
Rasa bersalah diri Kemal membuat nya seakan selalu menghindar dari keluarga nya, rasa bersalah yang bukan kesalahan nya tapi kesalahan orang tuanya membuat Ia hidup dengan keterpurukan.
Bahkan untuk mendekatkan atau mengakrabkan diri pada Ayah serta kaka-kakanya saja tak mampu, sering sekali Kemal bertekad mengakrabkan dirinya tapi hatinya seakan menolak itu.
Menyendiri, ya itulah yang hanya bisa Kemal lakukan. Sedikit demi sedikit Ia tata kehidupan tanpa dorongan serta dukungan keluarga tapi Ia sangat percaya dengan nasib nya, doa sang ibu di alam sana pun pasti selalu menyertai nya.
Kemal menghela nafasnya dengan gusar, permintaan Puspa sangat lah berat menurutnya, lebih baik menghadapi para penjahat dari pada menghadap Daniel, kakak tirinya.
''Apa aku coba, lagipula ini kali pertama Puspa meminta bantuan ku.'' Gumam Kemal yang sedang meminum koffie favorit nya.
Kemal merogoh saku celanaya untuk mengambil ponselnya. Ragu, ya sebenarnya Ia sangat ragu untuk menghubungi nomor keramat di kontaknya itu, tapi dengan menghela nafasnya dengan pelan Ia meyakini dirinya bahwa ia harus bisa.
Menekan kontak Daniel dengan jari yang gemetar dan menempelkan ke daun telinganya, tidak lama telfonnya tersambung dengan ciri khas Daniel yang hanya berdehem.
''Emmmm,''
Kemal masih diam, membuat Daniel mengernyit heran.
''Ada apa kau menelpon ku,'' tanya Daniel dengan suara dinginnya.
''Ka, kau sedang sibuk tidak, aku ke kantor mu ya,'' jawab Kemal dengan gugup.
Daniel hanya berdehem sebagai jawaban 'iya ke Kemal.
''Ya sudah, aku akan kesana sekarang,'' ucap Kemal, tanpa pamit Daniel memutuskan saluran telpon itu.
__ADS_1
Kemal bernafas lega. ''Akhirnya bisa juga berbicara tanpa kata formal,'' gumam Kemal.
Kemal beranjak dari duduknya dan berlalu pergi untuk datang kekantor sang kakak.
Dadanya berdetak dengan cepat bak seperti ingin bertemu dengan calon mertua, itulah yang cocok untuk menggambarkan perasaan Kemal saat ini, padahal bukan pertama kali Ia akan bertemu Daniel tapi baru kali ini Kemal menemui nya bukan karena pekerjaan melainkan hal pribadi.
Mobilnya sudah terparkir di parkiran khusus tamu perusahaan. Mengatur nafasnya agar lebih tenang, Ia pun turun dengan pemanasan.
Dengan langkah yang yakin Kemal berlalu, banyak karyawan yang menayapa nya dan Kemal hanya tersenyum tipis sebagai jawabannya.
Kini Ia telah sampai di depan pintu sang Ceo yang tak lain adalah kakak tirinya sendiri, mengetuk dengan pelan dan membukanya setelah mendapatkan jawaban.
Daniel tengah serius dengan berkas di tangannya dan mengangkat kepalanya hanya untuk memberikan kode agar Kemal duduk di depannya.
'''Maaf Ka kalau aku mengganggu waktu mu.'' ucap Kemal dengan memulai pembicaraan, Daniel hanya berdehem untuk jawabannya.
''Devita? ada apa dengan dia,'' tanya Daniel dengan nada khawatir.
''Kemarin Puspa meminta ku untuk bertemu dengan nya, dan dia menceritakan semua yang terjadi pada Devita,'' ucap Kemal dengan ragu.
''Pada intinya saja,'' ujar Daniel dengan nada dingin.
''Jadi, kemarin pagi. Nadia menghubungi Devita untuk bertemu,'' Kemal menjeda ucapannya, Daniel memasang telinganya dengan baik tapi ada rasa heran kenapa Nadia ikut serta di perihal Devita.
''Dan Nadia meminta Devita untuk menyerahkan kakak untuk dia,'' ucap Kemal dengan ragu, Kemal melihat Daniel yang sudah merubah Expresinya merasa ragu untuk melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
''Nadia mengucapkan itu,'' ucap Daniel dengan nada tinggi, serta tangan yang menggebrak mejanya.
''Iya ka, itu yang aku dengan dari mulut Puspa,'' lanjutnya.
''Berarti karena ini, Devita tidak mau mengangkat telpon ku beberapa hari ini, dia menjauh dari ku,'' ucap Daniel mengusap wajah dengan gusar.
Kemal melanjutkan ucapannya sesuai dengan yang Puspa sampaikan padanya. Daniel mengeram dengan emosi yang menggebu-gebu, Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang di dengar nya.
Gadis yang di jaganya sedari kecil dan sudah di anggapnya sebagai adik nya sendiri bisa menghancurkan kebahagiaan karena keegoisan nya.
''Maaf ka, tapi kalau aku boleh saran, lebih baik kaka menanyakan terlebih dahulu pada Nadia, jangan menggunakan emosi mu karena itu hanya bisa membuat Devita yang akan di salahkan nantinya,'' saran Kemal.
''Ya kau benar, kau boleh keluar,'' ucap Daniel dan mengusir Kemal dengan arogannya.
Kemal beranjak berdiri dan pamit, langkah Kemal yang sudah mencapai pintu keluar terhenti karena panggilan Daniel lagi.
''Tunggu,''
''Ya ka,''
''Terima kasih atas informasinya,'' ucap Daniel dengan nada yang biasa, Kemal sedikit terkesip karena baru kali ini Daniel berbicara padanya meninggalkan nada dingin serta ketusnya.
''Ya ka Sama-sama,'' jawab Kemal dengan tergagap.
Kemal pun berlalu meninggalkan ruangan Daniel.
__ADS_1
''Nadia kau sudah sangat keterlaluan,'' gumam Daniel dengan geram.
Daniel mencoba menghubungi nomor Devita lagi tapi nomor Devita masih tidak bisa di hubungi.