir Devita.
Setelah Devita berpakaian dengan apa yang sidah di atur Daniel, mereka berlalu pergi namun dengan wajah Devita yang terus di tekuk.
'' Kau kenapa honey?'' tanya Daniel.
'' Kau berlebihan Daniel, lihat semua orang terus saja memperhatikan aku,'' keluh Devita dengan kesal.
Bagaiamana tidak kesal, yang Devita saat ini kenakan adalah hoodie yang sangat longgar di tubuh nya dengan celana training yang juga longgar dan di tambah sepatu kets.
'' Memangnya apa yang salah dengan istri ku,'' ucap Daniel yang bahkan tidak menyadari sikap berlebihan nya.
Sampai di dalam mobil pun Devita tetap menekuk wajahnya, apalagi belakangan ini Devita sering berkeringat tanpa alasan dan sekarang Suaminya sendiri yang membuat nya merasakan panas karena pakaian yang diaturnya untuk ia kenakan.
'' Kau menyebalkan, Daniel,'' cetus Devita.
Tbc..
__ADS_1