Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Goncangan Mental


__ADS_3

Budayakan Like sebelum atau setelah Membaca ya aka aka ku tersayang 😊😊


Dan tolong tinggalkan jejak komentar nya doong, biar Author lebih semangat nulisnya 😊😊😊..


Banyak maunya yaaπŸ˜„ iya emang πŸ˜†πŸ˜†


eettt satu lagi,, VOTE nya jangan lupa😁✌✌


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Di kamar, Devita sedang di periksa dengan Atikah yang berprofesi sebagai Psikolog.


Awalnya Devita merasa keberatan tapi dengan Puspa yang terus memberi pengertian akhirnya Devita mau.


Cukup lama Atikah memeriksa Devita, karena kasus seperti yang Devita alami tidaklah mudah untuk menyikapinya, dan akhirnya sesi pertemuan pertama sudah selesai, saat Atikah ingin pulang dengan berbarengan Daniel pun datang.


''Kau sudah mau pulang?'' tanya Daniel pada Atikah.


''Iya Daniel, dan ada yang ingin aku sampaikan pada mu.'' Jawab Atikah, ya dari cara mereka berbicara yang terlihat cukup akrab yang ternyata Atikah ini adalah teman kuliah Daniel yang berbeda jurusan.


Daniel melihat ke arah Devita yang tengah tersenyum ke arahnya, Daniel pun menghampiri Devita yang sedang duduk di ranjangnya.


''Vita, bagaimana keadaan mu?'' tanya Daniel dengan lembut.


''Aku baik-baik saja, Daniel.'' Jawab Devita dengan senyuman nya.


''Ya sudah, Aku mengantarkan Atikah ke depan sebentar ya, kau istirahat lah.'' Ucap Daniel dengan tangan mengelus lembut kepala Devita.


Daniel pun berlalu dari kamar Devita. Bukan hanya ingin mengantarkan Atikah tapi untuk mengetahui keadaan Devita juga.


''Daniel, wanita itu?''..


''Dia calon istri ku.'' Jawab Daniel yang sudah mengerti arah pertanyaan Atikah.


''Emmm, jadi begini. Calon istri mu itu, mengalami goncangan di mentalnya. Tapi kau tak usah khawatir karena ini bersifat biasa karena suatu hal yang membuat dirinya ketakutan yang teramat dalam, dan itu lah yang menjadi pemicu nya.'' Jelas Atikah dengan serius.


''Lalu aku harus bagaimana? apa ada perawatan khusus untuk Devita.'' Daniel terlihat sangat khawatir dengan keadaan Devita, terlebih lagi Daniel memang tau apa yang di alami Devita dari Puspa langsung.


''Sudah ku bilang kau tidak perlu khawatir dengan berlebihan seperti itu, kondisinya bisa stabil kalau ada seseorang yang selalu memberikan kenyamanan di dirinya.'' ..

__ADS_1


''Apa aku bisa,'' Gumam Daniel.


''Bisa, sangat bisa. Karena sedari aku memeriksa nya dia selalu menyelipkan nama mu di jawaban-jawaban yang aku tanyakan itu.'' Ucapan Atikah seperti angin segar menerpa dirinya, hatinya tengah berbunga-bunga karena hanya dengan ucapan sederhana Atikah.


''Baiklah, Kalau begitu terima kasih, nanti aku transfer ke Rekening mu langsung.'' Ucap Daniel masih dengan wajah yang datar walau hatinya tengah berbunga-bunga.


''Tidak perlu sungkan pada ku, kalau begitu aku pamit.'' Atikah pun berlalu dari Apartemen Devita.


Daniel kembali ke kamar Devita, dengan terus melengkung kan bibirnya, moodnya kali ini sungguh bagus.


''Daniel.'' Ucap Devita saat melihat kedatangan Daniel.


''Kau sudah makan?'' tanya Daniel setelah duduk di depan Devita.


''Sudah, Puspa yang buatkan.'' Jawab Devita dengan semangat.


Daniel menoleh ke arah Puspa yang sedang duduk di sofa kamar.


''Terima kasih ya, kau sudah mengurus Devita di kala aku sedang tidak ada.'' Ucap Daniel dengan tulus.


''Aah iy-iya, Devita sudah seperti saudara ku sendiri, tidak perlu sungkan.'' Jawab Puspa dengan kikuk.


...''Isshh, kenapa jantung ku berdebar sih melihat wajah tampan Daniel, haiiissshh Puspa kau jangan sampai menjadi ular, sadar Puspa, Daniel adalah milik Devita, hanya milik Devita.'' Batin Puspa tengah berperang dengan pikiran nya....


''Ya kau Hati-hati, dan satu lagi jangan panggil aku 'Tuan, karena kau bukan pekerja ku.'' Ucap Daniel dengan tegas.


''Lalu aku harus panggil apa?'' gumam Puspa.


''Panggil aku dengan, panggilan Kakak saja,'' ucap Daniel lagi.


''Hah Kakak? emmm,, baiklah.'' Jawab Puspa dan Ia pun beranjak dari duduk nya.


''Pu, Terima kasih ya, dan hati-hati.'' Ucap Devita dengan lembut, Puspa hanya tersenyum dan mengangguk untuk sebagai jawabannya.


Puspa pun berlalu dari kamar Devita. Puspa merasa senang melihat senyum di wajah Devita, entah kenapa Ia merasa kedekatan nya dengan Devita tidak lagi dengan sebatas persahabatan melainkan persaudaraan.


Saat ini Puspa sedang berada di lift menuju lantai dasar, dan saat pintu lift telah sampai di lantai dasar tepatnya di lobby, pintu lift terbuka Puspa tidak menyadari seseorang yang ada di hadapannya yang tengah mentapnya dengan tatapan tak biasa.


Ya sudah menjadi kebiasaan Puspa kala berjalan Ia selalu menundukan kepalanya, sampai tidak tau siapa yang tengah berdiri di hadapnnya, saat Puspa ingin melewati seseorang itu dan tangannya pun dicekal lembut.

__ADS_1


Puspa melirik tangannya, dan melihat tangan besar siapa yang tengah memegangnya.


''Tuan koffie.'' Ucap Puspa dengan malas.


Ya seseorang itu adalah Kemal yang di panggilnya dengan sebutan Tuan koffie.


''Hadeehh, masih saja memanggil ku dengan sebutan itu,'' gumam Kemal.


''Kau sedang apa disini?'' tanya Kemal.


''Apa urusan mu,'' ketus Puspa.


''Aku bertanya?''..


''Habis menemani Devita,'' jawab Puspa dengan wajah datarnya.


''Devita, dia tinggal disini juga?'' tanya Kemal.


''Ya iyalah, Tuan koffie yang menyebalkan,'' geram Puspa karena pertanyaan Kemal yang menurut nya sangat tidak bermutu.


Kemal terkekeh melihat wajah kesal Puspa.


''Kau lucu kalau lagi kesal.'' Ceplos Kemal dengan tangan menyubit pelan hidung kecil Puspa.


Dengan cepat Puspa menangkis tangan Kemal yang masih menyubit hidungnya itu.


''Sakit ih,'' ketusnya.


''Kau ingin kemana?'' tanya Kemal.


''Ya mau pulang,'' jawab nya.


''Oke, biar ku antar.'' Kemal menarik tangan Puspa menuju tempat mobilnya terparkir.


''Lepas, aku bisa pulang sendiri.'' Tolak Puspa dengan tegas, dia mencoba melepaskan tangan Kemal namun tidak bisa.


''Aku tidak suka penolakan.'' Ucap Kemal dengan tegas.


''Aku juga tidak suka pemaksaan.'' Jawab Puspa tidak kalah tegasnya, namun tidak membuat Kemal melepaskan nya, dan malah memaksa Puspa untuk masuk ke mobilnya.

__ADS_1


''Dasar pemaksa,'' ketus Puspa setelah masuk ke mobil Kemal.


''Bukannya enakan di paksa.'' Goda Kemal dengan jailnya, Puspa hanya memutar bola matanya malas.


__ADS_2