Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Haru di Hari Suci Pernikahan


__ADS_3

Di suatu Rumah sederhana, tepatnya berada di pinggiran kota disana hidup satu keluaraga. Ayah dan Ibu yang sudah berumur dan seorang anak perempuan yang sedang mengandung seorang anak yang entah tau dimana Ayah si cabang bayinya.


Keluarga itu yang tak lain adalah Santos istri dan anaknya, Chloe yang benar-benar berubah, dia bertekat ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi, dengan tangannya sendiri ia mengurus Ibu nya yang belum juga pulih seperti semula, dan ayahnya yang sakit-sakitan karena usia yang tidak lagi muda, selain itu Santos juga adalah peminum dan perokok aktif sebelum jatuh sakit, dan dokter mengatakan paru-paru nya telah rusak karena ulahnya sendiri.


Chloe membuka usaha dari sisah uang tabungannya, ia menjual baju-baju lewat penjualan online, hanya itu yang ia dapat lakukan karena tidak ada lagi bakat yang ia punya, Mengandalkan laptop serta ponselnya itulah satu-satunya matapencaharian nya.


Di siang hari seperti ini, Chloe masih sibuk dengan menata beberapa baju yang di taruh di kotak-kotak untuk di kirim ke si pembeli, ya saat ini Chloe sedang berada di sebuah saung kecil di depan rumah sederhana nya.


Tiba-tiba sebuah mobil hitam terparkir tepat di depan rumahnya dan membuat perhatian Chloe teralihkan dari pekerjaan nya.


" Siapa itu?" gumam Chloe menatap mobil itu, matanya memicing saat melihat seorang pria dewasa keluar dari mobil mewah itu.


" Sepertinya aku mengenalnya," gumamnya lagi.


Pria dewasa berparas tampan dengan tipe expresi wajah yang menyeramkan menurut sebagian orang yang tidak mengenalnya, ia memperhatikan setempat dan matanya melihat seorang wanita yang sedang duduk dengan beberapa kotak di samping kiri dan kanannya.


Kaki nya melangkah mendekat ke arah saung itu manik matanya yang berwarna abu-abu menatap dengan tajam.


" Selamat siang, Nona Chloe," sapanya dengan sopan, alis Chloe menyatu karena merasa tidak asing dengan wajah pria yang mendatanginya itu.


" Ya, Tuan mencari siapa?" tanya Chloe yang masih berusaha mengingat wajah pria itu.


" Saya Reno pengawal pribadi tuan besar Mahendra Huang, saya datang kesini sengaja ingin bertemu dengan anda," ucapnya dengan memperkenalkan dirinya, ya pria itu yang tak lain adalah Reno yang datang atas perintah Mahendra karena permintaan Devita, putrinya.


" Oh astaga, ya Tuan Reno, maaf aku sampai lupa," kekeh Chloe, senyum manis Chloe terlihat jelas di mata Reno, ia menatap senyum itu dengan dalam ada sesuatu yang di rasakanya sampai dadanya berdebar tak karuan.


" Silahkan duduk, Tuan." Ucap Chloe mempersilahkan Reno duduk.


" Ada apa Tuan mencari saya?" tanyanya setelah Reno duduk di jarak dua meter dari tempat ia duduk.


" Lusa Nona Devita akan melangsungkan acara pernikahan, Tuan Mahendra memerintahkan saya untuk mengundang anda dan keluarga secara khusus untuk menghadiri nya." Ujar Reno dengan bahasa formalnya.


" Devita menikah, aku turut bahagia. Tapii maaf kami tidak bisa ikut di dalam pesta itu," ucapnya dengan penolakan yang secara halus.


" Kenapa?"


" Kami bahkan tidak mampu menunjukan wajah kami lagi di hadapan mereka, perbuatan keji kami dulu sangatlah memalukan, tapi aku turut mendoakan agar Devita dan calon suaminya berbahagia." Jawabnya, sangat terlihat ada raut penyesalan di wajah cantik Chloe, dan Reno bisa melihat itu, ia bisa melihat kalau Chloe benar-benar sudah berubah.


Reno terdiam, ia tidak bisa memaksakan kehendak Chloe, itu sudah keputusan nya, memangnya siapa dia bisa memaksa Chloe untuk datang, walau di dalam lubuk hatinya ia sangat ingin Chloe ikut hadir di acara tersebut.


" Baiklah, kalau seperti itu, saya akan menyampaikan apa yang anda ucapkan pada Tuan besar dan Nona muda Devita," Reno menjeda ucapannya.


" Kalau begitu saya pamit undur diri, jaga diri mu baik-baik dan sampaikan salam ku pada kedua orang tua mu," Reno berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban Chloe, dia berjalan dengan menyeret kakinya menuju mobilnya dan melajukan nya dengan pelan.


" Dia kenapa, aneh sekali," gumam Chloe yang merasa heran dengan sikap Reno.


" Maafkan aku ka Dev, aku benar-benar tidak mampu menunjukkan wajah ku di hadapan mu lagi," gumamnya dengan menghela nafasnya dengan kasar.


.


.


Reno kembali ke Mansion dengan perasaan yang tidak bisa ia gambarkan sendiri, entah kenapa hatinya terasa hampa, ia menyeret kembali kakinya menuju dalam Mansion yang sudah terdapat Devita yang sengaja menunggunya.


" Kak Reno, bagaimana?" tanya Devita penuh harap.


" Maafkan saya Nona, Nona Chloe tidak bersedia untuk hadir," jawab Reno dengan expresi wajah datarnya.

__ADS_1


Devita membuang nafasnya dengan sedih, ia ingin sekali dekat kembali dengan Chloe sepupunya, seperti dahulu tapi itu hanya angan-angan nya saja


" Ya sudah tidak apa, terima kasih ya kak." Devita berlalu kembali ke kamarnya.


.


Daniel yang nasih menyibukan diri dengan pekerjaannya walaupun lusa sudah hari pernikahannya, Daniel memanglah tipe pria gila bekerja, sampai ada julukan si Raja bisnis di beberapa pembisnis yang sudah bekerja sama dengan perusahaan yang Daniel pimpin itu.


" Zen, priksa file dari Aditama Group, dia mengajukan kontrak kerja sama dua hari yang lalu, cari tahu tentang perusahaan nya sampai detail, kalau tidak masuk kriteria tolak saja." Titah seorang Daniel, Zen yang sedang berada di ruangan Daniel hanya mengangguk tanda 'iya.


Belakangan ini Zen todak banyak bicara apalagi dengan Daniel, dia hanya bicara seperlunya tapi jika ia malas untuk menjawabnya ia hanya mengangguk dan menggeleng untuk jawabannya.


" Semua tidak ada masalah," ucap Zen dengan singkat, wajahnya datar menatap Daniel yang sudah menatap nya terlebih dulu.


" Ya sudah hubungi saja untuk atur pertemuan nya," Daniel bisa melihat di wajah Zen yang penuh kekecewaan, yang ia tahu apa sebab kekecewaan nya itu.


" Baik," jawabnya dengan singkat lagi.


Saat Zen ingin beranjak dari duduknya, Daniel menahannya dengan memanggilnya.


" Tunggu, duduklah dulu, aku ingin mengucapkan sesuatu," ucap Daniel menghentikan niat Zen yang ingin pergi dari ruangan Zen.


Zen kembali duduk dengan menatap serius ke arah Daniel, lama Daniel diam.


" Aku sungguh tidak peduli dengan apa yang kau rasakan, tapi perlu kau ingat, wanita yang kau sukai itu hanya milik ku, tidak peduli kau ini sahabat atau asisten pribadi ku, aku akan menghabisimu jika kau berani mengganggu hubungan ku dengannya, kau paham." Ucap Daniel dengan tegas.


Dia berbicara seperti itu bukan semata-mata menunjukkan sifat egoisnya bukan juga menunjukkan kekuasaannya, tapi dia mengatakan seperti itu hanya untuk meluruskan dengan apa yang sudah semestinya.


" Ya aku mengerti, dan kali ini aku bicara bukan dari posisi bawahan mu tapi di posisi Sahabat mu, jika kau masih melakukan kebiasaan buruk mu itu saat sudah menjadi suaminya, aku tidak akan segan-segan merebutnya dari mu. Bagaimana, kau bisa menjamin itu? " Ucap Zen yang tidak kalah garangnya dan ada kata pertanyaan di akhir ucapannya.


Zen menghela nafasnya lega, ia lega sudah mengucapkan apa yang di pendamnya selama ini, senyum tipisnya terlukis ia beranjak dan menghampiri Daniel yang sudah berdiri membelakangi nya dengan menghadap kaca besar yang bisa langsung melihat pemandangan kota.


Zen berdiri dengan mensejajarkan tubuhnya pada Daniel.


" Aku bisa lega sekarang, aku harap lau bisa memegang ucapan mu," ucap Zen.


" Seorang keturunan Carroll harus bisa memegang ucapannya," jawabnya, Zen terkekeh dan menepuk pundak Daniel.


" Hei aku ini Bos mu, jangan berbuat tidak sopan kau," sungut Daniel. Zen terdiam tapi beberapa saat kemudian tawa dari keduanya menggelegar memenuhi ruangan kerja Daniel Carroll.


" Ya sudah, aku akan kembali ke ruangan ku," ucapnya dan Daniel hanya mengangguk.


" Saya permisi Tuan," pamitnya yang kembali menggunakan kata formal.


" Ya, pergilah," jawabnya dengan nada yang biasa ia tunjukan saat menjadi Bos bukan Sahabat.


Zen melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan Daniel, tapi saat kakinya sudah ingin keluar dia berbalik kembali.


" Oh ya Tuan, apa ka Dinar sudah tidak mengirimkan makanan lagi? sudah tiga hari aku tidak makan masakannya," ujar Zen, Daniel mengernyitkan alis merasa heran dengan ucapan yang Zen katakan.


" Tidak, aku yang memintanya agar tidak lagi mengirimkan makanan ke kantor, kalau kau rindu masakannya kenapa tidak pergi ke Mansion langsung saja," jawa Daniel dengan tatapan yang menyelidik.


" Ah ya, tidak terima kasih, kalau begitu saya permisi," ucapnya dengan segera dan berlalu pergi dari ruangan itu.


" Ada yang aneh, tapi apa." Gumam Daniel, tingkat kepekaan Daniel sangatlah lumayan, tapi kali ini kepekaannya sedikit tidak berfusi.


Hari kian berlalu, dan hari yang di tunggu-tunggu akhirnya tiba.

__ADS_1


Hari ini hari dimana sebuah resepsi pernikahan Daniel dan Devita akan berlangsung, Hari tanggal dan bulan yang sudah ditentukan kedua belah pihak.


Ikatan baru akan di laksanakan, status baru akan datang, dan janji suci mereka akan terucap dan itu bukan hanya sekedar janji, janji yang menyakut pautkan sang maha pencipta untuk memulainya suatu hubungan yang di sebut Ruamh Tangga.


Pesta yang di gelar di sebuah hotel berbintang mewah tentunya, yang tidak lain hotel milik Mahendra sendiri di sanalah berlangsung nya acara resmi.


Dekorasi sederhana namun tidak meninggalkan kesan elegant di dalamnya sudah tertata rapih, Mahendra menyiapkannya dengan teliti, ia tidak ingin ada kekurangan di acara pesta pernikahan putrinya.


Semua sudah berkumpul para tamu juga sudah berdatangan hanya Pengantin wanita saja yang belum terlihat karena masih di rias oleh makeup artis yang di sewa khusus untuk merias Devita.


Tidak lama kemudian Devita pun selesai di rias, penampilan nya yang menggunakan gaun pernikahan sangatlah cantik dengan riasan natural sesuai permintaan nya, dan ia segera menuju ke altar pernikahan dengan di gandeng Puspa yang sudah terlihat cantik juga dengan gaun nya.


Semua mata tertuju ke arahnya begitu juga Daniel yang seseakan-akan terhipnotis karena nya, ia berjalan begitu anggun sungguh Devita benar-benar kelihatan sangat cantik dengan balutan gaun putih dengan punggung yang sedikit terbuka itu.


Daniel melihat Devita begitu terpesonanya sampai ia tidak melepaskan pandangannya ke arah gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu, ya Daniel benar-benar terkesima dengan kecantikan Devita yang begitu paripurna.


Devita mengangkat kepalanya dan memandang semua orang dengan senyum indahnya, berjalan di atas red carpet bak seperti tuan putri di sebuah kerajaan dongeng, itulah Devita.


" Adik ipar ku sungguh cantik," gumam Dinar.


" Ya, dia adalah gadis ku yang beberapa saat lagi akan menjadi istri ku," timpal Daniel yang masih menatap Devita.


" Kekasih ku tidak kalah cantiknya, aku benar-benar tidak rela kecantikannya di nikmati pria lain selain aku," timpal Kemal yang sedari tadi hanya terfokus ke Puspa yang berjalan di samping Devita.


" Kem, jangan mulai," bisik Dinar, Kemal terkekeh mendapatkan bisikan itu.


" Kau benar, aku tidak rela kecantikan Devita di nikmati oleh mata pria lain, aku akan mencolok mata pria yang memandang nya," ucapnya dengan konyol ia ingin beranjak tapi di tahan Dinar.


" Daniel, kalau kau sampai macam-macam aku pastikan pernikahan mu akan batal," ucaoan Dinar membuat Daniel mengurungkan niatnya dan berdecak kesal karenanya.


Devita dan Puspa telah sampai di altar pernikahan, Puspa menyerahkan Devita pada Daniel yang langsung menggenggam tangan Devita dengan posesif nya seakan-akan ingin mengatakan pada semua orang kalau Devita hanya miliknya.


Dengan di saksikan banyak mata keduanya mengucapkan janji suci mereka untuk memulainya suatu hubungan baru serta kehidupan yang baru juga tentunya.


Setelah mengucapkan janji sehidup semati kini keduanya sudah menyandang setatus sebagai suami dan istri, aura kebahagiaan menyelimuti kedua mempelai dan kedua keluarga begitu juga tamu-tamu yang hadir turut serta merasakan kebahagiaan.


" Selamat untuk kalian, semoga hubungan kalian berjalan dengan baik. Dan Daniel saya harap kau bisa menjaga putri ku dengan baik, aku percayakan sepenuhnya kehidupan putriku pada mu sekarang, jaga dia, sayangi dia jangan sampai kau menyakiti perasaan nya kalau sampai itu terjadi aku Ayah kandungnya yang akan berdiri di depannya untuk membelanya." Ucap Mahendra yang sudah berlinang air mata.


Haru biru menyelimuti orang-orang disana.


" Ayah, saya Daniel Carroll berjanji akan menyayanyi putri mu, mencintai dengan segenap jiwa dan raga saya, saya rela menukar nyawa saya hanya untuk keselamatan wanita yang saat ini menyandang status sebagai istri ku." Ucao Daniel dengan tegas.


" Ya aku sangat percaya itu, sekali lagi jaga dia seperti menjaga dirimu sendiri, ya kau harus menjaganya saat aku tiada nanti," tangis Mahendra akhirnya pecah, Daniel dengan sigap memeluk tubuh rentah Mahendra yang bergetar karena rasa harunya.


" Ayah, jangan mengucapkan kata itu, Ayah harus berumur panjang," Devita pun ikut menagis karena memang sedari tadi ia menahan tangisnya.


" Tidak nak, Ayah tidak bisa menjanjikan hal itu, karena itu sangatlah mustahil di usia ku yang rentang ini," jawab Mahendra.


" Besan, kau jangan bicara seperti itu, kita akan hidup lebih lama lagi karena kita belum mendapatkan cucu dari anak-anak kita ini," timpal Frans, Devita tertunduk malu karena ucapan sang Ayah mertua yang menyinggung nama cucu.


Para tamu pun bergantian mengucapkan selamat pada kedua mempelai, dari teman keluarga sampai kolega-kolega yang di undang Daniel pun turut mengucapkan selamat.


Tapi ada seseorang yang duduk dengan menatap sendu ke arah altar yang terdapat Devita disana.


Senyum yang menyimpan luka di dalam nya, ia berpura-pura kuat namun hatinya begitu terluka, tapi dia benar-benar tidak bisa melakukan apapun karena wanita yang selama ini di cintainya sudah menjadi milik orang lain.


Tbc..

__ADS_1


__ADS_2