Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Manusia Salju


__ADS_3

Dinar sudah menyiapkan Tiga kotak makan untuk adik-adiknya, Daniel, Zen dan Kemal.


Dinar juga memerintahkan Linda untuk mengantarkan dua kotak makan untuk Daniel dan Zen, sebenarnya hatinya enggan untuk menjalankan perintah dari Nona mudanya, tapi mau bagaimana lagi ini adalah suatu perintah yang harus di laksanakan.


Linda gadis berusia 28 tahun yang mengabdi pada keluarga Carroll semenjak Ia kecil sampai sekarang, karena rasa balas budi pada Tuan besar Frans Carroll Ayah dari Dinar Daniel dan Kemal, Frans yang pernah menyelamatkan hidup Linda kecil sewaktu Ia hampir menjadi korban pelecehan Ayah kandung nya sendiri.


Linda berangkat ke perusahaan CR Corp dengan menggunakan mobil yang di khususkan untuk nya, menyetir sendiri tanpa supir, itulah Linda wanita tangguh dan mandiri kepercayaan anggota keluarga Carroll.


Linda memparkirkan mobilnya di parkiran khusus tamu prusahaan, berjalan dengan mibawa seorang wanita dengan paper bag di tangannya, security kantor yang sangat kenal dengan lebih Linda menyapa nya dengan hormat begitu juga para karyawan yang menunduk hormat pada Linda.


Tibalah Linda di depan pintu ruangan Zen, dengan mengetuk hanya dua kali, Zen langsung membukakan pintunya dengan wajah yang biasa Ia tunjukkan pada siapapun, datar.


''Selamat siang tuan Zen, maaf menganggu waktunya, saya kesini hanya untuk mengantarkan makan siang atas perintah Nona muda Dinar.'' Ucap Devita dengan memberikan paperbag pada Zen.


''Masuklah, saya ada urusan sebentar ke ruangan Tuan Daniel,'' ucap Zen yang langsung berlalu pergi tapi langkahnya terhenti karena panggilan Linda.


''Tunggu Tuan, maaf saya juga membawa bekal untuk Tuan Daniel, bisa saya minta tolong sekalian anda membawanya untuk Tuan Daniel,'' ucap Linda dengan ramah.


''Kau punya tangan dan kaki kan, kenapa tidak memberikan nya sendiri,'' ucap Zen begitu ketusnya dan berllau pergi meninggalkan Linda.


''Menyebalkan sekali manusia salju itu,'' gerutu Linda yang langsung masuk ke ruangan Zen.


Memisahkan kotak makan untuk Zen di atas meja dan bersiap untuk keluar lagi dari ruangan Zen, namun langkahnya terhenti karena tidak sengaja menangkap bingkai foto yang berada di atas tumpukan kertas-kertas dengan posisi terlungkap di atas meja yang sama Ia menaruh kotak makan itu.


Alis mata nya menyatu karena ada foto seorang gadis di sana yang Ia tidak pernah melihat ataupun mengenalnya.


''Foto siapa ini,'' ucap Linda.


''Apa tugas mu untuk memeriksa apa yang bukan urusan mu juga,'' suara besar mengejutkan Linda sehingga bingkai foto itu terlepas dari tangannya dan jatuh kelantai dan pecah pada bagian kacanya.


Mata Zen memerah, marah melihat bingkai kaca itu pecah karena Linda.

__ADS_1


''Kau sungguh lancang!!'' bentak Zen yang langsung melangkah mendekat.


Linda ingin membereskan nya tapi lagi lagi bentakan Zen yang di dengarnya.


''Berhenti, kau pergi dari ruangan ku!!'' bentak Zen lagi.


''Maafkan saya Tuan,'' ucap Linda yang merasa bersalah namun masih memasang wajah datarnya.


Zen tidak menjawab permintaan maaf Linda, Ia membereskan kaca bingkai yang pecah dan menaruhnya kembali ke atas meja.


''Maaf sekali lagi, saya permisi,'' Linda berlalu pergi dari ruangan Zen.


''Astaga apa yang ku lukakan, kenapa tiba-tiba aku tertarik untuk melihat sesuatu yang bukan urusan ku,'' Linda merutuki kebodohannya sendiri.


Saat linda sudah berada di depan runagn Daniel, sekertaris Daniel mengatakan kalau Daniel sedang ada tamu, Linda yang tidak ingin mengganggunya akhirnya menitipkan paperbagnya pada sekertaris Daniel.


Rasa ingin cepat-cepat pergi dari perusahaan itu menggebu-gebu.


''Maafkan aku, bingkai buatan mu jadi rusak, nanti aku akan memperbaikinya ok.'' Ucap Zen pada bingkai foto yang terdapat potret seorang gadis itu.


.


.


.


Di Cafe depan Kampus, Devita dan Puspa sedang makan siang dengan sesekali mengobrol dengan tawa-tawa kecil.


''Sungguh Dev, kau bersikap seperti itu?'' tanya Puspa dengan rasa terkejutnya.


''Iya Pu, aku juga tidak menduga kalau bisa bersikap seperti itu pada Nadia.'' Jawab Devita dengan tawanya.

__ADS_1


''Hahaha, biarkan lah, itu sangat bagus. Biar dia tahu posisinya.'' Ucap Puspa yang mendukung sikap Devita.


Mata Puspa tertuju pada pintu masuk dan seorang pria yang sedang berjalan menuju ke arahnya.


''Kemal,'' ucap Puspa dengan senyumnya.


Devita langsung menoleh ke arah pandang Puspa.


''Kemal, kau mengundangnya?'' tanya Devita pada Puspa.


''Tidak, aku hanya menjawab pertanyaan nya, yang bertanya aku sedang dimana,'' jawab Puspa dan Devita hanya mengangguk.


''Hai,'' sapa Kemal yang langsung duduk di samping Puspa.


''Kenapa kamu kesini?'' tanya Puspa.


''Rindu, tidak ada alasan lagi selain itu,'' jawab Kemal.


Devita yang belum tahu tentang hubungan Puspa dengan Kemal yang sebenarnya hanya memasang wajah bingungnya.


''Tunggu-tunggu, kalian..?'' ucapannya tergantung, Puspa hanya tersenyum simpul dan menganggukan kepalanya.


Devita terkejut bukan main, mulutnya yg terbuka dan mata yang membesar menggambarkan dirinya yang benar-benar terkejut karena baru tahu setatus hubungan mereka.


''Kau keterlaluan Pu, aku tidak tahu hal ini,'' ucap Devita memasang wajah kecewanya.


''Maaf ya Dev, aku juga baru menerimanya kok,'' ucap Puspa.


''Iya Dev, sebelumnya aku hanya di training saja.'' Timpal Kemal.


''Maksudnya?''

__ADS_1


Kemal pun menceritakan semuanya, tawa Devita menggema karena merasa gemas dengan sikap sahabat nya yang menerima Kemal dengan percobaan.


__ADS_2