
Ada saatnya seseorang merasa hilang Kepercayaan diri, saat melihat lingkungan sekeliling yang nampak lebih tinggi darinya, dan lebih dari segalanya. Dan satu yang dia butuhkan saat itu adalah. Semangat dari orang terdekatnya.
''Vita, lihat aku.'' Daniel mengangkat dagu Devita untuk menatap langsung ke arahnya.
Saat ini Devita dan Daniel sedang berada di sebuah balkon yang menghadap hamparan gedung-gedung serta mobil-mobil yang melaju lalu lalang meramaikan jalan raya.
Setelah makan bersama tadi, Devita lebih banyak diam, Daniel yang tidak tahan di diamkan Devita, mengajaknya bicara santai di balkon.
''Anggap aku orang biasa, jangan kau merasa terbebani dengan setatus kita ini.'' Ucap Daniel seraya menatap mata cantik Devita.
''Tapi pandangan Orang-orang.'' ..
''Sssttt, jangan kau dengar kan pendapat orang di luaran sana, yakin lah bahwa kita akan tetap bersama.'' Ucapnya dengan memotong ucapan Devita.
''Baiklah aku akan berusaha menjadi tuli untuk berdiri di samping mu.'' Ucap Devita dengan lembut. Pipi yang di belai sayang oleh Daniel membuat Devita lebih tenang sedikit dari sebelumnya.
''Daniel aku ingin minta satu permintaan pada mu,'' ucapnya lagi.
''Katakanlah, apapun akan ku beri.'' ..
''Jika kelak kau bertemu dengan wanita yang satu kelas dengan mu, dan kau pun merasa cocok dengan nya, kau harus bicara padaku, agar aku bisa pergi dengan berlapang dada.'' Ucap Devita dengan tersenyum kelu, ada rasa tak biasa saat dirinya mengatakan itu.
''Ck, kau sungguh merusak suasana, Vita.'' Sergah Daniel kesal dengan penuturan Devita.
''Daniel, aku bersungguh-sungguh mengucapkannya.'' ..
''Apa kau berfikir kita akan berpisah, Vita.'' Tanya Daniel dengan tatapan tajamnya.
''Kita tidak akan tau Daniel, semua tergantung nasib hubungan kita.'' Jawab Devita dengan lembut.
''Jika kau ingin berpisah dengan ku, aku tidak akan membiarkan itu, bahkan kelak kau ingin pergi secara Diam-diam pun aku akan mencari mu sampai ke lubang semut sekalipun.'' Ucap Daniel dengan tegas, Namun ucapan Daniel mampu membuat Devita terharu karna ketulusan seorang Daniel Carroll untuk nya.
''Bahkan aku tidak sanggup untuk melarikan diri darimu Daniel, karena aku tau kau akan mengetahui keberadaan aku dimanapun itu,'' ucap Devita dengan kekehannya.
Daniel tertawa mendengar nya, dengan lembut Daniel membawa Devita kepelukannya, langit yang berwarna jingga karena sudah hampir petang membuat suasana lebih syahdu dengan dua anak manusia yang sedang berpelukan menghadap sang surya.
Perlahan Daniel merengkuh tengkuk Devita dan mendekatkan wajahnya ke wajah Devita, perlahan namun pasti jarak wajah keduanya semakin terkikis serta hidung yang sudah saling menempel.
Bibir Daniel sudah mendarat dengan lembut di bibir Devita yang berwarna Cery itu bahkan tanpa tambahan liptint sekalipun, mulut yang mellumat secara sayang di nikmati oleh Devita.
Tidak ada tindakan kasar di kegiatan itu, dan itu yang membuat Devita terbuai dalam lumattan demi lumattan serta gigitan kecil di bibirnya.
Daniel menuntut lebih dari itu, ia ingin memasuki indra pengecapnya ke dalam mulut hangat Devita, dengan menerobos dengan benda lunak untuk memasuki rongga mulut Devita ia bahkan mengigit bibir bawah Devita dengan gemas.
Dengan saling berperang lidah, dan mengigit satu sama lain dan juga saling menukar salivanya nya membuat keduanya memburu nafas dengan kepuasan masing-masing.
Devita yang baru melakukan nya dengan Daniel belum terbiasa begitupun dengan Daniel, walau Ia pemain handal tapi untuk menyentuh lawan mainnya itu tidak akan terjadi.
Dahi keduanya saling menempel dengan senyum kebahagiaan yang membuat mereka saling terbawa suasana.
''Aku akan mengantarkan mu untuk bersiap-siap.''
Mereka berjalan dengan bergandengan tangan membuat siapa saja yang melihat nya akan iri, saat tiba di depan pintu kamar Devita, Daniel melepaskan tangan Devita.
''Masuklah, jam 20:00 aku akan menjemput mu.'' Ucapnya dengan tangan membelai sayang pipi Devita.
__ADS_1
''Iya, aku akan bersiap-siap.'' ..
Daniel berlalu meninggalkan Devita yang tengah menatap dirinya yang berlalu dan menghilang saat pintu Lift tertutup.
Saat ini Devita tengah gundah dengan pikiran dan perasaannya, jika Ia ingin jujur, perasaannya untuk Daniel belum terlihat jelas, entah hanya rasa kagum atau rasa suka, Ia belum menentukan itu.
''Aku harus terbiasa dengan sikap-sikapnya.'' Gumam Devita seraya melangkah ke dalam kamarnya.
Devita belalu ke kamar mandi, setelah selesai membersihkan diri Devita memilah pakaian yang cocok untuk ia kenakan, dan Ia menjatuhkan pilihan ke sebuah dress berwarna moka yang tidak berlengan.
Sudah siap dengan riasan serta yang lainnya, Devita menunggu Daniel di ruang TV, dan tidak lama bel pun berbunyi dengan segera ia beranjak untuk membukakan pintunya.
Mata Daniel seperti terkunci melihat penampilan Devita yang jarang sekali berhias diri seperti sekarang, '' Perfect.'' Ucap Daniel tanpa sadar yang membuat Devita tersenyum kikuk.
''Daniel, berhentilah menatap ku seperti itu, aku malu,'' lirih Devita.
''Ahh iya, ya sudah kita berangkat sekarang.''..
Mereka sudah berada di dalam mobil menuju rumah rekan bisnis Daniel yang sekaligus memang sahabat nya.
Perjalanan yang lumayan jauh dan memakan waktu lama, membuat Devita bosan.
''Daniel, aku boleh bertanya?'' ucap Devita memulai obrolan dan sekaligus membunuh bosannya.
''Tanyakan lah, memangnya apa yang ingin kau tau dari ku.'' Ucap Daniel yang masih terfokus untuk mengemudi.
''Yang waktu itu di Mansion siapa?'' tanya Devita.
''Yang mana?''..
''Seorang gadis yang sepertinya seumuran ku.'' ..
''Lho kenapa? sepertinya dia sangat mengenalmu.'' ..
''Tapi aku tidak berniat untuk mengenalnya,''..
Sungguh Jawaban singkat Daniel membuat Devita kesal, Ia kembali membisu dengan tangan yang di lipat di atas perut dan melempar pandangan ke luar jendela.
Daniel hanya menggeleng melihat gadisnya merajuk, sungguh Daniel memang tidak ingin mengenal gadis lain kecuali Devita.
Tiga puluh menit Devita bertahan untuk membisu, mobil yang di kendarai Daniel berhenti di sebuah rumah mewah bercat putih.
''Ayo turun,'' ajak Daniel tapi tidak di gubris Devita.
''Haaahh, ya sudah aku minta maaf, nanti akan aku ceritakan sampai kau tertidur karena bosan.'' Rayu Daniel, ya dengan cara itu tidak di sangka membuat Devita langsung turun dan berdiri di samping Daniel.
''Awas ya kalau tidak menepati janji.'' Ucap Devita dengan mulut yang mengerucut.
''Iya, kau bawel juga ya.'' Ucapnya dengan tangan mengacak rambut Devita yang sudah tertata rapih.
Dengan menggandeng tangan Devita, Daniel menuju ke sebuah pintu masuk dan memencet belnya, yang tidak lama sang empunya rumah membukakan pintu serta menyambutnya dengan hangat.
''Selamat malam Tuan David.'' Salam Daniel pada rekan bisnis nya yang sekaligus sahabat nya itu.
''Selamat malam, dan selamat datang Tuan Daniel Carroll.'' Keduanya saling berjabat tangan dan berpelukan layaknya seorang sahabat.
__ADS_1
''Apa kabar, Niel?'' tanya David yang sudah melepaskan pelukannya.
''Baik-baik, bahkan sangat baik, dan Maafkan aku yang kemarin tidak bisa menghadiri pernikahan mu.'' Jawabnya dengan panjang lebar.
''Tidak masalah, aku mengerti kau sangat sibuk, oh ya kau bersama siapa?'' tanya David melirik Devita yang berdiri di samping Daniel.
''Ekhemm, David bisa tidak aku di persilahkan masuk dulu.'' Sindir Daniel.
''Ha ha ha, Iya Maaf aku sampai lupa menyuruh kalian masuk.'' Ucap David dengan tawa lebarnya.
Mereka pun menuju ruang tamu yang sudah di sediakan minuman serta cemilan untuk pendamping nya.
''Oh ya perkenalkan, ini Devita kekasih ku.'' Ucap Daniel dengan tegas dan percaya diri.
''Oh hai Devita, Kau sungguh manis, dan membuat aku heran kenapa kamu mau berdampingan dengan Daniel yang Arrogan itu.'' Ucap David dengan meledek Daniel.
''Jaga bicara mu itu David, kalau tidak aku akan mencabut saham ku di perusahaan mu itu.'' Ancam Daniel.
''Hah ha ha, kau tidak pernah berubah, Daniel.'' Tawa David.
''Oh ya, perkenalkan ini Nia. Dia istri ku.'' Ucapnya lagi memperkenalkan istrinya.
''Hay Tuan Daniel dan Nona Devita, senang berkenalan dengan kalian.'' Ucap Nia dengan ramah.
''Senang juga bisa mengenal mu, Nona Nia,'' jawabnya.
''No, jangan panggil aku Nona, panggil saja aku Nia.'' Ucap nya dengan cepat.
''Baiklah, Niah.'' Jawbanya sedikit canggung.
Mereka saling mengobrol dan saling melemparkan ejekan, Nia dan Devita pun mulai akrab dan tidak ada kecanggungan lagi dari keduanya.
''Oh ya, aku punya hadiah untuk mu, ambilah. Dan di buka setelah kalian masuk ke kamar kalian saja.'' Ucap Daniel dengan senyum yang sulit di artikan.
''Wah Terima kasih, Daniel.'' Dengan senang David menerimanya tanpa rasa curiga sebuah kotak kecil berwarna hitam.
''Oh ya aku sudah memasak untuk kita makan malam, mari kita ke meja makan.'' Ajak Nia dengan senyumannya.
Mereka pun menuju ruang makan dan makan dengan hikmat. Jam menunjukkan jam 22:00 Daniel pun pamit undur diri.
''Hari sudah teralalu larut, aku harus pulang, kapan-kapan kita akan berkunjung kemari lagi.'' Ucap Daniel.
''Baiklah, kau berhati-hati di jalan, jaga Devita dengan baik.'' Goda David.
''Sudah pasti itu.'' ..
Semua menuju luar, Daniel sudah berpamitan giliran Devita yang sedikit canggung untuk berbicara.
''Tuan David, Nia kami pamit ya.'' Ucap Devita dengan suara lembutnya.
''Iya kalian Hati-hati di jalan, senang bisa bertemu kamu, Devita'' Nia memeluk tubuh Devita yang di sambut hangat olehnya.
Daniel dan Devita menuju mobilnya dan Daniel melajukan mobilnya dengan perlahan.
Bersambung..
__ADS_1
Hay kawan-kawan, perkenalkan David dan Nia adalah aktor dari novel teman ku yang bernama Maisy Asty , kami memang sudah janjian untuk bercolab. Jika penasaran silahkan mluncur ke lapak yang berpena ***Maisy Asty.
MAAF YAAA BARU Up, ππππππ***