
Amaira yang tidak tahu menahu dengan apa yang terjadi bersikap biasa saja, lain dengan Kemal, ia tengah gundah di hatinya Wanita yang selama ini di carinya sudah di temuinya, tapi kenapa harus sekarang kenapa tidak sebelum bertemu dengan Puspa, pikirnya.
Amaira terus berceloteh ria, menceritakan ini dan itu tapi Kemal hanya diam, pikirnya tertuju ke ucapan Jonathan yang mengatakan kalau Puspa adalah calon istrinya, dia sangat marah mendengar itu semua tapi dia benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.
Kemal mengingat wajah Puspa yang penuh dengan air mata saat tadi dia kembali dengan Jonathan, dia tahu Puspa terluka karena dia, tapi dia juga tidak bisa apa-apa.
'Apa yang harus aku lakukan,' batin Kemal.
Sentuhan tangan di pundaknya membuyarkan lamunan Kemal.
'' Kemal, kau kenapa?'' tanya Amaira.
'' Hah, tidak, tidak apa-apa,'' jawabnya.
'' Sedari tadi aku perhatikan kau hanya diam saja, apa kau tidak merindukan ku?'' ujar Amaira dengan wajah sendunya.
'' Rindu, ya aku sangat merindukan mu,'' jawab Kemal dengan pikiran yang tidak ada di tempat.
'' Kau bohong, buktinya sedari tadi kau melamun, kau tidak memperhatikan ku.''
'' Tidak, tidak Maira, bukan seperti itu.''
Kemal kembali diam, ia masih saja memikirkan wajah sedih Puspa dan perkataan Jonathan yang membuat ia meradang.
'' Maira kau tetap disini ya, aku akan keluar sebentar.'' Tanpa menunggu jawaban Amaira, Kemal berlalu tanpa mempedulikan panggilan Amaira yang terus berteriak memanggil namanya.
'' Kemal kenapa sih, seharusnya dia senang bertemu lagi dengan ku, tapi kenapa dia malah pergi,'' gumam Amaira.
Di parkiran apartemen.
Puspa dan Jonathan masih berada di dalam mobil, Puspa yang hanya diam melamun tanpa suara dan tangis, Jonathan sangat paham dengan apa yang di rasakan Puspa saat ini.
Puspa tipe wanita yang tidak akan menceritakan apa yang di rasakan nya walaupun para sahabat nya menanyakan nya sampai berulang kali.
'' Maafkan aku Pu. Aku sudah mengatakan kalau kau calon istri ku dengan lancang, tapi sungguh aku tidak bermaksud apapun,'' ucap Jonathan yang dia kira Puspa akan marah karena mengucapkan hal yang tidak ada.
'' Tidak Jo, aku malah berterima kasih karena kau mau membela ku,'' lirih Puspa.
Saat Jonathan ingin menancapkan pedal gasnya tiba-tiba kaca mobil di ketuk yang ternyata itu adalah Kemal.
'' Puspa, turun sebentar. Aku ingin bicara,'' ucap Kemal dengan tangan yang terus mengetuk kaca mobil.
__ADS_1
'' Pu, apa kau mau bicara dulu dengan Kemal?'' tanya Jonathan, Puspa hanya menggelengkan kepalanya tanpa menjawab maupun menoleh kearah jendela.
Dengan seizin Puspa, Jonathan melajukan mobilnya meninggalkan Kemal yang memanggil-manggil nama Puspa.
Air mata Puspa kembali menetes ia terus mengingat pengakuan Kemal yang mengatakan mereka hanya berteman di hadapan wanita masa lalu nya.
Jonathan bukan membawa Puspa pulang ke rumahnya melainkan pergi ke suatu danau yang sepi dari hirup pikuk jalanan dan penduduk, Danau yang tenang dan indah di sanalah Jonathan membawa Puspa.
'' Jo, aku mau pulang,'' ucap Puspa dengan pelan, bahkan ia tidak ada tenaga untuk sekedar berbicara, karena rasa sakit di hatinya masihlah terasa perih.
'' Kita kesini sebentar, ikutlah,'' Jonathan menuntun Puspa menuju kursi di sebelah pohon yang rimbun.
Puspa hanya menurut tanpa ingin mengucapkan apapun lagi.
Tibalah ia di tempat yang di tuju Jonathan, mereka duduk menghadap danau yang tenang, bukan tanpa sebab Jonathan membawa Puspa ke sini, ia tidak ingin Puspa merasa kesepian di saat hatinya terluka.
'' Berteriaklah dan menangislah jika kau ingin, keluarkan beban dan rasa sakit itu di tempat ini, jika kau membutuhkan sandaran taruhlah kepalamu di pundak ku,'' ucap Jonathan dengan serius.
Puspa beranjak dari duduknya dan melangkah mendekat ke danau, dan ia pun berteriak dengan sekuat tenaga, berharap rasa sakit itu hilang berbarengan dengan teriakan yang dikeluarkan nya.
'' Aaaaaaakkkkkkkhhhhhhhh.'' Puspa berteriak dua kali, tangis nya pun pecah.
Kenangan bersama Kemal melintas terus di ingatan Puspa, ucapan Kemal pun terekam apik di otak Puspa " Dia Puspa, dia teman ku," kata-kata itu yang terus di ingat nya.
'' Kenapa kamu setega itu, Kem.'' Gumam Puspa dengan tangis nya.
Jonathan melangkah mendekati Puspa, ia manarik tubuh Puspa dan membawanya ke dalam dekapannya.
'' Kadang cinta membawa kita ke titik paling indah, dan ada juga yang membawa kita ke titik paling menyedihkan, tapi perlu kau tau seorang pria baik tidak akan melupakan hubungan nya yang dijalaninya begitu saja,'' ujar Jonathan menenangkan Puspa yang masih menangis di pelukan nya.
Ponsel Jonathan berdering, dengan segera ia mengambil nya dari dalam saku celananya, nama Amaira tertera di layar ponselnya.
'' Ya, ada apa?'' jawab Jonathan yang masih memeluk Puspa.
'' Nathan kau dimana,?'' tanya Amaira.
'' Aku, aku masih di jalan bersama Puspa, kenapa?''
'' Kalau kesini, tolong belikan stok makanan ya, di lemari pendingin sudah tidak ada stok, bisa?''
'' Emmm, kalau aku kembali, tapi kalau tidak, kau pergi saja bersama Kemal untuk membelinya, aku tutup dulu,'' saat Jonathan ingin menutupnya, Amaira kembali berucap.
__ADS_1
'' Kemal sudah pergi, Nathan,''
'' Kalau begitu biar aku yang menghubungi nya,'' tanpa mengucapkan salam dan tanpa permisi, Jonathan menutup sambungan telpon dan memasukan kembali ponselnya ke dalam saku celananya.
Hati bagaikan kertas yang bersih jika tercoret walaupun bisa di hapus akan tetap menyisahkan bekas.
Malam kembali datang, seorang pria belum juga memejamkan matanya karena memang bukan jamnya dia tertidur, saat ini masih jam delapan malam, perkataan seseorang selalu terlintas di ingatannya.
'' Monster, kurang ajar sekali dia menyebut ku monster. Memangnya siapa dia,'' gerutunya.
Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke club miliknya, bertujuan untuk menghilangkan apa yang mengganggu pikirannya.
Zen, pria itu yang tak lain adalah Zen, dia sudah berpakaian rapih.
Tapi saat dia membuka pintu, pertama kali yang dilihat nya adalah seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar yang berada di depan kamar nya.
Matanya menatap tajam, entah kenapa ia sangat marah melihat wanita itu keluar dari kamar yang dia tahu pemilik nya adalah pria.
'' Ya sudah kalau begitu aku pulang ya, bye.'' Ucap wanita itu yang ternyata dia adalah Linda.
'' Kau yakin tidak ingin aku antarkan?'' tanya Reksa yang tinggal di kamar depan kamar Zen.
'' Tidak, terima kasih,''
'' Aku yang seharusnya berterima kasih.'' Ucap Reksa mengkoreksi ucapan Linda.
Zen semakin meradang karena percakapan keduanya membuat pikiran Zen jauh entah kemana.
'' Hei, kalau ingin bermesraan setidaknya lihat-lihat sekeliling.'' Bentak Zen, Linda dan Reksa terperanjat kaget dan langsung menoleh ke arah suara itu.
'' Maaf, apa kau bilang, bermesraan?'' tanya Linda.
'' Ya, dan kau kan seorang wanita jangan terlalu murahan, apa gaji dari keluarga Carroll tidak cukup sampai kau mencari uang dengan cara seperti ini,'' hardik Zen.
Tanpa di duga Linda yang sudah melangkah mendeka melayangkan tangannya dan menampar keras pipi Zen yang di tumbuhi rambut halus itu.
'Plaakkk
Nafasnya memburu, Linda menatap Zen dengan sedih, ia tidak menyangka seseorang bisa berbicara seperti itu padanya.
'' Hei bung, kenapa kau selalu turut campur dengan urusan orang lain, apa itu hobi mu,'' jawab Reksa dengan tatapan yang tak kalah tajamnya.
__ADS_1
Tbc..