Cinta CEO Arrogant

Cinta CEO Arrogant
Senyum dalam Luka


__ADS_3

...Jangan takut untuk berkata jujur walaupun yang mendengar nya akan terluka, tapi dengan kebohongan yang di ucapkannya akan membuat kekecewaan yang mendalam di hatinya....


^^^^^^Daniel Carroll.^^^^^^


...----------------...


Kecewa, pasti!


Tapi Daniel berusaha tenang, agar hubungan nya bersama Devita tidak mengalami masalah, Daniel bersikap dewasa kali ini, jiwa egois serta arogannya menghilang sementara.


''Coba kau menoleh menagarah arah jam dua,'' ucap Daniel dengan lembut.


Devita yang disana terlihat terkejut dan mengikuti perkataan Daniel, mata Devita membelalak, rasa takut dan khawatir kalau Daniel akan marah sangatlah besar.


''Daniel,'' lirih Devita.


Jonathan yang mendengar ucapan Devita dan melihat tatapan Devita mencoba mengikuti arah pandang Devita.


Jonathan tidak kalah terkejut nya dari Devita, ia menolwg lagi ke arah Devita, rasa bersalah timbul di hati Jonathan.


''Jo, Dev. Mama minta maaf ya, Bibi Perly mengirimkan pesan meminta di temani ke klinik,'' ucap Jenny, Devita hanta diam tidak menjawabnya, pikirannya kacau saat ini.


''Iya mah, tidak apa-apa, kami masih ingin disini,'' jawab Jonathan dan di angguki Jenny, Jenny memeluk tubuh Devita dan Jonathan secara bergantian dan setelah itu ia berlalu pergi meninggalkan Jonathan dan Devita.


Devita berlari menghampiri Daniel yang masih berdiri terpaku di tempat.


''Daniel, maafkan aku,'' lirih Devita setelah sampai di depan Daniel.


Daniel tersenyum tapi senyuman itu bukan senyuman yang biasa Devita terima, tapi senyuman yang menyembunyikan rasa kecewanya.


''Daniel, aku tidak bermaksud membohongi mu, aku hanya takut kau melarang ku dan marah pada ku,'' ucap Devita yang sangat merasa bersalah.

__ADS_1


''Aku tau kau tidak bermaksud, dan aku juga tidak marah padamu,'' jawab Daniel dengan tangan mengusap pucuk kepala Devita.


''Daniel jangan seperti ini, aku malah semakin merasa bersalah pada mu,'' lirih Devita yang sedang menyembunyikan air matanya dengan menundukkan kepalanya.


Daniel yang tahu bahwa Devita sangat merasa bersalah dan saat ini sedang menyembunyikan tangisnya merasa tidak tega, dan alhasil Daniel pun menyembunyikan rasa kecewanya dalam senyuman nya.


''Sudahlah tidak perlu menangis seperti itu, aku tau kau tidak sengaja melakukan nya,'' Daniel menarik tubuh Devita ke dalam pelukannya.


Sakit di dadanya ganya Daniel lah yang bisa rasakan, senyum dalam luka itulah yang pantas menggambarkan suasana hatinya saat ini.


Daniel memeluk tubuh Devita dengan eratnya, Devita yang sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya akhirnya suara isakan terdengar juga ke telinga Daniel.


Tatapan kecewa beberapa orang yang tadi mengagumi sosok Daniel terlihat, mereka kecewa karena sosok dewa Yunani yang di kaguminya ternyata sudah memiliki kekasih yang saat ini berada dalam pelukan mesranya.


Jonathan yang melihat Daniel memeluk Devita dengan sayang, merasa ada sesuatu di dirinya yang berontak tidak Terima melihat gadis yang di sukainya di dekap orang lain.


Tapi dia sadar cinta Devita bukanlah untuk nya, Jonathan mencoba menerima semuanya dan dengan hati yang di kuatkan ia melangkah menghampiri Daniel dan Devita.


''Saya meminta maaf dengan sangat, atas apa yang semuanya terjadi,'' ucap Jonathan dengan tulus.


Daniel tidak menjawabnya, Ia hanya memberi isyarat menyurih Jonathan agar segera pergi dari hadapannya, Jonathan yang mengerti hanya membungkukkan badannya dan berlalu meninggalkan restoran yang tidak ia ketahui pemilik nya adalah Kemal.


''Kau mau makan?'' tanya Daniel setelah melepaskan pelukan nya.


Devita menggeleng pelan, air mata yang menyatu dengan rambutnya membuat wajah cantik Devita semakin terlihat menggemaskan.


''Lihat, kau seperti anak berusia lima tahun,'' goda Daniel, ia berusaha menghibur hati Devita walau hatinya saat ini sedang hancur.


Ini bukan penghianatan kan? pikir Daniel. Ia benar-benar tidak ingin hubungan yang di jalaninya dengan Devita hancur hanya karena kesalah pahaman.


Daniel menghubungi nomor Kemal dan mengatakan pertemuan nya di pending karena ada urusan mendadak, alasan Daniel.

__ADS_1


Daniel membawa Devita pergi dari restoran adik tirinya.


''Kau ingin kemana?'' tanya Daniel setelah sudah berada di dalam mobil.


''Pulang ke apartemen saja,'' jawab Devita dengan suara pelan.


''Baiklah,'' ucap Daniel yang langsung melajukan mobilnya meninggalkan arena Resto itu.


Suasana di dalam mobil sangat lah sunyi, tidak ada yang memulai untuk bicara, Daniel yang biasanya selalu bertanya ini itu tapi tidak kali ini, Ia hanya diam mengunci mulutnya.


Devita yang menyadari kebungkaman Daniel karena disebabkan dari dirinya, jadi semakin merasa bersalah. 'Kenapa aku harus berbohong.' batin Devita.


Kesunyian itu berlangsung sampai mobil memasuki basement gedung apartemen itu.


Daniel keluar mobil dan Devita juga ikut keluar tanpa menunggu Daniel membukakan pintu untuk nya.


Daniel mengulurkan tangannya untuk di genggam Devita, Devita hanya menurut karena memang itu sudah keterbiasaan mereka yang berjalan yang selalu bergandengan tangan.


''Istirahatlah,'' ucap Daniel setelah sampai di depan pintu kamar Devita.


''Kau tidak ingin masuk?'' tanya Devita.


''Tidak, aku masih ada urusan, kau masuklah,'' suruh Daniel dengan lembut.


''Urusan apa? ikuutt,'' ucap Devita dengan manjanya.


Daniel terkekeh melihat nya.


''Dengan kau bersikap manja seperti ini, bagaimana bisa aku marah padamu,'' ucap Daniel yang langsung menekan beberapa tombol pasword pintu masuk itu.


Daniel meraih tangan Devita lagi untuk mengajaknya masuk ke unit apartemen miliknya yang di tempati Devita.

__ADS_1


__ADS_2