
Devita sudah menerima donor darah dari Linda tapi dia belum juga saar walaupun kondisinya sudah melewati masa kritis nya.
Daniel maupun Mahendra sangat lah khawatir dengan keadaan Devita, dan tidak terkecuali Zen, Ia juga sangat merasa khawatir, pasalnya Dokter yang menangani Devita mengatakan tubuh pasien tidak bereaksi apapun walapun sudah melewati masa kritisnya.
Mahendra sangat bersedih hati, Ia merasa hancur, baru saja bisa berkumpul kembali dengan anak gadisnya tapi sekarang Ia harus melewati cobaan lagi karena anaknya masih terbaring lemas dengan memejamkan matanya disana.
'Tuhan, kau sudah mengambil istri ku, jangan kau mengambil anak ku juga, dia masih muda, dia belum merasakan kebahagiaan yang sebenarnya, jika aku bisa menukar nya dengan nyawaku, aku ikhlas,' tangis Mahendra dalam hati.
Sedari mengetahui Devita kecelakaan sampai saat ini, Daniel tidak sama sekali mengkonsumsi apapun untuk di makannya, Mahendra terus mengajak Daniel untuk pergi ke kantin untuk makan, tapi Daniel menolak nya.
Dia hamcur saat ini, dia kira setelah mendapatkan pendonor, Devita akan sadar dan dapat melihat senyum di bibir manisnya tapi tidak, sampai saat ini mata bulat itu masih terpejam.
Penampilan Daniel yang selalu rapih tapi tidak kali ini, kemeja yang sudah likas, rambut yang tidak tertata lagi, pinggiran mata yang menghitam, wajah yang pucat karena waktu tidur yang tidak terkontrol dengan baik.
''Daniel, istirahatlah, kau terlihat sangat lelah.'' Suruh Mahendra pada Daniel, tapi lagi-lagi Daniel menolak nya, Ia tidak mau meninggalkan Devita walau sebentar.
''Ya sudah jika kau tidak mau, kalau begitu aku pulang sebentar ya, nanti malam akunkembali kesini,'' ucap Mahendra lagi.
''Paman istirahatlah, aku tidak mau kau ikut sakit karena itu akan membuat Devita sedih,'' jawab Daniel tanpa melihat Mahendra, matanya hanya terfokus ke wajah Devita.
Mahendra mengangguk dan berlalu keluar dan mempercayakan Daniel untuk menjaga anak gadisnya.
''Kau masih mau tidur ya, oke tidak apa-apa, tapi jangan lama-lama ya.'' Racau Daniel dengan tangan yang mengusap kepala Devita yang terperban.
''Segeralah bangun, aku sangat merindukan mata bulat mu, senyum manis mu, suara lembut mu. Apa kau tidak merindukan wajah tampan ku?'' Daniel teeus bicara walau Devita terus memejamkan matanya.
''Apa mimpi mu teelalu indah sampai kau betah disana?''..
Di ruangan yang berbeda, Linda sudah di izinkan pulang oleh Dokter karena kondisi Linda sudah stabil.
''Terima kasih Tuan, kau telah menjaga ku,'' ucap Linda dengan sopan.
__ADS_1
''Percaya diri sekali,'' ucap Zen dengan pelan.
Linda keluar dari ruangan itu dengan di ikuti Zen di belakangnya.
''Kau bis pulang sendiri kan?'' tanya Zen.
''Hah? ah ya bisa.''
''Bagus, saya ingin mengecek keadaan Nona Devita,'' Zen berlalu meninggalkan Linda yang menatapnya dengan kesal.
''Tidak manusiawi,'' gerutu Linda.
''Sssttt, kepala ku sakit sekali,'' ringis Linda, tapi Linda tetap melangkahkan kakinya menuju lift.
''Apa dia bisa pulang sendiri?'' gumam Zen.
''Tapi kata Dokter dia sudah baik-baik saja, walaupun ada efek nyeri di kepala,''
''Tapi kalau dia kenapa-napa bagaimana?'' Zen berbalik melihat Linda yang sudah masuk lift.
''Ah sial, kenapa harus aku yang di perintahkan untuk menjaganya,'' Zen melangkahkan kakinya kembali tapi tidak menuju ruangan Devita melainkan arah tangga darurat menuju lantai dasar.
Linda sudah keluar dari dalam lift dan menuju pintu keluar tapi saat melewati meja resepsionis ada seseorang yang memanggilnya.
''Linda,'' panggil seseorang dan menghampiri Linda
''Nando, kau Nando?'' tanya Linda.
''Iya, kau sedang apa disini, siapa yang sakit?'' tanya pria yang bernama Nando itu.
''Aku sedang mengunjungi Bos ku yang sedang sakit,'' jawab Linda dengan singkat
__ADS_1
''Terus kau ingin kemana?'' tanya pria itu lagi.
''Pulang,''
''Kau tidak berubah ya,'' tawa Nando.
''Berubah?''
''Iya tetap berwajah datar.'' Ucao Nando yang masih dengan tawanya, Linda hanya ber-'oh ria sebagai jawabnnya.
''Kau bekerja disini?'' tanya Linda.
''Iya, oh ya kita mengobrol sebentar yuk, disana,'' Nando menunjuk ke arah taman rumah sakit.
''Dia harus bekerja, tidak ada waktu untuk mengobrol,'' ucap seseorang yang menghampiri Linda dan Nando, dia adalah Zen.
''Oh kau Tuan yang berada di depan ruangan Nona Devita kan,'' ucap Nando, tapi Zen hanya menatapnya tanpa menjawabnya.
''Kami permisi,'' Zen langsung menarik lengan Linda menuju pintu keluar untuk ke mobilnya yang terparkir di parkiran rumah sakit.
''Hei Tuan, lepaskan saya,'' ucap Linda dengan tegas dan melepaskan gangan Zen dari lengannya dengan kasar.
''Tidak sopan sekali kau main tarik-tarik orang seperti itu,'' ketus Linda.
''Sudah jangan banyak bicara, masuk cepat.'' Ucap Zen.
''Saya bisa pulang sendiri, kau tidak perlu merepotkan dirimu seperti itu,''
''Jangan terlalu percaya diri, saya di perintahkan Tuan muda untuk mengantarkan mu ke Mansion,'' ucap Zen tidak kalah ketusnya.
Linda tidak bisa menolaknya lagi kalau sudah bersangkutan dengan nama Daniel, Linda langsung masuk ke dalam mobil tanpa menjawab ucapan Zen lagi.
__ADS_1