
Linda yang di perintah Dinar untuk ke kantor Daniel karena Devita yang meminta di temani segera bergegas dengan mobilnya. '' Andai bukan Nyonya Devita yang meminta, aku tidak akan mau kesana,'' gumamnya sambil menyetir mobilnya.
'' Membayangkan wajah mr monster saja aku sudah muak apalagi harus bertatap muka dengan nya,'' lanjutnya, kebencian Linda pada Ze sudah mendarah daging semenjak Zen yang mengatainya wanita yang tidak benar dengan menuduhnya sembarangan.
Tibalah ia di lobby kantor, penjaga kantor yang mengenalnya langsung menyapanya dengan hormat, Linda yang memang bertabiat ramah membalas sapaan dengan sangat ramah.
'' Apa kabar pak?'' tanya Linda pada penjaga kantor yang sudah tidak lagi muda.
'' Baik Nona Linda,'' jawab penjaga itu dengan hormat.
Linda melanjutkan langkahnya setelah menyapa para penjaga, banyak juga yang sudah mengenal Linda dengan baik maka dari itu banyak juga yang menyapanya.
Tibalah ia di depan ruangan yang bertuliskan CEO, mengetuknya dengan b
pelan dan masuk ketika ada yang menyahut dari dalam.
'' Selamat siang Nyonya muda,'' sapa Linda dengan menundukkan tubuhnya sedikit.
'' Siang ka Linda, duduklah, temani aku ya,'' ujar Devita, Linda melangkah dan duduk di dekat Nyonya mudanya.
'' Ka Linda maaf ya Devi merepotkan, soalnya aku bosan, Daniel sudah satu jam lebih meeting dan aku di tinggalkan disini sendirian,'' keluh Devita layaknya seorang adik pada kakaknya.
'' Tidak apa Nyonya muda, saya tidak merasa di repotkan sama sekali,'' jawab Linda.
Dua wanita cantik itu saling bercerita tentang dirinya serta kehidupannya masing-masing, '' Turut berdukacita ya ka, ibu ku juga meninggal karena kecelakaan,'' ucap Devita yang ikut sedih mendengar cerita Linda.
Saat ingin meneruskan ceritanya, suara pintu terbuka terdengar mereka dan membuat keduanya menoleh dengan berbarengan. '' Daniel,'' ucap Devita.
Linda tersenyum ramah namum senyumnya tidak berlaku pada orang yang berjalan di belakang Daniel yang tak lain dia adalah Zen.
Zen meliriknya namun Linda seakan tidak menganggap nya ada, rasa kesal itu tiba-tiba muncul di hati Zen karena mendapatkan perlakuan tidak ramah dari Linda.
Mata Zen beralih ke Devita hanya sekedar menyapa dengan anggukan kepala, Daniel yang tentu saja langsung menghampiri istrinya dan Zen yang tetap berdiri di sudut kursi.
'' Maaf lama ya,'' ucap Daniel pada istrinya.
'' Iya lama sekali, tapi untung nya ada ka Linda,'' jawab Devita, Daniel menatap Linda dan mengucapkan kata terima kasih dengan ciri khasnya, dingin juga datar.
'' Ya sudah, sebagai gantinya istri ku ini meminta apa dari ku,'' ucap Daniel dengan nada memanjakan Devita.
Lama Devita berpikir dan pada akhirnya Devita berucap,'' ke mall, jalan-jalan,'' cetusnya.
'' Baiklah, kita pergi sekarang,'' ucapnya dan di angguki Devita.
'' Tapi mereka harus ikut juga,'' pinta Devita, awal Linda juga Zen menolak namun karena ini terucap dari bibir Devita langsung, mau tidak mau Daniel harus memaksa mereka berdua.
'' Ini sudah permintaan istri ku, kalian harus ikut,'' ucao Daniel, Zen dan Linda mangangguk pasrah walau hatinya sangat menolak.
Mata mereka bertemu, tapi Linda membuang wajahnya dengan ketus, begitu juga Zen.
Kalau bukan karena bos mana mau aku ikut serta apalagi bersama makhluk astral seperti dia, pikir Linda.
Karena sudah keputusan yang tidak bisa di ganggu gugat akhirnya mereka pergi dengan berbeda mobil, Daniel yang tentunya bersama dengan istri nya dan Linda yang di perintahkan Daniel harus satu mobil bersama Zen.
Menolak pun percuma karena memang ini bagai sudah sebuah titah seorang Raja pada Pengawal nya. '' Tuan dan Nyonya sudah pergi, aku akan turun dan naik ke mobil ku sendiri,'' ucap Linda yang sudah bergegas turun namun Zen menahannya dengan mengunci pintu mobil agar Linda tidak dapat membuka nya.
'' Tolong buka kuncinya,'' ucap Linda yang sedang menahan emosinya karena tahu Zen memang sengaja.
'' Sudah jangan banyak bicara, Tuan muda dan Nyonya muda sudah jauh, kalau kita tertinggal bukan hanya kau saja yang kena marah, aku juga akan kena marah,'' jawab Zen yang langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal.
Linda menghela nafasnya dengan kasar, lagi-lagi alasan boslah yang membuat Linda pasrah.
Selama di perjalanan Linda juga Zen tetap bungkam, keduanya tidak mengobrol maupun tidak saling lihat, namun tiba-tiba ponsel Linda berdering mambuat suasana di dalam mobil hidup kembali karena Linda yang mengeluarkan suara.
'' Ya,'' jawab Linda dengan lembut.
'' Cih, dia bahkan bisa berlembut ria seperti itu dengan orang lain, tapi dengan ku sama sekali tidak,'' gerutu Zen dalam hati.
'' Ya aku akan menyampaikan niat ku pada Tuan besar,'' ucap Linda lagi pada seseorang di sebrang sana.
'' Mungkin akhir minggu ini, aku akan memberikan surat pengunduran diri ku,'' ucapan Linda membuat Zen menoleh dengan alis yang menyatu.
Entah kenapa Zen menginjak pedal rem dengan tiba-tiba dan membuat Linda terkejut serta mengakhiri telpon nya dengan tiba-tiba.
'' Kau ini punya masalah apa!'' bentak Linda.
'' Ma-maaf, tadi aku mendengar pembicaraan mu, kau mau mengundurkan diri?'' tanya Zen dengan gugup.
'' Ya memangnya kenapa, apa masalah mu,'' jawab Linda.
'' Memangnya kenapa? emmm tidak, maksud ku apa yang membuat kau ingin mengundurkan diri dari Mansion,'' ucap Zen lagi dengan rasa yang canggung.
Alis Linda menyatu karena merasa heran dengan sikap Zen juga reaksi Zen, kecanggungan Zen membuktikan bahwa Zen ingin sekali tau. '' Ada apa dengan mu,'' tanya Linda.
__ADS_1
'' Tidak, aku hanya ingin tau alasan nya saja, lagi pula pasti jika kau berhenti pasti aku yang akan di repotkan untuk mencari pengganti mu,'' ucap Zen dengan sejuta alasannya.
'' Sudah, aku sudah memiliki penggantinya,'' jawab Linda. '' Siapa?'' tanya Zen lagi.
Linda menghela nafasnya dengan kasar karena malas menanggapi banyak pertanyaan Zen. '' Sebenarnya kau ini kenapa? kenapa kau banyak sekali bicara kali ini,'' cetus Linda.
Zen terdiam ia bahkan bersikap gugup dengan pertanyaan Linda, karena Zen tidak menjawab Linda juga tidak mempermasalahkan lagi.
'' Sudah lebih baik kau lanjutkan saja menyetirnya, nanti Tuan dan Nyonya akan marah,'' Zen yang tidak lagi banyak bicara ia hanya menuruti ucapan Linda dan segera melanjutkan kembali menyetirnya.
Mereka kembali diam dengan pikiran masing-masing Linda yang memikirkan alasan apa yang harus di berikan pada tuan besarnya untuk resign dan Zen yang terus terganggu pikiran nya soal Linda yang ingin mengundurkan diri.
Tibalah mereka di parkiran Mall yang Daniel juga Devita sudah menunggunya sedari tadi.
'' Kenapa kalian lamban sekali sampai disini,'' omel Daniel.
'' Maaf Tuan, tadi saya mampir untuk mengisi bahan bakar,'' jawab Zen yang berbohong.
'' Kalau saja bukan istri ku yang meminta untuk menunggu, aku tidak akan mau berdiam diri di parkiran seperti ini,'' gerutu Daniel.
Mereka berjalan bersama, Devita yang berjalan dengan tidak menggandeng lengan Daniel melainkan lengan Linda lah yang di gandeng nya membuat Daniel menekuk wajahnya kesal.
Daniel dan Zen berjalan berdampingan dengan membuntut di belakang dua wanita yang berjalan lebih dulu itu, sepanjang jalan Zen hanya diam tidak sama sekali bersuara dengan kepala yang terus tertunduk dan tentu membuat Daniel merasa curiga.
'' Aa apa dengan mu?'' tanya Daniel.
'' Bukan urusan mu,'' jawab Zen yang tanpa sadar menjawab ucapan Daniel dengan sangat tidak sopan.
'' Apa kau bilang!'' bentak Daniel.
'' Hah, tidak maksud saya bukan itu Tuan. Maafkan saya.'' jawab Zen yang kelabakan dengan apa yang telah ia katakan.
Daniel terkekeh dengan reaksi Zen.
'' Aku tahu kau sedang malamun, memangnya kau melamunkan apa?'' ucap Daniel dengan nada biasa lagi.
'' Tidak Tuan,'' jawab Zen, Daniel memutar matanya malas, ia tahu kalau Zen, asisten nya sekaligus sahabat nya sedari kecil itu tidaklah mudah membagi perasaan nya pada siapapun.
'' Ya sudah jika kau tidak ingin berbagai cerita pada ku, kelak aku juga akan tahu kan.'' Ucap Daniel lagi.
'' Kau tidak pernah berubah, Daniel.'' Ucap Zen dengan suara pelan, Daniel hanya tersenyum menanggapi ucapan Zen.
Dari berbelanja keperluan sehari-hari sampai membeli beberapa buku yang bahkan tidaklah terlalu penting, Devita terus saja berjalan dengan Linda dan Daniel juga Zen yang terus membuntut di belakang dengan beberapa paperbag di tangan mereka berdua.
'' Belum menikah saja aku sudah merasakan nya,'' jawab Zen yang juga sama mengeluhnya.
'' Sayang, sudah yuk kita pulang,'' ajak Daniel namun Devita masih saja ingin berjalan-jalan.
'' Aku lapar lagi,'' ucap Devita dengan manja.
'' Kau yang benar saja, kita baru makan dua jam yang lalu, apa benar kau sudah lapar lagi,'' ucap Daniel yang terkejut mendengar ucapan Devita.
'' Entahlah belakang ini aku selalu merasa lapar,'' jawab Devita, Zen langsung menoleh ke arah Daniel.
'' Jangan-jangan,'' lirih Zen.
'' Jangan-jangan apa?'' tanya Daniel.
'' Aah, tidak,'' Zen termenung memikirkan hal yang belum tentu pasti itu.
'' Ya sudah kita ke restoran sana saja,'' ajak Daniel namun lagi-lagi Devita bersikap aneh menurut Daniel.
'' Tidak, aku hanya ingin makan makanan khas Indonesia, apa ada restoran yang menyediakan makanan Indonesia,'' ucap Devita menunggu jawaban ke tiga orang yang ada di hadapannya.
'' Aku tidak tahu,'' jawab Linda.
'' Aku juga tidak tahu,'' Zen juga menjawab nya.
'' Ada, tapi tidak di mall ini,'' jawab Daniel dengan lesu.
'' Ya sudah kita kesana ya,'' pinta Devita.
Ketiganya menghela nafasnya dengan kasar karena sudah lelah menuruti permintaan Devita. '' Tapi ini sudah sore honey,'' ucap Daniel.
'' Tapi aku sangat ingin,'' Akhirnya Daniel pasrah dan menganggukan kepalanya pasrah.'' Ya sudah, ayuk kita pergi ke sana,'' ajak Daniel pada semuanya.
Devita bersorak riang karena permintaan nya di turuti suamainya.
Meninggalkan Mereka yang sedang menuju restoran yang di inginkan Devita, di toko bunga DePu, Puspa dan Kemal sedang kerepotan dengan para Custamer.
'' Kemal kalau kau lelah, kau istirahat saja,'' ucap Puspa.
'' Tidak sayang, tidak masalah, kau saja yang istirahat sana,'' jawab Kemal.
__ADS_1
'' Kalian ini romantis sekali ya,'' cetus sala satu Custamer.
'' Ya seperti itulah nyonya, kami memang pasangan romantis yang pernah ada,'' jawab Kemal yang membuat Puspa tersipu malu.
Lonceng yang tergantung di atas pintu lagilagi berbunyi menandakan pelanggan berdatangan lagi.
Kemal dan Puspa menoleh ke arah pintu dengan berbarengan. '' Kemal kau urus pelanggan kita yang baru datang itu ya.'' suruh Puspa dan langsung di angguki Kemal.
Kemal melangkag mendekat ke arah pelanggan yang baru datang itu, posisinya yang membelakangi nya karena sedang melihat-lihat jenis bunga, Kemal menyapanya dengan ramah, '' selamat datang di toko kami, anda sedang mencari jenis bunga apa?'' tanya Kemal.
Pelanggan itu berbalik dan kedua mata mereka saling bertemu, Kemal yang merasa terkejut juga dengan orang itu.
'' Kemal.'' lirih orang itu yang ternyata adalah seorang wanita.
'' Jessica.''
'' Ya, apa kabar kamu,'' ucap wanita yang bernama Jessica itu.
'' A-aku baik, bagaimana dengan mu,'' jawab Kemal dengan gugup.
'' Aku baik, ini toko mu,''
'' Bukan, ini toko..'' saat Kemal ingin menjawab Puspa datang dan langsung menyela pembicaraan nya.
'' Selamat datang, ada yang perlu saya bantu,'' ucap Puspa dengan ramah.
'' Ya saya sedang mencari bunga anggrek juga bunga lily apa bisa kau siapakan,'' jawab wanita yang bernama Jessica itu.
'' Bisa nona, silahkan duduk biar kami siapakan.'' Jawab Puspa dengan sangat ramah. '' Kemal bantu aku ya,'' pinta Puspa dan hanya di angguki Kemal.
'' Tidak, bisa kau saja yang menyiapkan nya, biar Kemal duduk dengan ku untuk sekedar berbincang,'' ucapan Jessica membuat Puspa terkejut.
'' Kalian saling mengenal?'' tanya Puspa.
'' Ya kami satu kampus dulu, ayo Kem,'' jawab Jessica dan langsung menarik tangan Kemal.
Puspa melihat tangan Kemal yang di tarik wanita yang mengaku teman kampusnya dulu, dengan berusaha berpikir positif Puspa berlalu untuk menyiapkan pesanan Custamer nya.
Namun bagaimanapun dia berusaha untuk berpikir yang tidak-tidak tetap saja pikirannya selalu terganggu dengan apa yang telah ia lihat.
'' Sudahlah, mereka hanya berteman,'' gumam Puspa.
Di kursi Custamer, Kemal yang masih merasa khawatir dengan Puspa kekasihnya ia takut jika Puspa salah paham dengan nya, Kemal terus menoleh mencari Puspa.
'' Kemal kau belum menjawab pertanyaan ku,'' ucap Jessica.
'' Apa?''
'' Ini toko siapa kalau bukan punya kamu,''
'' Ini toko bunga milik kekasih ku dengan sahabat nya,'' jawaban Kemal membuat mimik Jessica berubah.
'' Kekasih mu?'' tanya Jessica itu memastikan, Kemal mengangguk sebagai jawaban nya.
'' Apa yang tadi itu kekasih mu?'' Kemal mengangguk lagi untuk menjawab nya.
Tanpa mereka tahu Puspa mendengar perbincangan mereka di balik rak yang terdapat bunga-bunga yang di letakan di pot dengan hati yang bahagia.
Puspa merasa senang kalau Kemal berkata jujur dengan orang yang bertanya tentang dirinya. '' Aku tidak perlu khawatir,'' gumam Puspa.
Semua sudah ia siapakan dengan di bantu Citra, Puspa menghampiri kembali wanitabyang bernama Jessica dengan membawa dua jenis bunga di tangannya.
'' Silahkan, ini pesanan anda,'' ucap Puspa dengan lembut pada Jessica.
'' Aah iya, terima kasih,'' ucap Jessica, dia mengeluarkan dompet dari tasnya dan memberikan kartu pada Puspa namun Puspa menolaknya.
'' Maaf Nona, anda bisa membayarnya langsung di kasir kami,'' ucap Puspa dengan menunjuk bagian kasir yang di jaga Citra.
'' Oh, baiklah,'' ketus Jessica.
'' Kemal, aku pulang ya,'' ucap Jessica berpamitan pada Kemal dan Kemal hanya mengangguk sebagai jawabannya.
Jessica berlalu menuju Kasir untuk melakukan pembayaran, Puspa dan Kemal kembali duduk di kursi hanya untuk sekedar beristirahat.
'' Citra berikan tanda istirahat, aku lelah,'' teriak Puspa dan di iyakan Citra.
'' Kau lelah sekali ya?'' tanya Kemal dengan lembut.
'' He'em, tadi itu siapa?'' tanya Puspa.
Kemal terdiam, terlihat sekali Kemal bingung untuk menjawab apa.
Tbc..
__ADS_1