
Kemal melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia tidak ingin membuat Daniel menunggu terlalu lama, niat hati ingin langsung ke tempat acara tapi harus memutar haluan karena panggilan Daniel.
'' Kira-kira aku di perintahkan apa lagi ya?'' gumamnya dengan tangan yang sibuk memutar kemudinya.
Beberapa saat kemudian, Kemal sudah tiba di Mansion sang Ayah, dia langsung bergegas menemui Daniel dikamar nya.
'' Kemal, ada apa?'' tanya Dinar yang merasa heran karena melihat Kemal yang tergesa-gesa menaiki tangga.
'' Ka Dinar, entahlah ka. Ka Daniel menyuruh ku untuk menemui nya sepertinya ada masalah.'' Jawab Kemal yang langsung menghentikan langkah nya setelah di panggil Dinar.
Dinar tersenyum penuh makna, alis Kemal menyatu dengan sempurna.
'' Kakak kenapa?'' tanya Kemal yang merasa heran karena Dinar tersenyum saat ia menjawab pertanyaan nya.
'' Aah tidak, sudah sana temui kakak mu itu, nanti dia akan mengamuk jika kelamaan menunggu,'' ucap Dinar, Kemal membenarkan ucapan kakak perempuan nyabitu, dan langsung berpamitan untuk menemui Daniel dikamar nya.
'' Semoga ini awal yang baik,'' gumam Dinar dengan mata yang terus menatap pundak Kemal yang semakin menjauh.
Kemal menarik nafas dan membuangnya dengan perlahan, untuk bertatap muka dengan kakaknya dia harus menguatkan mental serta hatinya, itulah setiap kali Kemal di panggil Daniel untuk menemui nya.
Kemal mengetuk pintu dengan perlahan dan membuka nya setelah mendapatkan sahutan dari dalam.
'' Tuan,'' panggil Kemal, Daniel yang berdiri dengan menghadap jendela besar langsung berbalik setelah mendengar suara Kemal.
'' Ini bukan jam kerja.'' Ujar Daniel yang tidak di mengerti Kemal.
'' Bukannya Tuan memanggil saya untuk menangani sesuatu?'' tanya Kemal dengan polosnya, hati Daniel tergelitik mendengarnya.
'' Duduklah,'' Daniel yang sudah lebih dulu duduk di pinggiran ranjang menyuruh Kemal duduk di sofa sebrang ranjang nya.
Kemal hanya menurut tanpa bantahan, entah kenapa perasaan nya was-was setiap kali harus berhadapan dengan si tuan Arogan itu.
Kemal sudah duduk tapi Daniel tidak langsung mengucapkan apapun, setelah menghela nafasnya dengan kasar ia menoleh ke arah Kemal yang sedang menundukkan kepalanya.
'' Ikutlah dengan ku untuk berdiri di sampingku sebagai kakak mu, bukan sebagai Tuan mu.'' Ucapan Daniel membuat Kemal langsung mengangkat kepalanya dan menatap langsung wajah dingin Daniel.
'' Maksudnya?'' tanya Kemal dengan rasa terkejut nya.
'' Malam ini malam pertunangan ku, Aku mau kau juga ikut berdiri di samping ku bersama Ayah dan ka Dinar.'' Ucap Daniel dengan wajah yang memang ciri khasnya, dingin dan tanpa expresi.
Mata Kemal sudah berkaca-kaca, perasaan nya saat ini sulit diartikan, syok, terkejut senang dan tidak menyangka.
'Apa ini mimpi?' batin Kemal bertanya-tanya.
'' Apa kau bisa menuruti permintaan ku?'' tanya Daniel lagi.
Kemal mengangguk cepat. '' Tentu ka, aku mau, sangat mau,'' jawab Kemal dengan suara yang sudah parau karena menahan tangisnya.
'' Baguslah, dan sekarang kau lihat penampilan ku, apa ada yang kurang?'' ucap Daniel mengalihkan pembicaraan dengan pertanyaan konyolnya yang tidak pernah di dengar Kemal sekalipun.
'' Sangat perfect, Kak.'' Jawab Kemal, ia benar-benar tidak menyangka dengan adanya hari ini, hari ini di anggapnya hari istimewanya karena mendapatkan apa yang dia mau, yaitu di akui sebagai bagian keluarga walau Daniel mengucapkan nya tidak langsung melainkan dengan kata-kata yang penuh isyarat tapi Kemal sudah sangat merasa senang.
'' Tapi ada satu masalah,'' ucap Daniel dengan pelan, entah ini curhat atau ingin meminta bantuan yang jelas Kemal sangat senang karena akan di butuhkan kehadirannya.
'' Masalah apa ka?''
'' Zen, sampai saat ini dia belum juga datang, cincin pesanan ku yang aku khususkan untuk hari ini masi ada padanya.'' Jawab Daniel, alis kemal mengernyit.
'Apa dia membawa kabur itu cincin karena merasa cemburu.' gumam Kemal dalam hati.
Bukan tanpa sebab Kemal menduga seperti itu, karena Kemal sangat tahu kalau Zen memang mencintai Devita juga, dan tidak menutup kemungkinan kalau seseorang yang mencintai wanita yang akan bertunangan akan melakukan apapun untuk membatalkannya. Itulah pikiran Kemal.
'' Mungkin masih dalam perjalanan ka,'' ucap Kemal yang tidak berani menyampaikan isi pikirannya pada Daniel.
Karena Kemal tahu kalau Daniel masih bersikap tenang itu artinya Daniel masih mempercayai Zen, asisten pribadinya.
'' Ya sudah, kita berangkat sekarang saja, mungkin nanti Zen akan menyusul,'' ajak Daniel, ia beranjak dari duduknya dan berjalan ke arah pintu dengan Kemal yang membuntuti dari belakang.
Dinar dan Frans Carroll sudah menunggu di ruang keluarga, munculnya Daniel bersama Kemal membuat Dinar dan sang Ayah tersenyum bahagia.
'Apa Daniel sudah menerima Kemal,' batin Frans Ayah mereka.
Frans menoleh ke arah Dinar menatap langsung mata anak sulungnya untuk meminta penjelasan, Dinar pun menoleh ke arah Ayah nya yang sedang menatapnya.
Dinar yang mengerti arti dari tatapan sang Ayah hanya tersenyum dan mengangguk sebagian jawabannya.
'Terima kasih Tuhan,' batin Frans lagi, ia sangat merasa bahagia, hari yang di nanti-nanti akhirnya tiba, kebahagiaan doble hari ini pertunangan Daniel dan Kemal yang sudah mulai diterima kehadirannya ileh Daniel.
'' Kita berangkat?'' tanya Dinar setelah Daniel dan Kemal sudah ada di hadapan nya.
Daniel mengangguk 'iya, Dinar menoleh ke arah Kemal yang sedari tadi memancarkan raut wajah bahagia disana.
'' Lalu Zen dan cincin mu?'' tanya Dinar lagi.
'' Mungkin nanti Zen akan menyusul,'' jawab Daniel.
Linda yang mendengar obrolan mereka merasa sedikit aneh, ya Linda sangat tahu kalau Zen tidak pernahengulur waktu tapi kali ini, entahlah.
__ADS_1
Mereka pun berangkat dengan menggunakan dua mobil, Kemal yang menyetiri Daniel, dan Dinar yang bersama Ayah nya dengan menggunakan jasa supir pribadi keluarga.
Sepanjang perjalanan Daniel hanya diam dengan pandangan jauh kedepan, Kemal tau Daniel tengah gelisah karena Zen tidak ada kabar sama sekali.
Acara di laksanakan di Mansion Keluarga Huang sendiri, dan itulah kemauan Devita.
Sesaat kemudian Mobil mereka telah sampai di pelataran Mansion yang langsung di sambut dengan Mahendra dan Reno sebagai Tuan rumah nya.
'' Selamat datang, apa perjalanan kalian lancar,'' ucao Mahendra berbasa-basi.
'' Calon besan,'' ujar Frans yang langsung merangkul Mahendra.
Mereka pun masuk ke tempat acara, sambutan demi sambutan terus terucap dari Mc yang sudah di sewa untuk meramaikan acara.
Di pesta yang sangat mewah itu Daniel sama sekali tidak tertarik untuk ikut andil di dalamnya, pikirannya melayang jauh entah kemana.
Zen, ya Zen lah nama yang ada dipikiran Daniel, sampai saat ini Zen belum juga memunculkan batang hidung nya.
''Daniel kemarilah, Nak.'' Ucap sang Ayah.
Daniel hanya menurut bergabung dengan para pembisnis yang di undangnya juga.
'' Akhirnya kau menemukan wanita yang akan di beri nama belakang mu, Tuan Daniel.'' Ucap rekan bisnis Daniel.
'' Ya seperti yang kau tau, aku tidak pernah tertarik dengan wanita yang kau bawa, tapi kali ini aku menyerah dan melabuhkan hati ku pada seorang gadis yang polos dan tentunya cantik.'' Mahendra yang mendengar sangat senang karena Daniel membicarakan anak gadisnya dengan hati yang bahagia.
'' Waah kau sangat bahagia, entah gadis itu yang beruntung atau malah kau yang beruntung mendapatkan dirinya.'' Tawa mereka menggema.
'' Akulah yang telah beruntung mendapatkan gadis seperti nya.'' Jawab Daniel dengan wajah yang serius.
'' Aku semakin penasaran dengan sosok gadis yang kau bicarakan.''
'' Kau sangat di larang untuk terpesona Tuan Ayar.'' Ucap Daniel dengan tatapan tajamnya.
Ayar Devon pembisnis yang mata keranjang dan kerap membawa wanita untuk melancarkan kontrak-kontrak yang akan berlangsung, dan sala satunya Daniel, dia sering sekali membawa wanita untuk Daniel bertujuan agar lancar melakukan kerja samanya.
Tapi Daniel yang bahkan tidak pernah tertarik dengan wanita-wanita sexi yang Ayar Devon bawa karena sifat profesional Daniel yang sering sekali menolak kontrak kerja sama di antar mereka.
Waktu sudah semakin dekat dengan menuju puncak acara yaitu pertukaran cincin di antara kedua mempelai, Devita sebagai mempelai wanita belum memunculkan dirinya, mata Daniel terus berkeliling mencari gadisnya.
'' Hei cari apa kau ini?'' tegur Mahendra yang senang sekali menggoda Daniel.
'' Ayah mertua ku, jangan terlalu ketus dengan ku, anak mu saja jatuh cinta padaku karena terlalu tidak mempedulikan ku waktu itu.'' Daniel menjawab godaan Mahendra, keduanya saling tertawa menggoda satu sama lain
Di kamar Devita.
'' Aku malu Pu, pasti banyak sekali orang di bawah sana,'' ucap Devita dengan tingkah polosnya.
'' Aku sungguh bosan mendengar kata malu.'' Gerutu Puspa dengan tangan memegang kepala nya.
Suara ketukan pintu terdengar, dengan segra Puspa membukanya.
'' Nona, kalian harus turun ke bawah sekarang.'' ucap Mimi dan di angguki Puspa.
'' Dev, ayo, kita sudah di tunggu di bawah,'' ajak Puspa.
'' Tapi aku sangat gugup,''
'' Kalau begitu kau batalkan saja pertunangan mu ini,'' usul Puspa yang sudah sangat kesal dengan tingkah Devita.
'' Sembarangan kau,'' Devita akhirnya keluar dari kamar dengan di gandeng Puspa.
Saat kaki mereka menginjak anak tangga pertama, mata parabtamu sudah terkunci dengan aura kecantikan dua gadis itu, Devita yang hanya menunduk dengan mata yang terus melihat ujung jempol kakinya karena tidak berani melihat langsung reaksi para tamu.
'' Apa itu calon mu Tuan Daniel?'' tanya Ayar Devon yang sangat terpesona dengan penampilan dua gadis yang sedang menuruni anak tangga itu.
'' Tuan maaf, jaga mata anda,'' kali ini yang menjawab bukan Daniel melainkan Kemal yang tidak terima kekasihnya dipandang oleh pria bermata keranjang itu.
Daniel yang mendengar nya hanya mengulum senyumnya, karena fia baru melihat wajah Kemal yang sangat serius menaggapi sesuatu, yang selalu di lihat nya hanya wajah yang selalu menahan rasa takut jika sedang berbicara dengan nya.
'' Hey, aku datang,'' bisik seseorang yang ternyata Terry, sahabat Daniel.
'' Kenapa kau harus datang,'' jawab Daniel.
Ya mereka sudah seperti itu sejak dulu, tapi Daniel berbicara seperti itu tidaklah serius karena cara bicaranya memang seperti itu, itupun Terry sangat mengerti dan tidak menaggapi nya dengan serius.
Daniel melangkah mendekati tangga karena Devita sudah hampir sampai ke anak tangga terakhir.
'' Vita,'' ucap Daniel dengan senyum yang penuh cinta terhadap gadis yang saat ini sedang berdiri di depannya.
Tangannya mengulur untuk menyambut kekasihnya, Devita tersenyum malu-malu dan memberi tangannya untuk di genggam Daniel.
'' Mpus, kau sangat cantik sayang,'' ucap Kemal yang ikut berdiri di samping Daniel.
'' Merusak suasana saha kau ini,'' omel Daniel dengan berbisik.
'' Gadis ku sangat cantik ka, aku tidak tahan,'' bisik Kemal.
__ADS_1
Daniel hanya menggeleng melihat tingkah konyol Kemal, sungguh baru kali ini dia melihat Kemal bersikap berani padanya, tapi Daniel merasa sangat lega di hati nya ya Daniel pyn tidak tau alasannya.
Daniel membawa Devita ke panggung yang sudah di sediakan.
Tapi ada yang aneh di wajah Daniel menurut Devita, ya ada wajah gelisah di dalamnya.
'' Ada apa?'' tanya Devita pada Daniel.
'' Tidak,''
'' Kau berbohong,''
Daniel menghela nafasnya.
'' Zen belum datang,''
'' Lalu?''
'' Masalah nya cincin yang akan ku sematkan jari mu ada padanya,'' ucap Daniel.''
'' Tenanglah, mungkin Zen sedang terjebak macet,'' ucap Devita dengan tenang.
Kemal yang melihat kegelisahan di wajah Daniel langsung mengerti, Kemal menjauh dari keramaian untuk menghubungi Zen.
'' Kemana si brengsek ini,'' gerutu Kemal yang masih berusaha menghubungi Zen.
'' Kem, ada apa?'' tanya Puspa yang penasaran dengan Kemal yang tiba-tiba menjauh darinya.
'' Zen belum datang, cincin pertunangan kakak dengan Devita ada padanya,'' jawab Kemal dengan gelisah.
'' Lagi-lagi kau memanggilnya kakak, aku semakin penasaran,'' gumam Puspa.
Mc sudah bersuara lagi karena waktu yang sudah di tentukan sudah tiba, namun Daniel semakin gelisah karena Zen masih belum datang.
'' Astaga, jika kau nanti ada di hadapan ku, aku akan menghajar mu,'' geram Daniel.
'' Silahkan bertukar Cincin,'' ucap Mc mempersilahkan.
'' Ini Cincin nya,'' ucap seseorang yang baru saja tiba.
Ya dia adalah Zen, dengan penampilan yang sedikit acak-acakan dan menaiki panggung untuk memberikan sebuah kotak kecil berbentuk kristal.
Daniel menatapnya dengan heran tapi tangannya langsung merebut kotak yang masih ada di tangan Zen.
'' Perbaiki dirimu lalu setelah bitu kembali kemari,'' ucap Daniel dengan dingin, Zen yang sangat mengerti dengan sikap Daniel hanya mengangguk.
Devita melihat ke arah Mimi memberikan isyarat untuk membantu Zen, dan Mimi langsung mengerti.
'' Mari Tuan,'' ajak Mimi dan Zen membuntuti dari belakang.
Kemal dan Puspa langsung menghampiri ke samping panggung untuk melihat Zen yang datang dengan penampilan acak-acakannya.
Acara pertukaran cincin itu berlangsung dengan lancar walau ada kendala sebelumnya, semua acara berlangsung dengan hikmat.
Di Kamar Tamu
Zen duduk di sofa dengan tatapan kosongnya, wajah cantik Devita yang tadi berada di artar pertunangan membuat Zen sangat tersiksa.
'' Ini Tuan, pakailah, ganti pakaian anda,'' ucap Mimi dengan membawakan setelan pakaian baru untuk Zen.
Zen menerimanya tanpa mengucapkan apapun. tangan Zen membuka kancing kemejanya dengan satu persatu.
'' Hei, gantilah di kamar mandi sana,'' omel Mimi, Zen menoleh ke arah Mimi.
'' Devi,'' gumam Zen.
'' Devi, saya Mimi bukan Devi yang kau ucapkan,''
'' Oh Maaf,'' Zen berlalu begitu saja ke kamar kecil untuk mengganti pakaian nya.
Mimi melihat nya dengan heran, pandangan kosong Zen, wajah yang terlihat putus asa menyiratkan hati yang terluka dangat terlihat di wajah Zen.
Zen sudah keluar dari kamarandi dengan penampilan yang sudah sedikit lebih segar.
'' Di hari bahagia ini, kau malah menekuk wajahmu. Cobalah menerima dengan lapang dada,'' cetus Mimi yang membuat Zen menoleh dengan cepat.
'' Kau bawel sekali, siapa kau yang sok tau dengan kondisi ku,'' Ketus Zen.
'' Aku, aku seorang gadis yang bisa meramal raut wajah seseorang,'' setelah mengucapkan hal konyol, Mimi berlalu begitu saja dari kamar tamu meninggalkan Zen.
Puspa yang berdiri di ambang pintu utama yang seperti sedang menunggu seseorang sangat gelisah.
'' Hei kau, tadi aku yang gelisah sekarang kau, ada apa?'' tanya Kemal.
'' Aku sedang mencari Jonathan, dia seperti nya tidak hadir,'' jawab Puspa.
'' Kau sangat keterlaluan, ada kekasih mu tapi kau malah menunggu pria lain,'' ucap Kemal dengan menekuk wajahnya.
__ADS_1
Kemana Jonathan, kenapa tidak hadir di acara penting sahabat nya ini. pikir Puspa yang tidak tau dengan perasaan Jonathan yang sebenarnya menaruh hati pada Devita sahabat mereka.