
Beberapa hari yang lalu Devita sudah di pulangkan, dan ia harus bed rest untuk beberapa hari tapi Daniel tidak mengajaknya ke apartemennya Melainkan ke mansion utama karena alasan agar ada yang memantaunya kala ia berangkat ke kantor.
Keluarga mengurus Devita dengan sangat baik terutama Dinar juga Puspa yang selalu memantau makan dan selalu menemani Devita kala sedang jenuh karena harus berada di atas tempat tidur.
Berbeda dengan Linda yang memang notabene nya wanita karir bahkan untuk waktu berleha-leha saja jarang sekali karena memang ia harus mengurus perusahaan peninggalan orangtuanya, Linda sudah berulang kali meminta Zen untuk membantunya untuk mengurus perusahaan namun Zen masih belum siap karena malu.
Zen selalu menolaknya karena belum percaya diri, ia juga tidak ingin di sebut pria menumpang hidup dengan istrinya.
'' Dev, makan buah dulu ya,'' ucap Puspa yang baru saja masuk ke kamar Devita.
'' Pu, kamu tidak perlu repot-repot begini dong, kamu juga kan butuh istirahat, apalagi sekarang kamu juga sedang mengandung,'' ucap Devita karena merasa tidak enak hati.
'' Sahabat ku sekaligus kakak ipar ku yang cantik, menyiapkan buah saja tidak membuat aku lelah kok, kau tenang saja.'' Ucap Puspa.
'' Kamu ini memang seperti itu, tidak pernah mau mendengarkan ucapan ku,''
'' Sudah jangan kau tekuk wajah mu itu apa kamu tidak takut anak mu tidak mengenali wajah ibunya sendiri, lebih baik kau makan buahnya, oke.'' Ucap Puspa menggoda Devita.
Devita pun menurut memakan buah yang di siapkan Puspa.
'' Pu aku ke kamar ku dulu ya, sebentar kok. Sudah tidak tahan ingin buang air,'' ucap Puspa.
'' Ya sudah sana,'' Puspa berlalu keluar dari kamar Devita menuju kamarnya dengan Kemal yang letaknya hanya berada di samping kamar Devita dan Daniel.
Tidak berselang lama seseorang masuk ke dalam kamar Devita yang membuat Devita mengeluarkan keringat dingin pasalnya yang ia tahu orang yang masuk ke kamarnya itu sangat membenci dirinya.
'' Kau tidak perlu takut seperti itu, saya hanya ingin memberikan ini, siapa tau kau membutuhkan nya,'' ucapnya dengan ketus dan menaruh beberapa paperbag ke atas kasur Devita.
'' Te-terimakasih Bu,'' ucap Devita dengan gugup.
Ya dia adalah ibu Mirna, ibu kandung Daniel yang bahkan belum pernah menyapa Devita namun hari ini baru pertama kalinya Mirna masuk dan bicara dengan Devita.
Mirna melirik makhluk kecil yang sedang tertidur di samping Devita dengan lucunya.
'' Suami mu memberikan nama apa pada anaknya?'' tanya Mirna dengan nada yang melembut dan dengan mata yang terus terfokus pada wajah mungil si bayi.
'' Da-David Guetta Carroll, Bu.'' Jawab Devita masih dengan rasa gugupnya.
'' Oh ya sudah, saya keluar dulu ada urusan penting,'' ucap Mirna dengan ketus dan berlalu pergi keluar kamar Devita.
Devita bernafas lega karena ibu mertuanya tidak melakukan apapun. '' Aku terlalu parno, tapi ibu Mirna kenapa tiba-tiba baik pada ku,'' gumam Devita.
Devita melirik beberapa paperbag yang tadi ibu mertuanya berikan, saat tangannya ingin menjangkau paperbag itu pintu terbuka dan ternyata Dinar yang masuk.
__ADS_1
'' Dev kamu mau apa?'' tanya Dinar.
'' Tidak ka, lho Kaka tidak ke butik?''
'' Nanti siangan kakak ke butik nya,'' jawab Dinar, ekor mata Dinar melirik paperbag yang ada di ranjang Devita.
'' Apa ini, Dev?'' tanya Dinar yang langsung melihat isi paperbag itu, tapi jawaban Devita membuat tangannya berhenti sejenak.
'' Entahlah kak, tadi ibu yang memberikan nya,'' jawab Devita.
'' Ibu? ibu siapa yang kau maksud?''
'' Ibu Mirna,''
'' Hah? kau yakin, ibu kesini dan memberikan ini?'' tanya Dinar memastikan kalau Devita berbicara dengan Sebenarnya.
'' Iya aku yakin kak, sebelum kakak masuk ke kamar ibu sudah keluar beberapa menit yang lalu, memangnya isi paperbag itu apa kak?''
Dinar terdiam sejenak namun bibir nya terangkat membentuk bulan sabit dan menjawab,
'' Ini sepertinya ibu membelikan pakaian untuk baby David, dan beberapa mainan,'' jawabnya dengan wajah yang sumringah.
Devita terdiam, ia merasa aneh dengan sikap mertuanya itu.
'' Tadi ibu hanya menanyakan nama bayi nya saja ka lalu berpamitan untuk pergi katanya ada urusan,''
'' Semoga adanya kejadian hari ini membuat keluarga ku utuh kembali,'' gumam Dinar.
'' Kaka kenapa?''
'' Ah tidak, ya sudah kakak berangkat ke butik ya, nanti kakak panggilkan Puspa untuk menemani mu,'' ucap Dinar dan Devita hanya mengangguk kepalanya.
Dinar berjalan dengan perasaan yang bahagia, entah karena yang di ucapkan Devita atau karena faktor lain hanya Dinar lah yang tau.
Saat Dinar ingin masuk ke dalam mobilnya ada mobil lain yang baru saja berhenti dan parkir tepat di belakang mobil Dinar dan membuat Dinar mengurungkan dirinya untuk masuk ke dalam mobil.
Keluarlah seorang pria tampan dari dalam mobil yang baru saja datang itu.
'' Selamat pagi,'' sapa orang itu yang tak lain adalah Reno.
'' Ren, mau menjenguk Devita ya? Maaf ya Kakak tinggal, mau ke butik soalnya,'' ucap Dinar yang akan masuk ke mobilnya namun Reno segera menghalangi nya.
'' Aku kesini selain untuk bertemu Devita, juga ingin menemui mu,'' ucap Reno dengan nada dinginnya.
__ADS_1
'' Haha, menemui ku? Ya sudah ayo duduk, ada apa sih Ren?'' ucap Dinar yang langsung menutup pintu mobilnya dan berjalan ke kursi yang ada di taman depan mansion.
Reno berjalan mengikuti langkah Dinar dan duduk di sebelah Dinar.
Sejenak Reno terdiam mengumpulkan keberanian untuk bicara sesuatu tapi saat mulutnya ingin mengucapkan sesuatu ada mobil taxi yang masuk ke pelataran mansion.
Sontak Dinar dan Reno menoleh secara bersamaan. Keluarlah seorang wanita dari kursi penumpang dan berteriak menyapa Dinar.
'' Selamat pagi nona Dinar!'' ucap Orang itu yang ternyata adalah Chloe.
Reno menghela nafasnya dengan panjang karena niat nya untuk mengucapkan sesuatu harus tertunda lagi.
Dinar tidak menjawab sapaan Chloe, ia hanya menjawab dengan senyum manisnya, Reno melirik wajah Dinar dan paham kenapa Dinar tidak menjawab sapaan Chloe.
'' Kau tenang saja, dia sudah berubah tidak seperti dulu lagi, hubungan nya dengan Devita sudah membaik.'' Ucap Reno dengan pelan dan membuat Dinar menoleh ke arah Reno.
'' Kau sangat tau tentang dia ya?''
'' Ya tidak banyak, hanya tau saja,'' Dinar menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Chloe melangkah menghampiri Dinar yang di lihatnya sedang bersama seseorang.
'' Maaf nona Dinar pagi-pagi saya sudah kesini, karena saya ingin menengok Devita,'' ucap Chloe dengan sopan.
'' Oh tidak apa kok, langsung masuk saja, Devita ada di kamarnya kok, apa mau aku antarkan?''
'' Oh tidak perlu Nona, biar saya saja yang kesana,'' jawab Chloe, matanya melirik seseorang yang duduk di sebelah Dinar dengan posisi badan yang sedikit membungkuk dengan tangan yang mengepal tangan yang lainnya tanpa menolah ke arahnya.
'' Lho tuan Reno, apa kabar tuan?'' sapa Chloe setelah mengetahui kalau pria itu adalah Reno.
'' Hah? oh saya baik, kamu?''
'' Saya juga baik, tuan juga mau bertemu dengan Devita ya? mau bareng?''
'' Ah? oh kamu duluan saja, saya ada urusan sebentar,'' jawab Reno yang menolak untuk pergi meninggalkan Dinar.
'' Ren jangan seperti itu, lebih baik kau antarkan Chloe dulu untuk ke kamar Devita, Chloe kan baru ke sini, dia tidak tahu letak kamar Devita kan,''
Reno melirik Dinar dengan tajam dan Dinar hanya memberikan anggukan kecil dari kepalanya dan mau tidak mau, Reno menuruti perintah Dinar. '' Baiklah,'' pasrah Reno yang harus gagal untuk menyampaikan sesuatu pada Dinar.
Reno pun berlalu bersama Chloe meninggalkan Dinar, niat hati ingin menunggu Reno kembali tapi ia harus segera pergi ke butik karena menerima panggilan dari manager butik yang mengatakan kalau ada orang penting yang ingin bertemu dengan nya.
TBC...
__ADS_1