Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Sisi Iblis Zen


__ADS_3

Nadia masih terkurung di ruangan bawah tanah yang pengap dan gelap, keadaan yang gelap membuat ruangan itu lembab dan membuat Nadia selalu berteriak meminta di lepaskan dan dikeluarkan dari ruangan itu.


Zen yang selalu menghampiri ruangan itu untuk sekedar mengecek keadaan Nadia.


''Bagaimana? kau cukup tersiksa berteman dengan binatang menjijikkan itu?'' tanya Zen yang sudah berada di depan jeruji besi tempat Nadia di kurung di dalamnya.


''Brengsek!! lepaskan aku pria sialan!!'' maki Nadia dengan nyalang, Zen tertawa puas mendengar nya.


''Rupanya kau belum juga berubah Nad, Oh ya dengar-dengar kau sangat takut di ikat di kurung dan takut dengan Rumah sakit Jiwa kan?''


''Apa maksud dari ucapan mu,''


''Bagaimana kalau aku membawa mu kesana,'' ucap Zen yang sengaja mengatakan hal itu untuk membuat Nadia semakin terguncang.


''Tidak, aku tidak mau, aku mohon jangan membawa ku kesana,'' Nadia mendekat ke arah Zen, tapi Zen yang mundur dari tempat dia berdiri semula.


''Aku bahkan jijik melihat rupa mu,'' ketus Zen.


''Daniel memerintah ku untuk mengurus mu, jadi dia juga menyerahkan dirimu pada ku, jadi hidup mati mu ada tangan ku.'' Ucap Zen, mata yang menatapnya dengan tajam membuat Nadia ikut mundur beberapa langkah.


''Kau tega Zen memperlakukan wanita seperti ini,'' lirih Nadia.


''Wanita kau bilang? hahah,'' Zen tertawa dengan kerasnya.


''Kau Bahkan tidak pantas di sebut wanita karena wanita yang sesungguhnya tidak akan sanggup menyelakai wanita lain,'' ucapan Zen membuat Nadia kesal.


''Dan kau tidak pantas di sebut laki-laki karena memperlakukan lawan jenis mu seperti ini!!'' Nadia kembali terpancing emosi.

__ADS_1


Zen kembali mendekat dan memerintahkan penjaga disana untuk membukakan gembok yang terpasang rapih itu.


Zen semakin mendekat dan semakin mendekat, Nadia yang merasa terancam hanya bisa memundurkan langkahnya sampai menyetuh dinding bagian tubuh belakang nya.


''Kau bilang apa?'' tanya Zen dengan wajah yang tidak ada lagi garis tawanya.


Plakk


''Bahkan kau tidak pantas hidup, Nadia!!'' Bentak Zen setelah menampar pipi kanan Nadia.


''Kalau begitu kenapa kau tidak membunuh ku!!'' Nadia rupanya tidak mau mengalah, ia juga sama berbicara dengan meninggikan suaranya.


''Cih,'' Saking muaknya Zen meludah tepat di hadapan Nadia.


''Aku tidak akan melakukan hal sekotor itu, Nadia. Karena apa? karena kau yang akan menghabisi nyawamu sendiri, dan aku, aku hanya memberi mu jalan untuk menuju Neraka.'' Ucap Zen dengan tatapan tajam dan senyum devilnya.


Nadia terdiam, Ia tidak berani mengatakan apapun lagi, karena dia pun baru melihat sifat iblis dari Zen, yang selama inu yang dilihat nya Zen adalah sosok pria yang baik pada siapapun walau kadang dia akan bersikap dingin dengan orang tertentu.


Zen sudah puas menyiksa batin Nadia di ruangan bawah sana, dan dia pun keluar dari ruangan mematikan itu.


Matanya berkeliling seperti mencari seseorang, tapi orang yang dicari tidak tampak di matanya.


''Kemana Linda?'' tanya Zen pada sala satu maid yang sedang membersihkan guci besar di tepi tangga.


''Ka Linda sedang di ruangan Tuan besar, Tuan Zen.'' Jawab maid itu dengan sopan.


Zen berlalu begitu saja setelah mengucapkan kata Terima kasih pada maid itu, ia menuju kamar Frans Carroll Tuan besar disana.

__ADS_1


Zen mengetuk pintu itu terlebih dulu dan membuka dengan perlahan, belum seluruhnya terbuka Zen sudah melihat seorang wanita yang sedang menyuapi seorang pria tua yang terduduk di kursi roda dengan sabarnya.


Senyum yang tidak pernah di lihat nya sama sekali sekarang nampak jelas di mata Zen, senyuman tulus Linda, senyuman langka menurutnya ini perlu di apresiasi pikir Zen, tapi setelah dia sadar apa yang di pikirkan nya, Zeb segera mengusir pikiran-pikiran itu dari kepalanya dengan segera.


Zen kembali menutup pintu itu dan berlalu pergi dari Mansion, wajah datar serta tatapan tajamnya tidak pernah pergi dari rautnya, itu yang membuat para pekerja disana selalu bergidik ngeri saat di lewati Zen.


''Tuan Zen dan Tuan Daniel, seperti kembar tapi tak sama ya,'' bisik maid yang sedang membersihkan pajangan di ruang tamu.


''Iya, sama-sama menyeramkan,'' jawab Maid yang sedang memegang alat vakum.


''Bagaimana ya kabarnya Devita, aku akan menghubungi Daniel,'' gumam Zen yang sudah berada di dalam mobilnya.


''Halo Tuan, kau dimana?''


''Lalu siapa yang menjaga Devita?


''Baik aku akan kerumah sakit untuk membantu Puspa menjaga Devita.''


''Hiishhh, emmm,, iya,''


Itulah yang Zen ucapkan, yang ternyata Daniel masih berada di Apartemen nya dan melarang Zen untuk menginjakan kakinya di Rumah sakit tapi malah di perintahkan untuk meng-handle jadwal meeting nya dengan Golden Diamond yang menjadi investor terpenting nya.


''Daniel terlalu berlebihan,'' gerutu Zen yang sudah menekan pedal gas di kakinya dan melajukan mobilnya.


Zen tiba-tiba teringat senyuman dari wajah wanita yang tidak pernah mampir di pikirannya sekalipun, tapi kenapa tiba-tiba dia mengingatnya?


''Apa-apaan aku ini, dia itu hanya wanita pengganggu dan wanita yang paling lancang yang aku tahu,''

__ADS_1


''Figura ku saja sampai hancur karena kelancangan dia,'' Zen terus mengingat-ingat hal buruk tentang Linda entah karena apa.


Hanya karena figura yang hancur, Zen sudah membulatkan tekat untuk membenci Linda di sisah umurnya, tapi foto siapa yang ada di dalam figura itu, sampai Zen murka karena pecahnya kaca figura miliknya.


__ADS_2