Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Egois


__ADS_3

Zen menghentikan mobilnya di parkiran rumah sakit, dia tidak langsung turun dari mobil tapi dia hanya diam dengan kepala di senderkan di senderan kursi.


Perlahan ia memijat pangkal hidungnya, entah kenapa perasaan nya saat ini sangatlah kacau saat melihat Linda dan pria yang entah tau siapa tadi. Ya Zen tidak mengetahui kalau pria yang bersama Linda itu adalah Reksa karena posisi Reksa tadi membelakangi Zen yang berada jauh di sebrang jalan.


'' Kenapa juga aku memikirkan dia,'' ucap Zen.


Zen membuka seatbelt nya dan turun tapi saat baru saja menginjakkan kakinya keluar mobil matanya melihat Linda bersama pria tadi turun dari mobil dan masuk ke Rumah Sakit dengan bersama.


Zen diam sejenak, mengatur nafasnya yang tiba-tiba sesak itu, dan membenarkan pakaiannya lalu segera berlalu untuk masuk ke Rumah Sakit.


'' Lin, tapi aku tidak bisa lama ya,'' ucap Reksa.


'' Iya, tidak apa, yang terpenting kamu sudah bisa menengok keadaan saudara mu sendiri kan,'' jawab Linda.


Mereka sudah ingin sampai ke kamar inap Kemal, tapi tiba-tiba Linda teringat kalau ponsel nya tertinggal di mobil.


'' Rek, kamu duluan saja ya, itu kamar Kemal, ponsel ku tertinggal di mobil,'' ucap Linda dan di 'iyakan Reksa. Linda pun berlalu untuk kembali ke mobil.


Reksa melanjutkan langkahnya menuju kamar Kemal tapi saat dia ingin mengetuk pintunya seseorang dari dalam kamar sudah lebih dulu membukanya dan tanpa melihat-lihat lagi seorang wanita yang membuka pintu itu berlari dan menabrak tubuh tinggi Reksa.


'' Astaga,'' ucap Reksa terkejut.


Seorang wanita yang dia sendiri tidak tau siapa, saat ini sedang ada di pelukannya.


'' Permisi,'' ucap Reksa tapi tidak ada jawaban dari wanita itu tapi melainkan suara isakan tangis lah yang terdengar di telinga Reksa.


'' Maaf,'' lirih wanita itu yang ternyata dia adalah Puspa.


'' Kenapa kau menagis, Nona?'' tanya Reksa.


'' Maaf, saya permisi,'' ucap Puspa yang melangkahkan kakinya menjauh dari Reksa yang menatapnya heran.


'' Gadis itu siapa?'' gumam Reksa.


'' Cantik,'' celetuknya tanpa sadar.


'' Astaga, apa-apaan aku ini,'' ucapnya lagi yang baru menyadari ucapan asalnya.


Reksa pun mengetuk pintu dan masuk setelah mendapatkan sahutan dari dalam.


'' Permisi,'' salam Reksa dengan sopan.


'' Reksa, kau kah itu?'' tanya Dinar yang pangling melihat Reksa yang sekarang, ya yang dia tahu Reksa hanyalah Pemuda yang tidak berpenampilan rapih seperti ini.


'' Ka Dinar, apa kabar?'' tanya Reksa dengan ramah.


'' Astaga, Reksa, kau benar Reksa. Lama tidak jumpa Rek, kamu apa kabar?'' ucap Dinar dengan senyuman walau dengan mata sembabnya.


'' Aku baik ka,'' jawab Reksa.

__ADS_1


'' Reksa? pemuda ingusan itu,'' celetuk Daniel dengan sembarangan.


'' Daniel,'' tegur Devita dengan wajah kesalnya karena tidak suka dengan ke to the point'an nya Daniel.


'' Jangan di ambil hati ucapan kakak mu itu ya, dia memang seperti itu,'' bisik Dinar dan di balas dengan senyuman dari Reksa.


'' Bagaimana kak, keadaan Kak Kemal?'' tanya Reksa, expresi semua orang berubah sendu saat mendengar pertanyaan dari Reksa.


'' Ya seperti itu Rek, tidak ada kemajuan malah belakangan ini Kemal sering sekali kritis.'' Jawab Dinar dengan sedih.


'' Aku turut sedih ka mendengar nya,'' lirih Reksa.


'' Hei pemuda, bagaimana keadaan Restoran? kau menjaganya dengan baik kan?'' tanya Daniel dengan wajah datarnya.


'' Keadaan Resto aman terkendali Kak, tapi bagaimana pun Restoran tetap membutuhkan kehadiran kak Kemal,'' jawab Reksa.


'' Haahh, bantu doanya saja,'' ucap Daniel dengan menghela napasnya panjang.


'' Selalu Kak,''


Di parkiran, Linda sudah mengambil ponsel nya dan berniat untuk kembali ke dalam Rumah Sakit tapi tiba-tiba tangannya di tarik seseorang dan menghentakannya sampai terhantuk ke badan mobil.


'' Tuan Zen?'' ucap Linda dengan terkejut nya.


'' Pria tadi siapa?'' tanya Zen dengan tatapan tajamnya.


'' Saya tidak akan mengulangi pertanyaan yang sama,'' jawab Zen masih dengan tatapan mautnya.


Linda terdiam, yang di maksud pria tadi itu siapa, kalau yang di maksud adalah Reksa bukannya Zen sudah tahu siapa itu Reksa tapi kenapa dia malah bertanya lagi, pikir Linda.


'' Jawab!!'' bentak Zen.


'' Yang kau maksud siapa?'' tanya Linda dengan menaikan nada bicaranya.


Zen berdecak kesal karena tidak mendapatkan jawaban sesuai pertayaan nya.


'' Apa yang kau maksud adalah Reksa? bukannya kau sudah mengenalnya,'' ucap Linda lagi dengan nada kbali normal.


'' Reksa?''


'' Iya, sepupu ku,''


Zen mengalihkan pandangan nya ke arah lain karena rasa malu yang sudah salah paham tanpa mengetahui kebenarannya.


'' Ya sudah sana, pergi,'' ucap Zen dengan pelan.


'' Kau sangat aneh, tadi tiba-tiba marah padaku karena Reksa, dan sekarang aku di usir begitu saja,'' ucap Linda.


'' Menyebalkan,'' ketus Linda yang sudah melangkahkan kakinya meninggalkan Zen sendirian.

__ADS_1


'' Ingat ini, apapun yang sudah ku sentuh jangan harap bisa di sentuh orang lain,'' ucapan Zen membuat langkah Linda terhenti dan berbalik menatap tajam Zen.


'' Memang nya kau siapa bisa mengatur ku, kau bukan siapa-siapa ku, jadi sesuka hati ku, ok.'' Ucap Linda dengan tatapan menantang dan berlalu pergi.


Nafas Zen memburu mendengar ucapan Linda dengan nyalang itu, langkah panjangnya menyusul Linda dan saat sudah berhasil menyusul Linda lagi-lagi Zen menarik tangan Linda dengan sedikit kasar.


'' Kau bertanya aku ini siapa, hem?'' tanya Zen dengan tatapan elangnya, Linda berusaha melepaskan cengkraman tangan Zen namun tidak berhasil sangking kencangnya cengkraman itu.


'' Lepas,'' ucap Linda.


'' Kau harus mencatat ini, Kau adalah milik ku, dan jangan harap bisa pergi ataupun berpaling dariku,'' ucapan Zen membuat Linda tercengang.


'' Mi-milik mu?'' tanya Linda dengan gugup.


'' Ck, kau tidak usah terlalu senang dulu, bukan aku tertarik padamu tapi apa yang sudah ku sentuh akan ku tandai bahwa itulah yang sudah menjadi milikku, mengerti.'' jawab Zen.


'' Kau egois,'' ucap Linda dengan ketus, Linda menghentakan tangannya dengan kencang dan terlepaslah cengkraman Zen, dan Linda pun berlalu pergi tanpa permisi.


Zen menghela nafasnya kembali, mengacak rambut dan mengusap wajahnya dengan kasar. '' Sial!! Apa yang ku katakan tadi,'' makinya ke dirinya sendiri.


'' Kenapa aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri,'' gerutunya.


Linda melangkah dengan mulut yang terus menggerutu karena rasa kesal pada Zen.


'' Memangnya dia siapa bisa seenaknya mengatur ku,'' gumam Linda dengan kesal.


Bruukk..


'' Linda, kau apa-apaan,'' tegur Reksa yang sedari tadi memanggilnya namun tidak ia jawab malah menabrak tubuh Reksa.


'' Astaga sejak kapan kau berdiri di sini,'' ucap Linda.


'' Sejak nenek moyang kita berhenti memakan sirih,'' gurau Reksa.


'' Haisshhh, jangan bercanda aku sedang kesal, oh iya kau mau kemana?'' tanya Linda.


'' Aku ingin kembali ke Restoran, tadi orang di Resto menghubungi ku karena ada yang ingin menyewa tempat pesta,'' jawab Reksa.


'' Kau sudah menemui Kemal dan yang lainnya,''


'' Sudah, aku pamit dulu ya,'' ucap Reksa.


'' Iya, oh iya ini kunci mobil mu,'' jawab Linda yang menyerahkan kunci mobil milik Reksa.


Merekapun berpisah dengan Linda yang menuju kamar Kemal dan Reksa yang menuju lobby tapi saat Reksa ingin menghampiri mobilnya langkah nya terhenti karena matanya kembali melihat wanita yang tadi bertabrakan di depan kamar Kemal.


'' Dia, dia sedang apa di sana, langit sudah menggelap sepertinya akan turun hujan dan dia malah duduk di sana,'' gumam Reksa, akhirnya Reksa memutuskan untuk menghampiri wanita yang dia tidak tahu namanya siapa itu.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2