Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Dekapan yang Berarti


__ADS_3

Di sebuah mobil hitam jenis BMW yang ada di sebrang jalan ada seorang pria berpakaian rapih seperti biasa yang tak lain adalah Zen Batla, ternyata sejak mobil Linda di berhentikan dengan mobil yang ternyata itu milik mantan kekasihnya, Zen menyaksikan nya dengan tatapan tajamnya.


'' Ck, pria tidak tau diri,'' gumam Zen.


Setelah mobil milik Frizi pergi, Zen memutar kemudinya memasuki kantor milik Linda dengan santainya.


Karena penampilan Zen yang sangat formal, membuat Penjaga kantor mempersilahkan Zen masuk dengan sangat hormat walaupun dia tidak mempunyai kepentingan di sana.


Zen yang sudah mengetahui dimana letak ruangan Linda, berjalan dengan gagahnya menuju pintu kaca yang di mana memang itulah ruangan Linda.


Sebelum masuk ia mengetuknya dan masuk walaupun belum mendapatkan jawaban dari Linda.


Banyak yang mengira kalau pria tampan yang datang ke kantor Linda adalah kekasihnya karena yang berani masuk tanpa mendapatkan sahutan Linda sudah di pastikan bukan orang asing.


'' Saya belum mengizinkan anda masuk, kan?'' ucap Linda yang belum mengangkat kepalanya dan belum melihat siapa yang datang ke kantornya.


'' Saya tidak perduli,'' jawab Zidan, tangan Linda yang sibuk menandatangani beberapa berkas seketika berhenti dan perlahan ia mengangkat wajahnya karena ingin melihat pemilik suara yang tidak asing itu.


Tatapan tajam terhunus dari mata Linda yang mengarah ke Zen yang sedang berdiri di depannya yang hanya terhalang oleh meja kerjanya.


'' Ada apa kau kesini?'' tanya Linda dengan ketus.


'' Apa saya mengganggu?'' tanya Zen yang duduk tanpa permisi maupun tanpa di ijinkan.


'' Tuan Zen yang terhormat, maaf saya sedang sibuk, mohon jangan mengganggu saya,'' ucap Linda setelah menghela nafas nya dengan panjang.


'' Oke baiklah,'' ucap Zen yang duduk dengan tenang juga memainkan ponselnya yang dia ambil dari saku celana nya.


Linda menatap nya bingung yang dia kira Zen akan pergi tapi tidak, Zen malah duduk dengan menyilang kan kakinya dan duduk tanpa melakukan apapun.


'' Astaga,'' geram Linda yang sudah kesal dengan tingkah Zen.


'' Kenapa?'' tanya Zen tanpa menatap Linda.


'' Tuan, saya kan sudah mengatakan kalau jangan mengganggu saya, saya sedang sibuk,'' ucap Linda.


'' Nona Linda, saya tidak mengganggu kamu, saya hanya duduk tanpa bersuara, mengganggu darimana nya,'' elak Zen, Linda memutar matanya karena jengah dan mau tidak mau Linda hanya pasrah dengan apa yang Zen lakukan.


'' Terserah,'' pasrah Linda yang kembali melanjutkan mengerjakan pekerjaan nya.

__ADS_1


Tanpa Linda tau Zen diam-diam meliriknya dengan tatapan yang bahkan sangat sulit di artikan.


Tidak terasa waktu sudah memasuki jamnya makan siang, Linda berlalu tanpa mengucapkan apapun pada Zen yang masih duduk di hadapan nya.


Zen melihatnya dengan tatapan aneh, dan sebelum Linda membuka pintu ruangannya untuk keluar Zen sudah lebih dulu menyusul nya dan menahan Linda agar tidak pergi meninggalkan nya.


'' Ingin kemana kamu? Kenapa kamu pergi tanpa mengucapkan apapun,'' ucap Zen dengan tangan yang menahan daun pintu.


'' Tuan, ini sudah waktunya makan siang, saya lapar, tolong anda menyingkir dari hadapan saya,''


'' Kenapa kau bersikap seperti ini,'' ucap Zen dengan tatapan mengintimidasi.


'' Ada apa dengan sikap ku,''


'' Memangnya kau pikir aku mau apa ke negara ini dan pergi ke kantor mu, hanya untuk duduk seperti patung, hm?''


'' Tapi aku tidak memintanya,''


Zen yang sudah tidak lagi menahan dirinya langsung menarik tangan Linda dan mendekapnya erat.


Linda yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya diam tapa berontakan, tapi saat dia tersadar Linda pun memberontak tapi dengan dekapan Zen yang sangat erat itu membuat Linda kesulitan untuk lepas dari kungkuhan Zen.


Linda terdiam dan menutup matanya karena ingin tahu apa yang di maksud Zen, rasakan dan apa yang aku rasakan.


Tapi saat diaa meresapinya ada yang aneh di dalam dirinya karena debaran jantungnya tidak seperti biasanya.


'' Kalau kau tidak merasakan apapun, saya akan pergi tanpa ingin menengok kebelakang lagi,'' lirih Zen.


Entah kenapa tangan Linda bergerak dengan sendirinya dan membalas pelukan Zen dan membuat Zen tersenyum di balik tubuh Linda.


'' Saya tidak yakin dengan apa yang saya rasakan, tapi kalau boleh jujur saya tidak bisa jauh dari kamu,'' ucap Zen lagi dan membuat Linda langsung melepaskan pelukan Zen.


Akhirnya pelukan itu terlepas karena Zen yang sudah tidak memeluknya dengan erat.


'' Maksud dari ucapan mu apa?'' tanya Linda.


Zen berjalan menuju jendela yang langsung menghadap ke pergedungan lainnya.


'' Entahlah, tapi sejak saya memutuskan untuk membenci mu, ada sesuatu yang menjanggal di dalam hati saya sendiri yang bahkan saya tidak tahu persis itu apa.'' Jawab Zen dengan membelakangi Linda yang masih berdiri di dekat pintu.

__ADS_1


Tapi saat Linda ingin menjawabnya, tiba-tiba pintu terbuka dan tampaklah seorang pria tua yang berdiri menatap bingung dengan hadirnya seorang pria yang tidak dia kenal.


'' Paman,'' ucap Linda.


'' Oh maaf kamu sedang ada tamu ya, maaf paman tidak tahu,'' ucap Pria tua itu yang ternyata paman Arnes paman Linda sendiri.


'' Tidak paman, memangnya ada apa?'' tanya Linda.


'' Ada masalah di pembangunan infrastruktur kita,'' jawab Arnes.


Zen terus memperhatikan paman dan keponakan yang sedang berbincang itu dalam diam.


'' Masalah? masalah apa?'' tanya Linda yang khawatir.


'' Karena kurangnya bahan yang di sebabkan korupsi pihak pertanggungjawaban pengurus sebagian pembangunan runtuh dan membuat beberapa pekerjaan mengalami luka-luka,'' ucap Arnes yang menjeda ucapan nya.


'' Dan kau tau Lin, kita mengalami kerugian yang sangat besar,'' lanjut Arnes.


'' Astaga, lalu kita harus bagaimana paman,''


'' Kamu tenang saja, paman akan segera urus, kau urus bagian ganti rugi untuk pengobatan pekerja saja oke, biar paman yang terjun langsung ke lapangan.'' Ucap Arnes dan di angguki langsung oleh Linda.


Arnes pun berlalu pergi, Linda beralih menatap kembali ke arah Zen yang sedari tadi menatap Arnes dengan tatapan yang entah apa arti dari tatapan itu.


'' Lebih baik kita pergi makan dulu, aku sudah sangat lapar,'' ucap Linda yang berhasil membuat Zen langsung tersadar dari lamunannya.


'' Aaah iya,'' jawab Zen yang kembali dengan suara dingin nya.


Mereka berjalan dengan beriringan, dari mulai keluar ruangan Linda sampai ke lobby kantor, banyak yang menatap mereka berdua dengan rasa kagum karena mereka merasa Linda dan Zen adalah pasangan kekasih yang sangat serasi.


'' Pakai mobil ku saja,'' ucap Zen yang menghentikan langkah Linda yang akan menuju mobilnya.


Linda menghela nafasnya dengan kasar dan menurut berbalik menuju mobil sewaan Zen.


Sepanjang perjalanan Zen hanya diam saja, dan tentu nya membuat Linda merasa sangat Canggung.


'' Lebih baik aku naik mobil ku sendiri kalau bersama dia saja sudah seperti sendirian,'' gumam Linda dalam hati.


TBC...

__ADS_1


__ADS_2