
Zen tidak menyangka Linda akan berbuat berani dengan menamparnya seperti itu, ia memegang pipi yang di tampar Linda, tidak terasa sakit namun Zen merasa ini penghinaan bagi dirinya.
'' Kau berani,'' ucapan nya langsung di potong Linda.
'' Kenapa, kau marah? kau menganggap ini adalah penghinaan, iya? cih, bahkan kau tidak berpikir kalau apa yang kau ucapkan padaku itu lebih dari penghinaan,'' ucap Linda yang sudah tidak bisa menahan emosinya.
'' Ingat ini Tuan Zen Batla yang terhormat, kau boleh berbicara seenak apa yang kau mau, tapi tidak pada ku, campkan itu.'' Linda berlalu begitu saja dari hadapa Zen.
'' Kau sangat keterlaluan Tuan, kau salah berpikiran seperti itu pada Linda, Linda wanita baik-baik, dia adalah kakak sepupuku, dia kesini hanya ingin membantu ku memasakan sesuatu karena aku sedang tidak enak badan.'' Ucapan Reksa membuat Zen termangu tidak percaya.
'' Kalian sepupuan?'' tanya Zen memastikan.
'' Iya, kita sepupuan, orang tua kita sudah tidak ada karena kecelakaan pesawat sewaktu kita kecil. Kami memang dekat dari dulu, maka dari itu dia sering sekali kemari,'' ucap Reksa, tanpa mengucapkan apapun Reksa masuk ke kamarnya dan menutup pintunya meninggalkan Zen yang masih terdiam di tempatnya.
Rasa bersalah menggrogoti pikiran nya, ia pun berniat mengejar Linda untuk meminta maaf tapi sayang Linda sudah tidak ada di sana, sampai parkiran pun Zen mencari, Linda memang sudah meninggalkan area apartemen.
'' Sial!! pantas saja Linda bereaksi seperti itu,'' ucap Zen merutuki ucapannya yang berkata lancang pada Linda.
Di perjalanan Linda terus menagis mengingat perkataan Zen yang menghinanya mengucapkan ia wanita murahan.
'' Kenapa pria itu bisa seenaknya berbicara terhadap ku, apa salah ku padanya.'' Ucapnya dengan perasaan kecewa.
Ponselnya terus berdering namun Linda tetap mengabaikan nya karena ia sudah tahu yang menghubunginya adalah Zen.
'' Aku sangat membenci mu,'' gumam Linda dengan geram.
.
.
Hari demi hari telah berlalu, Puspa dan Kemal sudah tidak lagi berhubungan karena Puspa yang memblokir semua kontak Kemal, ia juga menjauh dan menghindar dari Kemal.
Begitu juga Linda ia selalu menolak jika Dinar maupun Daniel menyuruh nya untuk mengantarkan apapun untuk Zen, ia selalu beralasan apapun yang ia bisa.
Dan untuk pengantin baru Daniel dan Devita, hari-hari nya terlewati dengan bahagia, besok mereka akan berangkat ke Paris untuk berbulan madu.
Kenapa ke paris? karena memang itu permintaan Devita, negara Prancis yang selalu di impikannya sedari dulu, ia selalu bermimpi bisa berfoto ria di bawah menara Eiffel lambang negara Prancis.
Semua sudah di siapkan, dari visa paspor tiket dan lainnya. Daniel sudah tidak sabar memiliki Devita seutuhnya tapi lain dengan Devita yang tidak sabar ingin berfito di bawah menara Eiffel impiannya.
__ADS_1
'' Pokoknya, kau tidak boleh bosan memotret ku, kau harus mengambil gambar ku yang banyak sekali,'' celoteh Devita yang tidak ada hentinya.
Devita sudah tidak lagi canggung dengan adanya Daniel, ia bahkan tidak bisa tidur jika tidak memeluk Daniel, tapi ketahuilah, Devita belum juga tersentuh oleh Daniel karena tamu bulanannya masih singgah di dirinya.
'' Kau tidak sabar untuk berfoto, kalau aku tidak sabar memberi makan teman ku ini,'' gumam Daniel dengan pelan.
'' Apa? kau mengucapkan sesuatu?'' tanya Devita yang tidak sengaja mendengar gumaman Daniel dengan tidak jelas.
'' Aah tidak,'' kilahnya.
'' Ya sudah sebaiknya kita tidur ya, besok kita harus ke Mansion Ayah Mahendra dan Ayah Frans, kan.'' Ucap Daniel lagi
'' Buat apa?''
'' Ya buat meminta izin ke Ayah mu dan Ayah ku,'' jawabnya, Devita mengangguk setuju.
Mereka pun tidur di bawah selimut yang sama.
Malam itu terlewat begitu saja, tibalah matahari pagi yang menyejukan bumi, suara burung turut bernyanyi menyambut pagi yang indah ini.
Daniel sudah terbangun dari tidurnya, ia beranjak dari ranjang nya tanpa ingin menimbulkan pergerakan agar tidur istrinya tidak terganggu.
'' Tidur mu nyenyak sekali, sayangnya,'' gumam Daniel memandang wajah polos Devita.
Setelah selesai membersihkan diri, Daniel segera berpakaian namun pikiran jahilnya kembali terlintas.
Perlahan ia mendekat ke arah ranjang dan dengan sengajanya ia membuat pergerakan di kepala nya dan menimbulkan cipratan air sehingga mengenai wajah Devita.
'' Daniel, aku masih ngantuk,'' ucap Devita.
'' Apa kita batal berangkat ke Paris nya?'' tanya Daniel dengan candaannya.
Tanpa di duga reaksi Devita yang langsung bangun dati tidur nya dan berlari ke kamar mandi.
'' Vita, jangan berlari nanti kau jatuh,'' teriak Daniel yang khawatir akan istrinya.
'' Tenang saja, Daniel.' ucap Devita yang Balas teriak dari dalam kamar mandi.
'' Istri ku benar-benar ingin kesana,'' gumamnya.
__ADS_1
Devita dan Daniel sudah bersiap untuk pergi ke Mansion Mahendra, mereka sudah berada di dalam mobil, perlahan namun pasti, Daniel mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota untuk padat.
Beberapa saat kemudian mereka sudah sampai di Mansion Mahendra, Mahendra menyambutnya dengan suka cita.
Dari pertama keluar dari Mansion, Devita baru kali ini lagi menginjakkan kakinya ke Mansion.
'' Selamat datang putri ku,'' sambut Mahendra.
'' Ayah, apa kabar,'' Devita langsung memeluk Ayah nya.
'' Baik sayang, sangat baik,'' jawabnya.
'' Putrinya saja yang di sambut, menantunya tidak?'' timpal Daniel.
'' Kau mengganggu saja, aku sedang merindukan anak gadisku kau tahu.'' Ucap Mahendra dengan kesal.
Daniel memutar matanya malas, entah kenapa jika mereka bertemu selalu saja ada perdebatan, tapi itu tidaklah sungguhan, itulah ciri khas mereka mengutarakan keakraban di antara mereka berdua.
Mahendra mengajak Devita dan Daniel ke dalam, berbincang-bincang sebentar sampai pada akhirnya Daniel mengucapkan bahwa ia ingin mengajak Devita pergi ke luar negeri.
'' Tidak, kenapa jauh sekali, aku tidak ingin jauh dengan putri ku,'' larang Mahendra, tapi Daniel tidak habis akal menanggapinya.
Daniel menggeser duduknya agar lebih dekat dengan Mahendra.
'' Ayah mertua apa kau tidak ingin cucu dari putri mu,'' bisik Daniel.
'' Cucu, ya sangat ingin lah,'' jawabnya.
'' Maka dari itu, kau harus memberi izin pada kita agar bisa memberi mu cucu,'' bujuk Daniel.
'' Tapi kenapa harus sejauh itu,''
'' Karena hanya negara Paris yang di inginkan putri mu itu, aku bahkan belum boleh menyentuhnya,'' ucap Daniel tanpa sadar.
Mahendra tertawa karena ucapan Daniel,bia tidak menyangka kalau putrinya belum juga mwnjari istri sepenuhnya dari Daniel.
'' Jadi kau belum melepaskan masa lajang mu, iya?'' goda Mahendra.
'' Ya,'' jawabnya dengan ketus.
__ADS_1
'' Baiklah aku mengizinkan nya,'' ucap Mahendra dengan pasrah.
Karena ingin cepat-cepat memiliki cucu, Mahendra terpaksa mengizinkan Devita pergi jauh dari nya.