
Pertanyaan Gadis yang nernama Risa itu membuat Dimas salah tingkah, dia hanya diam dengan mata yang tertuju ke arah Devita yang tengah tersenyum ke arah Daniel.
''Baiklah kalau begitu, kami pamit dulu. Permisi.'' Ucap Daniel den tangan yang menggandeng Devita.
''Saya duluan ya Nona Risa, bye.'' Pamit Devita pada Risa.
Sepeninggalnya Daniel dan Devita, Dimas masih diam dan Risa yang melihat nya merasa heran dengan sikap Dimas.
''Ka Dimas, kau kenapa?'' tanya Risa yang ikut menarik kursi dan duduk di depan Dimas.
''Tidak apa-apa, Risa.'' Jawab Dimas dengan senyum yang di paksakan.
''Oh ya, Sandra mana? dia tidak jadi ikut?'' tanya Dimas mengalihkan pembicaraan.
''Sandra tidak jadi ikut karena ada kelas dadakan.'' Jawabnya.
''Ka jawab, kamu kenal Devita?'' tanya Risa lagi.
Dimas menghela nafasnya perlahan.
''Iya, pria itu Daniel adalah teman lama ku di kampus saat di Los Angeles, dan gadis itu adik tingkat ku saat aku berkuliah di universitas Amsterdam sebelum aku pindah ke Los Angeles.'' Jawab Dimas, Risa yang mendengar nya hanya ber'oh ria saja tanpa ada pertanyaan lagi.
Dimas adalah pria yang pernah dekat dengan Devita saat Devita baru saja masuk ke Universitas, dan Dimas juga pria yang pertama kalinya membuat Devita merasakan kenyaman tapi sayangnya Ia belum tau arti kata cinta saat itu, tapi Dimas pindah dari kampus itu tanpa pamit Devita yang membuat gadis itu merasakan kehilangan dan patah hati.
Di sebuah taxi menuju Bandara Soekarno-Hatta.
Daniel yang memiliki kecemburuan tingkat dewa masih diam karena rasa cemburunya saat tadi di restoran.
''Vita,''
''Ya,''
''Darimana kau kenal Dimas, apa dia mantan kekasih mu?'' tanya Daniel tanpa menatap Devita.
''Yang benar saja, mantan kekasih. Aku saja baru pertama kalinya berpacaran ya itu dengan kamu, Daniel.'' Jawab Devita dengan lantang.
''Lalu, Dimas?''
''Dia kakak tingkat ku di kampus dulu sampai akhirnya dia pindah dari sana,'' jawabnya.
''Apa Dimas, pria yang waktu itu pernah kau ceritakan.''
''Iya kau benar, kenapa? kau marah Daniel?'' tanya Devita.
''Tidak, aku hanya tidak suka melihat mu dekat dengan nya.''
Devita terkekeh mendengar ucapan Daniel, Ia baru menyadari kalau pria arogan yang berada di sampingnya ternyata sedang cemburu dengan nya.
__ADS_1
''Kau tak perlu cemburu Daniel, kita hanya bertemu tanpa di sengaja saja.'' Ucap Devita mengusap lengan Daniel dan menyenderkan kepalanya di bahu Daniel.
Dengan sekejap Daniel luluh dan melupakan rasa kesalnya karena tingkah manja Devita.
''Oh ya Vita, beberapa hari lagi aku akan kembali kesini.'' Ucap Daniel yang baru saja mengingat sesuatu.
''Kesini, mau apa?''
''Rekan kolega ku akan melangsungkan pernikahannya, dan aku harus menghadirinya, kau mau ikut dengan ku.''
''Emmmm, kita liat saja nanti, aku takut tidak sempat karena akan ada tugas yang menumpuk karena lamanya aku cuti.'' Jawab Devita, Daniel mengangguk tanda mengerti.
.
.
.
Di berbeda negara.
Puspa saat ini baru saja mengikuti kelasnya dan harus izin pulang karena ada kabar bahwa sang Mama masuk Rumah Sakit.
Dengan langkah yang tergesa-gesa, Puspa menuju parkiran yang sudah ada taxi yang di pesannya.
''Mama semoga kau baik-baik saja,'' gumamnya dengan cemas.
''Ya Jo.''
''Kau izin pulang? kenapa?'' tanya Jonathan.
''Mama masuk rumah sakit, Jo.'' jawabnya.
''Astaga, aku akan menyusul mu, kau yang tenang ya.'' Ucap Jonathan dan terputus lah salurannya setelah Puspa meng'iyakannya.
Perasaan Puspa sedang kalut saat ini, tidak lama taxi yang di tumpanginya telah Sampai di Rumah Sakit tujuannya, setelah membayar ongkosnya, Puspa dengan berlari menuju meja resepsionis untuk menanyakan letak dimana ruang rawat sang Mama.
Ceklek
Puspa membuka pintu dengan perlahan, alisnya mengernyit merasa heran karena ada wanita paruhbaya yang menemani sang Mama di dalamnya.
''Mah,'' panggil Puspa.
''Sayang, kau tidak kuliah?'' tanya sang Mama.
''Aku izin begitu mendapatkan kabar kalau Mama masuk Rumah Sakit, Mama sakit apa?'' ucap Puspa dengan wajah khawatir nya.
''Mama hanya kelelahan saja, oh ya sapa bibi Jenny dong.'' Ucap sang Mama.
__ADS_1
''Oh ya Bi, Terima kasih sudah menemani Mama saya.'' Ucap Puspa dengan ramah.
''Sama-sama cantik,'' jawabnya.
''Anak kamu cantik sekali, Pe.'' Ucap Jenny.
''Terima kasih, Bi.'' Puspa tersipu karena di puji.
''Anak Bibi laki-laki, seperti nya cocok dengan mu.'' Ucap Jenny.
''Aah iya benar Jen, perkenalkan saja dengan anak gadis ku.'' Timpal Mama Puspa.
''Iya Pe, sepertinya cocok, kau mau ya bibi kenalkan dengan anak Bibi.'' Ucap Jenny dengan harap.
Puspa hanya tersenyum tanpa berniat meng'iyakan ucapan wanita paruhbaya itu.
'Apa-apan mereka ini, aku sangat tahu ujung dari pembicaraan ini.' Gerutu Puspa dalam hati.
Deringan ponselnya membuat Puspa menghela nafasnya lega, karena bisa terbebas dari pembicaraan para orang tua.
''Mah, Bi. aku angkat telepon dulu ya.'' Pamit Puspa, dan di iyakan dua wanita paruhbaya itu.
Puspa berlalu keluar kamar untuk mengangkat saluran telpon diponsel nya, nama Kemal yang terdapat di sana.
''Kem,'' ucapnya setelah tersambung.
''Kau ada kelas hari ini?'' tanya Kemal.
''Aah i-iya, kenapa?'' jawab Puspa dengan ragu.
''Aku ingin mengajak mu makan siang, nanti saat makan siang aku jemput ya.''
''Haah, emmm bagaimana ya Kem, aku tidak bisa janji soalnya ada kelas tambahan.''
''Oh begitu ya, ya sudah kalau sudah tidak ada kelas lagi, tolong kabari aku ya,'' ucap Kemal dengan lembut.
''Iya Kem, kalau gitu aku tutup ya.'' Setelah di iyakan Kemal, saluran telpon terputus.
''Kalau aku jujur, pasti Kemal akan menyusul ku, haaaah aku belum siap memperkenalkan Kemal pada Mama.'' Gumam Puspa.
ββββ
Dengan yang ingin tahu nama Dimas Risa dan Sandra itu siapa, itu nama nama yang aku sangkut pautkan dengan novel ku sendiri di MANISNYA CERITA CINTA.
Dan aku juga ingin minta saran pada kalian kalau aku ganti Cover dengan ini πππππ bagus gaaa??? menurut kalian bagaimana???
__ADS_1
Saran nya pleaseeeπππππ