
Keadaan Devita memburuk, Mahendra juga tidak hentinya berusaha mencari pendonor dengan di bantu Reno tentunya.
Di Mansion Carroll
Nadia masih bersujud di kaki Daniel, Daniel mundur dari tempat ia semula.
''Cih, jangan menyentuh ku dengannya tangan kotor mu,'' hardik Daniel pada Nadia.
''Daniel tolong Maafkan aku, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,'' ucap Nadia dengan tangisnya.
''Daniel tolong maafkan aku, Aku akan memberikan darah ku untuk Devita tapi aku mohon jangan laporkan aku ke polisi,''
Daniel tidak menjawab nya ia hanya diam, Zen yang melihat kebisuan Daniel segera menghampiri nya.
''Niel, dia sudah masuk ke jebakan kita, apa yang kau tunggu lagi. Devita membutuhkan darah itu sekarang juga.'' Bisik Zen di daun telinga Daniel, tapi Daniel masih diam.
Ponsel Daniel berdering, yang ternyata dari Mahendra yang mengatakan bahwa kondisi Devita kian memburuk.
Hati Daniel seperti di hujam belati, betapa hancurnya dia mendengarnya.
'Tapi aku tidak mau darah wanita itu mengalir di darah Devita,' batin Daniel.
''Ada apa?'' tanya Zen yang melihat wajah Daniel terlihat panik dan khawatir.
''Keadaan Devita memburuk,'' jawab Daniel dengan tatapan kosongnya.
''Apa! terus kenapa kau diam seperti itu.'' Ujar Zen yang meninggikan suaranya.
''Ada apa Zen?'' tanya Dinar dengan khawatir.
''Keadaan Devita memburuk ka,'' jawab Zen yang gelisah.
''Astaga,'' Dinar ikut mengkhawatirkan keadaan Devita.
''Sudah, cepat Nadia ikut dengan ku,'' ucap Zen yang sudah tidak sabar karena melihat Daniel yang tidak mau bertindak.
''Tapi aku tidak rela darah dia yg ikut mengalir di darah Devita!!'' ucap Daniel yang meninggikan suaranya.
''Terus kita harus bagaimana, kau mau Devita kehilangan nyawanya!!'' Zen juga tidak mau kalah, kedua pria itu terus bersitegang.
__ADS_1
Kemal dan Dinar hanya bisa melihat perseteruan Zen dan Daniel, Daniel yang keras kepala dan Zen yang sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
''Maaf Nona muda, memangnya darah Apa yang di butuhkan Nona Devita?'' tanya Linda.
''Rh-null,'' bukan Dinar yang menjawabnya tapi Kemal yang menyahutinya.
''Kalau kalian mengizinkan, saya siap menjadi pendonornya,'' ucapan Linda membuat semua menoleh tak terkecuali Daniel dan Zen yang sedang bersitegang itu ikut menoleh.
''Kau mempunyai darah, Rh-null?'' tanya Zen dan Linda hanya mengangguk yakin.
''Daniel kalau kau tidak mau darah Nadia mengalir di tubuh Devita, kali ini kau tidak punya pilihan lagi, Linda siap memberikan darahnya,'' timpal Linda.
''Linda Terima kasih, aku berhutang budi dengan ini,'' ucap Daniel.
''Tidak Tuan, saya ikhlas,'' jawab Linda dengan tulus.
Mereka pergi membawa Linda ke Rumah Sakit tempat Devita berada, sebelumnya Daniel sudah Memerintahkan orang suruhannya untuk menahan Nadia di ruang bawah tanah agar tidak bisa kabur.
Dinar bernafas lega dan ia tidak hentinya juga berterima kasih pada Linda yang sudah berbaik hati mau mendonorkan darahnya untuk Devita.
'Wanita itu mempunyai darah Rh-null, bukannya darah itu hanya dimiliki orang berdarah biru yang artinya bukan orang sembarangan,' batin Zen.
''Daniel, keadaan Devita memburuk,'' ucap Mahendra yang terlihat putus asa.
''Paman tidak perlu khawatir, saya sudah menemukan pendonor untuk Devita,'' jawab Daniel dengan nada lembut.
''Benarkah, siapa dia? aku harus berterima kasih,''
''Dia paman,'' tunjuk Daniel ke arah Linda yang berdiri di samping Dinar.
''Nak' Terima kasih atas kebaikan mu, aku berhutang budi padamu,''
''Tidak paman, saya hanya membantu,''
Linda langsung di bawa ke ruangan pengecekan kesehatan untuk memastikan Linda sehat dan darahnya stabil.
Setelah Linda di cek kesehatan nya dan hasilnya sehat semua, Linda langsung di bawa untuk pengambilan darahnya.
Tiga kantung darah yang di ambil dari Linda yang memerlukan waktu sekitar satu jam lamanya.
__ADS_1
Daniel tidak bisa tenang sebelum keadaan Devita membaik, Mahendra yang melihat wajah khawatir Daniel hanya tersenyum karena itu yang membuat Mahendra yakin dengan Daniel untuk menjadi suami dari anaknya.
Dinar dan Kemal sudah berpamitan untuk pulang, Kemal yang di perintahkan Daniel untuk mengantarkan kakaknya pulang karena tidak ada yang menemani sang Ayah yang keadaan nya belum benar-benar pulih.
Linda sudah selesai mendonorkan darahnya, wajahnya terlihat pucat karena bukan sedikit darahnya yang di ambil untuk Devita tapi Tiga kantung darah yang keluar dari tubuh Linda.
''Linda, saya sangat berterima kasih atas bantuan mu,'' ucap Daniel lagi.
''Iya Tuan, kalau begitu saya harus pamit pulang, karena harys menjaga tuan besar,'' ucap Linda yang ingin beranjak dari brangkar.
''Maaf Nona, Nona harus di infus untuk memulihkan keadaan Nona,'' ucap suster yang menjaga di ruangan itu.
''Sudah Linda kau istirahatlah, ada ka Dinar yang menjaga Ayah disana,''
''Kalau begitu saya keluar dulu, da kau Zen, kau harus tetap disini.'' Tegas Daniel.
''Tapi..'' Ucapan Zen langsung di potong Daniel.
''Tidak ada penolakan, jaga Linda dengan baik,'' setelah mengucapkan itu, Daniel langsung berlalu keluar dari ruangan meninggalkan Zen dan Linda disana.
''Saya pamit keluar dulu, permisi,'' suster disana pun ikut keluar dan kini di ruangan hanya ada Zen dan Linda.
Zen yang cuek hanya diam dengan memainkan ponselnya di sofa sudut ruangan.
Keadaan Ruangan itu cukup sunyi, Linda merasa canggung karena posisi dia yang berbaring dan ada Zen di satu ruangan bersamanya.
''Ekhemmm,'' Linda berdehem.
''Tuan Zen,'' panggil Linda, Zen hanya berdehem pelan untuk menyahutinya.
''Aku ingin meminta maaf atas kesalahan ku tempo hari yang telah memecahkan figura itu,'' ucap Linda dengan tegas.
''Emmmm,'' hanya itu yang keluar dari mulut Zen.
''Apa kau memafkan ku?'' tanya Linda.
''Emmmm,'' lagi-lagi hanya itu yang Zen ucapkan.
'Menyesal aku meminta maaf, kalau hanya itu yang menjadi jawabnnya,' gerutu Linda dalam hati.
__ADS_1