Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Nomor Pilisi


__ADS_3

''Rh-null? Nadia.'' Cetus Zen, Daniel yang mendengar ucapan Zen langsung menoleh dengan cepat, Ia juga baru ingat bahwa Nadia memang memiliki darah yang sama yang di ucapkan Dokter itu.


''Jika ada yang memiliki darah yang sama, segera lah bawa, karena kita membutuhkan nya dengan segara, kalau tidak keadaan pasien akan memburuk,'' setelah mengucapkan itu, Dokter muda itu pamit undur diri untuk memeriksa pasien lain.


''Aku tidak akan membiarkan darah gadis itu mengalir di darah Devita,'' gumam Daniel.


''Hubungi Ayah Devita, bagaimana pun dia harus tahu keadaan anaknya,'' ucap Zen.


Daniel menghela nafasnya dengan kasar, dan memberikan ponselnya ke Zen.


''Apa?'' tanya Zen yang heran karena Daniel memberikan ponselnya padanya.


''Wakilkan aku menghubungi tuan Mahendra, aku tidak tega memberi tahunya,'' jawab Daniel dengan suara pelan.


''Punya hati juga kau,'' ketus Zen yang langsung mengambil ponsel Daniel dari tangannya.


Daniel berlalu pergi memasuki ruangan dimana tempat Devita berada.


Zen menghubungi nomor Mahendra.


''Selamat siang, Apa ini dengan Tuan Mahendra,'' ucap Zen dengan sopan.


Zen pun mengatakan apa yang terjadi, Mahendra yang terkejut dan tidak ada lagi suara dari sebrang sana, tapi beberapa menit kemudian ada seseorang yang berbicara disana.


''Dengan siapa disana?'' tanya orang itu dengan nada datar.


''Anda siapa?'' tegas Zen.


''Saya kepercayaan Tuan Mahendra, anda siapa? ada apa?''


Zen kembali mengucapkan tujuan dia menelpon, setelah mendengar ucapan Zen orang itu berterima kasih dan memutuskan sambungan telpon itu.

__ADS_1


''Daniel lainnya,'' gerutu Zen saat telponnya diputus dari sana.


Kemal menghampiri Zen yang sedang bergerutu itu.


''Ada apa? bagaimana keadaan Devita?'' dia membutuhkan transfusi darah secepatnya,'' jawab Zen.


''Lalu?''


''Masalahnya, darah yang di milik Devita sangat langka, orang tuan dari Devita mempunyai riwayat jantung, dan yang memiliki darah yang sama adalah orang yang akan kita eksekusi,'' ucap Zen dengan nyeleneh.


''Nadia?'' Zen mengangguk.


''Aku Sangat yakin, ini juga ulah Nadia.'' Duga Zen.


''Akupun sama yang menduga dialah dalang dari musibah ini,'' timpal Kemal.


Kejadian ini membuat Daniel dan yang lainnya terpukul, apalagi Ayah kandung dari Devita, jantungnya kumat setelah mendengar berita bahwa anaknya sedang nerada di rumah sakit karena kecelakaan.


Daniel menatap wajah pucat di depannya dengan tatapan sedihnya, ia menyalahkan diri sendiri karena lagi-lagi Devita mengalami musibah tanpa ada Daniel di sampingnya.


Tangan yang menggenggam erat tangan yang tertancap jarung infus itu seakan tidak ingin melepaskan nya barang sekejap.


''Aku akan berusaha mencarikan darah itu, sayang.'' Ucap Daniel dengan lembut.


Zen Kemal dan Puspa masuk ke ruangan itu.


''Sebar pengumuman ke semua prusahaan ku, kalau kita membutuhkan darah Rh-null secepatnya, dan kita akan memberikan imbalan yang pantas akan hal itu,'' tegas Daniel memerintah Zen.


Dengan sigap Zen langsung menyebarkan pengumuman, dan di jadikan beruta utama di kalangan perusahaan dan bisnis.


''Aku akan menghubungi semua mahasiswa fakultas di kampus ku,'' timpal Puspa.

__ADS_1


''Aku akan menghubungi semua teman-teman ku,'' ucap Kemal yang ikut menyibukan diri untuk mencari orang yang memiliki darah Rh-null.


Sudah beberapa jam mereka menyebarkan berita kalau mereka membutuhkan transfusi darah belum juga ada kabar karena memang darah yang di miliki Devita sangatlah langka.


Bahkan orang suruhan Daniel mendatangi kediaman Santos, paman dari Devita, tapi mereka sama sekali tidak ada yang memiliki darah yang sama dengan Devita.


Mahendra sudah datang dan langsung mendatangi ruangan yang saat ini Devita sedang terbaring lemas di sana.


''Tuan Mahendra,'' sapa Daniel dengan sopan.


Di ruangan itu terdapat Daniel dan Puspa yang sedang memantau keadaan Devita, sedangkan Zen dan Kemal sedang berusaha mencari darah itu ke semua bank darah.


Mahendra menepuk bahu Daniel dan langsung beralih ke Devita.


''Sebenarnya apa yang terjadi?'' tanya Mahendra dengan suara seraknya.


''Ayah,'' panggil Puspa.


''Puspa, ada apa?'' tanya Mahendra lagi.


''Saat kami keluar dari cafe depan kampus dan ingin menyebrang jalan untuk kembali ke kampus, ada sebuah mobil yang tiba-tiba melintas, Puspa yang posisinya ada ada di belakang Devita hanya terserempet tapi Devita yang posisinya tepat di depan mobil itu terpental jauh dari posisi semuala.'' Jawab Puspa.


''Lalu pelakunya?''


''Dia melarikan diri dengan mobilnya, tapi aku sempat melihat dan mencatat nomor polisi kendaraan nya,'' Puspa berucap dengan cepat.


''Berikan padaku,'' timpal Daniel.


Pusat langsung memberikan ponselnya yang terdapat sebuah note bertuliskan nomor polisi kendaraan pelaku.


''Tuan, saya pamit sebentar,'' pamit Daniel setelah mencatat nomor polisi itu.

__ADS_1


Mahendra mengangguk lemah, dan Daniel pun berlalu keluar dari ruangan itu.


__ADS_2