
Hari ini mestinya ada beberapa meeting penting, tapi dengan sepihak, Daniel membatalkan semuanya hanya karena Ia ingin cepat-cepat bertemu dengan Nadia, untuk menanyakan perihal ucapannya pada Devita.
''Tapi Tuan, ini meeting sangat penting, tidak bisa di wakilkan dengan saya kalaupun bisa hanya bisa di wakilkan pada ahli waris keluarga Carroll saja,'' ucap Zen yang sedang kebingungan menghadapi keras kepala seorang Daniel.
Daniel tengah berpikir siapa yang bisa menggantikan nya, apa Dinar? tidak mungkin dia mau.
''Hubungi Kemal, perintahkan dia untuk kembali kesini lagi.'' Ucap Daniel dengan tegas, Zen membelalak kaget,
'Kemal? buat apa?' pikirnya.
''Kenapa kamu diam, CEPAT!!'' bentak Daniel.
''Ba-baik Tuan,'' Zen pun berlalu keluar dari ruangan Daniel dan menghubungi Kemal.
''Halo, Kem kamu kembali kesini, cepat.'' Ucap Zen setelah sambungan telpon sudah di jawab Kemal.
''Kesini, kemana? kamu kalau bicara yang benar,'' jawabnya dengan heran.
''Ke kantor kakak mu, jangan banyak bertanya atau kau akan kena amukan singa jantan.'' Ucap Zen dengan sedikit berbisik.
''Bahkan aku baru saja keluar dari pelataran kantor, Zen. isshhh baiklah-baik aku akan kembali,'' ucap Kemal yang tak kalah herannya, buat apa dia di perintahkan kembali ke kantor, apa dia mempunyai salah. Pikirnya.
Kemal memutar kemudinya untuk kembali ke kantor sang kakak.
Zen kembali ke dalam ruangan Daniel untuk melaporkan bahwa Ia sudah menghubungi Kemal agar kembali ke kantornya. Tidak lama pintu dinketuk dari luar yang di yakini adalah Kemal yang datang.
''Maaf Tuan ada apa anda menyuruh saya kembali kesini?'' tanya Kemal dengan kembali menggunakan kata formalnyabpada Daniel karena ada orang lain selain mereka walupun Zen bukan orang asing di antara nya.
''Gantikan aku meeting pagi ini, aku ada urusan.'' Ucap Daniel, Kemal membelalak, Ia terkejut dengan apa yang di dengarnya.
''Saya? gantikan Anda meeting,'' tanya Kemal kembali, Ia sungguh tak percaya Daniel memerintah kan nya untuk menggantikan meeting nya.
''Tidak ada penolakan, saya pergi dulu.'' Ucap Daniel dengan tegas, Daniel pun bergegas untuk pergi.
''Zen urus sisahnya,'' ucapnya lagi sebelum Ia meninggalkan ruangannya.
''Baik Tuan,'' jawab Zen.
Kemal masih terpaku dengan posisi berdiri dan wajah terkejutnya sampai Zen menepuk bahunya baru Ia tersadar dari keterkejutan nya.
__ADS_1
''Tenanglah, aku tau kau pasti bisa. Dan kau harus tahu, Daniel memerintahkan mu untuk menggantikan nya itu tandanya Ia sudah menerima mu sebagai anggota keluarga nya,'' ucap Zen.
''Maksudnya?''
''Ya, meeting ini hanya bisa di wakilkan dengan ahli waris dari keluarga Carroll dan Daniel telah memilih mu untuk menggantikan nya.'' Jelas Zen, tapi Kemal berubah sendu.
''Tapi aku bukan ahli waris yang sah kan,'' lirihnya.
''Bodoh!! tapi kau darah daging Tuan Carroll juga. Bagaimanapun kau juga anaknya walau berbeda ibu dengan Daniel ataupun Dinar.'' Ucap Zen yang kesal dengan ketidak percaya diri nya Kemal.
''Tapi kan.'' Ucapan kemal terpotong Zen.
''Sudah lah, cepat ganti pakaian mu, aku sudah menyiapkannya di sana. aku tunggu di luar.'' Zen berlalu keluar dari ruangan Daniel.
''Apa iya, kakak sudah menerima ku,'' gumam KemalKemal dengan senyum tipis nya.
Kemal mengganti pakaian swag nya dengan pakaian formal, setelan jas.
Tidak lama Kemal keluar dari ruangan Daniel dan membuat beberapa pasang mata terpukau melihat pesona Kemal yang berbeda.
''Tidak buruk,'' ucap Zen dengan senyum langkanya.
''Apa cocok?'' tanya Kemal yang belum percaya diri.
''Sangat cocok,'' jawab Zen.
''Hissshhh, aku bahkan kurang nyaman dengan penampilan ku yang ini, aku lebih nyaman dengan pakaian yang biasa aku kenakan,'' gerutu Kemal.
''Sudah-sudah, ini pelajari. Aku beri waktu 25 menit untuk kau bisa menguasai materi yang ada di berkas ini,'' ucap Zen memberikan dua berkas yang sedari tadi Ia pegang.
''Kau gila ya, dua puluh menit, singkat sekali,'' protes Kemal.
''Kau ingat nilai mu di sekolah jauh lebih besar ketimbang Daniel,'' bisik Zen, dan Zen berlalu pergi.
''Awas kau Zen,'' gumam Kemal, Ia kembali masuk ke ruangan sang kakak untuk mempelajari isi berkas bahan untuk meeting nya.
.
__ADS_1
.
Daniel yang baru saja sampai pelataran Mansion nya, segera turun dengan kaki yang lebar Ia tak sabar untuk menginterogasi Nadia.
''Selamat datang Tuan muda,'' sapa Linda yang menyambut kedatangan Daniel.
''Ya, panggil Nadia, dan suruh dia temui ku di ruangan kerja Ayah,'' titah Daniel yang langsung berlalu tanpa permisi, wajah Daniel yang datar serta dingin menandakan ada sesuatu yang tidak beres.
Linda pun segera mencari Nadia ke setiap penjuru Mansion, dan ketemu lah Ia di halaman belakang yang sedang mengobrol dengan Dinar.
''Nona muda, Nona Nadia maaf menganggu, ada Tuan Daniel datang dan mencari anda.'' Ucap Linda dengan sopan.
''Benarkah? dimana?'' tanya Nadia dengan senangnya.
''Daniel mencari mu untuk apa?'' tanya Dinar yang nampak heran.
''Entahlah,'' jawab Nadia.
''Sekarang dia dimana, Lin?'' tanya Dinar.
''Katanya, Ia menunggu nya di ruangan kerja Tuan besar, sekarang juga.'' Jawab Linda.
''Baiklah aku akan menemani mu,'' ucap Dinar.
''Maaf Nona muda, Tuan muda hanya memerintahkan saya memanggil Nona Nadia,'' ucap linda dengan tidak enak hati.
''Aneh,'' gumam Dinar.
''Tidak apa-apa ka, aku saja yang menemui Daniel, mungkin dia ingin berbicara empat mata dengan ku,'' ucap Nadia dengan senyum sumringah nya.
''Ya sudahlah, pergi sana, Keburu Daniel menunggu nya terlalu lama,'' ucap Dinar dengan lembut.
''Baik ka, aku masuk dulu,'' Nadia berlalu masuk ke dalam Mansion dengan langkah riangnya.
''Aneh sekali, tidak biasanya Daniel meminta Nadia untuk menemuinya apa lagi hanya berdua,'' gumam Dinar.
''Kalau begitu saya pamit, Nona muda,'' ucap Linda.
''Ya, Terima kasih ya.'' Jawab Dinar dengan lembutnya.
__ADS_1