Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Pertanyaan Jebakan


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...



HAPPY READINGπŸ“–..


🍁🍁🍁


Zen membawa puspa ke kediaman keluarga Maharani yang tak lain adalah rumah milik keluarga Devita.


Rasa heran di diri Puspa pun hinggap, mau apa dia membawa ku kemari? ucapan itu terus terulang di benaknya.


Ingin bertanya tapi Puspa yakin dengan jawaban yang selalu sama itu.


Saat Zen ingin memasukkan mobilnya ke dalam pelataran rumah itu, seseorang berseragam hitam yang di yakini penjaga gerbang mencegat nya.


''Buka,'' ucap Zen dengan tegas.


''Maaf, anda siapa?'' tanya penjaga itu.


''Buka,'' kata itu lagi yang di ucapkan Zen.


''Ada perlu apa anda kemari, biar saya sampaikan terlebih dulu kepada Tuan rumah ini.'' Si penjaga itu tetep keukeuh tidak ingin membukakan gerbang tinggi itu.


''Apa perlu saya tabrakan langsung, ini mobil ke gerbang yang kau jaga itu.'' Zen berucap masih dengan nada dinginnya, Puspa yang melihat dan mendengar langsungpun, bergidik ngeri.


Dengan ucapan dingin Zen si penjaga pun langsung membuka gerbang itu dengan tergesa-gesa.


''Lamban,'' ketus nya.


Zen langsung menancapkan pedal gasnya untuk masuk ke pelataran rumah itu.


''Tuan sebenarnya, kita mau apa kesini?'' sekali lagi Puspa menyakan tujuan Zen datang ke rumah itu tapi sekali lagi Zen pun tidak sama sekali menanggapinya.


''Menyesal aku mengeluarkan suara emas ku ini.'' Hardik Puspa dengan suara pelan, Puspa membuang mukanya dengan wajah yang di tekuk.


''Turun.'' Hanya itu yang Zen ucapkan, tapi Puspa seakan ingin membalas Zen, iapun hanya diam tanpa menanggapi ucapan Zen.


''Turun, kau mau berdiam di dalam mobil?'' ucap Zen dengan nada sedikit meninggi, tapi Puspa masi bungkam tanpa pergerakan.


''Kau tuli?'' tanya Zen dengan nada merendah.


''Aku sedang membalas mu.'' Cetus Puspa, Zen menahan senyumnya, sesungguhnya Zen sangat gemas melihat tingkah polos Puspa.

__ADS_1


''Ya, ya. baiklah maafkan aku, ayo turun.'' Ucapnya dengan lebih lembut lagi. Puspa turun masih dengan wajah ketusnya.


Tidak lama Puspa dan Zen turun, dua mobil berbeda tipe itu masuk dan turunlah para pria yang sangat di kenali Puspa.


'Tuan Daniel, Kemal dan pria itu?' Puspa mengabsen satu persatu pria yang baru saja turun dari mobil tapi dengan satu pria lagi Puspa seperti sedang berusaha mengingat-ingat nya.


''Waahh Nona Puspa, kita ketemu lagi.'' Ucap Terry dengan gaya ciri khas nya.


''Apa kita saling mengenal?'' tanya Puspa.


''Sayang sekali aku di lupakan, apa begitu tidak pentingnya pertemuan kita tempo hari itu, Nona.'' Ucap Terry dengan mimik muka di buat kecewa.


''Bukan, bukan itu maksud ku.'' ..


''Ekhemmm,'' dehem Kemal.


Puspa yang mendengar deheman itu hanya melirik nya sekilas tanpa menyapa Kemal, Terry yang tau setatus mereka berpacaran mengira kalau Kemal dan Puspa sedang mengalami masalah di dalam hubungannya.


''Kau tenang saja Kem, aku tidak akan merebut pacar mu, tapi kalau kau mengizinkan nya ya aku siap.'' Ucap Terry dengan gamblang.


''Pacar?'' ucap Zen dan Daniel berbarengan.


''Ya mereka berpacaran kan, kalian tidak tau.''..


''Sudah-sudah, kenapa membahas kami, kau ada apa menyuruh kita kesini?'' tanya Kemal pada Zen yang berniat untuk mengalihkan pembicaraan Terry.


''Oh ya, kemarilah kalian, kecuali kau.'' Ucap Zen dengan serius dan menunjuk Puspa untuk terkecualiannya.


''Para pria ini, sungguh sangat menyebalkan,'' gumam Puspa.


Di dalam rumah, Santos beserta anak dan istrinya sedang berdiri di balik jendela, keringat mengucur di pelipisnya masing-masing yang menandakan bahwaa mereka sedang gugup serta takut.


''Bagaimana ini pih, Tuan Daniel kemari,'' ucap Sari sang istri pada suaminya.


''Tuan Daniel kesini buat apa mengajak pasukannya ya,'' ucap Santos yang heran.


''Papih berbuat salah tidak?'' tanya Sari lagi.


''Tidak, apa mungkin mereka akan mengusir kita,'' tebak Santos dengan takut.


''Kalau iya, kita akan tinggal dimana Pih.'' Ucap Sari yang semakin takut dengan apa yang di lakukan Daniel dan lainnya.


Chloe hanya menyimak pembicaraan kedua orang tuanya dengan tubuh yang sudah panas dingin.


''Chloe, kau kenapa?'' tanya Santos pada anaknya.


''Aku takut Pih,'' lirih Chloe.


Sari yang melihat anak semata wayangnya ketakutan hanya bisa menenangkan nya dengan cara memeluk nya.


''Berdoa saja Chloe, semoga Tuhan masih berbaik hati pada kita.'' Ucap Sari dengan tangan yang mengusap lembut punggung anaknya.

__ADS_1


Suara gedoran pintu terdengar kencang yang membuat ketiga manusia itu terlonjak kaget, tapi sebisa mungkin Santos yang menjadi kepala keluarga berusaha tenang agar istri dan anaknya pun ikut tenang.


Ceklek


Pintu di buka Santos dari dalam.


''Tuan Daniel, silahkan masuk,'' ucap Santos mempersilahkan.


Tanpa jawaban Daniel dan yang lainnya masuk begitu saja dan langsung duduk di kursi ruang tamu tanpa kata permisi.


Santos dan istri serta anaknya hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah karena melihat wajah sangar Daniel dan ketiga pria lainnya.


Satu pria yang membuat Chloe terpanah, ia adalah Kemal, kegugupannya seakan sirna setelah melihat Kemal dengan sejuta karisma nya.


''Ssttt Chloe buatkan minum,'' bisik Santos tapi Chloe masih saja mengunci tatapan nya pada Kemal.


''Kami kesini bukan untuk meminta minum pada kalian, kami ingin menanyakan sesuatu yang bersifat pribadi.'' Ucap Zen yang memulai pembicaraan.


Santos pun ikut duduk karena ingin tau apa yang akan mereka pertanyakan.


''Silahkan Tuan, kalian ingin menanyakan apa?'' tanya Santos dengan gemetar.


''Dimana orang tua Devita?'' kali ini yang berucap bulan lagi Zen Batla, melainkan Daniel langsung.


''O-orang tua Devita,'' ucapnya dengan gugup.


Daniel maupun yang lainnya tidak menjawab, Santos menarik nafasnya dengan kasar.


''Orang tua Devita yang tidak lain adalah kaka saya sendiri sudah meninggal, Tuan.'' Ucap Santos yang sudah mulai tenang.


''Apa kau yakin?'' tanya Terry.


''Ya Tuan, kami sangat yakin karena mereka kecelakaan mobil dengan kondolisi yang rusak remnya.'' Ucap Sari dengan lantang.


''Lho Bibi, kok Bibi bisa tau kalau rem mobil orang tua Devita blong, sedangkan mobil mereka hangus tidak tersisa karena meledak di dasar jurang.'' Timpal Puspa dengan gamblang.


Santos beserta istrinya membelalak karena ucapan Puspa, mereka mulai gugup dan salah tingkah.


Zen tersenyum miring melihat kegugupan Santos dan istrinya.


''Iya saya tau karena, karena itu,, emmm ya laporan polisi waktu itu.'' Ucap Sari yang semakin gugup.


''Tapi polisi waktu itu tidak menemukan bukti apa-apa Bi.'' Puspa keukeuh dengan keyakinannya.


''Hei, anak kecil kau tau apa, bahkan waktu itu kau belum mengenal Devita kan.'' Ucap Santos dengan mada sedikit membentak.


Brakkk..


''Jaga bicara Anda.'' Bentak Kemal yang tidak terima kalau Puspa du bentak Santos.


''Maaf Tuan,'' lirih Santos.

__ADS_1


__ADS_2