
Acara telah selesai, para tamu pun sudah meninggalkan tempat pesta, hanya keluarga inti yang masih berada di sana.
" Ayah pulang saja duluan, nanti saya menyusul." Ucap Daniel pada sang Ayah.
" Ya sudah, Ayah juga sudah sangat lelah," ucapnya menyetujui.
" Kami pulang ya, Niel." Dinar pun membawa sang Ayah pulang setelah berpamitan pada Mahendra serta Devita.
Saat Zen ingin beranjak dari duduknya Daniel langsung menoleh dengan tatapan tajamnya.
" Kau tetap tinggal." Hanya itu yang diucapkan Daniel, tapi yakinlah ucapan seperti itu sebuah ancaman bagi yang di tunjuk.
Zen menghela nafasnya dengan kasar dan memutar matanya geram, ia sangat tahu apa yang akan di lakukan Daniel padanya nanti.
" Nak, Ayah lelah, Ayah istirahat ke kamar ya," pamit Mahendra dan di angguki Devita, Mahendra pun berlalu menuju kamarnya, yang tersisah hanyabada Daniel, Devita, Puspa Kemal dan Zen, kesunyian kembali menyergap di ruangan sebesar itu.
Sedari tadi Daniel sangat menahan emosinya, hampir saja pertunangan nya batal karena cincin, dan itu semua Zen yang di salahkan oleh Daniel.
" Daniel, sudahlah. Yang terpenting kan pertunangan bkita berjalan dengan lancar." Ucap Devita yang berusaha menenangkan Daniel.
Daniel menghela nafasnya dengan kasar, jika tidak ada Devita mungkin saja Zen sudah di hajar Daniel sedari tadi.
Malam itu berlalu begitu saja, malam yang membuat Devita sangat merasa bahagia tapi tidak dengan dua orang pria yang terpatahkan hatinya karena berlangsung nya acara itu.
Pagi ini Devita dan Puspa kembali menjalankan rutinitas seperti biasa, pergi ke kampus dan setelah itu akan pergi ke toko bunga usaha mereka.
" Pu, tadi malam aku tidak melihat Jonathan, apa dia tidak datang." Ujar Devita yang sedang meminum jus alpukat favorit nya.
" Iya akupun menunggu dia, tapi ya memang seperti nya dia tidak hadir," jawab Puspa.
Saat ini mereka sedang berada di cafetaria kampusnya.
Pagi ini pun mereka tidak melihat keberadaan Jonathan, dia bagaikan hilang di telan bumi, ponselnya pun tidak aktif sedari malam, Puspa dan Devita terus menghubungi nya tapi memang nomornya tidak kunjung aktif.
" Hari ini dia juga tidak ngampus," ucap Puspa lagi.
Orang yang di cari sebenarnya ada di sebuah tempat yang diyakini bisa mengalihkan pikiran serta perasaan nya, di sebuah Gedung bercat putih hijau lah tempat Jonathan berada saat ini.
Dia benar-benar ingin melupakan perasaan nya pada Devita tapi sulit untuk menjalani nya.
Bersama seorang gadis yang baru juga di kenalnya, ya di Rumah Sakit lah saat ini Jonathan berada bersama Amaira yang masih berada di sana.
" Nathan, hari ini aku di perbolehkan untuk pulang, kau bisa membantu ku mengantarkan aku ke Bandara," ucap Amaira dengan suara khasnya yang serak.
" Kau yakin ingin tinggal disana?" tanya Jonathan, Amaira hanya diam tidak menjawab pertanyaan Jonathan, hatinya sungguh menolak meninggalkan kota tercintanya.
" Aku bisa membantu mu jika kau ingin tetap di sini," ucap Jonathan, kali ini ucapan Jonathan membuat Amaira langsung menatapnya.
" Membantu? membantu apa?" tanya Amaira.
" Aku mempunyai apartemen pemberian orang tua ku, kaubbisa tinggal di sana, dan masalah kampus aku sedang berusaha mengusutnya." Jelas Jonathan, Amaira kembali diam, tapi diamnya Amaira adalah diam berpikir.
" Apa aku tidak akan merepotkan mu?" tanya nya dengan pelan, Jonathan menggeleng kan kepalanya, Jonathan benar-benar ingin membantu gadis malang itu, tanpa ingin tahu si gadis itu menyalah artikan kebaikannya.
' Kenapa Jonathan sangat peduli dengan ku, sedangkan orang tua ku tidak.' Batin seorang Amaira.
" Bagaimana? kau mau kan?" tanya Jonathan lagi dan Amaira tersenyum dan mengangguk.
" Ya sudah kita langsung ke apartemen ya," ajak Jonathan.
Jonathan telah mengurus kepulangan Amaira dan membawanya ke mobilnya untuk ke apartemen nya.
Sepanjang perjalanan Jonathan hanya diam tanpa mengucapkan apapun, Amaira juga ikut diam karena Amaira mengira Jonathan tengah fokus dengan kemudinya.
Mobil berhenti di sebuah swalayan, Jonathan turun tapi tidak dengan Amaira.
" Ayo turun," ajak Jonathan yang membukakan pintu untuk Amaira.
" Kita buat apa kesini, aku takut bertemu dengan orang Ayah ku,"
" Kita hanya berbelanja keperluan mu di apartemen,"
" Tapi.." ucapan Amaira terpotong karena Jonathan memakaikan topi di kepalanya.
" Sudah ayo," paksa Jonathan yang menarik tangan Amaira dengan lembut.
__ADS_1
Mereka pun berbelanja semua keperluan Amaira untuk selama berada di apartemen milik Jonathan, entah kenapa Jonathan sangat ingin membantu Amaira padahal dia juga baru mengenalnya.
Setelah membeli keperluan dapur, kamar mandi Jonathan membawa Amaira ke sebuah toko pakaian wanita.
" Nathan sudah, aku masih mempunyai pakaian yang di bawakan Ayah kemarin," tolak Amaira karena merasa tidak enak hati menerima kebaikan Jonathan, tapi Jonathan tetap tidak peduli dengan penolakan Amaira, dia tetap mengajaknya ke toko pakaian itu.
Menunjuk apapun yang Jonathan anggap itu bagus dan karyawan disana yang terus melayani dengan baik dari pakaian dalam sampai pakaian tidur semua di beli Jonathan untuk Amaira.
" Sudah cukup Nathan," ujar Amaira yang sudah merasa cukup dengan apa yang di beli Jonathan.
Mereka kembali ke mobil setelah berbelanja semuanya dan menuju ke sebuah gedung yang menjulang tinggi disanalah unit kamar apartemen Jonathan.
Turun dan membawa semua yang di belinya menuju lantai di mana kamar Jonathan berada, menekan pasword pintu dan masuk ke adalamnya.
" Istirahat lah, aku akan keluar sebentar." Pamit Jonathan yang sudsh ingin keluar lagi tapi Amaira menahannya.
" Nat, apa kau yakin aku tinggal di sini," ucap Amaira dengan mata yang terus melirik kesetiap sudut ruangan itu.
" Ya memangnya kenapa?"
" Ini terlalu besar untuk aku sendirian,"
" Setiap hari aku akan menyempatkan kesini, tapi kalau untuk tidur disini aku tidak bisa, karena kita bukan siapa-siapa dan tidak bagus juga jika pria dan wanita tinggal di satu atap," jawab Jonathan dengan wajah yang seperti biasa, datar. Ucapan Jonathan membuat pipi Amaira memerah malu, maksud ucapannya tidak ada menjurus kesana tapi Jonathan menanggapi nya berbeda.
" Bu-bukan itu maksud ku, apa ti-dak ada tempat yang lebih kecil, seperti rumah sewaan," Amaira berbicara dengan menundukkan kepalanya karena malu.
" Oh tidak ada, ini saja tidak apa-apa," jawab Jonathan yang berlagak cuek.
Jonathan berlalu keluar dari unit apartemen nya.
" Kenapa aku bisa berbicara seperti itu, memalukan," rutuk Jonathan dengan ucapannya tadi.
.
.
.
Di Kantor CR Corp.
Daniel duduk dengan menyilangkan kaki menatap pria di depannya dengan tajamnya.
" Maaf," hanya itu yang keluar dari mulut orang itu yang tak lain adalah Zen Batla.
" Aku minta penjelasan bukan meminta permintaan maaf, bodoh!!" ketus Daniel.
Zen kembali diam, tatapan Zen juga sangat tajam menatap Daniel, tidak ada rasa takut di hatinya kali ini.
" Kau tau, betapa susahnya melawan perasaan, perasaan yang sudah benar-benar terpatri untuk seseorang yang tidak akan pernah bisa dimiliki," ucapan Zen membuat alis Daniel menyatu dengan sempurna.
" Aku berusaha tadi malam untuk hadir di sana, walau aku sudah melakukan kesalahan dan hampir membuat kalian batal bertunangan, aku tahu itu semua, aku sangat sadar. Dan aku hanya bisa meminta Maaf pada mu dengan sangat sebagai seorang sahabat bukan sebagai bawahan." Ucap Zen dengan tegas dan berlalu begitu saja dari ruangan Daniel.
Daniel terpaku diam menatap punggung Zen yang menghilang di balik pintu, menarik nafasnya dan membuangnya dengan kasar.
" Keterlaluan," gumam Daniel dengan geram.
Suara ketukan pintu terdengar dan Daniel menyuruh masuk orang itu yang ternyata Linda dengan membawakan makan siang untuk Daniel dan Zen seperti biasa.
" Bilang ke ka Dinar, agar tidak lagi mengirimkan makanan ke sini, aku bisa mencati makan ku sendiri," ucap Daniel, Linda hanya mengangguk karena ia tahu suasana hati Daniel sedang tidak baik.
" Hei tunggu, bawa yang satu ke ruangannya," ucap Daniel menghentikan langkah Linda yang hampir saja meninggalkan ruangan dan menyuruh nya membawa bekal yang di peruntukan untuk Zen.
" Baiklah, saya permisi Tuan," Linda pun membawa paperbag yang berisi bekal untuk Zen, sebenarnya Linda sengaja meninggalkan paperbag itu di ruangan Daniel tapi karena Daniel menyuruh nya mau tidak mau dia harus mengantarkan nya sendiri.
" Aku harus berhadapan dengan manusia salju itu lagi," gerutu Linda.
Linda menuju ruangan Zen ia mengetuknya setelah sampai di depan pintu ruangan tapi tidak ada sahutan dari dalam.
" Maaf, apa tuan Zen ada di dalam," tanya Linda pada sgadis yang bernama Rere sekertaris Daniel dan Zen.
" Baru saja masuk, kenapa kau mau mengantarkan makanan lagi untuk Tuan Zen ya, aku peringatkan, hati-hati." Ucap Rere dengan wajah yang serius.
" Hati-hati kenapa?"
" Suasana hati Tuan Zen sedang sangat buruk hari ini," jawab Rere, Linda hanya ber'oh ria tanpa ada rautbtakut di wajahnya.
__ADS_1
Linda kembali melangkah menuju pintu ruangan Zen dan mengetuknya. Linda menempelkan telinganya untuk mengeceknya tapi saat telinganya sudah menempel didaun pintu ia mendengar suara gaduh dari dalam.
Dia pun memberanikan diri untuk membuka pintu yang tidak di kunci itu, saat dirinya berhasil masuk dan menutup kembali pintu itu, ia berbalik dan tiba-tiba ada sebuah benda yang melayang dan mengenai kepalanya dengan keras.
*Brruukkk.
'Aawwww*.' teriak Linda dengan tangan yang memegangi kepalanya.
Teriakan linda membuat Zen yang sedang membelakangi nya langsung berbalik melihat orang yang berteriak itu, matanya membesar setelah melihat orang yang masuk.l ke ruangannya.
" Darah." lirihn Linda, ia melihat tangan yang berlumuran darah setelah memegang kepala yang terkena lemparan barang itu.
Bruuuk
Linda terjatuh tidak sadarkan diri.
" Linda!!" teriak Zen yang langsung berlari menghampiri Linda yang sudah tergeletak pingsan.
" Sial, kenapa wanita ini masuk tanpa seizin ku," omel Zen yang sedang memangku kepala Linda yang masih memejamkan matanya.
" Astaga dia berdarah," Zen terlihat panik melihat darah yang mengalir dari ujung pelipis Linda
Masih dengan rasa paniknya, Zen bingung harus melakukan apa, dan tanpa memikir panjang lagi, Zen menggendong Linda dan membawa nya ke ruangan khusus tempat dia mengistirahatkan tubuh lelahnya di sebuah kamar di balik lemari besar ruangannya.
" Linda bangunlah, jangan membuat ku merasa bersalah," ucap Zen dengan panik.
Ya saat tadi Linda masuk ternyata Zen tengah mengamuk meluapkan emosinya dengan melempar barang-barang yang ada di dekatnya, saat dia melempar sebuah telpon kantor ke sembarangan arah berbarengan Linda masuk ke ruangannya dan tanpa sengaja mengenai kepala Linda sampai membuat Linda tidak sadarkan diri.
Dengan panik Zen mengambil kotak obat yang tersimpan di dalam sebuah laci dan mengobati Linda yang terbaring di ranjang besar miliknya. Mengelap luka dengan air hangat dan mengoleskan obat merah dengan asal.
Zen telah mengobati dan memberikan perban di area tempat terlukanya Linda tapi Linda belum juga tersadar dari pingsan nya, segala minyak dioleskan di hidung mancung Linda oleh Zen, entah kenapa Zen sangat khawatir saat itu.
" Linda bangunlah, maafkan aku, aku benar-benar tidak sengaja," ucap Zen yang masih dengan rasa khawatir nya.
Bisa saja ia menelpon dokter ke kantor tapi pasti ada pertanyaan jika itu ia lakukan.
" Aku harus bagaimana?" Zen mondar-mandir dengan perasaan yang kacau.
"Ssssttttt," suara ringisan membuat Zen menoleh dengan cepat.
" Linda kau sudah bangun, apa masih terasa sakit," tanya Zen tanpa sadar.
" Kau, ini dimana?" tanya Linda yang menoleh kekanan kekiri karena merasa asing di tempat ia sekarang berada.
" Ini di ruangan ku, aku tanya apa masih ada yang sakit," ucapnya lagi.
" Sedikit," jawab Linda yang memegangi kepalanya.
" Maaf aku benar-benar tidak tahu kalau kau masuk ke ruangan ku," ucap Zen dengan sesal.
" Ya aku juga yang salah, masuk tanpa seizin mu," jawab Linda.
" Memang nya kau mau apa datang kesini?" tanya Zen.
" Aku ingin mengantarkan makanan atas perintah nona muda,"
" Tapi makanan itu sudah berantakan," ucap Zen dengan mata yang menatap langsung mata Linda.
" Benarkah? Maafkan aku," tanpa sadar mereka berbicara tanpa menggunakan bahasa formal seperti biasanya.
" Tidak masalah, aku akan makan di kantin nanti," jawab Zen.
" Kalau begitu saya pamit undur diri," Linda beranjak dari tempat tidur tapi karena rasa pusing itu masih ada, ia tidak bisa menjaga keseimbangan dan hampir terjatuh tapi untung nya Zen dengan sigap menangkap tubuh Linda.
" Tetaplah disini sebentar sampai rasa pusing itu hilang," ucap Zen dan di angguki Linda.
Ponsel Zen berdering yang ternyata panggilan dari sekertaris klien yang mengatakan kalau mereka sudah berada di lobby.
" Maafkan saya, saya ada meeting di ruangan sebelah, tidak apa kan kalau saya tinggal," ucap Zen dengan menggunakan kembali kata formal.
" Tidak Tuan, pergilah. Kalau saya sudah merasa lebih baik, saya akan pergi," jawab Linda dan Zen pun pergi meninggalkan Linda di kamar khusus Zen.
Ada rasa khawatir meninggalkan Linda sendirian di ruangan dengan keadaan seperti itu, tapi bagaimana pun dia harus pergi dan sebenarnya dia juga saat ini sangat enggan bertemu dengan Daniel tapi lagi-lagi kata profesional harus dia jalankan.
Zen mengetuk pintu ruangan Daniel dan masuk untuk menyampaikan adanya meeting saat ini juga.
__ADS_1
Tbc...