
Keterkejutan Puspa membuat Ia melupakan antrian yang sudah menunggu Ia untuk maju, teriakan demi teriakan menyadarkan lamunan Puspa, Puspa tersentak kaget setelah ada tangan yang menpuk pundaknya.
''Mau sampai kapan kamu melamun, lihat ibu-ibu disana sudah mulai anarkis.'' Ucap seorang Pria tampan dengan penampilan Swag nya.
''Hah, iy-iya maaf,'' jawab Puspa dengan kikuk karena malu.
''Dimana si Tuan koffie itu.'' Gumam Puspa dengan geram.
''Tuan koffie? Siapa?'' Tanya pria tampan tadi, yang ternyata mendengar gumamannya.
''Ah tidak,'' ketus Puspa.
''Menarik.'' Gumam pria itu dengan sangat pelan.
''Saya Terry, kamu?'' Pria yang bernama Terry itu mengulurkan tangannya ke arah Puspa.
''Puspa.'' Jawabnya dengan ketus.
''Nona, Tuan. Jika kalian ingin berkenalan menyingkirlah dari barisan antrian, kami sedari tadi menunggu kalian,'' teriak seorang wanita parubaya yang ikut mengantri.
''Aahh baiklah, Maafkan kami.'' Ucap Terry yang langsung menarik tangan Puspa untuk menyingkir dari barisan antrian.
''Ih anda apa-apaan sih, saya sudah mengantri lama dan anda malah menarik saya.'' Omel Puspa.
''Saya hanya menyelamatkan kamu dari ibu-ibu yang sudah mulai bringas itu.'' Jawab Terry dengan santai.
''Tapi cupcake ku, Aaarrrggg.. Semua gara-gara anda.'' Geram Puspa.
Dari kejauhan, Kemal melihat Puspa yang sedang berbicara pada seorang pria yang sangat di kenalnya, matanya memicing tajam rasa ketidaksukaan di raut wajah Kemal sangat kentara pada wajahnya.
Dengan langkah yang lebar, Kemal menghampiri Puspa dan pria itu.
''Ekhemmm.'' Deheman Kemal membuat Puspa dan Terry menoleh ke arahnya.
''Mimpi apa aku semalam, harus menghadapi dua pria menyebalkan ini.'' Batin Puspa.
''Ada apa ini.'' Tanya Kemal dengan wajah datar nya.
''Kemal, kau Kemal kan.'' Ucap pria yang bernama Terry itu.
''Ya, kau sedang apa disini?'' ..
''Aku baru selesai makan dengan teman ku, dan aku melihat wanita yang sedang melamun di barisan antrian.'' Jawab Terry dengan melirik ke arah Puspa.
''Kau masih mengantri, kan sudah kukatakan tak usah mengantri.'' Kemal menarik tangan Puspa agar mendekat ke arahnya.
__ADS_1
''Kau mengenalnya?'' Tanya Terry heran.
''Ya dia pacar ku.'' Ucapan Kemal membuat Puspa melebarkan matanya karena terkejut dengan pengakuan Kemal.
''Ooh wanita manis ini ternyata pacar mu, sayang sekali.'' Ucap Terry dengan expresi nakalnya.
''Jangan macam-macam dengan pacar ku, atau kau tidak akan melihat matahari esok,'' ancam Kemal.
''Haiiissshh ternyata Kakak beradik tidak jauh berbeda.'' Gumam Terry.
''Ya sudah, jaga pacar mu baik-baik, atau tidak, akan ku rampas dari tangan mu.'' Terry berlalu setelah mengucapkan kata-kata yang berhasil menyulut emosi Kemal.
''Iihh kau apa-apaan sih, mengaku-ngaku aku pacar mu.'' Omel Puspa dengan garang.
''Aku baru saja menyelamatkan kamu dari buaya darat yang berbahaya tau.'' Jawab Kemal tak kalah garangnya.
Kemal melihat nampan yang masih di tangan Puspa, dan Ia merampasnya dengan kasar dan berlalu ke arah kasir.
Puspa hanya memperhatikan gerak-gerik Kemal, tidak lama kemudian Kemal membawa box yang berisikan kue-kue yang di pesan Puspa.
''Ini ambillah, dan cepat kau pergi dari sini.'' Setelah mengucapkan itu, Kemal berlalu pergi.
''Dia mengusir ku.'' Geram Puspa.
.
.
.
Devita keluar dari unit Apartemen nya dan saat ini Ia sedang berada di lift menuju lobby gedung Apartemen.
Saat keluat dari lift, Ia berpapasan dengan seorang pria yang sangat di kenalnya, Devita tersenyum ramah dan menyapanya.
''Zen, apa kabar? Sudah lama aku tidak melihat kamu.'' Ucap Devita dengan senyum manisnya.
''Aah iy-iya, kabar ku baik, kau ingin pergi kuliah, Nona?'' ..
''Tidak, hari ini tidak ada mata kuliah.'' Jawab Devita.
''Lalu, kau ingin kemana, Nona?'' Tanya Zen lagi.
''Aku ingin berbelanja bunga untuk di Toko ku.'' Jawabnya.
''Kau membuka Toko, waah selamat ya.'' Ucap Zen dengan ramah, sesungguhnya Zen sedang menyembunyikan rasa gugupnya karena melihat wajah Devita.
__ADS_1
''Ini usaha Aku dan Puspa, kami sepakat ingin menjalani bisnis bersama, dan aku sungguh sibuk hari ini, karena pembukaan Toko.''..
''Waah bagus kalau begitu.'' ..
Devita melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. ''Ya sudah, aku pergi dulu ya, sudah terlambat.'' Devita berlalu pergi setelah menepuk lengan Zen.
Zen memandang Devita yang semakin lama semakin menjauh. ''Ku berharap rasa ini segera pergi.'' Gumam Zen.
Zen pun menaiki lift untuk menuju unit Apartemen bosnya.
Di ruang kerja di Apartemen nya, Daniel sedang di sibukan dengan beberapa berkas yang harus di selesaikan sekarang juga.
''Bagaimana bisa aku meninggalkan Devita.'' Gumam nya, dengan jari memijat pangkal hidungnya.
Ponselnya bergetar menandakan ada panggilan telepon.
''Ya, Zen.'' Ucap Daniel setelah mengangkat sambungan.
...
''Ya, Langsung masuk saja.'' Setelah mengucapkan itu, Daniel memutuskan sambungan telepon nya.
Tidak lama suara ketukan pintu ruang kerja terdengar, ya yang mengetuk adalah Zen Batla.
''Selamat pagi Tuan, ini saya sudah membawakan berkas-berkas yang Tuan butuhkan disana.'' Ujar Zen, memberikan beberapa berkas yang di perlukan Daniel.
Daniel menghela nafasnya dengan berat, terlihat sekali Ia tidak ingin meninggalkan Devita.
''Ada apa Tuan? apa ada masalah?'' tanya Zen yang melihat Tuannya gelisah.
''Aku berat meninggalkan Vita, Zen.'' Jawabnya.
''Ternyata Tuan benar-benar mencintai Devita.'' Batin Zen.
Siang ini Daniel akan melakukan perjalanan bisnis ke negara tetangga, cabang perusahaan sedang mengalami masalah, maka dari itu Daniel harus turun tangan langsung untuk memantau serta memeriksa nya.
''Nona Devita akan baik-baik saja, Tuan.'' Ucap Zen meyakinkan Daniel.
Daniel menghela nafasnya lagi.
''Bagaimana kalau Devita turut ku bawa kesana.'' Usul Daniel.
''Nona Devita tidak akan mau Tuan, karena Ia sedang disibukkan dengan pembukaan Tokonya.'' Ucap Zen.
''Bagaimana kau tau.''..
__ADS_1
''Tadi di lobby saya berpapasan dengan Nona Devita, dan Nona Devita bilang seperti itu.'' ..
''Issshh,, kenapa pada mu dia bilang, tapi pada ku tidak.'' Geramnya.