Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Tau akan Posisi


__ADS_3

Perasaan apa ini, kenapa terasa tersiksa sekali, pikir Zen.


Saat ini Zen sedang berada di mobilnya yang masih terparkir di halaman rumah Linda.


Seakan tidak ingin pergi dari sana, Zen tetap diam di balik kemudi dengan terus memandang pintu rumah itu.


'' Ini benar-benar tidak bisa lagi di toleran,'' ucap Zen yang mengepalkan tangannya dan turun lagi dari mobil melangkah kan kakinya menuju ke dalam rumah mewah itu lagi.


'' Bi, Linda masih di kemarnya?'' tanya Zen yang tidak sengaja melihat pembantu rumah itu lewat.


'' Tuan mau apa? nanti saya kena marah dengan nona muda,'' ucap pembantu itu.


'' Sebentar bi, saya mau tanyakan sesuatu, sedari tadi bibi panggil Linda dengan sebutan Nona muda, apa itu benar?''


'' Iya Tuan, benar. Nona muda Linda memang Nona muda kami, dia anak dari pemilik rumah ini,'' jawab pembantu itu dengan jelas.


Zen tercengang, ia benar-benar tidak menyangka kalau Linda bukanlah pelayan yang dia kira, rasa bersalah semakin menyeruak karena Zen mengingat kalau dirinya pernah memaki Linda dengan sebuah penghinaan.


'' Apa ini sebab Linda sangat menjaga jarak nya pada ku, ternyata akulah yang seharusnya sadar diri,'' gumam Zen dengan tatapan sendunya yang terus menatap ke sebuah pintu kamar yang ada di lantai dua.


Tanpa mengucapkan apapun, Zen berlalu melewati pembantu itu dan berjalan menuju lantai dimana kamar Linda berada.


'' Tuan, jangan Tuan, nanti saya yang kena marah,'' panggil pembantu itu tapi Zen tidak memperdulikannya sama sekali.


Zen mengetuk pintu itu dengan cepat, tidak menunggu waktu lama pintu itu terbuka.


'' Bi, kenapa dia di izinkan ke sini?'' tanya Linda yang menatap tajam wajah pembantunya.


'' Saya yang memaksanya,'' jawab Zen dengan dingin.


Mata Linda beralih ke arah Zen dan memberi kode pada pembantunya agar meninggalkan mereka berdua.


'' Apa masalah mu Tuan?'' tanyanya dengan melipat tangan nya di atas perut ratanya.


'' Saya paham sekarang, kenapa kau selalu menjaga jarak dengan saya, dan ternyata kau melihat dari segi kedudukan. Baiklah mulai sekarang saya tidak akan mengganggu mu karena saya sadar akan diri saya.'' Ucap Zen yang langsung berbalik.


'' Seperti biasa kau selalu menilai orang dari segi pandang mu, Tuan,'' ucapan Linda membuat Zen menghentikan langkah nya.


'' Karena memang itu kebenarannya,'' jawab Zen yang meninggalkan Linda yang tengah menatap nya.


'' Dia kenapa? aku menjaga jarak dengan semua pria bukan hanya dia saja, karena memang ada hati yang harus ku jaga,'' gumam Linda.


Di belahan negara lain, di sebuah rumah sakit, Devita saat ini akan melakukan pemeriksaan rutin di setiap bulannya karena ingin tahu tumbuh kembang calon si buah hatinya, tentunya dengan di temani si arogan Daniel, suaminya.


'' Mari tuan, Dokter Ben sudah menunggu,'' ucap Perawat yang berniat untuk mengantarkan Devita juga Daniel untuk bertemu sang Dokter.

__ADS_1


'' Tunggu, tunggu. Dokter Ben? maksud mu istri ku akan di periksa dengan Dokter pria?'' ujar Daniel dengan pertanyaan nya.


'' Benar Tuan, yang akan memeriksa Nyonya Devita adalah Dokter pria,''


'' Apa kau gila, memangnya Dokter Sintia tidak ada!!'' bentak Daniel.


'' Daniel sudahlah,'' bisik Devita menenangkan suaminya.


'' Tidak Honey, aku tidak akan membiarkan pria manapun melihat bagian tubuh istriku, apalagi menyentuh mu, akan ku pastikan dia akan kehilangan tangannya serta biji matanya,'' ucapan Daniel membuat semua orang yang mendengar nya bergidik ngeri.


'' Maaf Tuan, Dokter Sintia hari ini tidak bertugas,'' jawab Perawat itu memberi pengertian tapi Ketahuilah apa yang dikatakan Daniel sangat tidak bisa di ganggu gugat.


'' Saya Tidak mau tahu, panggil Dokter Sintia sekarang juga.'' Ucap Daniel dengan tegas.


'' Daniel sudah, apa kau tidak malu di lihat banyak orang,'' bisik Devita lagi dengan mata yang terus melirik sekitar.


'' Malu, buat apa? Rumah sakit ini milik ku,'' ucapan Daniel membuat orang yang mendengarnya terkejut tak terkecuali si perawat itu.


'' Tu-tuan, Tuan Carroll?'' tanya perawat itu dengan takut.


'' Ya, cepat lakukan sesuai perintahkan, apa Rumah sakit ini kekurangan Dokter wanita!!'' bentak Daniel dengan meledak-ledak.


'' Dan yang sedari tadi melihat ku dengan tatapan aneh, hentikan sekarang juga atau perlu aku bawa kalian ke ruang kremasi!!'' semua orang yang serari tadi ikut memperhatikan seketika bergetar dan ada juga yang langsung pergi dari rumah sakit karena tidak ingin berurusan dengan Daniel.


'' Daniel, kita cari rumah sakit lain saja ya,'' ucap Devita karena sudah merasa malu.


Devita menghela nafasnya panjang, ia benar-benar tidak habis pikir mempunyai suami yang sangat arogan seperti itu, selain arogan Daniel juga sangatlah posesif.


Tidak menjelang lama, semua Dokter juga perawat berkumpul menunduk hormat di hadapan Daniel. '' Apa kalian tau aku kesini untuk apa?'' tanya Daniel.


Semua hanya diam, jangankan menjawab, mengangkat wajahnya saja tidak ada yang berani.


'' Apa kita kekurangan dokter wanita?'' tanya Daniel pada seorang pria yang berpangkat kepala rumah sakit di sana.


'' Tidak tuan, tapi memang saat ini dokter kandungan yang wanita sedang tidak bertugas,'' jawab pria yang di tunjuk.


'' Sekarang panggil dia,'' titah Daniel.


'' Baik Tuan,''


'' Dan semua bubar, kembali dengan pekerjaan kalian,'' suruh Daniel pada yang lainnya, perlahan semua bubar berpamitan dengan hormat.


'' Haaahh, membuang-buang waktu saja,'' helanya.


Hanya menunggu sepuluh menit dokter yang di panggil Daniel pun datang dengan tergopoh-gopoh.

__ADS_1


'' Periksa istriku,'' titah Daniel dan di 'iya kan oleh dokter itu.


Dari usg sampai konsultasi tentang kesehatan Devita semua sudah di lakukan.


'' Apa tidak bisa melihat jenis kelamin sekarang juga?'' tanya Daniel dengan dingin.


'' Maaf tuan memang belum bisa, karena jenis kelamin bisa di lihat pada usia kandungan sekitar 18 minggu barulah kelihatan janis kelamin,'' jawabnya.


Setelah selesai konsultasi dan pemberian vitamin yang harus Devita makan mereka pun pulang.


'' Daniel jangan seperti itu lagi, aku benar-benar kesal dengan mu,'' ucap Devita yang sedari tadi menekuk wajahnya.


'' Honey, sudah ya jangan menekuk wajah seperti itu,'' rayu Daniel.


'' Tapi kau harus berjanji tidak akan bersikap seperti itu lagi,'' rengek Devita.


'' Iya akan aku usahakan,'' ucap Daniel yang mengusap lembut surai rambut Devita.


Ponsel Daniel berdering dan Daniel pun mengangkat nya dengan memasang bluetooth di mobilnya langsung.


'' Hemm,'' ucap Daniel.


'' Tuan, hari ini saya akan pulang,'' ucap seseorang di sebrang sana yang tidak lain adalah Zen.


'' Memangnya urusan mu sudah kelar?'' tanya Daniel yang sudah tahu urusan apa yang di maksud Zen waktu itu.


'' Sudah Tuan, semua sudah jelas dan aku mundur,'' jawab Zen dengan nada yang sendu dia tidak tahu kalau suaranya dapat di dengar juga dengan Devita.


'' Mundur? haaahhh, kau sangat pengecut!'' ucap Daniel yang sengaja agar Zen semangat.


'' Kau juga Daniel, tidak memberitahu ku asal usul dia,'' omel Zen dengan kata yang tidak lagi formal.


Mata Daniel terbelalak karena istrinya dapat mendengar omelan Zen padanya.


'' Kau sudah bosen hidup Zen, apa perlu kau tidak usah pulang ke sini tapi aku kirim ke afrika sana,'' ancam Daniel bukannya takut Zen malah terkekeh.


'' Hahah, baiklah maaf. Aku tutup dulu,'' ucap Zen dengan kekehannya.


'' Baru kali ini aku mendengar Tuan Zen tertawa dan berbicara dengan akrab seperti itu pada mu, Daniel,'' ucap Devita.


Tbc..


MAMPIR JUGA YA KE NOVEL BARU KU


"HANYA ISTRI PURA-PURA"

__ADS_1


⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇⬇



__ADS_2