
Zen melajukan mobilnya meninggalkan tempat piknik tapi Zen terus memperhatikan wajah lelap Linda, entah kenapa matanya terus saja ingin melirik ke arah nya.
'' Kalau kau sedang tertidur seperti ini wajah mu lumayan juga, tapi jika kau terbangun entahlah aku saja sampai muak harus terus menerus berdebat dengan mu,'' ucap Zen dengan bergumam.
Zen membawa mobilnya ke Mansion keluarga Carroll, sampai di sana suasana sudah terlampau larut sepanjang perjalanan pun Linda tidak terbangun dari tidur nya.
Zen turun dari mobil dan mengitari mobil untuk membuka pintu sebelah nya, ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan, membangunkannya atau menggendong nya.
'' Bagaimana ini,'' gumam Zen.
'' Zen, kau sudah pulang? dimana Linda?'' tanya Dinar yang keluar dari Mansion dan menghampiri Zen.
'' Dia di mobil ku ka, kaka bisa bangunkan dia,'' ucap Zen.
'' Bangunkan? kenapa kau tidak menggendong nya saja, lagipula mungkin Linda sangat lelah maka dari itu dia sampai tertidur seperti itu,'' ucapan Dinar membuat Zen tercengang.
'' Menggendong? menggendong dia?'' Dinar mengangguk menjawab pertanyaan Zen.
'' Yang benar saja ka, masa aku menggendong makhluk dugong seperti dia,'' protes Zen.
'' Apa? dugong? kau menyebut Linda dugong? dari sudut mana kau menjuluki nya dugong, Zen.'' Ujar Dinar yang merasa bingung karena Zen menjuluki Linda dengan sebutan yang aneh.
'' Ya karena dia berisik lalu lihat tubuhnya itu berbeda dari wanita pada umumnya,''
'' Zen kau sangat bodoh, tubuh seperti Linda jarang ada yang memilikinya, dia termasuk tubuh ideal Zen, tinggi dan berbody,'' jelas Dinar, sebenarnya Zen pun mengakuinya namun rasa gengsinya terlampau besar.
'' Alaaahh, bilang saja kau tidak kuat untuk membawa Linda,'' ledek Dinar, Zen berdecak kesal karena mendapatkan ejekan seperti itu.
Ucapan Dinar di angpapnya sebuah tantangan bagi dirinya, Zen bersiap untuk menggendong tubuh Linda, menggulung kemeja nya dan membungkuk.
Tapi saat dia ingin menggendong nya, matanya tertuju lagi ke wajah cantik Linda tapi suara deheman Dinar membuat nya mengakhiri nya.
Dengan satu hentakan Zen berhasil membawa Linda ke dalam gendongannya, Dinar tersenyum dengan sejuta makna entahlah apa yang sedang dia pikirkan.
'' Bawa langsung ke kamarnya saja,'' ucap Dinar.
'' Ka,, '' Zen ingin protes namun Dinar mencegahnya dengan memberi tanda diam.
__ADS_1
'' Baiklah,'' pasrahnya, Zen membawa Linda ke arah kamar Linda berada.'' Kau makan apa bisa seberat ini,'' gerutu Zen.
Setelah sudah sampai kamar, Zen membaringkan Linda dengan perlahan dan menyelimutinya. '' Selamat malam Nona dugong,'' ucap Zen, tapi entah kenapa bibirnya terangkat membentuk bulan sabit. '' Aku harap setelah bangun nanti kau akan taubat dan menjadi perempuan lemah lembut,'' ucap Zen dan iapun berlalu keluar dari kamar Linda.
'' Sudah Zen,'' tanya Dinar, '' sudah ka, sesuai perintah mu, kalau begitu aku pamit pulang,'' Zen berlalu dan pergi dengan mobilnya.
'' Aku harap, suatu saat nanti kalian saling peduli,'' gumam Dinar.
Di sebuah kamar di tempat yang berbeda dari Linda yang sudah terlelap.
Seorang wanita terus saja memperhatikan keperubahan tubuh nya di pantulan cermin, ya dia yang tak lain adalah Devita.
'' Kenapa bagian itu sekarang semakin membesar,'' gumamnya.
'' Sepertinya aku salah memakai bra,'' gumamnya lagi.
'' Apa yang sedang kau perhatikan, honey?'' tanya Daniel yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
'' Hah, tidak,'' jawab Devita dengan cepat.
Devita memanyunkan bibirnya karena Daniel menayangkan sesuatu yang membuat dirinya malu. '' Bagian ini,'' jawab Devita menunjuknya dengan mata yang melirik ke buah dadanya.
Daniel tersenyum dan menghampiri nya, berdiri di belakang Devita dan memeluknya.
'' Lalu masalah nya apa?'' tanya Daniel yang sudah mengerti tentang kegelisahan istrinya itu.
'' Masalah nya aku malu,''
'' Kenapa harus malu, malah lebih bagus, karena itu sala satu tempat favorit aku,'' ucap Daniel dengan jahilnya dan membuat Devita tersenyum malu.
'' Daniel, kau nakal,'' cetus Devita. '' Nakal pada istri sendiri tidak masalah bukan?'' jawabnya.
Malam yang dingin karena lagi-lagi bumi di basahi air hujan, dingin menurut para manusia yang tidak memiliki pasangan namun berbeda dengan pasangan yang sudah mengikat janji suci itu.
Pergulatan panas terjadi lagi, Devita yang sudah terbiasa dengan sifat Daniel semakin bisa menyeimbanginya.
Ini sudah ke tiga kalinya Daniel menumpahkan benih cintanya ke rahim istrinya, seakan tidak ada puasnya atau memang Devita yang membuat Daniel kecanduan dengan kemolekan nya itu.
__ADS_1
'' Baiklah ini terakhir untuk malam ini oke, aku harap dia akan segera tumbuh di rahim mu,'' ucap Daniel pada Devita yang sedari tadi meminta nya untuk berhenti karena rasa kantuknya sudah tidak bisa tertahan.
Di akhiri kecupan singkat di seluruh bagian wajah istrinya, akhirnya mereka terlelap dengan di bawah satu selimut yang sama.
.
.
Hari ini ada ujian terakhir di kampus, Devita dan lainnya sudah berada di kampus, ya Devita datang seperti biasa dengan pangeran hatinya.
'' Aku titip istri ku,'' ucap Devita pada Puspa, Puspa mengangguk dan Daniel pun pergi dengan mobilnya.
'' Hari ini ada ujian, kau tau kan,'' ucap Puspa, '' Ya aku tau,'' jawab Devita.
Mereka memasuki kelasnya, gerombolan para wanita pembuat gosip sedang berkumpul membicarakan sesuatu hal yang Devita dan Puspa sama sekali tidak tertarik untuk ikit ke dalam obrolan itu.
'' Hei, Devi, Puspa. Apa kalian tahu, ada Dosen pembimbing baru lho, dan kalian tahu dia itu tampan sekali,'' ucap sala satu mahasiswi yang berkumpul itu.
'' Kalian teruskan saja bergosip nya, kami sama sekali tidak tertarik,'' jawab Puspa dengan ketus.
'' Puspa kau jangan terlalu jual mahal, lihat sahabat mu saja sudah menikah, dan kau malah masih sendiri.'' Ejek yang lain, ya banyak yang tidak tahu kalau Puspa pun sudah memiliki kekasih.
Karena sikap cuek Puspa banyak yang mengira bahwa Puspa tidak menyukai pria melainkan dia menyukai sahabat nya sendiri yaitu Devita.
'' Kalian tidak perlu ikut campur dengan masalah ku, kalian urus saja urusan kalian yang tidak berfaedah itu,'' jawab Puspa dengan tatapan dinginnya dan membuat mereka yang tadi mengejeknya terdiam dengan serentak.
Devita terkekeh melihat sahabat nya mengeluarkan sifat aslinya yang sangat dingin itu, ya pertama kali mengenal nya Devita saja sampai sulit untuk mendengar suara Puspa tapi berbeda dengan sekarang.
'' Sudah Pu, biarkan saja mereka,'' ucap Devita dan di angguki Puspa.
Seorang Rektor memasuki kelas dan membuat semua orang merasa heran kenapa Rektor sampai ke kelasnya.
'' Selamat pagi, saya kesini untuk memperkenalkan Dosen pembimbing kalian yang baru sebelum kalian menghadapi ujian,'' ucap Rektor yang sudah berumur itu.
'' Masuklah,'' ucapnya pada seseorang yang berdiri di ambang pintu.
Semua wanita bersorak terkecuali Devita dan Puspa yang melihat nya sampai terkejut, mata yang melebar dengan mulut yang terbuka.
__ADS_1