
Devita terbangun karena mendengar Daniel yang berbicara dengan seseorang di telpon, mengucek matanya dengan pelan dan melihat ke arah Daniel yang baru saja mematikan telpon.
'' Daniel,'' panggilnya, Daniel menoleh dan memberikan senyuman hangatnya pada Istrinya.
'' Selamat pagi istri ku,'' ucapnya dengan memberikan kecupan di dahi Devita.
'' Selamat pagi, sepagi ini kau menelpon siapa?'' tanya Devita dengan suara seraknya.
'' Zen, siang nanti ada pertemuan, aku memerintahkan dia untuk menggantikan aku,'' jelas Daniel, Devita mengangguk dan beranjak dari baringannya tapi dengan jahilnya Daniel menarik kembali tubuh ramping Devita sampai terjatuh di atas tubuhnya.
'' Daniel, lepas,'' Devita terus berontak meminta dilepaskan dari kungkuhan Daniel.
'' Hei jangan bergerak terus, kau akan membangunkan teman ku nanti,'' ucap Daniel dengan usil, Devita akhirnya diam tapi ia tidak mengerti dengan apa yang dimaksud Daniel.
'' Kau sedari malam mengucapkan, teman ku ini teman ku itu, sebenarnya teman mu itu siapa?'' tanya Devita dengan segala kebingunnya.
'' Kau belum waktunya mengerti sayang, nanti juga kau akan tahu jika istri ku ini sudah siap untuk mengetahui semuanya,'' ucapnya dengan lembut dan mencolek manja hidung mancung milik Devita.
'' Aku siap, sangat siap.'' Ucap Devita tanpa mengetahui sebenarnya.
'' Apa kau yakin?'' tanya Daniel memastikan dan Devita mengangguk cepat.
'' Baiklah, jangan sampai kau menyesali ucapan mu ya,'' Devita mengangguk lagi.
Daniel tersenyum senang, perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Devita, Devita yang merasa bingung hanya diam saja dan tiba-tiba ia merasakan bib*rnya sudah menempel dengan bib*r Daniel.
Tidak ada perlawanan dari Devita karena Devita juga hanya mengikuti insting wanita nya dan itu membuat peluang untuk Daniel melampiaskan hasrat nya sedari malam.
Cukup lama bib*ir mereka beradu perang akhirnya Daniel pun mengakhirinya, ada rasa kekecewaan di hati Devita tapi ia juga tidak mengerti itu apa.
__ADS_1
'' Apa boleh aku melakukannya?'' tanya Daniel dengan nafas yang tersengal-sengal karena menahan hasrat yang sudah sesak.
Devita tidak menjawabnya ia diam, ia mulai mengerti dengan ucapan suaminya itu, tapi dia tidak bisa melakukan nya sekarang.
'' Maafkan aku, aku tidak bisa,'' ucap Devita dengan perasaan yang tidak enak pada suaminya.
Daniel menghela nafasnya dengan pelan, ia cukup mengerti kenapa Devita menolaknya, Daniel tersenyum lembut dan mengangguk pelan lalu mengecup singkat dahi, kedua pipi dan bibir Devita.
'' Tidak apa-apa, aku mengerti, kau mandilah aku akan mengajak mu jalan-jalan.'' Daniel memindahkan tubuh Devita dari atas tubuh nya dan berlalu keluar dari kamar.
Devita memandang pundak Daniel yang menghilang di balik pintu dengan tatapan rasa bersalahnya.
'' Maafkan aku,'' lirih Devita.
Di luar kamar, Daniel mengontrol nafasnya dengan teratur dan Daniel melangkahkan kakinya menuju ruang fitness untuk menurunkan libido nya.
Dari mulai melakukan treadmil, push up, dan angkat beban semua ia lakukan dan akhirnya berhasil untuk menghilangkan hasrat nya sementara.
Daniel mengurungkan niatnya untuk mandi dan melangkahkan kakinya lagi menuju dapur yang ternyata di sana sudah ada Devita yang memakai apron dan terlihat ia sedang memasak.
'' Vita,'' panggil Daniel, Devita menoleh dan tersenyum ke arahnya lalu melanjutkan kembali kegiatan memasaknya.
'' Kau sedang masak?'' tanya Daniel, Devita hanya berdehem.
'' Memasak apa?'' tanya Daniel yang sudah duduk di kursi meja makannya sambil menenggak segelas air putih yang di tuangnya dari teko kaca yang sudah tersedia di atas meja.
'' Nasi goreng sosis, kamu mandi dulu sana, lepas itu turun dan sarapan bersama, oke.'' Ucap Devita dengan lembut, Daniel tersenyum senang dan mendekat ke arah Devita.
Daniel memeluk tubuh Devita dari belakang.
__ADS_1
'' Wooow, baiklah nyonya Carroll, hamba akan mandi dan setelah itu akan sarapan bersama istri cantik ku ini, aku tidak akan melewati momen dimana istri ku untuk pertama kalinya memasak untuk aku, suaminya.'' Ucap Daniel yang mencium pipi Devita dan berlalu dengan berlari kecil menuju kamarnya.
'' Danielll, kau bauu!!'' teriak Devita.
'' Kau jahat sayang..'' teriak Daniel menyahut dari depan pintu kamar.
Devita terkekeh karena sahutan Daniel. Masakan telah matang, Devita memindahkan masakannya dari teflon ke dua piring yang sudah ia sediakan sebelum nya.
'' Makanan sudah siap dan sekarang aku harus membuatkan Daniel susu.'' Gumamnya.
Beberapa saat kemudian Daniel sudah keluar dari dalam kamar dengan pakaian santainya yang segera duduk di kursi makannya.
'' Waaahh, Nasi goreng spesial pasti enak,'' ucap Daniel memuji masakan Devita.
'' Makan saja dulu, baru kau bisa menilai nya,'' jaeab Devita.
Saat Daniel akan menyantap masakan Devita, ponselnya berdering dan menampilkan nama Zen disana.
Daniel menghela nafasnya kesal.
'' Ya, ada apa kau mengganggu waktu sarapan ku, kau tahu ini sarapan spesial karena di masak oleh istri ku untuk yang pertama kalinya, tapi kau malah menganggu ku,'' omel Daniel pada Zen.
'' Maafkan saya Tuan, saya hanya ingin menanyakan berkas kontrak kerja sama dengan Golden Corp, berkas itu ada pada Tuan kan?'' tanya Zen.
'' Iya ada pada ku, tapi berkas itu ada di Mansion Ayah, aku akan menghubungi Linda untuk mengantarkan nya ke kantor.'' Ucap Daniel yang langsung memutus sambungan telepon.
'' Mengganggu saja,'' gerutu Daniel yang langsung menghubungi Linda dan melanjutkan sarapannya setelah urusannya selesai.
'' Apa? Linda akan kesini,'' ucapnya dengan gelisah karena rasa malunya tentang apa yang terjadi tadi malam sehingga ia tidak ingin bertemu dengan Linda.
__ADS_1
Tbc...