
Daniel sudah selesai membersihkan dirinya, dan saat ini Daniel sudah berpakaian rapih di ambilnya ponsel untuk menghubungi gadisnya tapi tidak ada jawaban dari Devita.
''Kau rupanya sedang membalas ku ya,'' kekeh Daniel.
Daniel berlalu keluar Apartemen menuju basement dan melajukan mobilnya membelah jalanan Kota yang ramai dengan Kendaraan-kendaraan yang lalu lalang.
Beberapa saat kemudian, mobil Daniel berhenti di pertokan tepatnya di toko bunga milik kekasihnya tapi sayang toko itu sudah tutup. Daniel berdecak kesal.
''Kemana dia, di hubungi tidak mau mengangkatnya,'' gumam Daniel kesal, Ia lempar ponselnya ke kursi sebelah nya.
Ponsel berdering, nama Dinar tertera di sana, dengan perlahan Daniel menepikan mobilnya untuk mengambil ponselnya yang tadi di lemparnya.
''Ya,'' ucap Daniel.
''Kau bisa ke Rumah Sakit untuk menemani Ayah? aku sedang keluar sebentar.'' Ucap Dinar di sebrang sana.
''Ya, aku sedang berada di jalan,'' jawabnya.
''Baiklah,''
Daniel memutuskan saluran telpon dan melanjutkan perjalanannya.
Di lobby Rumah Sakit, Devita dan Puspa baru saja turun dari taxi, dan kebetulan berpapasan dengan Jonathan serta ibunya.
''Lho, Puspa. Kamu juga baru datang sayang,'' tanya Jenny Mama Jonathan.
''Iya Bi, aku baru saja datang,'' jawabnya dengan senyum yang di paksakan.
''Hy Jo,'' sapa Devita, Jonathan yang mendapatkan sapaan dari Devita merasa senang dan timbulah sebuah ide.
''Hy, kau ikut dengan Puspa.'' Ucap Jonathan dengan menarik tangan Devita agar lebih dekat.
Devita bingung dengan sikap Jonathan.
''Jo, dia siapa? kau mengenalnya?'' tanya Jenny.
''Iya Mah, ini Devita pacar ku,'' ucapan Jonathan membuat Devita dan Puspa terkejut bukan main, tapi tidak lama Puspa baru paham kenapa Jonathan berkata seperti itu.
''Pacar, kau sudah memiliki pacara, Jo.'' Ucap Jenny yang tak kalah terkejut nya.
''Iya Mah, ini Pacar ku,'' jawab Jonathan dengan senyum nya.
__ADS_1
''Lalu Puspa? dan bagaimana dengan rencana perjodohan itu,'' ucap Jenny dengan raut kecewa, bukan karena tidak suka dengan Devita, tapi Ia merasa tidak enak dengan sahabat nya yang tak lain Perly Mamah dari Puspa sendiri.
Devita melihat wakah Jonathan dan Puspa bergantian, Ia merasa tidak mengerti apa yang terjadi.
''Ya sudah Mamah masuk duluan,'' cetus Jenny.
Jenny pun Berlalu meninggalkan tiga orang itu, Devita melepaskan genggaman tangan Jonathan dengan kasar.
''Apa maksud dari ucapan mu tadi, kenapa kau bilang aku ini pacar mu,'' tanya Devita dengan nada yang tidak suka.
''Maafkan aku Dev, aku benar-benar sudah tidak tahu apa yang harus ku lakukan demi membatalkan perjodohan ku dengan Puspa.'' Ucapan Jonathan membuat Devita terkesip, Ia yang memang tidak tahu apa-apa soal perjodohan kedua sahabat nya hanya bisa menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal itu.
''Perjodohan? maksudnya bagaimana?'' tanya Devita.
Jonatan pun menceritakan semuanya dengan sesekali Puspa ikut menimpali, Devita beroh ria tanda mengerti.
''Jadi aku mohon kau jadilah pacar Pura-pura ku,'' ucap Jonathan dengan memohon.
''Iya Dev, batulah kami sekali ini saja,'' timpal Puspa.
''Tapi kenapa harus aku,'' ucapnya dengan malas.
''Tidak bisa.''
Suara barinton itu tiba-tiba terdengar Devita Puspa dan Jonathan.
''Daniel,'' ucap Devita.
''Kau tidak bisa menjadikan calon istri seseorang untuk menjadi pacar mu walaupun hanya pura-pura.'' Ucap Daniel dengan tegas.
Puspa menunduk takut.
''Maafkan kami Tuan, tapi ini hanya untuk formalitas saja, agar saya dan Puspa tidak di jodohkan,'' ucap Jonathan dengan berani.
''Saya bilang tidak ya tidak, telinga mu masih berfungsi bukan,'' ketus Daniel.
Devita mengusap lengan Daniel, untuk bertujuan agar Daniel bisa lebih tenang karena mata pengunjung Rumah Sakit tertuju ke mereka.
''Urusan kalian uruslah sendiri, jangan pernah melibatkan Vita ku,'' ucap Daniel dengan menarik tanfan Devita dan membawanya pergi dari hadapan Puspa dan Jonathan.
''Daniel lepas,'' ucap Devita tapi tidak di gubrisnya.
__ADS_1
''Daniel,'' Daniel tetap menarik tangan Devita namun tidak dengan kekerasan.
Sampai di lift Daniel tetap mengenggam tangan Devita dengan diam.
''Daniel lepas,'' Devita terus meronta meminta di lepaskan, walau genggaman Daniel tidak terlalu kecang namun Devita tetap saja merasakan sedikit sakit bagaimana pun tangan mungilnya yang di cekal tangan besar milik Daniel akan meninggalkan bekas disana.
''Daniel lepas, sakit.'' Kali ini Daniel langsung melepaskan tangan Devita karena mendengar Devita mengucapkan sakit.
''Sakit, astaga Maafkan aku,'' Daniel memeriksa bekas cekalannya, benar saja bekas cekalan tangannya membekas di pergelangan tangan Devita.
''Maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja,'' ucap Daniel dengan rasa bersalah, Ia meniup-niup pergelangan tangan Devita.
Devita yang melihat itu timbul sifat jahilnya.
''Kau menyakiti ku Daniel,'' ucal Devita dengan wajah yang di buat-buat kecewa.
''Tidak-tidak, aku benar-benar tidak sengaja sayang,'' ucap Daniel panik.
Devita melepaskan tangan Daniel yang sedang memegangnya.
''Vita, aku benar-benar tidak sengaja.'' Ucapnya lagi dengan raut sedih.
''Aku tidak ingin bicara dengan mu,'' Devita melipat tangannya di atas perut dengan wajah yang di tekuk.
''Vita, ku mohon, iya aku salah tapi jangan mendiamkan aku seperti ini ya,'' rayu Daniel namun tidak ada jawaban dari Devita.
''Ok begini saja, kaubmeminta apa dari ku akan ku berikan, tapi please jangan marah, ok.'' Ucap Daniel memberi tawaran.
Devita menoleh dengan memicingkan matanya.
''Benarkah,'' Daniel mengangguk.
''Apapun?'' tanya Devita lagi dan Daniel pun mengangguk lagi.
''Baiklah. Maka izinkan aku untuk menjadi pacar Pura-pura Jonathan, karena ingin membantu Puspa agar tidak di jodohkan dengan Jonathan.'' Ucap Devita dengan lantang, mata Daniel membesar permintaan Devita sungguh membuat Ia keberatan.
''Bagaimana? kalau tidak, aku akan tetap mendiamkan mu selamanya.'' Ancam Devita, Daniel menghela nafasnya dengan berat.
''Baiklah, tapi jangan sampai kelewat batas,'' pasrah Daniel.
Devita tersenyum puas karena berhasil mengelabui Daniel.-
__ADS_1