Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Sebagian Pekerjaan


__ADS_3

Entah kenapa hati nurani Jonathan tergerak mendengar gosip para manusia penghuni kampus itu. Amaira? apa dia gadis itu? Jonatan terus memikirkan itu.


Saat ini Jonathan sudah berada di dalam mobilnya, hatinya meminta ingin melihat keadaan gadis yang di lihatnya tadi saat di Rumah Sakit, sudah mulai siap-siap memutar kunci tapi otak dan hatinya tidak lah bekerja sama dengan baik.


''Buat apa aku peduli dengan dia, kenal saja tidak,'' gumam Jonathan, dengan memijat pangkal hidungnya Jonathan menyenderkan tubuhnya untuk sekedar merilekskan otaknya.


''Sejak kapan aku mempedulikan yang bukan urusan ku,'' pikirnya.


Jonathan kembalu keluar dari dalam mobil dan menuju gedung fakultas nya lagi, dengan susah payah mengusir hati nuraninya yang meminta untuk melihat keadaan gadis itu.


Di Mansion Carroll.


Dinaf sedang ikut memasak bersama juru masak di sana, rasa traumanya yang membuat Dinar terus berhati-hati, semua makanan anggota keluarga dia harus tau cara memasaknya.


''Linda, nanti tolong antarkan makanan untuk Daniel ya ke rumah sakit,'' surih Dinar, Linda sedikit berpikir dan kemudian hanya mengangguk untuk jawaban nya.


''Kasihan adik nakal ku itu, pola makan dan tidurnya tidak terkontrol dengan baik, semoga Tuhan memberikan kesembuhan untuk Devita secepatnya,'' Dinar yang masih sibuk memotong buah sembil meracau sendiri.


''Semoga ya, Nona muda.'' Timpal Linda yang sudah meng'Aamiinkannya dalam hati.


Semua makanan sudah siap, dan Linda yang di tugaskan untuk mengantarkan nya ke Rumah Sakit tempat Daniel menjaga Devita disana.


Seperti biasa dengan menggunakan mobil y sudah di khusus kan untuk nya, Linda melajukannya dengan sangat hati-hati, mematuhi aturan lalu lintas itulah Linda.


Tidak memakan waktu lama, mobil yang di kendarainya pun sudah berhenti di parkiran Rumah Sakit tempat Devita di rawat, jalanan haribini cukup senggang maka dati itu perjalanan pun terasa singk karena tidak ada hambatan sama sekali.

__ADS_1


Linda berjalan dengan anggunnya, ciri khas Linda yang berjalan dengan mata yang terfokus ke depan, tubuh yang tegak dan rambut yang di cepol tinggi membuat penampilan Linda sungguh menawan.


Wajah dewasa Linda membuat siapapun mengira kalau Linda sudah bersetatus istri orang tapi tidak menutup kemungkinan aura Linda yang membuat para pria dewasa jatuh cinta dengan sendirinya.


Saat tangannya ingin menekan tombol lift ada tangan yang berbarengan menekan juga, dengan cepat Linda menoleh ke samping.


''Nando,'' ucap Linda setelah melihat tangan siapa yang tidak sengaja bersentuhan dengan tangannya.


''Linda, kita ketemu lagi,'' dengan senyum ramahnya pria yang bernama Nando itu menyapanya.


''Kau ingin berkunjung lagi?'' tanya Nando yang melihat ada sebuah paperbag di tangan Linda.


''Saya di perintahkan untuk mengantarkan makanan ini untuk, Tuan muda.'' jawab Linda dengan bahasa yang baku.


Nando pria yang cukup humoris dan murah senyum dan yang pasti berwajah manly tapi tidak mambuat seorang Linda terpesona, Linda hanya melihat pria yang di kenalnya itu seperti pria pria lain pada umumnya.


Dengan jas nya yang berwarna putih sudah di pastikan dia seorang Dokter di rumah sakit ini, Dr. Nando. itulah nama yang tertera di dada kirirnya.


Linda dan Nando sudah berada di satu lift menuju laintai dimana ruangan khusus pasien VVIP berada.


''Aku tidak menyangka, kita bisa bertemu lagi disini.'' Ucap Nando yang memulai pembicaraan.


Linda hanya diam tanpa ingin menanggapinya.


''Kau sudah menikah?'' pertanyaan yang cukup privasi itu terlontar begitu saja dari mulut Nando yang bersetatuskan sebagai Dokter di Rumah Sakit sebesar ini.

__ADS_1


''Menurut mu,'' jawab Linda dengan mata yang masih terpokus melihat angka yang terus berubah di atas pintu lift itu.


''Aku tidak tau, maka dari itu aku bertanya,'' Linda tidak menjawabnya lagi, karena berbarengan pintu lift itu terbuka dan Linda segera keluar dati lift dengan Nando yang terus membuntut dari belakang.


''Apa pertanyaan ku mengganggu mu,'' ucap Nando lagi.


''Maaf, Dokter Nando, saya kesini bukan untuk berbagai cerita pada mu, tapi saya kesini untuk melaksanakan sebagian dari pekerjaan ku,'' ucap Linda dengan tegas yang menghentikan langkahnya dan menatap langsung wajah Nando yang sedati tadi membuntuti nya.


''Oh oke, maafkan aku,'' lirih Nando yang merasa bersalah dengan pertanyaan nya tadi.


Linda dan Nando berdiri tidak jauh dari lift tadi, pintu lift terbuka, seorang pria bertubuh tinggi dengan tatapan tajamnya melihat dua manusia yang terlihat sedang berbincang di tengah jalan membuat pria itu memutar matanya malas.


''Bisa tidak kalian berbincang nya tidak di tengah jalan seperti ini, sangat mengganggu.'' Ketus pria itu yang ternyata dia adalah Zen yang membawa beberapa berkas di tangannya.


''Maafkan kami Tuan,'' ucap Linda menundukan kepalanya.


Zen hanya melirik nya sebentar dan berlalu begitu saja menuju kamar Devita.


''Berpacaran salah tempat,'' gerutu Zen dengan wajah yang di tekuknya.


''Dia pria yang waktu itu menarik mu kan?'' tanya Nando.


''Saya permisi,'' Linda pun ikut berlalu meninggalkan Nando yang masih terpaku di tempat dengan mata yang terus melihat Linda yang semakin melangkah menjauhinya.


''Kau sangat berbeda, Linda.'' Gumama Nando yang melanjutkan langkahnya menuju ruangan kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2