
Devita tengah menunggu teleponnya tersambung, sudah beberapa kali Devita terus menghubungi nomor Daniel tapi tak kunjung di angkat.
''Bagaimana? tidak dijawab kah?'' tanya Puspa yang memang menemani Devita di kursi taman kampus.
''Tidak, entahlah dia sendiri yang mengatakan aku harus mengabarinya jika kelas sudah tidak ada, tapi dia sendiri yang menghilang,'' gerutu Devita dengan wajah yang di tekuk.
''Kemal pun sama, biasanya dia tidak seperti ini.'' Dengus Puspa yang sesari tadi ikut menghubungi Kemal namun tidak ada jawaban.
''Kemal?'' Devita langsung menoleh ke samping dengan rasa herannya.
Puspa mengigit bibir bawahnya, ya Puspa belum memberi tahu tentang setatusnya sekarang dengan Kemal.
''Ya sudah kita ke Toko naik taxi saja ya,'' ajak Puspa mengalihkan pembicaraan, Devita yang merasa aneh dengan tingkah Puspa hanya mengangguk sembari memperhatikan gerak-gerik Puspa yang terlihat seperti merahasiakan sesuatu.
Sepanjang perjalanan Devita maupun Puspa terus berusaha menghubungi pacarnya masing-masing, tapi sesekali Devita melirik Puspa.
''Pu, kau berhutang penjelasan,'' ucapan Devita mengejutkan Puspa yang sedang asik dengan ponselnya.
''Penjelasan apa,'' jawab Puspa berlagak acuh.
Devita memicing curiga, dia menahan untuk tidak bertanya lagi sampai di toko nanti.
Beberapa saat kemudian taxi yang di tumpangi Devita dan Puspa berhenti tepat di depan Toko, setelah membayar Devita dan Puspa masuk ke toko yang sudah tertata rapih.
''Siapa yang di toko?'' tanya Devita heran, karena memang Ia tidak mengetahui perihal Citra yang sekarang ikut membantu di Toko.
''Citra, dia mahasiswa beasiswa yang di kucilkan di kampus, kau pasti mengenal nya,'' jawab Puspa.
''Citra, seperti tidak asing,'' gumam Devita.
__ADS_1
.
.
Di RS, Daniel dan yang lainnya sedang cemas menunggu dokter yang membawa sang Ayah ke ruang ICU.
''Sebenarnya apa yang terjadi ka?'' tanya Daniel dengan suara meninggi.
''Kaka juga tidak tahu, Niel.'' Dinar menjawab dengan wajah cemas.
''Daniel, kau tenang ya, berdoa saja semoga Ayah baik-baik saja,'' timpal Nadia mengusap lengan Daniel.
Kemal terduduk lumayan jauh dari mereka, Ia menatap dengan pikiran yang melayang, walau Ia tak dekat dengan Ayah-nya seperti mereka, Ia tetap menyayangi sang Ayah.
Seorang Dokter kepercayaan keluarga Carroll keluar dari ruangan tempet di periksanya Tuan besar Carroll.
Daniel melangkahkan kakinya namun bersamaan Kemal pun ikut melangkah, tapi Kemal mengurungkan niatnya karena memang yang di maksud bukan dia melainkan Daniel kakak tirinya anak yang lebih sah di mata hukum.
Kemal kembali mendudukkan dirinya di kursi, saat kaki Daniel sudah memasuki ruangan, Daniel membalikkan tubuhnya menatap kemal yang sedang tertunduk.
''Hey bodoh, pria tua itu Ayah mu juga kan, masuk.'' Ucap Daniel dengan tidak ramah, tapi membuat Kemal terkesip begitu juga Dinar dan yang lainnya.
''Aku?'' tunjuk Kemal pada dirinya sendiri.
Daniel tidak menjawab, Ia hanya diam dan melangkahkan kakinya ke dalam ruangan dokter.
''Kem Ayo sama kakak, kakak juga ingin tahu,'' ajak Dinar dan di angguki Kemal.
Di ruangan Daniel sudah duduk bersebrangan dengan Dokter yang menangani sang Ayah, dengan disusul Dinar dan Kemal yang ikut duduk.
__ADS_1
''Jadi begini, Tuan besar seperti nya menelan sesuatu yang menyebabkan beliau saat ini kritis tapi untunglah kalian membawanya dengan segera,'' jelas Dokter.
Daniel Dinar dan Kemal merasa bingung dengan ucapan Dokter itu, sesuatu? sesuatu apa? pikir mereka.
''Sesuatu apa, jangan berbelit-belit, intinya saja.'' Ucap Daniel dengan wajah dinginnya.
''Semacam racun, namun kita belum memastikan racun apa itu sebelum di periksa dengan lanjut, tapi syukurnya beliau sudah bisa di tangani namun bisa saja kondisinya memburuk kembali.'' Lajutnya, penjelasan Dokter membuat ketiga kaka beradik itu terkejut bukan main.
''Racun?'' ujar Daniel dengan suara meninggi.
''Iya Tuan,''
''Racun, tapi kan Ayah hanya memakan sarapan yang aku buat tadi,'' gumam Dinar tidak percaya dengan apa yang terjadi.
''Hey, kau cek CCTV mansion, sekarang juga.'' Perintah Daniel untuk Kemal, Kemal mengangguk cepat.
Kemal berlalu pergi keluar dari ruangan dokter itu.
''Daniel, bukan kaka yang meracuni Ayah,'' ucap Dinar dengan tangisnya, Ia merasa bersalah karena kecerobohannya membuat mereka hampir saja kehilangan nyawa sang Ayah.
''Aku tau bukan kamu ka, kita lihat hasil kerja anak itu,'' ucap Daniel berusaha tenang.
''Tapi siapa Niel? pokoknya aku tidak ingin tahu, kau hukum pelakunya dengan setimpal.'' Ada raut kemarahan di setiap wajah Dinar.
Daniel sangat murka mendengar insiden yang terjadi pada Ayah nya terlihat dari tangan Ia yang mengepal kuat sampai urat tangan terlihat jelas di kulit bersihnya.
Kemal menuju parkiran dan masuk ke mobilnya mengambil laptop yang sudah tersambung di sistem CCTV yang terpasang di Mansion itu.
Awal baik-baik saja yang dilihatnya tapi ada yang aneh di saat Dinar membuat susu untuk sang Ayah.
__ADS_1