
Setelah sampai nya ia di hotel, Zen pun segera menuju restoran yang terletak di lantai satu sebelah Utara.
Mata yang terus mencari keberadaan seseorang namun tidak terjangkau oleh matanya, tapi Zen tidak ingin menyerah, satu ruangan restoran yang sangat luas itu ia kelilingi tanpa rasa malu entah kenapa yang ada di pikirannya hanyalah Linda.
Tapi saat Zen ingin balik ke pintu restoran matanya menangkap seseorang yang baru saja keluar dari pintu di mana ada toilet khusus pengunjung di sana, yang ternyata orang itu adalah Linda yang di carinya.
Zen menghela nafasnya panjang dan segara menghampiri Linda yang sedang mencuci tangannya di wastafel yang ada di depan lorong.
'' Sedang apa kau disini?'' tanya Zen yang berdiri di belakang Linda.
Tubuh Linda menegang karena sangat hapal dengan suara bariton milik Zen. Perlahan Linda berbalik dan menatap heran dengan pria yang ada di depan nya.
'' Kau yang sedang apa disini?'' tanya balik Linda.
'' Aku, sedang makan disini,'' jawab Zen dengan spontan.
'' Oh, ya sudah saya permisi,'' ucap Linda yang sudah ingin pergi dari hadapan nya.
Tapi Zen dengan refleks memegang tangan Linda dengan lembut dan membuat Linda menghentikan langkahnya. '' Ada apa?'' tanya Linda dengan sedikit melembut walau nada ketusnya tidak hilang.
'' Sebenarnya apa yang kau lakukan disini?'' tanya Zen sekali lagi.
'' Kenapa kau bertanya seperti itu, jelas aku sedang makan malam disini,'' jawab Linda dengan ragu.
'' Makan malam, apa pertemuan antar keluarga?'' pertanyaan Zen sungguh membuat Linda bingung.
'' Dari mana kau tau?''
'' Tidak perlu kau tanya dari mana aku tahu, yang jelas kau tidak perlu mengikuti kemauan seseorang dengan perasaan yang terpaksa,'' ucap Zen dengan bijak dan tidak menyadari bahwa dirinya pun sering sekali membuat Linda melakukan apa yang dia katakan dan memaksa nya.
Alis Linda terangkat sebelah dengan berbarengan bibir yang melengkung dengan tipis. '' Apa kau sedang mengomentari dirimu sendiri?'' ledek Linda.
'' Maksudnya,''
'' Ah sudahlah tidak perlu di bahas, tolong lepaskan tangan mu dari tangan ku,'' ucap Linda.
'' Tidak, tidak akan dan tidak akan pernah,'' jawaban Zen membuat Linda merasa sangat heran dengan sikap Zen tidak pernah ia bisa tebak maksudnya.
'' Apa kau tidak ingat apa yang sudah ku katakan?''
'' Apa?''
__ADS_1
'' Apa yang sudah ku sentuh tidak akan ku biarkan tersentuh oleh orang lain,''
Linda menatap langsung manik mata berwarna coklat milik Zen. '' Berarti apa yang sudah dikatakan dia waktu itu dia benar-benar bersungguh-sungguh.'' Gumam Linda dalam hati.
'' Tapi dari mana dia tahu kalau aku sedang ada pertemuan disini?'' lanjutnya.
'' Sebenarnya apa yang kau inginkan Zen?'' tanya Linda tanpa menggunakan kata 'tuan di depan nama Zen.
Sebenarnya ada rasa tak biasa di hati Zen namun dengan tenangnya Zen berusaha bersikap biasa walaupun seperti ada kupu-kupu di perutnya saat Linda memanggil nya langsung dengan namanya.
'' Aku rasa aku tidak perlu menjelaskan nya, sekarang tunjukan dimana meja mu?'' tanya Zen.
'' Mau apa kau tahu dimana meja ku,'' saat Linda ingin menjawabnya seorang pria berperawakan tinggi dan berwajah khas negaranya Perancis menghampiri Linda dan memanggilnya.
'' Linda, ternyata kau disini, dan siapa dia?'' tanya pria itu.
'' Leandre, dia, dia. Dia..'' saat Linda ingin memperkenalkan Zen dengan pria bernama Leandre itu dengan cepat Zen menyelanya.
'' Halo, saya Zen Batla. Saya kekasih Linda,'' ucap Zen. Mata Linda melebar dengan jawaban Zen yang lagi-lagi tidak ada kompromi dengan nya.
Linda menatap tajam ke arah Zen meminta penjelasan nya namun Zen dengan santainya malah merangkul pinggang ramping Linda dengan mesranya.
'' Kekasih? apa tidak salah,'' cetus Leandre.
'' Linda, apa itu benar?'' tanya Leandre langsung pada Linda yang bahkan sudah salah tingkah untuk menjawab nya.
'' Benar kan sayang,'' ucap Zen mengeratkan rangkulannya.
'' Be-benar,'' jawab Linda dengan gugup.
'' Ooh, kalau begitu selamat ya, tapi kenapa kau menerima perjodohan ini?'' tanya Leandre dengan sikap dewasanya bahkan tidak ada raut wajah marah maupun kecewa terhadap apa yang di dapati nya.
'' Apa, perjodohan?'' celetuk Zen yang bersikap berpura-pura belum mengetahui nya.
'' Maaf Tuan Zen, bukan saya bermaksud menyakiti perasaan anda, tapi memang ini kenyataan nya, kami berdua di jodohkan oleh orang tua kami, tapi kalau boleh jujur saya pun tidak menyetujui perjodohan ini.'' Jawab Leandre dengan ramah.
'' Astaga, lalu bagaimana?''
'' Begini saja Tuan, bagaimana kalau saya yang akan membatalkan perjodohan ini dengan alasan kalau saya tidak menyukai Linda, dengan begitu Linda tidak akan terkena masalah dan biar saya yang menanggung nya.'' Apa yang di katakan Leandre adalah apa yang di inginkan Zen dan tentu saja Zen langsung menyetujui karena itulah tujuannya.
'' Baiklah, terima kasih atas bantuan mu,'' ucap Zen yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Leandre dan dengan suka hati Leandre menyambut jabatan tangan Zen.
__ADS_1
Leandre berpamitan untuk kembali ke mejanya.
'' Dimana Linda, Dre?'' tanya seorang pria yang sudah tidak lagi muda yang ternyata orang tuab dari Leandre sendiri.
'' Emmm, Pah. Saya tidak mencari Linda, saya hanya pergi untuk berpikir dan saya sudah menerima jawaban dari apa yang saya pikirkan,'' ucap Leandre.
'' Memangnya apa yang kau pikirkan?'' tanya ayah dari Leandre.
'' Paman Arnes sebelum nya saya meminta maaf, saya tidak bisa menerima perjodohan ini karena saya merasa Linda bukan lah wanita yang saya inginkan,'' ucapan Leandre membuat Arnes paman Linda terkejut begitu juga ayah dari Leandre sendiri.
'' Apa kau bicara dengan yakin nak?'' tanya Arnes dengan raut wajah yang kecewa.
'' Saya yakin paman,''
'' Leandre, apa kau menyadari apa yang kamu katakan itu akan membuat kami kecewa dengan keputusan mu!!'' ucap Ayah Leandre dengan amarahnya.
'' Maaf Pah, tapi saya mengatakan ini, bukan tanpa alasan karena saya juga sudah memiliki pilihan hati saya.'' Ucap Leandre dengan yakin.
Di kejauhan Linda dan Zen terus saja memperhatikan Leandre yang sedang melakukan aksinya.
Tanpa mereka sadari tangan Zen masih merangkul pinggang ramping Linda.
'' Apa dia melakukan apa yang di katakan nya tadi?'' ucap Zen.
'' Seperti nya iya,'' jawab Linda.
Berdirinya Linda dan Zen yang menghalangi jalan seorang pramusaji membuat seorang pramusaji itu terpaksa menegurnya dengan sopan. '' Maaf Tuan dan Nona saya mengganggu, saya ingin membersihkan meja ini,'' ucap pramusaji itu yang menyadarkan Zen dan Linda.
'' Oh maaf,'' ucap Linda yang langsung menyingkir.
Tapi tangan Zen yang masih bertengker di pinggangnya membuat nya tertahan.
'' Tuan lepaskan tangan mu,'' ketus Linda yang membuat Zen seketika melepaskan tangannya dari pinggang Linda.
'' Jangan percaya diri dulu kamu, aku melakukan itu semata-mata hanya untuk membantu mu saja, dan apa yang aku katakan tadi kalau aku kekasih mu juga itu bagian dari aksi ku untuk menolong mu.'' Ucap Zen dengan wajah yang memerah.
Linda terkekeh geli mendapati Zen yang tengah salah tingkah itu.
TBC.
Mampir juga ke karya baru ku ya. Yang berjudul
__ADS_1
'' HANYA ISTRI PURA-PURA'' Mohon dukungan nya🙏🙏🙏