Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Lumayan Kepo


__ADS_3

Setelah lepas dari kamar mandi, Devita melihat Daniel sudah tidak ada di kamarnya, Ia berfikir kalau Daniel sudah pergi ke unit kamar apartemen nya.


Devita berpakaian untuk bersiap pergi ke kampusnya, saat sudah siap Devita keluar kamar dengan pakaian rapih serta tas punggungnya, tapi saat Ia menginjakan kakinya di anak tangga terakhir, suara bising terdengar dari arah dapur, dengan rasa penasaran Devita pun menghampiri nya.


Seorang wanita yang memakai apron berdiri dengan membelakanginya yang di pastikan sedang memasak sesuatu.


''Maaf, anda siapa?'' tanya Devita, wanita itupun menoleh ke belakang dan tersenyum.


''Saya Nona, Linda,'' jawabnya, ya dia Linda kepala pelayan dari Mansion yang Daniel panggil.


''Linda, lama kita tidak bertemu, apa kabar?'' Devita menghampiri dan memeluk tubuh Linda.


''Nona, saya bau asap masakan,'' kekeh Linda yang mendapatkan perlakuan manis dari Devita calon Nona mudanya.


''Isshhh tidak masalah, oh ya kau disini atas perintah Daniel pastinya.'' Ucap Devita, Linda mengangguk sebagai jawabannya.


''Mari Nona, sarapan dulu.'' Linda menaruh hasil masakannya di meja makan untuk calon Nona mudanya.


''Terima kasih Linda, kau tidak sarapan?'' Devita duduk bersiap ingin melahap nasi goreng seafood buatan Linda.


''Saya sudah sarapan sebelum kesini Nona,'' jawabnya.


''Kalau begitu, duduklah temani aku saja,'' perintah Devita, Linda yang tidak ingin membantah hanya menurut saja.


Sesikit demi sedikit Devita terus menikmati nasibgoreng itu, suasana b


hening sampai Devita berdehem mencairkan suasana.

__ADS_1


''Ehemm, Linda aku boleh bertanya.'' Ucap Devita dengan berbisik.


''Tanya apa, Nona.''


''Bagaimana kabar Ayah?''


''Tuan besar, beliau semakin sehat Apalagi semenjak ada Nona Dinar yang selalu mengurusnya.'' Jawab Linda dengan jujur.


''Apa Nadia masih berada di Mansion?'' tanya Devita lagi dengan lirih.


''Nona Nadia masih di Mansion Nona,'' jawaban Linda membuat Devita mengangguk pelan, entah kenapa Ia merasa tidak suka kalau Nadia masih berada di Mansion.


''Oh ya Nona, apa benar Nona baru saja pulang dari Indonesia?'' kali ini Linda yang giliran bertanya.


''Ya, baru saja tadi malam aku sampai, kau tahu dari mana?''


''Kemarin saya tidak sengaja mendengar pembicaraan Nona Dinar dan Nona Nadia,'' ucapan Linda membuat Devita tertarik dengan atah pembicaraan nya.


''Iya nona benar. Kemarin Nona Nadia pergi ke kantor tuan Daniel, tapi Tuan Zen mengatakan kalau Tuan sedang pergi ke Indonesia untuk menemani Nona.'' Ucap Linda dengan panjang lebar.


''Ekhemm,'' suara deheman dengan nada berat terdengar, dan ternyata itu suara milik Daniel yang sudah berpakaian formal menyender di dinding dapur dengan tangan yang di masukan di saku celananya.


Seketika wajah Linda pucat pasih karena terpergok membicarakan keluarga Carroll, dengan keringat yang membasahi telapak tangannya Ia terus meremas tangannya sendiri.


''Apa kau aku bayar untuk bergunjing, Linda.'' Ucap Daniel dengan tegas.


''Ti-Tidak Tuan, maafkan saya,'' lirih Linda.

__ADS_1


''Daniel, Linda tidak salah, aku yang bertanya,'' bela Devita karena tidak ingin Linda kena marah karenanya.


Daniel hanya diam, ia menatap wajah Linda yang tidak berani menatap langsung wajah sangar Daniel.


''Bersihkan saja yang lain,'' perintah Daniel pada Linda, Linda bernafas lega, ia permisi untuk pergi dan di angguki Devita.


''Sudah rapih ingin kemana?'' tanya Daniel yang sudah ikut duduk tapi tidak memakan yang Devita makan, ia hanya mengambil roti yang di oleskan slay srikaya favorit nya.


''Kampus, cuti ku sudah terlalu lama, Daniel.''


''Oke, aku antar ya, cepat habiskan sarapan mu,'' Daniel beranjak berdiri menuju wastafel ingin mencuci tangannya.


Devita juga beranjak dan menghampiri Daniel. '' Daniel aku naik taxi saja ya,'' rengek Devita yang tidak di iyakan Daniel.


''Daniel,''


''Tidak, aku tidak mau kau di culik lagi,'' tegas Daniel, ya benar Daniel tidak mau kejadian yang kemarin terulang lagi.


Devita memanyunkan bibirnya, Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia sangat paham dengan kekhawatiran Daniel padanya.


Devita dan Daniel sudah menuju lift ingin turun kebawah, Devita terus saja diam tidak seperti biasanya.


Daniel yang mengacuhkannya membuat Devita semakin kesal di buatnya, setelah sampai di kampus Devita turun tanpa permisi, tapi dengan cepat Daniel menyusul Devita dan memegang tangan Devita.


''Kau marah?'' tanya Daniel dengan lembut.


Seperti biasanya para mahasiswa perempuan selalu terpanah akan ketampanan Daniel, teriakan wanita-wanita itu membuat Daniel dengan cepat masuk ke mobilnya.

__ADS_1


''Menjijikkan,'' maki Daniel.


''Itu sebabnya aku tidak mau di antarkan oleh mu Daniel.'' Ucap Devita dengan tubuh yang menunduk untuk bicara dengan Daniel yang berada di dalam mobil.


__ADS_2