
Suasana ruangan Zen kembali sunyi, Daniel Zen dan Kemal masing-masing mengunci mulutnya. Kemal berdehem mencairkan suasana.
''Ekhemmm,''
''Apa kita harus merencanakan siasat,'' ucap Kemal, Daniel dan Zen bertukar pandang dan tidak lama mereka saling memalingkan wajahnya.
''Kau punya ide?'' tanya Daniel yang masih memalingkan wajahnya.
''Bertanya dengan siapa kau ini,'' sindir Zen.
''Yang mempunyai telinga normal,'' ucap Daniel menjawab sindiran Zen.
''Cih,''
Kemal terkekeh geli melihatnya, tingkah mereka tidak sesuai dengan usianya yang sudah menginjak kepala tiga, saat mereka bertengkar seperti balik lagi ke usia remajanya.
''Kalau kau mau tau, siapa yang sebenarnya ada di balik ini semua, kenapa tidak mengecek orang rumah mu dulu,'' ucap Zen.
Daniel menoleh, alis tebalnya menyatu karena heran, kenapa Zen bisa berbicara seperti itu. ''Maksud mu apa? kau menuduh kakak ku!!'' Bentak Daniel.
''Memangnya orang yang tinggal disana hanya Ka Dinar?'' ucap Zen yang sengaja bertanya seperti itu.
'Yang tinggal di Mansion? kakak? para penjaga dan Maid, wanita itu, atau,,,, Nadia?' mata Daniel membelalak setelah mengabsen nama satu persatu yang menempati Mansion dan dengan nama yang terakhir ia langsung terkejut.
''Apa yang sebenarnya kau tau, Zen?'' tanya Daniel.
''Banyak, tapi kau menutup mata akan hal itu,'' jawab Zen sekenanya.
__ADS_1
''Ya apa!!'' Daniel membentak Zen lagi yang menurutnya tidak ingin langsung to the point.
''Di orang yang sama, yang pernah mendorong Bi Mirna waktu kita masih usia remaja, dia juga orang yang sama, yang pernah dengan sengaja mencampurkan obar pencahar ke makanan ku, dia juga orang yang sama, yang pernah mengasut mu agar membenci Kemal, dan terakhir..'' Zen menggantung ucapnnya.
''Dia orang yang sama, yang telah mencoba memisahkan dirimu dengan Devita,'' ucapan Zen membuat dunia Daniel seakan berhenti, dia yang sangat tahu siapa yang di maksud Zen hanya bisa menggeleng kan kepala karena rasa tidak menyangka dan rasa tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
''Nadia,'' lirih Daniel.
''Ya dia, gadis yang pernah mengidap depresi berat saat kecil dulu,'' ucap Zen lagi.
''Kau yakin, Zen?'' tanya Kemal yang sama tidak percaya nya dengan Daniel.
Karena faktor iba, Daniel dan Kemal menutup mata dengan semua kesalahan yang Nadia lakukan sedari dulu, mereka selalu memaafkan kala Nadia datang dengan air mata yang mengalir di wajah lagunya.
''Mungkin dulu kau hanya mengelak dan mengatakan kalau itu semua kenakalan remaja, tapi perlu kau ingat Daniel, Nadia bukan lagi remaja, dia bahkan seusia Devita saat ini.'' Ucap Zen lagi yang berusaha menyadarkan Daniel.
''Kau selalu membelanya, dan efek dari sikap mu yaaa seperti sekarang, dia bahkan berani mencampuri hubungan asmara mu kan,'' lanjutnya.
Daniel dan Kemal masih diam tidak percya, gadis yang selama ini di anggapnya gadis lugu, baik, manis tapi di belakng mereka, Nadia tidak seperti apa yang di lihat nya.
''Kau ingat, aku pernah mengatakan kalau aku melihat Nadia membawa Toni ke kamarnya saat tengah malam sehari setelah pernikahan Dinar dan Toni, tapi kau menganggap aku membual.'' Zen terus mengabsen semua kesalahan serta kemunafikan Nadia.
''Jadi selama ini, orang yang kita cari ada di lingkungan kita sendiri,'' cetus Kemal.
''Tepat,'' jawab Zen dengan cepat.
''Pantas saja, kemarin dia menyuruh ku untuk merebut Devita dari dirimu ka, dan mengatakan aku tidak boleh mengalah pada mu,'' ucapan Kemal membuat Daniel semakin merasa kecewa pada sosok gadis yang sudah di anggapnya adik sendiri itu.
__ADS_1
Tangan yang mengepal, rahang yang mengeras dan mata yang memerah itulah reaksi Daniel saat ini, perlu di ingat lagi, Daniel mengutuk pada kata, Penghianatan!!
''Terus apa yang akan kita lakukan untuk membongkar kebusukannya,'' ujar Kemal.
''Memancingnya, seperti kita ketahui, Nadia memiliki riwayat depresi berat saat kecil, kita hanya memancing agar dia meluapkan emosinya dan kita akan tahu motif dia apa, dan mengakui kesalahannya.'' ucap Zen.
''Apa itu tidak membahayakan nyawanya?'' tanya Kemal.
''Aku tidak peduli dengan nyawa dia sekarang, bila perlu aku yang akan menjadi malaikat pencabut nyawa untuk nya,'' geram Daniel.
Kemal yang melihat sisi iblis Daniel hanya bisa bergidik ngeri, membayangkan Daniel yang akan menghabisi nyawa Nadia dengan sadisnya, karena pernah sekali Kemal menyaksikan langsung, Daniel menyiksa seseorang sampai orang itu menghembuskan nafas terakhir nya.
'*Men*gerikan.' gumam Kemal.
'Kebusukan mu telah terbongkar, Nadia.' batin Zen.
Ponsel Kemal berdering dengan nyaring membuat Daniel menatapnya dengan calang.
''Maaf, aku mengangkat telpon dulu,'' izin Kemal.
''Ya Mpus, ada apa?'' tanya Kemal berbisik setelah ia mengangkat telponnya.
''Apaa, bagaimana bisa, iya aku akan kesana,'' ucap Kemal dengan panik.
''Kau kirimkan alamat Rumah Sakitnya sekarang ya,'' sambungan terputus setelah Puspa yang telah menelponnya mengatakan 'iya.
''Ada apa Kem?'' tanya Zen yang melihat wajah pucat Kemal karena panik.
__ADS_1