
Daniel dan Devita baru saja menginjakkan kakinya di bandara negaranya, seorang supir sudah standby menunggu mereka untuk membawakan semua barang-barang yang di bawanya.
Saat sudah setengah jalan menuju apartemen, ponsel Daniel berdering yang ternyata itu dari Dinar.
Daniel menjawabnya, semula raut wajah Daniel biasa saja, namun setelah beberapa saat kemudian rautnya berubah tegang dan panik namun tetap stay cool.
'' Puter balik, kita ke Mansion pimpinan,'' ucap Daniel dengan tegas pada supirnya.
'' Baik Tuan,'' jawab si supir.
Devita memicing merasa terjadi sesuatu.
'' Ada apa Daniel?'' tanya Devita dengan memegang tangan Daniel yang mengepal.
'' Maaf ya, kau pasti lelah,'' ucap Daniel merasa bersalah.
'' Tidak, aku tidak lelah, aku tanya ada apa?'' tanya nya lagi.
'' Ayah sakit,'' jawabnya dengan tatapan sedih.
'' Astaga, semoga baik-baik saja,'' gumam Devita.
Suasana kembali hening, mereka hanyut didalam pikiran nya masing-masing, Daniel yang terus menduga-duga dan Devita terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa.
Keadaan jalanan terlihat padat hari ini, Daniel menggeram kesal, kenapa di keadaan seperti ini harus ada kemacetan.
'' Kau bisa mencari jalan yang lain!!'' ucap Daniel dengan suara yang meninggi.
'' Tidak bisa Tuan, kita sekarang berada di tengah-tengah kemacetan,'' jawab si supir dengan takut.
'' Daniel, tenanglah,'' Devita mengusap lengan Daniel agar Daniel merasa lebih tenang.
Butuh waktu lama untuk lepas dari tengah-tengah kemacetan itu karena ada kecelakaan di depan.
Daniel memerintah supir untuk melajukan mobil dengan kecepatan penuh dan hanya 10 menit mereka sudah sampai di Mansion Carroll.
Daniel turun dari mobil dengan segera dan tidak lupa ia membukakan pintu juga untuk istri nya.
Mereka melangkah dengan tergesa-gesa menuju kamar sang Ayah yang di sana sudah ada Dinar, Zen dan Kemal juga seorang Dokter kluarga yang sedang memeriksa Frans Carroll Ayah mereka.
'' Ayah kenapa ka?'' tanya Daniel setelah sampai di kamar Ayah nya.
__ADS_1
'' Tiba-tiba dada Ayah sakit, maafkan kaka sudah menganggu waktu kalian,'' ucap Dinar yang merasa tidak enak pada Devita.
Wajah Devita terlihat pucat karena jetlag, dan itu tidak lepas dari pandangan Zen.
'' Daniel, sebaiknya kau ajak istri mu ke kamar mu, lihat wajahnya terlihat pucat sekali,'' ucap Zen tanpa menggunakan bahasa formal.
Daniel menoleh ke samping dan melihat wajah Devita yang memang pucat serta banyak keringat di dahinya.
'' Maafkan aku sayang, aku tidak memperhatikan mu,'' ucap Daniel dengan rasa bersalah nya.
'' Tidak, Daniel. Aku tidak apa-apa,'' jawabnya dengan lirih.
'' Kakak antar Devita ke kamar mu dulu, kau tetaplah disini,'' ucap Dinar yang membawa Devita ke kamar Daniel.
'' Kau baru pulang ka?'' tanya Kemal pada Daniel, dan Daniel hanya menganggukan kepalanya.
'' Tuan besar terkena serangan jantung tapi kalian tidak perlu khawatir, karena beliau sudah baik-baik saja, kalau begitu saya permisi,'' ucap Dokter yang menangani Frans.
'' Terima kasih,'' ucap Daniel yang sudah terlihat lebih tenang.
'' Mari saya antar,'' ucap Zen.
Zen berlalu untuk mengantar dokter itu ke sampai mobilnya, di kamar hanya ada Daniel dan Kemal yang sedang menjaga Ayah mereka.
'' Ibu sedang di kamarnya,'' jawab Kemal yang sudah mengerti siapa yang di maksud kakaknya.
'' Apa dia tidak tau kalau Ayah sakit?'' tanyanya lagi.
'' Ibu tau, tadi ibu sempat bertanya pada ka Dinar dan ibu pergi ke kamarnya,''
'' Ibu, Ibu, Ibu. Kenapa kau menyebutnya dengan sebutan itu, bahkan kau anak yang di benci nya, tapi kenapa kau mau menyebutnya dengan sebutan mulia itu, bahkan aku saja tidak ingin menyebutnya, ibu.'' Ucap Daniel dengan kesal.
'' Karena memang beliau adalah seorang ibu Kak, aku akan tetap memanggilnya Ibu walau dia membenci ku, karena aku sudah terbiasa di benci,'' jawabnya dengan pelan.
Daniel terdiam karena ucapan Kemal, ia berlalu setelah menepuk pundak Kemal dan meminta nya untuk tetap di kamar Ayah nya.
'' Tetaplah disini, aku akan kembali,'' ucap Daniel dan berlalu.
'' Aku merasa tidak masalah di benci Ibu Mirna, asal kau sudah menerima ku kak,'' gumam Kemal.
Kemal selalu terinspirasi dengan sosok Daniel yang tegas dan berwibawa, Kemal selalu mencontoh sikap Daniel yang menurut nya baik.
__ADS_1
Bahkan ia selalu mengagumi Daniel walau waktu itu Daniel belum menerima nya dan menganggap nya hanya bawahan bukan adiknya.
Daniel melangkah dengan gagah menuju ke sebuah kamar yang tertutup rapat.
...Brakkk...
Daniel membukanya dengan kasar kamar itu, Wanita parubaya yang sedang duduk dengan majalah di tangannya terperanjat kaget karena Daniel.
...Tapi dengan cueknya, wanita itu mengabaikan nya dan melanjutkan membuka setiap lembaran majalah itu....
'' Apa kau tidak peduli dengan pria tua yang sedang sakit itu,'' ucap Daniel.
'' Bukannya memang dia penyakitan,'' jawabnya.
Mata Daniel memerah dengan rahang yang mengeras merasa tidak terima dengan jawaban orang itu.
Daniel melangkah mendekat ke arah wanita parubaya itu dan duduk di depannya.
'' Kau tau apa kedudukan ku di keluarga ini bukan,'' ucap Daniel.
'' Semua aset di keluarga ini hanya aku yang berhak mwngendalikan nya, dan bayangkan jika aku menendang mu dari sini dan mencabut nama Carroll dari nama mu itu,'' ucap Daniel lagi.
Tatapan keduanya bertemu namun hanya ada tatapan kebencian di antara mereka, bahkan tidak ada kasih sayang di dalamnya.
'' Kau jangan bersikap kurang ajar Daniel, aku ini ibu mu,'' Mirna yang merasa tidak terima dengan ucapan Daniel meninggikan suaranya.
'' Ibu? apa sikap mu selama ini mencerminkan seorang ibu, hm.'' Mirna hanya diam tanpa menjawab nya lagi.
Daniel beranjak dari duduknya dan berlalu setelah mengucapkan apa yang ingin di katakan nya.
'' Kenapa aku merasa panas,'' gumam Mirna, dan ia berlalu menuju dapur untuk mengambil minuman dinginnya.
Tapi karena menuju dapur harus melewati sebuah kamar yang pintunya terbuka, Mirna menoleh dan ada seorang wanita yang sedang membaringkan tubuhnya.
Tanpa mengetuk dan permisi lagi, Mirna masuk begitu saja ke kamar itu dan membuat wanita muda yang sedang berbaring itu terkejut.
'' Ooohh ternyata ada tuan Putri yang sedang berleha-leha disini,'' ucap Mirna dengan tangan bersedekap di atas perut ratanya.
'' Ibu mertua,'' ucap Devita yang langsung mengambil posisi duduk.
'' Kau tahu suami mu itu habis mengunjungi ku di kamar ku, dia mengganggu istirahat ku untuk menceramahi ku karena tidak ada di kamar Ayah nya yang sedang sakit itu, tapi kau istrinya malah sedang berleha-leha disini,'' ketus Mirna.
__ADS_1
'' Aku bukan berleha-leha Bu, tapi aku ha..'' ucapannya langsung dipotong seseorang yang masuk ke kamar.
Tbc..