
...Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang ππ...
Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya πππ..
Banyak maunya yaaπ iya emang ππ
eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupaπββ
...ππππππππ...
...Hati yang mulai goyah...
...Kepercayaan yang mulai redup...
...Rasa sesak yang di dapat...
......Kekecewaan yang di rasakan.......
...Itu adalah gambaran hati yang tersakiti....
^^^Devita Maharani.^^^
...β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦Ξ©β¦β¦...
Pandangan keduanya saling terkunci, genangan air terlihat di kelopak mata indah Devita, tapi sebisa mungkin Ia menguatkan hatinya, bibir yang melengkung tapi raut kekecewaan tak menghilang.
Puspa maupun Kemal hanya diam, mereka tau situasi seperti ini tidaklah bagus untuk Devita,
''Are you ok, Dev.'' Bisik Puspa, ya Puspa sangat mengerti apa yang di rasakan Devita saat ini.
Devita menoleh ke samping dimana Puspa berdiri, senyum yang menyembunyikan kesedihan sangat kentara di wajah cantiknya, sungguh Devita tidak bisa membohongi perasaan nya.
''Pu, bukannya kita mau ada tanda tangan kontrak tempat kan.'' Ucap Devita pada Puspa, semula Puspa tidak mengerti tapi sedetik kemudia Ia baru paham apa maksud dari ucapan sahabat nya itu.
''Aah iya, aku baru ingat, Dev.'' Jawab Puspa dengan kikuk dan melirik Kemal.
''Biar ku antar, kalian duluan saja ke depan ya.'' Ucap Kemal pada kedua wanita itu, Puspa dan Devita hanya mengangguk.
''Maaf kami harus pergi, permisi.'' Pamit Puspa pada mereka yang membuat sahabat nya kecewa.
Tanpa terucap kata pamit, Devita berlalu pergi dan di susul Pupsa di belakanya, Daniel hanya memandang pundak Devita yang sudah semakin menjauh.
''Ka Dinar, Nadia, Daniel. Aku pamit.'' Pamit Kemal dengan menatap tajam manik Daniel.
__ADS_1
Saat ingin melewati Daniel, Kemal sedikit berbisik padanya. ''Jangan menyesal saat kehilangan berlian yang semula kau genggam.''
Kata yang tersirat menandakan peringatan, tertuju pada Daniel. Semula Daniel tidak menanggapi tapi semenit kemudia dia baru tersadar kalau gadisnya tengah kecewa karena nya.
''Tunggu, Kemal.'' Ucap Daniel dengan suara yang kencang.
Kemal yang memang belum melangkah jauh seketika menghentikan langkahnya, dan Smirks tersirat di wajah tampan Kemal.
''Aku yang akan mengantarkan Devita.'' Ucap Daniel lagi.
Dengan kasar Daniel melepaskan rangkulan Nadia di lengannya, dan berlalu dari tempatnya untuk menyusul Devita dengan langkah lebarnya.
Dinar dan Nadia merasa heran dengan apa yang terjadi, Kemal yang memang masih berada di sana mendekat kembali ke tempat Dinar dan Nadia berdiri.
''Kemal, Daniel kenap? dan gadis itu sebenarnya siapa?'' pertanyaan-pertanyaan itu keluar dari mulut Dinar.
''Kaka bisa tanyakan langsung nanti pada Daniel, aku tidak berhak untuk menjelaskan nya, tapi yang pasti gadis yang bernama Devita itu menempatkan posisi yang khusus di hati Daniel.'' Penjelasan Kemal memanglah penuh teka teki tapi Dinar maupun Nadia paham dengan maksudnya.
''Jadi wanita itu, teman wanita Daniel?'' tanya Nadia dengan raut kecewa.
''Ya bisa di katakan seperti itu.'' Jawab Kemal dengan entengnya.
''Ooh ternyata adik ku menyukai wanita juga ya,'' kekeh Dinar mencairkan suasana.
Tepat di depan Restoran, Devita dan Puspa memang sedang berbincang, terlihat sekali Devita tengah menangis dan di kuatkan Puspa dengan mengusap pundaknya.
Daniel melihat itu semua, rasa bersalah menyergapnya.
''Vita.'' Panggil Daniel dengan lirih.
Dengan cepat Devita menghapus air mata yang sudah membasahi pipi mulusnya dan menoleh ke asal suara.
Wajah polos dengan tatapan nanar sangat menyiksa Daniel. ''Kau salah paham, Vita.'' Ucap Daniel lagi.
Puspa yang memang merasa keberadaan nya tidak tepat segera pamit, ''Dev, aku pergi duluan ya, ternyata ibu ku sudah menghubungi ku, Bye.'' Puspa berlalu pergi dengan menyetop taxi yang kebetulan lewat.
''Vita, kau mau pulang? biar ku antar ya.'' Ucap Daniel lagi setelah Puspa pergi.
''Daniel, sebaiknya kau kembali, aku tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku.'' Ucap Devita dengan berat.
''Tidak, aku ingin menemani mu.'' Daniel segera menarik tangan Devita untuk masuk ke dalam mobilnya.
Setelah keduanya masuk, Daniel melajukan dengan kecepatan sedang, Devita hanya diam sepanjang jalan, sesekali Daniel berdehem tapi Devita seakan tidak perduli dengan hal itu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di gedung Apartemen tempat mereka tinggal, tanpa menunggu Daniel membukakan pintu mobil, Devita sudah keluar dan berlalu.
''Aku harus bicara apa padanya, ini benar-benar harus di luruskan.'' Gumam Daniel yang masih didalam mobil.
Teriakan Daniel yang memanggilnya tidak Ia perdulikan, Devita sudah ingin memasuki lift dan pintu lift pun tertutup sebelum Daniel sampai.
''Shitt!!'' Dengan menggerutu Daniel dengan pasrahnya menunggu lift umum terbuka.
Lift umum memang tidak sampai ke lantai tempat Ia tinggal, maka dari itu Ia harus menaiki tangga darurat setelah nya.
Devita sudah berada di unit Apartement nya, duduk di sofa depan televisi dengan pandangan kosong, satu tetes air mata telah luruh.
''Ada apa dengan diri ku, kenapa aku merasakan sesak di dada ku.'' Gumam Devita, ya yang Ia tahu dirinya belum merasakan ada cinta untuk Daniel, tapi kenapa hatinya sakit melihat nya.
Gedoran pintu terdengar sangat kencang, Devita yakin itu adalah Daniel, 'Klik.
Pintu terbuka, Devita baru ingat unit Apartment yang Ia tinggali saat ini adalah milik Daniel, tentu saja Daniel sangatlah mengetahui pasword nya.
''Vita,'' panggilnya.
Devita tidak sama sekali menyahut, dengan perlahan Daniel duduk di samping Devita.
''Vita, percayalah pada ku, kau telah salah paham.'' Ucap Daniel dengan lembut.
''Kalau memang aku salah paham, maafkan aku.'' Jawab Devita dengan lirih.
''Dinar itu Kakak perempuan ku, dan kalau Nadia dia sahabat kecil ku yang sudah aku anggap sebagai adik ku juga, kami besar bersama tapi Kakak ku memilih pergi keluar negri untuk ikut bersama suaminya, Nadia ikut tinggal bersama ka Dinar sekalian menempuh pendidikan disana.'' Ujar Daniel, ya Daniel rasa Ia harus meluruskan ini semua.
''Kami tidak bertemu sudah hampir Lima Tahun, hari ini mereka pulang kesini dan meminta ku untuk menjemput nya di bandara maka dari itu aku hanya bisa mengirimkan pesan singkat ke nomor mu.'' Lanjut nya, Devita menoleh ke arahnya dan melihat wajah Daniel dengan guratan rasa bersalah.
''Aku tidak menerima pesan singkat mu.'' Ucap Devita dengan lembut.
''Hah, kau yakin?'' Daniel terkejut dan segera memeriksa aplikasi Chatnya.
''Sial, aku salah mengirimkan pesan.'' Gumamnya dengan kesal.
''Maaf Vit, ya aku memang salah kirim, aku malah mengirimnya ke nomor Kemal.'' Ucapnya dengan gugup.
''Ada yang ingin ku tanyakan.'' Ucap Devita dengan serius.
''Tanyakanlah''...
''Sebenarnya, Kemal itu siapa kamu?'' pertanyaan Devita membuat Daniel terkesip, Ia bingung harus bagaimana, menjawabnya atau tidak.
__ADS_1