
'' Tuan Reno kau disini?'' tanya seseorang yang menghampiri mereka.
'' Oh hai Nona Dinar, kau juga disini,'' ucapnya lagi.
Reno maupun Dinar tidak langsung menjawab nya, terutama Reno bak seperti mulut yang merekat, mulutnya pun sudah untuk menjawabnya.
'' Oh Hay Nona Chloe,'' sapa Dinar balik setelah beberapa saat terdiam.
Ya orang yang baru tiba itu adalah Chloe, dia datang karena undangan Devita langsung.
Alis Dinar mengernyit merasa heran dengan diamnya Reno yang tidak berniat ingin menjawab sapaan orang yang menyapanya itu.
'' Tidak sangka ya kita akan bertemu disini,'' ucap Chloe dengan ramah.
'' Iya, ini acara pertunangan adik ku,'' jawab Dinar yang tentu saja membuat mata Chloe terbelalak.
'' Adik?'' seru Chloe dengan rasa terkejutnya.
'' Ya, mempelai pria itu adik ku, Zen.''
'' Oh astaga aku benar-benar tidak tau nona Dinar.'' Ucap Chloe yang memang tidak tau siapa Dinar sebenernya.
'' Ya aku mempunyai tiga adik laki-laki, Daniel, Zen dan Kemal, dan sepertinya aku akan mempunyai adik laki-laki lagi,'' canda Dinar melirik Reno, namun ucapan Dinar lagi-lagi membuat Chloe terkejut.
'' Tunggu nona, tadi kau bilang kalau nama adik mu, Da..niel? apa yang kau maksud itu Daniel Carroll?'' seru Chloe lagi.
'' Ya, Daniel Carroll, kau mengenalnya,''
Selagi dua wanita itu berbincang kesana kemari, Reni hanya menjadi pendengar tanpa ingin ikut ke dalam perbincangan para wanita itu.
'' Dia suami sepupu ku, Nona.''
'' Oh ya, benarkah? wah kebetulan sekali.''
Dinar terdiam mencerna ucapan Chloe, seperti ada yang mengganjal namun ia tidak mengingatnya.
'' Sepupu Devita? berarti dia yang pernah menyiksa adik ipar ku,'' gumam Dinar dalam hati.
Setelah mengingat siapa Chloe, suasana hati Dinar berubah drastis, ia tidak mengetahui kalau Chloe memang sudah berubah dan menyadari kesalahannya.
'' Kalian berbincang lah, aku ke dalam sebentar.'' Ucap Dinar dengan nada yang tidak lagi ramah, Dinar pun berlalu pergi meninggalkan Chloe bersama Reno di kursi dekat kolam renang.
Chloe menatapnya bingung karena tiba-tiba sikap Dinar yang tiba-tiba berubah, berbeda dengan Reno yang bahkan sangat paham dengan sikap Dinar yang tiba-tiba berubah itu.
Entahlah kenapa seakan-akan Reno telah mengenal Dinar lama, dia langsung mengerti kenapa Dinar bersikap seperti itu.
'' Kau datang bersama siapa?'' tanya Reno yang akhirnya membuka mulutnya.
__ADS_1
'' Aku datang bersama teman ku, oh ya kabar paman bagaimana?''
'' Tuan Mahendra?''
'' He'em,''
'' Kabar beliau baik, kalau orang tua mu?''
'' Papih masih seperti itu, kalau mamih perlahan sudah membaik,''
'' Emmm syukurlah.''
Keduanya terdiam lagi, Reno bahkan sibuk dengan ponselnya, entah kenapa rasa nyaman yang di rasakan Reno dahulu saat berdekatan dan berbincang dengan Chloe sudah sirna yang dia sendiri tidak tau kenapa.
Karena Reno tidak lagi berbicara, Chloe pun berlalu berpamitan untuk mencari temannya yang tadi sedang ke toilet.
'' Tuan Reno, aku permisi mencari teman ku dulu ya.'' Pamit Chloe dan hanya mendapatkan anggukan kecil dari Reno.
Chloe pun berlalu, Reno menghela nafas nya dengan panjang, ia memegang dadanya untuk memeriksa detak jantungnya.
'' Benar, sungguh aneh. Kenapa jantungku tidak berdetak seperti sebelumnya saat bertemu dengannya.'' Gumamnya yang merasa heran.
'' Tapi aku merasa bahagia bisa bertemu dengannya dan melihat dia baik-baik saja.'' Lanjutnya.
'' Oh ya, wanita itu kemana,'' ucap Reno lagi dengan mata yang seperti mencari seseorang.
'' Haaahhh, kenapa juga aku mengharapkan dia kembali lagi kesini,'' hela Reno dengan panjang.
'' Siapa yang kau harapkan,'' ucap seseorang yang sudah berdiri di belakang Reno.
Dengan cepat Reno menoleh ke belakang ingin melihat sang pemilik suara, namun tiba-tiba mulut Reno menyeletuk tanpa sadar.
'' Kau,'' celetuk Reno.
'' Hah? aku?'' ucap orang itu yang tidak lain adalah Dinar.
'' Aah bukan, maksud ku adik ipar kau, Devita ya Devita, a-aku ingin berpamitan dengan nya.'' Jawab Reno yang kelabakan mencari jawabannya.
'' Oh Devita sudah pergi ke kamarnya, mungkin kelelahan, maklum lah ibu hamil,'' ucap Dinar dengan tawa kecilnya.
'' Oh begitu ya,''
Setelah malam itu, Dinar dan Reno semakin akrab, merekapun saling bertukar nomor ponsel namun tidak ada yang memulai untuk menghubungi terlebih dulu, terutama Dinar, yang memang tipekal wanita sibuk dan cuek berbeda dengan Reno yang ingin sekali menghubungi Dinar namun rasa percaya dirinya tidaklah tinggi.
Reno yang selalu mencari tau kabar Dinar lewat Devita yang tentunya membuat Devita menyadari akan sesuatu.
'' Apa Ka Reno menyukai kak Dinar?'' gumam Devita.
__ADS_1
Gumaman Devita ternyata di dengar Daniel yang baru saja masuk ke kamar untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
'' Apa maksudmu, honey?'' tanya Daniel yang ingin tau jelas maksud gumaman istrinya itu.
'' Daniel kau masih di sini?''
'' Ponsel ku tertinggal, tadi aku mendengar kah bergumam dan menyebut nama Reno dan Dinar, kenapa kau berbicara seperti itu?''
'' Emmm Daniel. Sebenernya kak Reno selalu menghubungi ku,''
'' Apa! dia selalu menghubungi mu? mana ponsel mu, kurang ajar sekali, berani-beraninya dia terus mengganggu istri ku,'' potong Daniel yang tidak mendengar kan sepenuhnya ucapan Devita karena sudah terlanjur emosi.
'' Daniel! dengarkan dulu,'' rengek Devita.
'' Apa? kau mau membelanya lagi,'' ketus Daniel.
'' Bukan seperti itu, jadi kak Reno,''
'' Jangan sebut nama pria lain di depan ku,'' potong Daniel lagi dengan wajah yang sudah di tekuk.
'' Daniel,'' geram Devita karena ucapannya selalu di potong Daniel.
'' Ya ,ya. Lanjut kan,''
'' Ka Reno selalu menghubungi ku hanya untuk bertanya sesuatu yang bahkan pertanyaan nya selalu sama,''
'' Tanya apa dia,'' ketus Daniel.
'' Kabar kakak Dinar,'' jawaban Devita tentu membuat Daniel tercengang, alis tebalnya menyatu dengan sempurna dengan berbarengan rasa herannya.
'' Dia terus mengganggu mu hanya untuk tahu kabar Dinar?'' Devita mengangguk cepat.
Mata Daniel memicing seperti sedang memikirkan sesuatu yang hanya Daniel lah yang tau apa yang dia pikirkan.
'' Ya sudah kalau dia menghubungi mu lagi dan bertanya kabar ka Dinar lagi, katakan saja kalau kak Dinar sedang tidak baik-baik saja.'' Ucap Daniel yang langsung mendapatkan pukulan kecil di lengannya dari Devita.
'' Kenapa kau memukul ku,''
'' Kau menyuruh ku untuk berbohong,''
'' Dengan cara seperti itu kita akan tau apa maksud dia selalu bertanya seperti itu, honey. Kalau begitu aku berangkat ya, sampai nanti.'' Ucap Daniel yang sudah berlalu setelah mengecup singkat semua bagian wajah Devita.
Mata Devita mengikuti langkah Daniel yang sudah hilang di balik pintu. Ia kembali terdiam mencerna ucapan suami arogan nya.
'' Apa maksud Daniel?'' Gumamnya.
TBC...
__ADS_1